Ditakdirkan Mencintaimu

Ditakdirkan Mencintaimu
Villa


__ADS_3

"Mau kemana lagi kita?" tanya Sana. Dia sama sekali tidak mengenal jalan yang kini mereka lalui. Sedangkan jam di tangannya menunjukkan pukul tiga. Hampir dua jam lamanya mereka berada di mobil Vino. Tapi sama sekali Vino tidak memberitahu kemana mereka akan pergi.


"Aku punya sedikit pekerjaan di suatu tempat. Kalau pulang terlebih dahulu, takutnya nggak bakal keburu. Aku juga tidak ingin kamu pulang sendiri. Jadi, sekalian aku bawa saja kamu bersamaku," ucap Vino sambil tetap fokus menyetir.


"Iya, tapi mau kemana? Setidaknya aku tahu kemana arah tujuan kita. Agar aku bisa menghubungi Kak Saras dan meminta izin," ujar Sana.


"Aku sudah mengatakannya kepada Eyang. Jadi duduk diam saja," titah Vino yang membuat Sana kembali bungkam.


"Wah, adem sekali tempatnya." Sana merentangkan kedua tangannya, kini mereka telah tiba di sebuah rumah yang belum jadi. Rumah ini berada di puncak. Atau mungkin bisa disebut sebuah Villa.


"Ini milik kamu?" Sana menunjuk sebuah bangunan yang belum sepenuhnya jadi.


"Anggaplah seperti itu!" Vino melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah itu. Setiap bagiannya sudah jadi, hanya tinggal mengirim perabotan dan catnya saja.


"Menurutmu, warna apa yang cocok untuk ruangan ini?" tanya Vino saat sampai di sebuah ruangan yang lebih luas. Mungkin lebih cocok untuk di jadikan ruang keluarga.


"Kau bertanya kepadaku?" Sana mengedipkan matanya berulang kali.


Apa dia juga tahu apa yang sedang aku pikirkan? Aku berkhayal andai saja memiliki sebuah rumah seperti ini. Otakku sekarang sudah dipenuhi dengan berbagai desain kamar dan furniture yang klasik namun mewah. Batin Sana.


"Adakah orang lain selain kita?" Vino hampir saja mencuri ciuman dari Sana.


Mungkin lama-lama aku bisa gila jika terus bersama gadis ini. Owh, tidak! jangan menggemaskan begitu. Kumohon! Batin Vino.


"Mungkin warna monokrom dengan sentuhan warna hijau dari tanaman hias, akan terkesan natural dan elegan. Bisa juga ditambah dengan sentuhan warna biru muda di beberapa bagian sana."


"Apa alasanmu memilih warna monokrom?" Vino nampak menaikkan satu alisnya. Tapi matanya terlalu jelalatan terus saja memandang bibir mungil Sana yang menggoda layaknya buah cherry.


"Aku rasa ada setan di sekelilingku," rutuk Vino dalam hati. Dia mengusap wajahnya kasar berulang kali di belakang tubuh Sana.


"Apakah aku harus menyertakan alasannya?" Diangguki oleh Vino.


"Oke, Memancarkan suasana bersih dan klasik tapi juga memiliki kesan modern.


Mudah untuk direncanakan dan dieksekusi karena hanya fokus pada beberapa warna dan corak. Background monokrom juga menawarkan nuansa harmonis dan tenang. Sebab menggunakan satu warna dan turunannya dapat menjauhkan kita dari kekacauan dalam mendesain interior ruangan. Selain itu, skema monokrom dapat mengubah ruangan yang berantakan menjadi ruang santai, menenangkan, dan memikat."


"Hemm, aku rasa semua ucapanmu itu memang benar. Aku setuju dengan semua pendapatmu. Good idea. Mau melihat ruangan yang lain lagi?" tawar Vino sambil masih berusaha menetralkan pikiran mesumnya. Dengan antusias Sana mengangguk setuju.

__ADS_1


Dimulai dari dapur, kamar tidur, kamar mandi, dan halamannya. "Wah, di sini kalau ditaruh rak-rak khusus untuk bunga hias kayaknya cocok banget, terus sebuah aquarium besar untuk meletakkan ikan kohi." Sana begitu antusias mengungkapkan semua yang ada di dalam otaknya. Tapi semenit kemudian dia nampak diam kembali.


Padahal Vino begitu menikmati wajah Sana yang terlihat lebih cantik saat berbicara. Matanya yang berbinar membuat hati Vino terasa menghangat. Bahkan tanpa Vino sadari, inilah pertama kalinya dia merasa hatinya telah terisi. Ada perasaan yang tidak bisa diungkapkan melalui kata.


"Kenapa diam," ucap Vino sambil tersenyum.


