Ditakdirkan Mencintaimu

Ditakdirkan Mencintaimu
Dia tahu.


__ADS_3

Siang itu, langit seperti biasanya berwarna biru. Sebiru cinta Sana untuk Vino.


Waktu jam makan siang.


"Arjun siapkan mobil, kita makan di luar." Vino memberi perintah.


"Tapi Bos, setelah ini kita ada rapat dengan Tuan Bagaskoro, juga Tuan Anderson, terkait dengan mall yang ada di kota M." Vino menyugar rambut dengan kasar. Pasalnya, dia telah berjanji untuk makan siang bersama Riki dan Sana.


"Kenapa wajahmu berubah Bos?"


"Bisakah meeting nya kita undur dulu? Aku ada janji dengan Riki dan Sana. Bersamaan mengatakan itu, ada panggilan masuk. Arjun segera menerima panggilan itu melalui earphone. Nampak Arjun mendengarkan dengan seksama apa yang dibicarakan oleh si penelepon. Vino juga mengeluarkan ponselnya guna memeriksa pekerjaannya.


"Ah Iya, baik Tuan, kami setuju."


Dalam beberapa menit saja panggilan itupun berakhir.


"Suatu kebetulan Bos, Tuan Rizal mengatakan bahwa rapat akan diundur tiga puluh menit."


"Bagus!"


"Saya akan mengabari Tuan Mike untuk hal itu." Vino hanya diam dan melangkahkan kakinya keluar ruangan.


"Bos, tumben Anda makan siang bersama Tuan Riki. Apakah ada yang spesial?"


"Ini permintaan Sana."


Arjun tersentak beberapa waktu, bukankah ini hal yang paling langka? Ataukah akan ada kabar bahagia setelah ini? Arjun jadi antusias dan berharap sebuah keputusan final dari pertemuan ini. Meski otaknya mulai menerka-nerka, tapi bibirnya terangkat sempurna.


"Apakah Anda sudah siap untuk menikah? Semoga saja cepat ada hari baik, sehingga kau tidak kesepian lagi Bos."


"Kau pikir kau laku?" menelanjangi Arjun dengan sorot matanya, seolah mengatakan bahwa Arjun juga jomblo yang sama kesepian seperti dirinya, bahkan jalan berdua saja dengan seorang gadis pun tidak pernah terlihat.


"Yah, semua itu karena Anda!"


"Kau yang minta!" elak Vino mengingatkan bahwa yang melamar pekerjaan kala itu adalah Arjun.


"Tidak! Ah iya juga ya hehe." nyengir kuda sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Lha salah sendiri dikasih."


"Itu karena tidak tega melihat wajah memelasmu itu."

__ADS_1


Di tempat lain. Di depan sebuah bangunan tempat menimba ilmu, seorang gadis berdiri tegak sambil memainkan ponselnya.


"Apa kau sudah lama menunggu?"


Gadis itu memutar tubuhnya, tahu benar siapa yang datang.


"Ah tidak!"


"Kita pergi sekarang Om?"


"Tentu saja!" Riki meletakkan tangannya diatas bahu Sana, lalu menggiringnya menuju sebuah mobil mewah.


"Apa setelah ini Om benar-benar tidak sibuk?"


"Tidak! Mungkin hanya mengecek beberapa pembukuan restoran saja." Kini Riki membuka pintu mobil dan memberi ruang kepada Sana untuk masuk.


"Tumben sekali kau ingin makan siang bersamaku. Apakah ada sesuatu yang penting hemmh?" Tidak ingin ada kekeliruan, Sana mengumpulkan segala keberaniannya untuk menyuarakan maksud hatinya.


"Om, bila aku menikah nanti, maukah Om menjadi waliku?"


"Pertanyaanmu itu aneh. Siapa lagi yang akan jadi wali jika bukan Om." Tanya balik Riki.


"Om, apa syarat sahnya menikah Om?"


"Iya Om, dan saya berharap Om menyetujuinya." meski lirih, tapi penuh penegasan, bukan seperti sebuah izin atau permintaan, namun lebih kepada perintah. Sana juga tidak bisa membuang waktu lebih banyak lagi. Mungkin caranya meminta izin tidaklah baik, tapi dia terlanjur bicara apa boleh buat?


"Apa kamu yakin? Kau juga mencintai Vino?" Pembicaraan yang mulai serius, membuat Riki tidak lagi ingin berbasa-basi. Mobil berjalan begitu lambat.


