Ditakdirkan Mencintaimu

Ditakdirkan Mencintaimu
Pekerjaan penting


__ADS_3

Sana mengambil gambar dirinya beberapa kali dengan banyak sekali pose. Saking senangnya dapat handphone mahal tapi mumer. Iyalah murah meriah namanya juga gratis. Rindi sampai ingin naik darah melihat tingkah Sana, dia harus berhenti memukul samsak sebab Sana beberapa kali mengganggu dirinya.


"Nggak takut nyawanya berkurang masuk ke dalam HP," seloroh Rindi yang masih sibuk dengan samsak di hadapannya. Dia berhenti beberapa kali sejenak guna menghindarkan samsak dari tubuh Sana yang lebih fokus sama kamera dari pada benda sekitar. Unik memang mbak yang satu ini.


"Sudah sana latihan gih, aku mau ngevlog kamu akting senatural mungkin ya, biar kita bisa terkenal." Rindi memutar bola matanya malas. Anak kesayangan ayah itu memang tidak bisa diam, tau aja jika ada kamera jahat.


"Sana huss Sana husss Sanaaaaaa," Rindi menirukan gaya ala Syahrini. Dia bercucuran keringat dan badannya hanya berbalut tank top hitam dan celana pendek sepaha. Hari libur seperti ini selalu dia habiskan untuk olahraga dan senam.


"Bentar doang ih, aku mau buat story, nih." Sana melirik adiknya yang tampak eksotis dengan banyak keringat di tubuh. Sedangkan dirinya masih begitu fresh dengan gaya rambut bun.


"Aku juga mau terlihat berkeringat begitu ah," ucap Sana. Eh malah lari ke kolam ikan. Menyiratkan air ke tubuhnya sendiri seolah-olah itu adalah keringat.


"Mbak, mau ngapain main air kayak gitu," tepok jidat sendiri.


"Diem, Luh, sini bantuin Mbak, kamu pegang kamera arahkan ke Mbak. Mbak mau senam biar terlihat beneran gitu makannya aku kasih efek keringat di tubuhku."


Terserah kamu lah, Mbak yang penting happy. Seenggaknya kamu sudah bisa melupakan kepergian ayah.


Rindi sering mendengar cerita dari Ayah jika Sana dulunya sering sakit-sakitan makannya Sana selalu di manja apapun kemauannya di turuti. Terlebih Sana sudah kehilangan ibu sejak kecil. Itulah mengapa Ayah tidak tega untuk marah apalagi membentak Sana.


"Gerakannya Mbak, kenapa kaku banget gitu," komentar Rindi sambil mengatur bidikannya.


"Kan gerakannya memang gini Rin," ujar Sana yang terasa capek. Beberapa kali di salahkan melulu sama adiknya.


"Mbak, itu tumitnya harus lurus, kenapa malah nekuk gitu?," Rindi komentar lagi. Pori pori kulit Sana beneran lembab banget sama keringat sekarang.


"Enak gini," seru Sana tidak mau lagi mengubah posisi.


"Mbak, itu gerakan harus seirama sama kaki, kenapa malah gitu, kaki kanan maju bersamaan dengan lengan kiri Mbak biar nggak kayak robot gitu," Rindi benar benar tidak rela gerakan senam kesukaannya di rusak sama Sana.


"Capek, Mbak nggak kuat," Sana mengelap wajahnya dengan handuk. Dia lalu menelantangkan badannya pada rerumputan.


"Yah, baru gitu saja sudah tepar Mbak, ayo lagi biar ini lengannya lebih kenyal lagi." Rindi menjawil lengan bahu Sana.

__ADS_1


"Nggak mau, capek. Cari sarapan saja, yuk. Laper banget dari tadi latihan terus," Sana memegang perutnya.


"Oke, boleh! kita mandi dulu biar fresh. Ini kamera Mbak pilih video yang enak di lihat biar nggak pada muntah yang lihatinnya haha." Rindi sudah ngacir duluan ke dalam rumah.


"Mana bagus bagus semua videonya. Aku bikin status wa sajalah yang ini bagus, nih."


💕💕💕💕


Di sebuah apartemen seorang pemuda juga nampak asyik dengan alat alat olahraga. Dia mengatur nafasnya beberapa kali lalu menyudahinya.


