Ditakdirkan Mencintaimu

Ditakdirkan Mencintaimu
Kebenaran tentang Ibunya Sana


__ADS_3

Malam spektakuler launching produk terbaru limited edition manjadi pusat perbincangan di seluruh penjuru Nusantara. Bagaimana tidak, parfum yang hanya berjumlah lima puluh buah itu menjadi begitu terkenal sebelum di jual. Beberapa merek lain hasil produksi BG. Maria belum mauenyerahkan satupun barang dagangannnya yang berlabel limited edition ini sebelum menemukan pembeli yang cocok.


Santai lah, merek yang lain laris manis terjual kok, sebab diproduksi secara besar-besaran.


Pabrik parfum milik Madam Maria ini memang lebih kecil dibandingkan pabrik yang lainnya. Usaha parfum itu sendiri, dirintis oleh Ramon dan Maria saat mereka setelah menikah. Hadiah dari Eyangnya, yaitu Vorlita. Hanya berupa destilasi sederhana dan satu buku catatan resep dan bahan untuk membuat parfum.


Semua keluarga dulunya tidak ada yang mau menerima satu-satunya warisan yang begitu disukai oleh Vorlita. Sehingga Maria yang lebih dekat dengan Eyangnya itu, menerima warisan yang dianggap kurang bermanfaat itu, dengan senang hati.


"Madam!" Maria masih memejamkan matanya walau mendengar teriakan Saras.


"Kilas balik berdirinya pabrik parfum ini apakah perlu kita ikutkan Madam?"


"Bagaimana menurutmu?" Saras tergagap mendapat pertanyaan Madam.


"Ada baiknya juga kita putar kilas balik ini, sebagai motivasi untuk kedepannya. Agar siapa saja yang melihat dan mendengar kegigihan Madam menjadi terinspirasi untuk mengikuti jejak Madam."


"Juga menjadi pembelajaran bagi kami kaum muda agar tidak pantang menyerah. Bahwa dibalik kesuksesan, tentu ada harga yang harus di bayar mahal."


"Baiklah, ini poin baru kita, atur saja semuanya " titah Madam.


"Untuk Vino ...!" ucapan Madam terhenti.


"Dia sudah datang Madam!" Maria menghembuskan napas lega.


"Apakah Madam punya sebuah rencana?" selidik Saras.


"Kau peka sekali!" Maria tersenyum tipis. Dia menyandarkan punggungnya di kursi. "Anak itu terlalu naif kepada hatinya. Pengkhianatan yang dilakukan mantan tunangannya menyisakan luka yang membuat Vino tidak dapat hidup dengan baik. Aku melihat, Vino menyimpan traumanya."


"Semoga Vino bisa mengatasi masalahnya sendiri!" Saras menatap lurus Maria.


"Aku tidak yakin. Meski dia dididik dan dibesarkan oleh Mareno, tapi darahnya mengalir darah Graham." Maria menatap nanar sembarang arah.


"Semoga Vino bisa menentukan sikap dan hatinya." Doa Saras, Maria mengangguk lemah.


"Yah! Anak Yatim yang menemukan senyumnya di desa. Anak perempuan itu sudah berada di hadapan, tapi dia tidak menyadari."


"Mungkin lebih tepatnya belum, Madam!" koreksi Saras.


"Kau benar! Sudah waktunya kita mengudara dan mencapai bintang. Persiapkan rencana kita." Maria mengedipkan mata sebelah.

__ADS_1


"Beres!" Saras mengangkat jempol kanannya.


Sepeninggal Saras, Maria tersenyum bahagia. Dia mengambil tas miliknya, dan mengambil gantungan kunci dari sana. Dua buah foto yang diabadikan dalam kaca dan dibuat gantungan menyerupai miniatur beruang.


"Kau telah tiada, tapi anakmu sekarang akan bersamaku. Terima kasih atas semua pengorbanan yang telah kau lakukan. Aku akan menjaga anak-anakmu." Maria mengusap benda itu, lalu memasukkan lagi ke dalam tasnya kembali.


"Sekarang saatnya beroperasi." Maria mengambil laptopnya dan membuka beberapa email yang masuk.


"Pesan dari Tuan Aditya," gumam Maria, kerutan di dahinya semakin bertambah. "Tidak biasanya Tuan Aditya membatalkan janji, ah mungkin saja memang ada yang jauh lebih penting daripada bisnis ini."


Beberapa menit berlalu, Maria masih berkutat dengan laptopnya, datanglah Vanka.


"Kau ... !"


"Iya, Eyang. Aku disini. Aku ingin menemani Sana." jawab Vanka.


"Adakah sesuatu yang terjadi?" Maria melihat raut wajah Vanka nampak gelisah.


"Eyang, kita sama-sama tahu, bukan! Jika Sana adalah anak dari perempuan yang menolong Eyang waktu itu?"


"Kenapa kau membahas itu?" ketus Maria. Entah kenapa, setiap membahas masalah itu dadanya menjadi sesak. Dia sungguh merasa bersalah, sebab tidak bisa menyelamatkan wanita itu.


