Ditakdirkan Mencintaimu

Ditakdirkan Mencintaimu
Rasanya manis


__ADS_3

"Rasanya manis, haus banget gua! rezeki anak soleh pas haus ada minuman nganggur," ucap Vino sambil cengengesan.


"Siapa yang anggurin, belum sempat minum seh iya," sewot Sana. Pasalnya minuman itu sudah habis tanpa sisa lagi.


"Riyan, pesan makanan dan minuman gih. Untuk semuanya nanti gua yang bayar," ucap Vino sambil melepaskan jaketnya. Dengan usil Vino meletakkan jaket itu di kepala Sana.


"Kamu kurang kerjaan banget seh," Sana mengambil kasar jaket yang berada di kepalanya. melemparkannya ke arah Vino sambil cemberut. Dengan senyum mengembang Vino menangkap jaket itu lalu meletakkannya di pangkuan.


"Eits, jangan marah. Nanti cantiknya hilang terus berubah jadi Mak Lampir," menjawil dagu Sana dengan lembut. Dan terkekeh ketika Sana menepisnya dengan kasar. "Eh ini makanan apa cobain dong," tanpa aba aba Vino makan makanan milik Sana.


"Kamu, ya. Nggak jijik apa makan makanan milik orang lain ih tanpa permisi lagi," Sana cemberut kesal. Mana minumannya habis di tenggak sama Vino ini malah Sana tersedak.


"Uhuk Uhuk..."Sana memegang dadanya. Ada sesuatu yang menghambat di tenggorokan.


"Sana, ini minum dahulu," Dion langsung menyodorkan minuman miliknya. Tapi langsung di tahan oleh Vino.


"Itu milik siapa?" Vino bukannya langsung menerima tapi malah bertanya dahulu.


"Ya milikku lah siapa lagi," jawab Dion kesal. Dari awal datangnya Vino, ada rasa kesal dan masih memiliki rasa cemburu saat Vino bertingkah untuk menarik perhatian Sana.


"Sana, dia siapa?" tanya Vino.


"Dia mantan pacar Mbak Sana," jawab Rindi. Vino menatap Sana minta klarifikasi. Sana yang masih merasakan tenggorokan nya bermasalah hanya mengangguk membenarkan.


"Dia sudah tidak butuh segala hal yang menjadi milikmu," mendorong gelas di pegang Dion dengan kasar. Bahkan hampir tumpah jika Dion tidak dengan sigap memegangnya erat.


"Jangan kebiasaan menerima kembali apa yang sudah kita buang," Ganti menepis tangan Sana yang hampir meraih gelas itu.


"Riyan cepetan bawa sini. Jangan lelet kayak siput puasa aja, Luh!" teriak Vino.


"Memang waktunya puasa, dasar Author nya saja yang bikin kita tidak puasa, Bos. Heran gua."

__ADS_1


"Dah sini cepat berikan. Biarin si Author mau bikin kita gimana dia yang jadi dalangnya," Vino segera membantu Sana meneguk air mineral yang di bawakan oleh Riyan.


"Terima kasih Riyan," ucap Sana.


"Kurang ajar banget, Luh ya. Gua yang bantuin dia yang dapat ucapan terima kasih," sungut Vino. Lalu menoleh pada pasangan sok romantis di hadapannya.


"Kan dia yang ambil..." Vino masih diam lalu menoleh sekilas kembali pada pasangan kekasih di di hadapannya.


"Heh, kau pelit amat jadi cowok. Makan saja sepiring berdua kayak zaman paceklik. Pesen lagi gih biar gua yang traktir. Nggak kasihan nanti pacarnya ngadu ke bapaknya? bisa bisa gagal nikah tuh," pedes banget si Vino. Sana yang semula sebel kini melengkungkan ujung bibirnya.


"Biasa Mas, banyak cicilan jadinya harus ngirit," celetuk Rindi. "Nyicil cincin kawin, nyicil motor, nyicil rumah, nyicil buat anak juga kayaknya," Raya melotot tajam ke arah gadis yang mulutnya bak bon cabe.


"Diam kau anak kecil," bentak Raya. "Jangan ikut campur urusan kami," menuding Rindi. Dan kau Tuan, saya orangnya terima apa adanya kok. Saya bukan orang yang metrealistis," cara ngomongnya sudah berubah seratus delapan puluh derajat. Membuat Dion mengernyit. Bahkan Rindi pura pura muntah.