"Iy_ ya ah Tidak!" menundukkan wajahnya, menyembunyikan rasa malu. Riki tersenyum lucu karenanya.


"Iya, atau tidak?" goda Riki tersenyum manis. "Istikharah lah, jika hatimu sudah mantap, jangan tunda lagi. Takutnya malah jadi fitnah. Bukankah kalian saling mencintai?"


"Om serius? Tapi ... Bukankah Om ...."


"Aku hanya ingin tahu, sampai dimana Vino memperjuangkan dirimu," akhirnya terungkap sudah kebenaran yang selama ini dia sembunyikan.


"Jadi..., selama ini ... Om hanya pura-pura menentang hubungan kita berdua?" Riki terpaksa mengangguk meski Sana menunggu dalam beberapa hitungan detik. Hal itulah yang membuat Sana meraup wajahnya gemas.


"Ternyata, Om, jahil juga yah?" Sana tertawa renyah, kecemasan yang selama ini menghantui pikirannya musnah sudah. "Semua Om lakukan karena mu." Riki menghentikan mobilnya di pinggir jalan. "Om tidak ingin kau sampai mengalami patah hati untuk yang kedua kalinya. Om tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi nanti."

__ADS_1


"Maafkan Sana, Om. Sana sering merepotkan Om Riki." Wajah sendu Sana tidak berani menatap ke arah Riki.


"Hai, Hai, itu sudah menjadi kewajiban Om, kamu adalah tanggung jawab Om. Om hanya ingin yang terbaik untuk kamu." Mengusap lembut pipi Sana, "Kita lanjutkan perjalanan kita ya, kasihan Vino yang super sibuk itu." Sana mengangguk pelan.


✓✓✓


Di tempat lain.


Dua wanita beda usia kini duduk berhadapan. "Maaf Madam, bisakah kau berbuat sesuatu agar aku bisa kembali berbaikan dengan anakku?" Wanita yang diajak bicara hanya bisa menghembuskan nafasnya berat.


"Aku sudah pernah memperingatkan dirimu. Dan penawaran berharga yang saat itu langsung kau tolak. Sudah pernah aku katakan, aku sangat berterima kasih. Tapi keputusanmulah yang menentukan utuhnya keluarga mu." Wanita yang lebih muda bahkan menatap sinis Maria.


"Bagaimana aku bisa kembali dan melupakan kemewahan yang sudah lama aku nanti?" Itulah sifat asli wanita itu, bahkan sampai membuat kuburan palsu hanya agar anaknya lupa pada dirinya.


"Kau sangat egois." Maria mengucapkan fakta dibalik bibir tipisnya yang mengembang.


"Begitulah hidup, bukankah hidup harus dinikmati?" keangkuhan yang mungkin saja bisa menghancurkan dirinya suatu saat nanti.


"Apa tidak kau pikirkan perasaan anakmu? Dia tinggal di rumahku dalam beberapa lama akhir-akhir ini, dan aku selalu mengamatinya. Ayahnya mendidik gadis itu dengan begitu baik, Risya."


Wanita yang bernama Risya itu diam dalam kekalutan. Pikirannya juga diliputi rasa takut untuk kehilangan, tapi sifat tamak dan serakahnya menginginkan hal yang lain.


"Baik dalam kekurangan, tetap saja sakit." ungkap Risya. "Dan aku bahagia sebab melewati itu semua."


"Kau tidak takut sebuah kata menyesal?"


"Untuk apa? Aku yakin dia akan kembali." Maria sampai menggeleng dan menekan denyut di kepalanya yang mulai muncul.


"Aku mendengar sebuah kekecewaan yang amat besar besar, mengalun indah dari bibir anakmu itu."


"Aku yang melahirkannya ... dia akan sadar itu." kekeh Risya semakin mengeraskan hati. Berharap bahwa mimpinya kali ini juga terwujud.


"Berdoalah, agar kata-katamu kali ini benar adanya. Gadismu bukanlah anak kemarin sore."


"Jangan meremehkan kemampuanku." Risya mengeraskan rahangnya. Otaknya menyusun rapi rencana yang akan dia gunakan untuk mendapatkan keinginannya.


"Kita bisa melihatnya nanti, tapi ada satu hal yang wajib kau ketahui, Dia sudah lama benci akan hadirmu. Sejak pemakaman itu."


Deg

__ADS_1


pyaarrr


Bersambung


__ADS_2