Ditakdirkan Mencintaimu

Ditakdirkan Mencintaimu
Mirip


__ADS_3

Seperti biasa Vino menjalani hari-harinya, seperti pagi ini, dia pergi ke kantor diantar oleh Riyan. Setelah sampai, Vino turun dari mobilnya disambut oleh satpam yang membukakan pintu. Vino mengedarkan pandangannya merapikan jas yang dipakainya. Arjun yang sudah menanti kedatangan sang bos segera menyambutnya dan meraih tas yang dibawa oleh sang bos.


"Pagi, Bos," sapa Arjun dan satpam berbarengan.


"Maaf, Tuan, sepertinya salah satu dari kita akan mendapatkan rezeki," ucap satpam menatap segan kepada Arjun.


"Maksudnya," Arjun dan Vino saling menatap gagal paham.


"Hehe, begini, Tuan. Kata orang tua, jika kita tanpa sengaja mengucapkan kata yang sama dan ketika mengucapkan serentak dengan seseorang, itu artinya salah satu dari kita, akan mendapatkan rezeki," satpam yang bernama Joko itu menjelaskan.


"Tahayul, itu," kini Vino dan Arjun yang tanpa kebetulan ucapannya sama.


"Pasti, Tuan berdua akan dapat rezeki hari ini," ucap Joko berbinar. "Apapun itu, semoga rezekinya berkah. Siapa tahu nanti diantara Pak Bos berdua ada yang mendapatkan jodoh," ucap Joko senang.


"Kerja yang benar, pagi-pagi sok jadi dukun," sengit Arjun. Sedangkan Vino sudah melenggang pergi.


"Yah, dibilangin kagak percaya, atau memang tahayul ya ... !" Satpam Joko menggelengkan kepalanya.


Dengan penuh wibawa Vino melangkahkan kakinya. Pada karyawan menyapa pemimpin gedung itu dengan penuh rasa hormat.


"Apa jadwalku hari ini?" tanya Vino pada Arjun saat tiba di lantai atas menuju ruangannya berada. Beberapa sekretaris menundukkan kepala tanda hormat.


"Pagi ini ada rapat bulanan, lalu bertemu klien di jam makan siang. Lalu, nanti sore ada acara keluarga untuk menyambut kedatangan baby-nya Ibu Vinka." Vino seketika berhenti melangkah.


Baby-nya ... Vinka," cengo Vino belum paham. Dia belum tahu jika Vinka telah melahirkan seorang anak.


"Benar, Tuan."


"Bagaimana bisa?"


"Ya, bisalah. Diakan perempuan, punya rahim. Bukan kayak kita, bisanya nitip doang," Vino seketika memukul bahu Arjun.


"Gua nanya serius, anak buah macam apa seh, Luh," kini mereka sudah sampai di depan pintu ruang Vino. Arjun segera membuka pintu dan mempersilahkan Vino masuk.


"Nanti juga Bos tahu sendiri. Nyonya Vinka bilang nanti bakal nelpon," beritahu Arjun sambil memisahkan berkas di meja Vino.


"Hufft," Vino menatap berkas yang memenuhi mejanya sekilas.


"Kamu pungut darimana seh, Jun, kertas kertas ini?" menunjuk malas semua berkas yang ada di atas meja.

__ADS_1


"Semangat, Bos. Duwit gede semua ini," ucap Arjun sambil cengengesan.


"Percuma, Jun punya banyak duwit tapi kagak ada yang habisin," celetuk Vino. Arjun paham sekali pasti yang dimaksud Vino adalah pasangan hidup.


"Pelet saja Si Sana itu, Bos. Kayaknya cocok buat partner habisin duwit," celetuk Arjun yang membuat Vino tersedak ludahnya sendiri. Seketika pikirannya kembali mengingat mimpi tadi malam eh dini hari ndeng atau mungkin malah sudah pagi. Entahlah, tapi mimpi itu mampu membuat Vino tak karuan rasanya. Antara heran, kenapa bisa mimpi memeluk Sana, ada rasa senang juga rasanya di mimpi itu nyaman banget peluk Sana.


"Luh, kalau bicara suka asal, ya!" melempar bolpoin yang langsung ditangkap oleh Arjun. Vino mendadak jantungnya berdetak kencang. Kenapa dia bisa bermimpi sedekat itu dengan Sana? Vino segera membuang pikiran anehnya itu.


"Weh, sabar Bos. Kalau nggak mau, ya. Sima saja tuh, lumayan over size semua, Bos," jawab Arjun sambil menempelkan tangan ke dadanya sendiri. Iyalah, Sima kan ibarat gitar tuh gitar Spanyol. Bagian depan dan belakang aduhai, seksi menggoda.


