
"Hai ... cantik-cantik, kok menangis. Lagi patah hati, ya, Neng," ucap seorang pria yang kini tengah berdiri di hadapan Sana. Perlahan Sana pun mendongakkan kepalanya.
"Kau ... Om Riki, aku merindukanmu," Sana langsung memeluk erat Riki.
"Kok, Om sudah berada di sini saja. Terus, Om juga tidak pernah mengabari Sana. Om jahat," Sana menangis dipelukan Riki. Riki menghibur keponakannya agar lebih baik.
"Maaf, Om belum sempat, lagian juga nomermu tidak aktif. Om baru sampai hari ini, karna restoran dalam keadaan kacau. Dan tanpa sengaja om melihatmu berlari kemari. Ada apa memangnya," tanya Riki.
"Tidak ada apa-apa, hanya kangen sama kalian," bohong Sana, tentu saja Riki menaikkan alisnya sebelah.
"Beneran, Om."
"Baiklah, kau boleh bohong kali ini. Karna Om sedang pusing," Riki langsung duduk di sebelah Sana.
Sana memutar badannya menatap Riki. Dia juga mengusap wajahnya yang basah. Riki hanya meliriknya melalui ujung mata.
"Om punya masalah apa? biar Sana bantu, ya!" ucap Sana antusias. Padahal tadi dia menangis sesenggukan. Semudah itu Sana melupakan masalahnya sendiri saat orang yang disayanginya juga memiliki masalah. Sana memang super unik dia lucu, kadang polos kadang nyebelin dan radak radak bodoh. Padahal dia jago mengaji, sayangnya
"Satu masalahnya dan bagi om ini sangat berat. Tapi, mungkin akan terasa ringan jika kau mau membantu om," Riki berkata seolah-olah dia memang dalam tekanan yang berat. Sana sampai seperti anak kecil yang disuguhi film Upin Ipin. Melongo saja. Antara bingung dan juga penasaran. Kenapa Riki raut wajahnya terlihat sedih, tapi bibirnya tersenyum.
"Jangan berbelit-belit gitu dong, Om, katakan terus terang masalahnya apa?" Sana sudah tidak sabar. Riki masih tersenyum simpul. Selain Vinka, ada Sana yang selalu bisa membuatnya tertawa. Satu-satunya ponakan yang dia punya. Adapun Rindi juga dia anggap sebagai ponakan, tapi tentu saja masih memiliki perbedaan. Orang bilang, ikatan darah lebih kental daripada air.
"Coba tebak apa," Riki malah ngajak main tebak-tebakan.
"Ya, nggak tahu-lah orang Om cuma senyum-senyum sendiri dari tadi," Sana berubah cemberut.
"Ini ... bulan sabit Om tadi hilang dari sini," Riki menunjuk bibir Sana. Dia paham sekarang, bahwa Riki sedang menggoda dirinya. Selain itu, pasti Riki mengalihkan pembicaraan agar Sana tidak lagi menangis.
"Om, nyebelin banget!" Sana mengerucutkan bibirnya, namun kemudian tertawa.
"Terima kasih, Om. Sudah menghibur Sana." Riki hanya mengangguk dan menyandarkan punggungnya ke bangku. Riki juga merangkul pundak ponakannya.
"Om, bukankah Om Riki berada di Australia mengantarkan Bimud berobat? kenapa sudah berada di sini?" Sana sampai mengerutkan keningnya sebab heran.
"Siapa bilang, Bimud masih di Indonesia, kok!" ucap Riki dengan santainya. Sana bahkan di buat berkedip beberapa kali.
"Bagaimana bisa? jangan mengada-ada deh, Om." Sana ingat betul ketika Riki bilang akan membawa Vinka keluar Negeri. Yaitu Australia tepatnya untuk pergi berobat penyakit yang belum di ketahui itu.
__ADS_1
"Makannya, punya ponsel di aktifkan biar tahu info terkini," Riki menatap langit.
"Ponselku hilang di malam itu. Saat aku pulang dari rumah om Riki. Di ambil sama jambret." Suasana hati Sana berubah murung kembali.
"Lalu?"
"Aku nginap di apartemen seseorang yang resenya minta ampun. Dia sekarang membuatku berhutang kepadanya." ucap Sama dengan sedikit kesal. Apalagi saat mengingat perlakuan Vino yang suka mencuri cium darinya.
"Memang berapa hutang yang kamu punya?" selidik Riki.
