Ditakdirkan Mencintaimu

Ditakdirkan Mencintaimu
Panggung Drama 3


__ADS_3

"Kau mengganggu saja," sungut Vino. Sebab terganggu dengan kehadiran Vanka yang tiba-tiba mengagetkan moment indah Vino, padahal tinggal selangkah lagi, dia akan mengatakan sesuatu yang selama dia pendam di dalam hati.


"Bagaimana kalian ini, di bawah semua orang pada heboh mencari keberadaan Kalian. Bahkan MC sampai dimarahi sama Madam, gara-gara kalian dipanggil berulang kali, tapi tidak juga datang. Eh, kalian malah enak-enak bermesraan di sini," sungut Vanka. 


"Ah, yang benar, Bimud!"


"Iya, kasihan tuh para kru pada panik sendiri nyariin kalian, terancam nggak dapat bonus dari Madam. Terlebih kamu, Tiger! Sudah saat latihan selalu bolos, saat main juga masih saja bikin ulah," terang Vanka dengan santainya, Vino masih mendengus kesal sebab acaranya terganggu dengan kedatangan Vanka.


"Tapi, Sana sudah minta izin sama Kak Saras kok." Bela Sana pada dirinya sendiri. Vanka hanya menggidikkan bahu acuh. 


"Saras nggak bilang tuh!"


"Yah, padahal tadi bilang, iya lho Bimud. Sudahlah, aku turun saja." Sana akhirnya pergi dengan menyingsing gaun panjangnya yang menyapu lantai.


"Dasar pengganggu!" cerca Vino, dengan tatapan kesal bercampur emosi. Dia pun lekas menyusul kemana langkah Sana pergi.


"Hai, sudah kubilang kan, kalau mau menyatakan cinta, buat sebuah momen romantis dan beli cincin," kata Vanka, sambil mengikuti langkah Vino.


"Tentu saja, aku akan melakukan itu, jika saja suami tersayangmu itu tidak menghalangi langkahku untuk mendapatkan Sana." Vino semakin kesal saja.


Kalau saja, aku tidak kasihan dengan kakak, aku sudah mengirim santet online kepada si Riki agar cepet mati. Eh, tapi siapa yang akan menjadi wali Sana. Ah, sudahlah, pikir lagi nanti. batin Vino.


"Hai, bengong!"


"Cangkir, ngagetin saja!"


"Makannya jangan bengong mulu, diomongin dari tadi nggak jawab." ketus Vanka. Vino menghentikan langkahnya. Vanka juga ikut berhenti.


"Kakak memang bilang apa?"


"Nah, gitukan manis, panggil saudara tercantikmu ini dengan sebutan Kakak." Vino memutar bola matanya malas ditanya apa, jawabnya apa. Meski memang benar, bisa dihitung dengan jari, berapa kali Vino memanggil nama Vanka dengan sebutan kakak.


"Kakak, katakan!"


Vanka mendekati Vino, dan membisikkan sesuatu di telinga Vino.

__ADS_1


"Momennya selalu tidak pas kak, tadi Vino pengen nembak malah keburu Cingker datang!" keluh Vino.


"Sudah, jangan galau, ikuti saja petunjuk kakak!" tekan Vanka. "Ingat, kau harus lakukan rencana itu dengan sempurna dan jangan sampai kau melakukan kesalahan, atau aku tidak akan membantumu lagi." ancam Vanka. Vino mengangguk setuju, senyum penuh misteri tercetak jelas di bibirnya.


Kembali ke panggung.


Pangeran Wangi Samudra tengah dilanda gundah gulana, sebab Bunga Kusuma telah merekah satu kelopak, harumnya telah menyebar ke seluruh penjuru kota kerajaan. Kerajaan tetangga yang mencium aroma wanginya berdatangan dan ingin memiliki, kerajaan terancam dan diambang kehancuran.


"Wahai Mahapatih, apa yang harus aku lakukan agar Kerajaan ini selamat dari para musuh."


Yang disebut Mahapatih membungkukkan badan.


"Kita harus menyiasati bunga Kusuma, agar harumnya tidak sampai tercium keluar kerajaan yang Mulia."


"Aku tahu, satu windu sekali, kerajaan ini selalu di landa bencana sebab mekarnya bunga Kusuma."


"Tapi bagaimana caranya?"


Ada banyak usulan dari para menteri dan pejabat kerajaan, ada memberi usul bunga itu dimusnahkan saja, tapi bunga Kusuma adalah bunga simbol kerajaan dan energi positif yang harus dijaga dan dilestarikan. Raja ingin bunga Kusuma tetap ada dan aman dalam perlindungannya.