"Otak, Luh lama-lama gesrek juga, ya!"


"Yeay, Gua mah ikut apa keinginan author saja, Bos. Awalnya dibuat dingin, entah kenapa sekarang mendadak gesrek gini, mungkin biar semua orang tahu, bahwa Bos Vino tuh deket banget sama asistennya kayak keluarga. Dan Bos Vino berubah dingin jika kepada orang luar. Biar apa? terkesan berkharisma dan berwibawa gitulah, ya, " Arjun bener-benar ya, beraninya dia gosipin author.


"Ndak papa lah, Jun. Penting masih standar waras Luh, kan luarnya saja kelihatan dingin. Nanti kalau kenal juga ternyata orangnya hangat kayak api," jawab Vino enteng.


"Kok, api seh, Bos?


"Dah, kerja, kerja malah ngegosip kayak mak-mak pasar saja," titah Vino mulai membuka beberapa lembar kertas di dalam map.


"Oke, selamat bekerja, Bos." Arjun pergi keruang kerjanya. Sepeninggal Arjun, Vino kembali mengingat mimpinya.


🌿🌿🌿🌿


Di rumah Riki.


Mareno dan Raya baru saja tiba di rumah Vanka. Mereka begitu terkejut dan juga bahagia mendengar kabar bahwa Vanka melahirkan. Sebab menurut hasil pemeriksaan, Vanka terserang sebuah penyakit.


"Sayang, Kamu berhutang penjelasan sama Mama, Oke!" menunjuk Vanka dengan telunjuk, kemudian dia menuju box bayi dan mengambil bayi perempuan yang begitu imut.


"Ma, Vinka mandi dulu, ya! tolong mama jagain baby, ya." Raya mengacungkan jempolnya. Sambil berkata "Siap" tanpa suara


"Cucu Eyang, selamat datang ke dunia ini, ya, Nak. Cantiknya bidadari Eyang. Wajahmu mengapa begitu mirip, Nak?"


Cukup lama Raya memandang wajah cantik cucunya, tanpa terasa, sebuah tangan besar menyapu wajah cantiknya.


"Eh, Mas!" ucap Raya setengah terkejut. Raya juga buru-buru mengusap air matanya sendiri.


"Punya cucu kok malah menangis, kenapa hemmm?" tanya Mareno dengan lembut. Mareno juga menciumi pipi cucunya dengan sayang.

__ADS_1


"Lihatlah wajahnya, Mas! bukankah dia begitu mirip dengan Mbak Dewi?" Raya tak kuasa lagi menahan sesak di dadanya. Air matanya jatuh kembali.


"Sudahlah, jangan diingat terus, biarkan dia tenang di sana." bujuk Mareno sambil merangkul pundak Raya. Tidak dipungkiri oleh Mareno, jika anak Vanka memang memiliki wajah yang hampir mirip dengan Dewi, mendiang istrinya.


"Apakah ini, janji yang diucapkan oleh Mbak Dewi waktu itu, ya, Mas. Mbak Dewi akan datang lagi di kehidupan kita. Dia akan menagih kasih sayang dariku," kini tangis Raya disertai dengan senyuman. Dia begitu merindukan sosok Dewi yang menganggap dirinya sebagai adik.


Kedua menantu Maria dulunya begitu dekatnya Mereka hidup rukun, saling menyayangi satu dengan lainnya. Bahkan Dewi juga berpesan agar Raya mau menikah dengan Mareno setelah dirinya tiada. Tapi Raya yang tidak mau menjadi istri Mareno, karna selalu ingat kebaikan Dewi. Raya beranggapan bahwa dengan menikahi Mareno, dirinya telah mengkhianati Dewi.


Raya akhirnya memutuskan pergi dari rumah. Dan tinggal di rumah kecil di dekat pesantren. Hingga suatu saat, Mareno datang menemuinya, dan meminta hidup bersama dengan Raya atas permintaan Maria.


"Cieeee, romantisnya. Kayaknya masih pantes kok gendong baby lagi," Vanka yang baru saja keluar dari kamar mandi menggoda mereka berdua.


"Vinka ... !"


"Cie...cie...tersipu malu."


"Benar apa kata Vanka, kita program kehamilan lagi, buat dedek buat Faza," Mareno menaikturunkan alisnya.


"Maaaasss,"


mereka bertiga akhirnya tertawa bersama.


"Hebat, ya, kalian! tidak ada yang menghargai kedatanganku," sebuah suara mampu menghentikan tawa semua orang.


**Bersambung....


...Siapa tuh yang datang...


...Jangan lupa, Share...


...like...


...komen...


...rate5...


...vote...


...Terima kasih untuk yang sudah membaca love you all**...

__ADS_1


__ADS_2