"Maaf, karna aku sok pintar mengatakan semua yang ada di kepalaku. Kau orang yang pintar dan kaya, tentu seleramu akan sangat berbeda dengan orang biasa sepertiku." Vino tersenyum menanggapinya tapi bukan ucapan Sana yang dia tanggapi dengan senyum itu. Melainkan pikiran kotornya yang masih mengarah kepada bibir Sana. Begitu terlihat seksi dan menggoda, bahkan Vino tidak iklas melihat Sana menggigit bibir bawahnya. Ingin rasanya dia yang menggantikan ulah itu, mencumbu lembut dan mengulumnya.


"Tidak, jangan lakukan itu Vino. Vino menyugar rambutnya beberapa kali. Sana begitu heran melihat wajah Vino yang tiba-tiba memerah.


"Kamu kenapa Vino." Sana menatap wajah Vino dengan sejuta pertanyaan.


"Tidak apa-apa, kita pulang saja, yuk."


Kenapa rasanya begitu sulit mengendalikan diri saat bersamanya. Aku tidak ingin kejadian di pesta terulang kembali.


Vino masih ingat betul kesedihan yang tercetak jelas di wajah Sana saat di pesta. Setelah itu dia mendapat omelan dari Eyangnya. Ya, saat itu, Maria melihat pertengkaran Sana dan Vino.


"Sana, maukah kau menemaniku memilih kado untuk seorang bayi?" tanya Vino sambil tetap fokus menyetir. Bersyukurlah sebab dia sudah bisa mengendalikan pikiran kotornya. Kini mereka berdua sedang dalam perjalanan pulang.


"Sepupu, seorang bayi?" Vino heran, sebab Sana sudah pantas memiliki seorang bayi, tapi kenapa dia bilang memiliki sepupu seorang bayi.


"Sepupumu masih bayi?" cengo Vino.


"Iya, baru saja lahir beberapa hari yang lalu. Dia anak dari pamanku. Pamanku adalah cinta keduaku setelah ayah. Dia orang yang begitu baik."


"Benarkah?" Sana mengangguk antusias.


"Bahkan kadang mereka yang tidak tahu status kami, mengira bahwa aku dan pamanku itu sepasang kekasih. Aku juga lebih sering menyebutnya Om," terang Sana. Vino seketika menghentikan mobilnya.


"Vino ... hati-hatilah! Kamu bisa membahayakan pengguna jalan yang lain," teriak Sana, secara otomatis mereka kini masih berada di tengah jalan. Semua orang di belakang mereka terlihat mengumpat kesal. Bahkan beberapa kali memencet klakson.


"Tuhkan!" Sana seperti mak-mak yang lagi pms.


"Maaf, maaf!" Vino menetralkan rasa keterkejutan-nya.


"Sudah jalan lagi aja, sebelum mereka memarahi dirimu. Jangan kayak gitu lagi, ya. Kalau terjadi sesuatu bagaimana," suara Sana lebih rendah dari yang tadi.

__ADS_1


"Maaf," ucap Vino lagi. Tapi di hatinya mengumpat sebab terkejut dengan kata kata yang keluar dari mulut Sana. Seolah Sana tadi menyindir dirinya yang mengira bahwa Sana dan Riki adalah keponakan dan paman.


Eh, apakah benar apa yang aku pikirkan? Kalau iya, berarti selama ini aku salah menduga mereka berdua. Apakah aku harus menanyakan siapa nama pamannya? Batin Vino.


"Sana."


"Ya!"


"Kalau boleh tahu, siapa nama paman kamu?" tanya Vino.


"Kau pasti juga mengenalnya, secarakan dia menjadi cucu dari Madam Eyang sekarang," ucap Sana dengan santai.


"Mak_"


"Eh, kita belanja di sana saja yuk!" Belum selesai bicara, Sana memotong ucapan Vino. Sedangkan Vino masih merasakan gamang di Hati.


**Bersambung....


*_' لسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ_*


Menjelang berakhirnya bulan suci Ramadhan dan datangnya Bulan Syawal 1442 H, perkenankanlah kami sekeluarga menyampaikan :


_*Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1442 H, mohon maaf lahir bathin.*_


_Taqobbalallahu minna wa minkum, shiyamana wa siyamakum, kullu'aamiin waa antum bi khair..._


_Semoga Allah terima amal ibadah kita,_


_Allah terima taubatan kita_


_dan Allah pertemukan kita semua dengan Ramadhan berikutnya dalam keadaan sehat wal afiat._.... Aamiin Allahumma Aamiin.


Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar Walillahilham.


*َوالسلام عليكم ورحمةالله وبركاتهُ*


Keluarga besar Nafi thook 🙏🙏🙏**

__ADS_1


__ADS_2