Ditakdirkan Mencintaimu

Ditakdirkan Mencintaimu
Cari


__ADS_3

"Tuan, benarkah Tuan Vino dan Nona Sima sudah membatalkan tunangannya enam bulan lalu?" semua orang menoleh ke sumber suara. Seorang perempuan yang cukup terkenal biang gosip. Ternyata dialah Rosse sutradara infotainment dalam acara "Biang Gosip" tentu saja akan selalu mencari info terkini yang masih hangat dan mengundang banyak pemirsa.


"Maaf! saya kira ini bukan tempatnya bergosip. Saya mengundang anda semua untuk menikmati acara pesta yang kami selenggarakan bukan untuk konferensi pers," tegas Dani "Jadi, mari kita mulai acara malam ini. Tapi, sebelumnya saya minta maaf, karna sempat ada hal yang kurang menyenangkan terjadi." Dani menangkupkan kedua tangannya. Dan acara pun di lanjutkan.


Suasana yang semula ricuh, kini mulai hening kembali. Orang-orang yang tadinya sibuk mengghibah kini diam. Dani harus menyelesaikan semua ini atau citranya akan semakin jatuh.


Dani berjalan melewati Vino "Maafkan kelancangan anak saya, saya harap anda tidak memperpanjang masalah ini," ucap Dani dengan sendu.


"Bagiku hal ini tidak berarti apa-apa, hanya saja, jika ada berita miring mengenai wanita di sebelahku, mungkin aku bisa kehilangan akal warasku." ucap Vino yang seolah Sana adalah benar-benar pasangannya.


Setelah kepergian Dani, Sana menarik lengan Vino dengan kuat. Sehingga mau tidak mau, Vino pun mengikuti gerakan Sana.


"Vino, apa rencanamu sebenarnya. Dan mengapa kau membawaku ke dalam masalah ini. Kalau kau memiliki skandal jangan bawa bawa namaku. Aku bukan perempuan murahan yang suka merebut milik orang lain," Sana dan Vino kini berada di sebuah lorong hotel dimana tidak ada seorang pun di sana.


"Benarkah?" Vino tidak menduga ucapan itu akan lolos dari bibir mungil Sana. Terlebih, Vino pernah melihat Sana mengirimkan foto kepada kakaknya Vanka. Dan ucapan waktu itu, masih terngiang jelas di ingatan Vino.


Hai, dia sedang bahagia bersamaku. Jadi untuk malam ini aku meminjamnya. Yang sabar, ya!"


Vino menutup matanya, rasa benci kembali memenuhi hatinya sebab terpancing ucapan Sana.


Pintar sekali gadis ini berkelit. Aku tahu benar seperti apa perasaan Vanka yang saat itu terlihat sedih sebab merindukan suaminya. Dan dia dengan tidak tahu diri terang-terangan ingin merebutnya. Aku Tidak akan membiarkan Riki tetap menjalin hubungan dengan perempuan ini, bagaimanapun caranya.


"Hai, Tuan," Vino tersentak dari lamunannya.


"Bagaimana bisa dengan mudahnya kau berkata seperti itu. Apa kau tidak pernah merasa bersalah terhadap seseorang?" Vino menatap tajam mata Sana. Membuat Sana mundur ke belakang.

__ADS_1


"A_apa maksudmu?" Vino semakin tersenyum mengejek. Sedangkan Sana sudah terhimpit ke dinding.


"Kau pasti tahu benar apa yang aku maksud. Atau kau memang pura pura tidak tahu? bukankah kau menjalin hubungan dengan banyak pria, dan mempermainkan perasaan mereka," Vino merapikan anak rambut di kening Sana. Keduanya saling berebut udara yang hanya sedikit. Hingga mereka sama sama menatap dalam pemikiran masing-masing.


*Gadis manis kau begitu terlihat polos, tapi kenapa kau memilih menyukai pria beristri. Padahal banyak pria yang menyukaimu termasuk mantanmu dan juga Faza. Aku...tidak! aku hanya ingin membuatmu menjauh dari Riki. Aku tidak ingin kakakku Vinka tersakiti.


Apa yang di maksud pria sok tahu ini. Berani beraninya dia melecehkan aku seperti ini. Dan tuduhannya itu. Apa maksudnya*.