"Bagaimana kabar gadis itu, ya! apakah dia menanti pekerjaan dariku apa tidak, ya?" gumam Vino sambil mengelap peluh dengan handuk miliknya.


"Tuan, ini kopi untuk anda, silahkan di minum," seorang wanita yang lebih tua dari Vino meletakkan secangkir kopi di meja beserta roti isi yang di buatnya tadi.


"Terima kasih. Apa pekerjaan mu sudah selesai?" tanya Vino."


"Sudah, Tuan. Hanya tinggal membersihkan ruangan ini saja." ucap wanita itu sambil menunduk.


"Ini gaji kamu bulan ini. Kalau ada perlu yang lainnya jangan sungkan untuk meminta bantuan kepada saya. Sebisa mungkin saya akan membantumu." ucap Vino menyodorkan amplop berwarna coklat itu di meja. Wanita itu menerimanya dengan wajah berbinar.


"Tidak, Tuan. Tuan sudah sangat baik kepada saya." Vino mengangkat tangannya pertanda dia tidak mau lagi mendengar ucapan wanita itu.


"Te_terima kasih Tuan." Wanita itu menunduk lalu pergi dari sana.


"Selesaikan pekerjaan, Kamu dan pulanglah setelah itu." wanita itu berbalik dan membungkuk lagi sebelum keluar.


Baik sekali Tuan Vino, semoga dia selalu diberi keberkahan dan kemudahan," ucap wanita itu di dalam hati.


Vino menyesap kopinya perlahan. Setelah itu teringat akan gadis yang akan dia beri pekerjaan. "Apa yang dia lakukan sekarang, ya." Diambilnya gawai lalu berkutat di sana.


"Gadis ini, berani sekali dia berpakaian seperti ini dan mengunggah gambarnya di medsos." Vino meletakkan ponselnya di sofa. Lalu mengambilnya lagi.


"Riyan, dimana, Luh? ikut gua sekarang kita lakukan razia dadakan," Vino diam sebentar menanti sebuah jawaban si seberang.

__ADS_1


"Tapi bengkel sedang ramai, Tuan. Faza sampai ikut turun tangan ini," tolak Riyan. Dia masih di gaji oleh Faza jadi merasa tidak enak hati dengan Bos kesayangan nya itu.


"Hai, mau membantah,Luh. Baiklah, sepertinya Arjun sedang kekurangan pekerjaan akhir akhir ini." ancam Vino yang artinya Arjun akan di suruh untuk menutup bengkel milik Faza.


"Iy_iya Bos siap berangkat," ucap Riyan sebal.


"Itu dari Mas gua, ya. Kenapa dia menelpon, Luh. Dan akhir akhir ini kalian sering bepergian berdua, apakah ada sesuatu rahasia," otak Faza mulai terkontaminasi virus curiga. Kebanyakan nonton lambe turah seh.


"Nggak juga. Tapi memang ada satu hal yang membuat kami harus menyelesaikan nya berdua. Ayolah Faza, jangan curiga begitu, aku hanya ingin meneruskan pendidikanku, jadi aku bekerja dengan kakakmu." ucap Riyan yang tidak enak hati.


"Kakakku itu memang selalu seenaknya, dia mengambil penglima kerajaanku," kelakar Faza.


"Aku pergi dulu, ya. Terima kasih telah mengizinkan aku."


Vino yang tidak sabar kini sudah menanti di tempat parkir apartemen miliknya berada.


"Maaf, Bos telat," teriak Riyan baru saja turun dari ojek online.


"Nunggu apa lagi? cepat kemari. Kita harus pergi bersenang-senang hari ini." ucap Vino dengan santai, tapi mata elangnya mengatakan lain.


"Maaf, sekali lagi, Tuan."


"Cepat jalankan mobilnya, ada pekerjaan yang sudah menunggu kita di sana."


"Pekerjaan penting apa yang membuat Bos Vino tidak libur di hari minggu, ya," gumam Riyan sambil tetap menyetir.


**Bersambung


....


...Jangan lupa sajennya, ya biar semangat nulis aku tuh...


...sajen berupa...

__ADS_1


...like, komen, vote, dan juga hadiah**...


__ADS_2