Ditakdirkan Mencintaimu

Ditakdirkan Mencintaimu
DM 112


__ADS_3

Sesuai perintah Risya, Rindi menjemput Sana untuk diajak ketemuan. Mereka bertiga akan menghabiskan akhir pekan bersama-sama.


"Dimana Mama?" Tanya Sana mengedarkan pandangan ketika sampai di tempat tujuan. Tulisan Bravo terpampang jelas. Berkilau oleh sinar matahari yang mulai meninggi. Mall terbesar di kota X lebih ramai oleh pengunjung bila menjelang petang.


"Emmh!" Rindi mengetukkan telunjuk pada dagunya sambil mencari seseorang. "Biar aku hubungi dulu," putus Rindi mengambil benda pipih dari tas selempang miliknya kemudian mengacak nomer lalu menghubungi kontak yang dimaksud.


"Ma, Mama dimana? Kami sudah sampai lho!"


Sepertinya gantian yang di seberang bicara. "Oke!" Kata Rindi mengakhiri sambungan.


"Gimana?"


"Mama di tempatnya Om Riki!"


"Wah, mama tahu saja jika anaknya lagi laper." Sana lebih bersemangat. Menggapai tangan Rindi kemudian setengah menyeretnya masuk ke mall.


"Om Riki di lantai empat kan?" Sana tak buang waktu lama. Dia memilih arah menuju lift kemudian menekan tombol naik ke lantai 4.


"Mbak, pelan-pelan dong!" Rindi agak kesusahan jalan cepat memakai high heels tinggi.


"Makannya, jadilah dirimu sendiri. Jangan berubah karena orang lain," ketus Sana. "Dia sudah terlena dengan dunianya sendiri lebih baik move on saja. Toh yang lain banyak yang ngantri."


"Mbaakk! Please deh jangan bahas itu sekarang. Oke! Aku juga sudah berusaha kali."


"Bagus itu. Ingat! Jadi dirimu sendiri."


"Tapi aku sudah nyaman pakai baju begini." Sana menatap penampilan adiknya yang memakai dress motif bunga sakura sampai batas lutut. Dipadukan dengan ikat pinggang polos dengan warna senada memberikan efek elegan nan imut.


"Perfect! Tapi lain kali akan lebih cantik bila berhijab kayak mbak dan Bimud Vanka."


Sana mengecup sekilas pipi Rindi. Seperti tengah menasehati anak kecil saja.


"Mbaaakkk!" Protes Rindi pada kecupan yang diberikan Sana. Pasalnya pernah sekali Sana mencium dirinya ditempat umum. Dan lipstik Sana menempel. Rindi mengambil kaca dari tas.


"Yeyy, inikan anti luntur! Aman."


Untung saja yang di lift hanya mereka berdua. Tapi ketika tiba di lantai empat, ada beberapa orang tengah mengantri. Rindi dan Sana hampir kesulitan untuk keluar. Hingga Rindi terhuyung sebab terdesak.


"Auuwhhh!"


"Rindii!" Suara pria diiringi lengan kokoh menahan tubuh Rindi agar tidak jatuh. Sayangnya, kaki Rindi mendarat kurang tepat. Masih saja terkilir.


"Duhhh!" Rindi merasakan ngilu pada tungkai bawah. "Sshhhh!"


"Jangan bergerak." Suara berat namun tegas diiringi goncangan lembut sebab tubuh Rindi terangkat sempurna melayang di udara.


"Tahan sebentar! Ya!"


Kali ini Rindi bisa melihat gurat cemas wajah Mike.


'bagaimana dia tiba-tiba ada di sini?' batin Rindi. Speechless dengan perlakuan Mike yang sigap namun penuh kelembutan.

__ADS_1


"Dudukkan dia di sini!" Sana mengikuti dengan panik hanya diam saja. Dan pemuda yang bersama Mike telah menenteng kursi yang didapatkannya entah dari mana.


"Hati-hati!" Kini Sana bisa kembali menyerukan isi hati. Dia segera mendekati Rindi. Jongkok disampingnya. "Kan sudah Mbak bilang, jangan memaksakan diri." Masih saja mengomel kayak emak-emak.


"Namanya juga musibah, Mbak!" Sudah sakit diomeli lagi.


"Sepertinya terkilir. Apa kamu bisa menahannya sebentar?"


"Kamu mau apa?" Rindi menarik kakinya dari tangan Mike, bukannya lebih baik malah tambah ngilu. "Auwwwhh!"


"Rindi, percayalah pada Mike!"  Sana sepertinya paham jika Mike bisa menyembuhkan Rindi. Mungkin saja. Rindi menatap bimbang antara kedua orang di hadapannya.


"Tapi...kalau tambah sakit bagaimana?"


"Jika memang benar-benar sakit, kamu bisa menyalurkannya padaku."  Ucap Mike yakin terdengar lebay namun sebenarnya Mike jujur berkata dari hati.