"Tidak banyak kok," ucap Sana gelagapan. Dia terlanjur keceplosan. Tapi, juga tidak mau melibatkan Riki dalam masalah ini. Dia harus bisa menyelesaikan masalah ini sendiri.
"Om, om belum cerita tentang Bimud," Sana kembali cemberut sebab Riki belum juga cerita.
Riki menghirup udara dalam-dalam menoleh ke arah Sana lalu terkekeh "Tegang amat mukanya," kembali menggoda alamat batal cerita deh.
"Vinka berada di rumah sakit dekat bandara. Kami tidak jadi pergi bersama papa dan mama mertua sebab ayah mertua papa yaitu papanya mama Raya sedang sakit, alhasil papa dan mama pulang ke Palembang. Dan kita, aku sama Vinka berdua di bandara," Riki menjeda ceritanya. Melirik Sana yang masih setia mendengarkan.
"Lalu!"
"Ciee yang sabar menunggu cerita."
"Vinka kembali merasakan sakit di bagian perutnya sebelum kita take off, Vinka berteriak sebab merasakan sakit yang luar biasa. Para pramugari juga khawatir dan kalang kabut menolong kami. Ada sesuatu yang basah mengalir dari rahim Vinka. Dengan panik saya bawa Vinka ke rumah sakit dahulu."
"Terus!"
"Ambil nafas dulu, Sayang! ngap tahu. Cerita terus."
"Ooom, lagi penasaran malah ceritanya gantung. Tega benar jadi orang, ahh! nggak asyik." Sana menghentakkan kakinya. Lucu banget.
"Aku sampai di rumah sakit, Vinka semakin menjerit-jerit kesakitan. Katanya, dia merasa perutnya begitu sakit, dan keringatnya keluar sebesar biji jagung. Aku semakin kalang kabut marah-marah sebab aku merasa perawat dan dokter semuanya lelet, padahal mereka sudah berusaha sekuat tenaga."
"Kan, berhenti lagi," Riki terkekeh sebab wajah Sana semakin lucu.
"Vinka di tangani dan aku menunggu dengan sabar. Aku di suruh tanda tangan. Perawat bahkan belum sepenuhnya menjelaskan aku Langsung tanda tangan tanpa tahu surat apa itu. Yang penting Vinka selamat," Riki senyum-senyum sendiri.
"Om ... sudahlah simpan saja ceritamu. Aku bosan lama-lama, Om nyebelin banget," bangun dari duduknya. Namun dicekal oleh Riki.
__ADS_1
"Mau kemana?"
"Pulang! mau dengarkan cerita yang tidak kelar-kelar jadi bosan."
"Sebentar, duduk, ayo duduk, aku selesaikan.," seperti anak TK, Sana pun menurut.
"Kau tahu, perawat itu keluar lagi dan memintaku untuk menemani Vinka, katanya itu atas permintaan Vinka. Dan tahukah kamu Dan?"
"Nggak, pending terus ceritanya. Sampai Lebaran Kucing juga, nggak bakalan kelar. Sampai Lebaran Gajah juga tetap stand by."
"Cantiknya, kalau lagi marah gituh, jadi tambah sayang," malah peluk Sana.
"Iihh, ceritanya dilanjut, bukannya peluk gini," Sana memukul lengan kekar Riki.
"Om yang ganteng ini sangat bahagia," Sana sangat heran sampai melepas paksa pelukan Riki.
"Mana ada seorang suami bahagia melihat istrinya dioperasi. Ngaco, ya, Om Riki kalau ngomong. Aku kalau jadi Bimud sudah disambelin saja. Masak istri lagi berjuang untuk kesembuhan suami bilang bahagia. Harusnya khawatir," cerocos Sana, biar bagaimanapun dia juga sangat mencintai Bimud kesayanga-nya itu.
"Dengerin dahulu makannya. Jangan langsung komentar tidak jelas. Kayak mak-mak gosip saja, Luh."
"Ya cepetan di lanjut, gimana kisahnya?" jengah Sana, sebab digantung sama cerita. Rasanya tuh kayak lagi kebelet tapi nggak nemu WC.
Garing benget author hehe ...
✓✓
...Sana, kayaknya author lagi kurang semangat, ya?...
...Iyalah, pembacanya dikit...
...bantuin author gih, biar semangat cari dukungan gitu, UPS massudku, kasih dukungan. ...
...iya, **Bantu Share, Like, komen, dan kasih hadiah,juga rate 5...
...Iya, harusnya gitu seh...
...Terima kasih juga untuk yang sudah setia membaca....
__ADS_1
...Love you all...
ig author @Nafi_Rosyida**