"Tuan, jaga bicaramu itu. Kau tidak tahu apa-apa mengenai diriku, jadi jangan sok tahu. Atau akibatnya akan buruk," balas Sana sambil mendorong tubuh Vino sekuat tenaga. Tapi sayang, jangankan bergeser tubuh itu malah semakin menghimpitnya.


"Buruk, memang seperti apa nantinya," ucap Vino menyeringai. "Apa seperti ini," secepat kilat Vino memegang tangan Sana dan mencium bibir Sana. Sejenak Sana terpaku bahkan bibirnya yang terbuka sedikit membuat Vino leluasa untuk menerobosnya masuk. Sialnya lagi, Sana sempat menikmati permainan itu.


"Eummh, lepaskan aku. Berani sekali kamu ya," akal waras Sana masih berfungsi. Ini adalah pelecehan. Vino mundur dua langkah sebab dorongan Sana.


"Kau...?" Sana mengepalkan tangannya. Mengusap kasar air matanya yang hampir terjatuh.


Sedangkan di ujung lorong yang lain, wanita cantik meski usianya telah lanjut, tersenyum manis "Aku melihat keserasian dari keduanya. Tapi sayang, mereka sama-sama bodoh," ucapnya.


Vino mencari keberadaan Sana di acara pesta. Tapi tidak menemukannya. "Arjun, Sana telah pergi dari tempat ini, aku mohon carilah dia. Aku takut terjadi sesuatu pada dirinya." titah Vino.


"Memangnya, kenapa nona Sana bisa pergi Bos."


"Kau mau di pecat?"


"Baik Bos! aku akan mencarinya." Arjun secepat kilat mencari keberadaan Sana. "Mau nyari kemana? ada ada saja si Bos. Dia yang hilangin aku yang di suruh nyari." Arjun berpikir sejenak apa yang harus dia lakukan untuk menemukan Sana.

__ADS_1


"Ya, Cctv." Arjun mensyukuri otak cerdas miliknya yang selalu bisa di andalkan dalam situasi apapun.


Arjun menemui manager hotel untuk mengetahui di mana kiranya Sana berada. Matanya memindai setiap layar yang ada di hadapannya. Yah, akhirnya dia menemukan jika Sana keluar dari gedung beberapa menit sebelum Vino menemui dirinya.


"Tuan, Nona Sana meninggalkan hotel dua puluh menit yang lalu. Bagaimana ini?" kini Arjun berbicara lewat ponsel.


Arjun mendengarkan apa yang di perintahkan oleh sang bos. "Baik tuan, aku akan segera ke sana." Arjun menutup panggilan. "Terima kasih pak aras bantuannya," ucap Arjun kepada pengawas CCTV dan manager hotel.


"Tuan."


Arjun telah sampai di loby hotel.


"Ayo masuk kita jangan sampai kehilangan jejaknya," Vino sudah berada di bangku sopir.


"Ayo masuk, mau apalagi. Kali ini Gua yang nyetir," teriak Vino lagi. Membuat Arjun sempat terbengong. Sungguh suatu keajaiban dunia seorang Bos Vino mau menyetir untuknya.


"Ba_baik Bos, Arjun akhirnya masuk juga.


Sana masih berlari menyusuri jalan tanpa tujuan. Setidaknya hal itu bisa membuat dirinya lebih baik. Dia melihat bangku di pinggir taman. Memilih duduk di sana untuk melanjutkan tangisnya.


"Tega sekali dia melakukan itu kepadaku. Memang aku cewek apaan? aku tidak pernah menjalin hubungan dengan banyak pria. Saat bersama Dion, ayah yang menyuruh bukan kemauanku." oceh Sana tanpa dia sadari ada sepasang mata yang memperhatikan gerak geriknya.


"Hai...cantik cantik kok menangis. Lagi patah hati ya Neng," ucap seorang pria yang kini tengah berdiri di hadapan Sana. Perlahan Sana pun mendongakkan kepalanya.


"Kau...!"

__ADS_1


**Bersambung.....


Terimakasih sudah mauembaca karya receh saya. Jangan lupa dukungannya ya agar author semangat dalam menulis. Oke... Babay..Salam peluk cium dari author**


__ADS_2