"Riyan, mana makanannya?"


"Sabar!" tukas Sana pendek.


"Bagi lagi dong makanannya, kenapa ini ayamnya kecil kecil gini, biar apa? ngirit?" Vino menaikkan satu alisnya.


"Eh, jangan di habisin dong, ini punya gua," Sana berusaha mengambil mangkuknya yang sudah pindah tempat. Sayangnya kalah tenaga sama Vino.


"Seger banget."


Seorang pelayan datang membawa semua pesanan Riyan. Dia meletakkan semuanya di atas meja di mana lima orang itu berada.


"Hai, pasangan pelit. Makan tuh, malu maluin orang saja, Luh," Dion mengepalkan tangannya erat. Tadi di bilangin kere sama Rindi, sekarang di bilang pelit sama orang yang tidak di kenalnya itu. Matanya melotot tajam ke arah Vino.


"Ngapain, Luh melotot ke arah gua, jatuh cinta. Sorry ya, gua masih normal. Gua masih tertarik sama gadis yang berpipi chubby macam dia ini," mencubit lembut pipi Sana dan cup. Semua orang melongo atas tindakan Vino. Apalagi Sana butuh hampir dua menit untuk menguasai keterkejutannya.


"Kau, berani menciumku," sungut Sana. Nafasnya naik turun sebab marah. Malah di cium lagi. Dion membanting sendok ke piringnya lalu berdiri dan pergi dari sana.

__ADS_1


"Sayang, tidak di bayar dulu makanannya? aku nggak bawa dompet, nih."


"Susul saja cowok kere, Luh itu. Ini biar gua saja yang bayar," Rindi kayaknya ketularan sifat bosy Vino deh.


"Eh, Elu jangan lagi nyium gua ya, atau...!"


"Atau apa? mau balas dendam? Nih silahkan. Kali ini gratis kok. Kurang baik apa gua jadi orang,," menuding pipinya dengan telunjuk lalu mendekatkannya ke arah Sana. Riyan yang melihat kelakuan Bosnya hanya geleng-geleng kepala.


"Ogah!" Sana hendak berdiri dari tempat duduknya. Secepat kilat Vino memegang lengan Sana membuat yang empunya terduduk kembali."


"Temani Gua makan. Habis itu bakal gua kasih pekerjaan sama, Luh."


"Beneran?" raut wajah Sana berubah berbinar. Pekerjaan itulah yang menjadi beban pikirannya beberapa hari ini.


"Iya, biar Luh bisa segera bayar hutang sama Gua." Sana cemberut lagi karena Vino menyebut kata hutang.


"Kamu kenapa tidak bilang sedari awal kalau menginap di rumahmu itu bayar. Tempatnya memang bagus seh dan juga nyaman. Tapi kalau bayar gini ya...mending nggak usah nginep di rumah Luh malam itu," kesal Sana nafasnya sedikit memburu.


Vino melirik dengan ujung matanya saja. Dia asyik menyuapkan soto yang terasa segar dan nikmat di lidah. Rasa pedas membuat selera makannya bertambah semangat.


🌱🌱🌱


"Jadi gimana menurutmu?" ucap Sana sambil tetap berdiri menunggu saran dari Rindi.


"Ya, aku terserah sama Mbak saja, kan yang menjalaninya Mbak," komentar Rindi, dia tetap memegang ponselnya bersantai di atas tempat tidur. Mengisi kolom tts online.


"Tapi gajinya lumayan ya, cuma yang Mbak kurang srek tuh, tempatnya radak jauh dari tempat kita tinggal. Kamu nanti bagaimana? Kamu di rumah sendirian gitu?" Sana terlihat banget bingungnya. Kini dia duduk di ranjang sebelah Rindi.


"Aku tidak masalah kok Mbak. Lagian aku kan dua bulan lagi sudah selesai sekolah. Setelah penerimaan surat kelulusan, aku akan mendaftar kuliah dekat dengan Mbak tinggal. Biar aku bisa sering sering tengokin mbak."


"God job,"

__ADS_1


"Tapi...kenapa Vino pengen kenalin kamu sama Eyangnya, ya?


Bersambung...


__ADS_2