Maria akhirnya bisa terlepas. Mereka berusaha kabur dari ruang penyekapan, tapi naas, sebab kalah cepat dari para penjahat itu. Maria dan wanita yang umurnya lebih muda darinya itupun kembali tertangkap. Mereka kembali disekap. Hingga datanglah bos besar mereka, seorang yang pria bermata biru. Tampan memang, umurnya pun terlihat lebih muda. Pria itu menatap tajam mereka berdua memindai tubuh Maria dan wanita itu bergantian.


"Biarkan dia tetap disini! Dan untuk dia, bawa ke mansion." ucap pria itu. Tanpa perintah kedua, para pengawal itu membawa perempuan yang lebih muda dan membiarkan Maria berada di sana. Wanita yang hendak menolong Maria, dibawa dengan paksa.


"Lepaskan dia, dia tidak bersalah, dia hanya ingin menolongku." Maria berusaha mengejar tapi ikatan di tangannya belum terlepas, membuatnya kesulitan untuk mengejar. Bahkan dia sampai terjatuh dan terluka.


Berbagai cara pun dilakukan Maria, untuk menemukan keberadaan wanita yang menolongnya. Hari demi hari, Maria terus berusaha mencari info tentang keberadaan wanita yang berusaha menolong dirinya. Bahkan dia rela menyamar dan masuk ke dalam sarang musuhnya, agar bisa menyelamatkan wanita itu. Tapi segala tempat yang dia datangi, tidak bisa menemukan keberadaan wanita itu. Hingga suatu saat, ada perjamuan makan malam di sebuah kapal pesiar.


Tanpa sengaja Maria melihat sosok wanita yang dia cari, wanita itu tampak cantik dengan balutan gaun pesta. Perutnya tampak membesar, tapi tidak ada sedikitpun kebahagiaan terpancar dari raut wajah wanita itu, Maria berusaha mendekatinya. Tapi selalu di hadang oleh para pengawal.


Hingga sampai pada kesempatan, wanita itu sendiri yang datang kepada Maria. "Aku tahu, kau berusaha untuk menolongku. Tapi, sebaiknya kau lupakan niat baikmu." ucap wanita itu dengan mata berkaca-kaca.


"Apa yang terjadi denganmu!" Maria menatap iba wanita yang berada di hadapannya. Perutnya membuncit tapi badannya terlihat kurus.


"Pria itu menginginkan anak dariku. Dia selalu mengancam ku. Aku tidak ingin anak dan suamiku terluka." wanita itu menyodorkan sebuah gantungan.


"Berikan ini kepada anakku jika kau bertemu dengan dirinya. Jangan katakan apapun tentang ibunya. Katakan saja, ibunya mati sebab dilecehkan oleh seseorang." wanita itu akhirnya pergi dari hadapan Maria dengan berderai air mata.

__ADS_1


"Eyang!"


"Eyang!" Mengguncang tangan Maria.


Eyang kenapa?" Maria menghembuskan nafasnya berat.


"Apakah Eyang masih memikirkan kejadian itu?"


"Aku masih merasa bersalah, wanita itu bahkan tidak bisa aku selamatkan." Maria meneteskan air matanya.


"Ibunya Sana?" Maria mengangguk lemah. Meski Vanka hanya tahu kejadiannya dari cerita Maria, tapi sungguh membuat Vanka juga merasakan kesedihan yang sama. Apalagi mengingat Riki yang masih terbayang-bayang dengan kematian ibu Sana.


"Eyang, bagaimana bisa ibunya Sana meninggal?" Mungkin saatnya Maria bercerita. Agar hatinya merasa lega, Vanka adalah orang yang bisa menjaga amanah. Maria akhirnya menceritakan semuanya.


"Jadi, ibu Sana masih hidup?" Maria menoleh ke arah Vanka, dan menggeleng pelan.


"Dia meninggal setelah melahirkan. Dia menulis pesan kepadaku, agar menyimpan rahasia, bahwa dia meninggal setelah melahirkan. Dia tidak ingin menyakiti perasaan suaminya, sebab dia telah menikah kembali."


"Jadi, sebab itu, Eyang membuat kuburan palsu dengan atas nama Risya? dan membuat cerita bohong?" Maria mengangguk lemah.


"Dan selama ini, Riki tidak tahu kebenarannya? Eyang mencekokinya dengan cerita palsu. Apakah Eyang tahu, apa akibatnya nanti? Bahkan Riki memenjarakan orang yang salah Eyang?"


"Riki tidak salah, dialah orang yang menyekap Risya dan aku waktu itu!"


"Tapi dia bukan pembunuh, Eyang!"


"Kami sudah menafkahi semua keluarganya. Dan mereka setuju." jawab Maria. Vanka menekan kepalanya yang semakin pusing.


"Kenapa Eyang tega melakukan itu?"


"Itu semua demi amanah dari Risya," lirih Maria.


"Lalu, bagaimana dengan anaknya? Dan siapakah pria itu Eyang?" Maria diam sejenak.


"Apakah kau tahu anak tertua dari Eyang Fiona?" Vanka membungkam mulutnya sendiri.


"Lalu, anak Risya?"


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2