Ditakdirkan Mencintaimu

Ditakdirkan Mencintaimu
DM 117


__ADS_3

Senyum penuh kebahagiaan tercetak jelas dari kedua bibir pasangan muda keluarga Jizzy. Tak henti-hentinya kedua pasangan itu melemparkan senyum secerah mentari pagi. Acara demi acara pun berjalan dengan khidmat.


"Sayang, apa kamu merasa lelah? Apa kamu ingin sesuatu? Apa kamu perlu saya temani istirahat terlebih dahulu?" Rentetan pertanyaan yang ditulis Vino melalui via WhatsApp. Mereka duduk berjauhan sebab pria dan wanita juga dipisahkan jarak.


Sana hanya tersenyum setelah membaca pesan tersebut. Menatap suaminya penuh cinta. Gelengan kepala membuat pria yang sangat mencintainya menghela nafas lega.


Tak sampai di situ, pesan susulan mulai berentetan masuk mencerca Sana.


"Suamimu sepertinya khawatir padamu?" bisikan lembut membuat Sana memutar kepala. Mama Raya tersenyum hangat.  Seketika pipi Sana berubah menghangat, bersemu merah. Entah kenapa rasanya seperti ABG yang baru jatuh cinta. Perlakuan Vino semenjak dia hamil lebih lembut dan lebih penyayang.


Sana merasa seakan-akan dialah wanita paling bahagia di dunia ini.


"Tapi, aku baik-baik saja kok, Ma!" ucap Sana menyembunyikan rasa malu.


"Jangan dibiasakan berkata baik-baik saja. Nikmati saja momen ini dan bersikap terbuka. Tunjukkan padanya bahwa kamu sangat butuh dia. Vino itu persis seperti papanya, Graham Jizzy. Tipe orang yang gila kerja. Kamu harus pandai menarik perhatian penuh darinya. Pastikan jika kamu dan anakmu adalah prioritas baginya.  Katakan saja jika kamu memang ingin sesuatu. Dan jangan simpan dalam hati jika kamu juga punya rasa cemburu. Ikat dia dengan cintamu bersama anak yang kamu kandung. Agar pelakor tak ada yang berani mendekat."


"Anak adalah senjata pamungkas untuk mengikat suami untuk tunduk di bawah kaki kita." ucapan mertua lho ajarannya sesat nggak sih.


Sana menggaruk kepala yang tertutup hijab. Raya beralih lagi fokus pada MC yang membacakan urutan acara yaitu mauidhoh hasanah lalu ditutup dengan do'a.


Vino sengaja membuat acara lebih singkat agar istrinya tidak kecapean. Padahal, ya! Istrinya hamil baru satu setengah bulan. Bayangkan saja, dia hanya membuat  empat mata acara. Pembukaan, pembacaan ayat suci Al-Quran, sambutan dan Mauidhoh Hasanah beserta doa, kemudian makan bersama.


Dan semua itu, hanya berjalan selam satu setengah jam. Bayangkan coba, betapa singkat, padat dan bermanfaat.


"Sayang, kamu ingin makan apa?" Raya menanyai anak mantunya. Mereka sudah duduk di meja selepas Mauidhoh dan doa. Sedangkan Vino menghampiri beberapa rekannya dan berbincang ala kadarnya.


Di saat telinganya menangkap sebuah insiden tak terduga.


"Semua ini gara-gara Kauuuu...Gadis Kampuungggg!"


Martha memungut apa saja yang mudah diraih oleh tangannya. Kemudian hendak dia balang kepada Sawitri.


"Hai, jangan lakukan itu!" teriak Vino.


Crashhh


Darah mengalir dari dahi anak kecil tak bersalah itu. Vino segera mendekat. Menghalangi Sawitri dengan tubuhnya. Meski sudah terlambat. Martha hendak melakukan kekerasan kembali untuk kedua kalinya.

__ADS_1


"Security, amankan dia!"


Riki menyerahkan Karyl pada Vanka. "Vino, kamu urus para tamu dahulu.  Aku akan bawa gadis ini untuk mendapatkan perawatan."


Sreekk


Suara sobekan kain terdengar jelas.


"Tidak! Sawitri akan bersamaku? Abang Riki urus dulu wanita itu. Kalau perlu penjarakan saja dia."


Ini suara Faza yang sudah berdiri tepat di belakang tubuh Vino. "Kamu tahan ya!" kata Faza sambil  mengikat kepala Sawitri agar darah yang mengalir berkurang.


Semua orang yang tahu siapa Faza, cukup tercengang. Penasaran mengapa pemuda itu sampai rela merobek kemejanya sendiri demi seorang gadis kecil yang baru kali ini nampak oleh mereka.