Semua usulan para pejabat kerajaan, membuat sang pangeran dilema. Akhirnya, mereka meminta kepada ahli nujum untuk meminta petunjuk, dan dari situ lah salah satu dari anggota keluarga kerajaan, harus mengasingkan diri. Raja memberi perintah kepada sang pangeran agar pergi ke tepi sungai di tengah hutan, untuk mengasingkan diri dan mencari petunjuk sesuai yang diramalkan.


"Bau apa ini?" Setelah beberapa hari di hutan.


"Sang pangeran, ini adalah bau dari seorang gadis yang berada di hutan larangan."


Karna penasarannya, sang pangeran pun mencari dari mana bau itu berasal.


"Dia gadis yang sangat cantik, tapi bagaimana bisa memiliki bau yang begitu menyengat. Kesalahan apa yang diperbuatnya?"


Berhari-hari Pengeran Wangi selalu mengintai Putri Cinta. Gadis yang begitu penyanyang, namun dijauhi oleh semua binatang. Hingga suatu hari, Pangeran terjerembab dan masuk ke dalam sumur tua. Putri yang melihatnya langsung menolong dan mengobati luka pengeran.


"Kenapa kau bisa berada di sini sendiri wahai gadis?"


"Saya diusir dari tempat tinggal saya, sebab memiliki bau yang tidak sedap," jujur putri. Putri menceritakan semua kisah hidupnya. Sang pangeran yang mendengar cerita itu jadi merasa kasihan. Sang pangeran membawa Putri Cinta ke kerajaan, dengan maksud untuk menangkal harumnya bunga Kusuma.

__ADS_1


Saat di perbatasan, tanpa sengaja mereka bertemu dengan rombongan kerajaan musuh. Mereka melukai dan menyerang warga kerajaan Kusuma. Banyak dari rakyat Kusuma yang meninggal sebab kekejaman musuh. Hanya untuk memiliki bunga Kusuma, mereka tega mengorbankan nyawa yang tidak berdosa. Pangeran Wangi juga salut akan perjuangan rakyatnya, jiwa bela kerajaan mereka begitu tinggi.


Wangi Samudra yang tidak memiliki kekuatan seimbang kalah dan terluka parah. Putri Cinta memutar tubuhnya, agar semua musuh pergi sebab lemas setelah mencium bau menyengat Putri Cinta. Tapi, setelah melakukan itu, dirinya mengalami muntah darah. Ternyata, itulah efek samping dari kutukan Putri Cinta.


"Wahai pangeran, kuatkan dirimu. Kau harus selamat." Putri Cinta membawa sang pangeran ke dalam pelukannya. Air matanya menetes, mengenai luka pangeran Wangi dan sembuh. Mengetahui hal itu, putri Cinta kembali menangis selama dua hari agar mendapatkan air mata yang banyak untuk mengobati semua luka pangeran Wangi.


"Matamu kenapa sampai membengkak begitu?"


"Pangeran, sebaiknya kita segera ke kerajaan mu, aku akan segera menghapus bau harum bunga Kusuma, agar harumnya tidak sampai menyebar ke kerajaan lain. Aku takut, bunga itu akan menjadi incaran banyak orang, sehingga menimbulkan banyak pertumpahan darah.


Di sepanjang perjalanan, mereka selalu mendapati rakyat yang tengah terluka, anak-anak dilarang bermain di luar. Semua orang tidak bisa tidur nyenyak.


"Setiap bunga Kusuma mekar, beginilah keadaan kerajaan kami. Kusuma adalah kebanggaan dan simbol kerajaan. Namun harumnya membuat siapa saja ingin memilikinya." Cerita sang pangeran dengan sedih.


"Aku akan menghalau bunga itu dengan bau badanku." ucap Putri.


Hari demi hari telah mereka lalui, kebersamaan pangeran Wangi dan Putri Cinta membuat keduanya semakin dekat dan merasakan jatuh cinta di antara keduanya.


"Kita telah sampai, Tuan Putri."


Putri menatap takjub keindahan bunga Kusuma. "Indah sekali bunga ini!" Pangeran mendekati bunga Kusuma itu, begitu juga Putri Cinta. Tapi keduanya merasakan reaksi kekuatan yang berbeda.


Putri merasakan sengatan yang luar biasa sakitnya. "Auwhh!"


"Kau tidak apa-apa Putri!"


Disaat bersamaan, datanglah ahli nujum kerajaan. "Putri, jika kau benar-benar ingin menolong kami, peluklah bunga Kusuma itu, agar baunya hilang oleh bau menyengat tubuh Putri Cinta.


"Dia akan kesakitan." panik sang Pangeran.


"Apakah kau bersedia?" tanya ahli nujum kepada Putri.


"Aku bersedia,"


"Baiklah, putri, silahkan, waktu baiknya hanya satu detik saja." Putri memeluk bunga Kusuma itu, dan hilang bersama jeritan sang Putri."

__ADS_1


"Putri .. !


Bersambung.....


__ADS_2