'Rindi yang sekarang terlihat lebih cengeng. Bukan saja penampilannya yang berubah, ternyata kepribadiannya juga.' batin Sana.


"Mike memberi kode agar Sana mengajak Rindi bicara." Dia pun mengangguk.


"Rindi... sepertinya maskara kamu mulai luntur deh!" Ucap Sana beralasan.


Ketika Rindi mengalihkan perhatiannya, Mike lekas mengembalikan posisi otot yang sempat bergeser.


Krakkk


"Auuwwwhh!"


"Maaf! Maaf! Aku nggak sengaja!" Rindi mengelus bekas jambakannya bagaiakan seorang ibu mengelus anak kecil. Diperlakukan demikian  Mike tertegun cukup lama. Hatinya berbunga-bunga.


Mike menatap Rindi lebih dalam tepat pada bola mata. Begitupun sebaliknya. Sepertinya gadis itu lupa jika kakinya tadi sempat sakit.


"Sudah selesai saling kesengsem-nya?" Sana membuyarkan keduanya.


Sedangkan pemuda yang bersama Mike dehem beberapa kali. "Begitulah ketika jatuh cinta dunia terasa milik berdua. Yang lain hanya numpang," gumam Rafa didengar jelas oleh Mike.


"Berani, Kamu, Rafa?"


"Tidak! Tuan! Saya hanya tersedak."


"Sudahlah! Lagian saya setuju dengan ucapan akang ini. Kalian benar-benar tidak menganggap kami ada!" Ketus Sana tentu saja sambil tersenyum.


✓✓✓


"Tapi kakimu sudah mendingan kan?" Risya khawatir pada Rindi setelah mendengar cerita Sana.


"Sudah nggak apa-apa kok, Ma! Semua karena Mike," jawab Rindi.


"Kenapa Mike tidak diajak makan sekalian?"


"Katanya sih, dia masih ada pekerjaan penting." Kali ini yang jawab Sana.

__ADS_1


Dari arah belakang Sana datanglah Vanka beriringan dengan Riki yang tengah menggendong si kecil Karyl yang tengah mengoceh lucu.


"Ka! Ka!" Tunjuk si kecil pada Sana.


"Assalamualaikum semuanya! Apa kabar?" Ucap Vanka kemudian memeluk Sana dan Rindi bergantian.


"Kami baik!" Ketiganya hampir serentak.


"Karyl, Sayang! Ikut sama Kakak yuk!" Sana merentangkan kedua tangannya. Disambut senyum bahagia si Kecil Karyl.Namun dicegah oleh Risya.


"Kenapa Ma?" Tanya Sana heran. Semua orang juga saling pandang.


"Ma...!"


Rindi merasa ibunya terlalu aneh belakangan ini.


"Jangan! Dia sudah berat. Biar mama yang gendong saja. Gantiin kamu!" Risya memgambil Karyl dari Riki.


Karyl yang tidak dituruti kemauannya, hampir saja menangis dan meronta-ronta ingin menggapai Sana.


"Jangan ya! Biar nanti Karyl punya temen main. Kakak lagi kurang sehat." Rindi mengernyit bingung.


"Sana sedang hamilkah?" Tanya Vanka yang mengartikan kalimat Karyl punya teman main


Kini semua orang menoleh pada Sana kecuali Risya yang masih menghibur Karyl dengan memberikan sisir dilengkapi kaca.


"Kenapa Kalian menatapku begitu?"


Sana seakan jadi tersangka.


"Benar, kamu hamil?" Vanka masih penasaran.  Sana tidak bisa berkata-kata.


"Mbakk!"


"Ya...!Tidak!"


Kata Sana yang memang benar-benar tidak merasa hamil.


"Ya atau tidak!" Cerca Vanka. "Kami sangat senang jika itu Memang benar. Tapi kenapa kamu sembunyikan kabar baik ini dari kami?" Diangguki oleh Riki dan Rindi.  "Lupakanlah! Kamu pasti belum sempat."


Sana menoleh pada Mamanya seakan meminta pertanggungjawaban dari ucapannya yang jelas-jelas tak terbukti. Namun sepertinya perempuan paruh baya itu pura-pura tak tahu.


"Dia sangat curang. Ada berita baik malah disembunyikan. Tapi aku sangat bahagia dengarnya. Selamat ya, Sana! Akhirnya penantian panjang kamu berakhir bahagia. Semoga kamu sehat selalu hingga hari persalinan nanti," timpal Riki. 


Nampak jelas binar bahagia tercetak dari wajah semua orang. Berbeda dengan Sana yang tersenyum aneh. Andai dia hamil beneran, tentu rasanya berbeda.


Sana hanya bisa membuka sedikit dagunya. Dia tak mungkin hamil sebab tanda kehamilan pun tak ada dalam dirinya. Semua ini ulah mamanya yang kadang-kadang aneh.


"Siapa yang hamil?" Sebuah suara familiar di telinga Sana membuat Sana reflek berdiri.


To be continued

__ADS_1


nyicil satu dulu ya guys.


__ADS_2