"Kau harus mempertanggung jawabkan perbuatanmu." Matanya menyala seakan hendak menerkam Martha. Rasa cinta yang mulai bertunas, kini telah layu sebelum disirami. Hingga yang tersisa hanyalah kebencian.


"Faza!"


Vino hendak membantu Faza, namun ditolak.


"Dia tanggung jawab ku, Bang!"


Vino dan Riki saling berpandangan. Senyum tipis tercetak di bibir keduanya. Terlihat jelas bagaimana Faza mengkhawatirkan keadaan Sawitri. Aura menyeramkan juga terpancar kala matanya bertabrakan dengan sosok Martha.


"Faza! Aku tidak sengaja. Aku hanya bercanda!" teriak Martha meronta. Kedua security semakin kuat menahan lengannya. Menariknya keluar diikuti oleh Riki.


"Para Tamu Undangan semuanya, saya selaku pemilik acara meminta maaf yang sebesar-besarnya atas ketidaknyamanan ini. Sungguh, ini di luar kendala kami. Silahkan di lanjut menikmati hidangan ala kadarnya."


Kata-kata Vino sungguh tidak sinkron. Sebab menu yang di keluarkan malam ini memiliki kualitas super.


"Dan untuk Kalian yang merekam adegan tadi, silahkan konfirmasi dengan Arjun. Sebab, akan ada hadiah uang tunai untuk Kalian semua! Dan jika setelah ini ada yang sampai mengunggah kejadian tadi di sosmed, jangan salahkan kami jika dampaknya membawa seluruh keluarga Anda."


Tentu saja semuanya akan memilih uang. Berurusan dengan keluarga Jizzy sama saja bunuh diri.


Vino memberi kode pada Arjun agar segera bertindak. Membawa semua orang menunjukkan video ataupun gambar kejadian yang baru saja terjadi. Arjun mengamankan segalanya untuk barang bukti setelah menyerahkan sejumlah uang.


"Kak, aku tak perlu digendong," ucap Sawitri." lirih Sawitri menahan rasa sakit yang mulai terasa. Matanya berkunang-kunang. Faza tidak berkata apapun. Langkah lebarnya membawa dia segera sampai di parkiran.

__ADS_1


"Kamu...yang kuat, ya!" Faza mengelus sedikit kepala Sawitri setelah memasang sabuk pengaman. Memastikan keadaan Sawitri dalam keadaan nyaman. Setelahnya, dia buru-buru memutari mobil dan kemudian masuk tempat kemudi.


"Kamu akan baik-baik saja." Hatinya mendadak sakit, cemas dan was-was. Terlebih ketika gadis itu meringis.


"Apa sangat sakit?"


"Aku hanya merasa pusing." Suara Sawitri hampir tak terdengar.


"Bertahanlah! Kamu akan baik-baik saja. Aku berjanji." Menarik tangan Sawitri dan menciuminya.


Apakah Faza sudah berubah jadi seorang pedofil? Tentu saja menurutnya tidak! Dia merasa jika Sawitri adalah tanggung jawab nya sekarang. Dia akan melakukan apapun untuk menggantikan posisi ayah Sawitri.


Faza mengambil ponsel lalu menghubungi rumah sakit. Keluarga Jizzy termasuk penyumbang dana terbesar bagi kesejahteraan rumah sakit tersebut. Jadi, tak susah baginya untuk mendapatkan pelayanan terbaik.


"Siapkan semuanya. Sepuluh menit lagi aku sampai." Perintah Faza mutlak. Tanpa menunggu jawaban dia sudah pindahkan panggilan.


"Riyan! Keluarkan file itu sekarang. Dia banyak berulah."


Yang di seberang nampak kebingungan. Tapi kemudian juga paham apa yang harus dia lakukan.


"Martha... Kamu akan membayar semuanya."


Di tempat pesta.


"Sayang, apa yang terjadi?" Sana tak ikut berkerumun sebab dilarang oleh Raya.


"Hanya sedikit kesalahpahaman. Semua sudah baik-baik saja kok." Mencium kening istrinya dengan lembut.


"Dari tadi aku belum melihat Faza dan Sawitri. Aku lihat tadi dia duduk di sana." Tunjuk Sana pada tempat dimana ada dua waiters tengah berberes. Matanya menyipit menunjukkan keheranan.


"Loh!"


"Faza membawa Sawitri jalan-jalan. Dan meja itu, tadi ada orang yang tanpa sengaja tersangkut taplak mejanya."


Sana hanya ber oh ria.


"Mbak, Kak Vino, apa Kalian melihat Sawitri?"

__ADS_1


Rindi datang dengan wajah paniknya. Dia melewatkan sesuatu.


To be continued


__ADS_2