
Ayah, secepat ini kau pergi membuat hatiku terasa sunyi.
Ayah, tidakkah engkau melihat aku sendiri dalam belenggu senja, merana.
Ayah, engkau adalah sayap mimpiku, namun sekarang telah patah, bagaimana aku akan menyusuri dunia tanpamu.
~ Afsana*~
Aku duduk diam di belakang pamanku, siapa lagi jika bukan Om Riki yang selalu ada untukku. Om Riki selalu membawaku jalan jalan ketika ayah marah kepadaku. Sayang banget dia tuh sama aku. Secara, akukan ponakan perempuan satu satunya.
Sebenarnya, Om aku masih punya kakak lagi selain ibu, aku menyebutnya pakde Ali. Tapi dia bekerja di luar kota, sehingga jarang sekali bertemu denganku. Dan kemarin setelah pemakaman ayah, pakde ku itu langsung pulang kembali. "Maafkan pakde tidak bisa menemanimu, Nak! pakde masih banyak pekerjaan," aku hanya mengangguk mengiyakan.
Aku memang tidak mengharap banyak darinya, terlebih jika ingat istri pakde yang bawel dan judes itu. Berbeda sekali dengan Bimud kesayangan aku, Bimud Vanka. Ah, aku jadi sebel jika ingat Om Riki mengusirnya pulang tadi pagi. Padahal orangnya menyenangkan, eh aku kok baru nyadar sekarang ya.
Dan ayah, tiba tiba aku ingat ayah kembali. Aku mengabsen setiap tempat yang aku lalui. Di toko itu, aku sering mengajak ayah beli gula aren di sana. Itu adalah satu satunya tempat di mana gula aren asli berada. Toko itupun meninggalkan aku juga. Berganti toko kain yang sering aku kunjungi, jika kami ingin memakai baju sarimbit. Aku selalu mengajak ayah ke sana dan seperti biasa, Ayah hanya menurut saja saat aku mengajaknya kembaran.
Ganti sekarang melewati penjual martabak, aku sering beli martabak jika sore sore begini, dan setelah itu, beli milk shake. Aku mendongakkan kepala berulang kali, menahan agar air mata ini tidak lagi terjatuh.
"Sana! kok diam saja, apa stok kata kata mu sudah habis." Om Riki mencoba mengajak aku bicara. Tapi entahlah, aku masih belum ingin bicara. Bayangan ayah masih hadir dalam ingatanku, baru tadi pagi di makamkan, dan Om Riki entah apa yang dia pikirkan sore ini, sampai merayuku agar mau di ajak jalan-jalan.
"Aku ingin di rumah saja, kenapa Om malah mengajakku jalan." lirihku, suaraku masih serak dan telingaku bindeng, karna lama aku menangis dari semalam.
Aku menyandarkan kepalaku di punggung milik Om Riki. Mataku rasanya berembun kembali, dadaku mulai sesak.
"Sebentar, Om angkat handphone dulu ya!" ucap Om Riki sambil mengambil gawainya di saku. Aku tidak begitu menghiraukan apa yang paman ucapkan. Aku menatap nanar sembarang arah. Di semua sudut terbayang wajah ayah. Tatapanku berhenti pada sebuah lapangan sepakbola. Aku dan ayah sering menonton pertandingan turnamen setiap hari kemerdekaan. Dan sekarang, semua hanyalah kenangan. Aku larut dalam kenangan, kenangan yang membuat aku semakin mengingat akan sosok ayahku.
"Sana! ayo turun." Lamunanku seketika buyar oleh suara dan tepukan Om Riki di pipiku.
__ADS_1
"Ayo turun, lagi ngelamunin siapa hayo? dari tadi diajak ngomong nggak jawab jawab." Aku hanya tersenyum masam menanggapi omongan Om Riki. Berulang kali dia mengusap kepalaku dengan sayang. "Apakah kamu baik baik saja?" Terlihat jelas olehku raut wajahnya penuh kekhawatiran.
"Om Riki, apa apaan seh, malu tahu. Di tempat umum juga." Sebenarnya aku malah ingin memeluk omku, tapi malu dengan situasi yang lumayan ramai. Sangat berat beban di hati ini.
"Sudah jangan sedih sedih terus, Om tidak mau kamu larut dalam kesedihan." Om Riki mengusap pipiku yang masih saja meneteskan bulir air mata. Aku mengangguk lemah berusaha tegar.
"Ayo kita kuras dompet." Om Riki meraih tanganku dan membimbing aku kepada penjual cilok. Aku masih tidak berminat dengan apapun berada di sekitarku. Aku hanya menurut saja apa yang di di lakukan oleh om Riki tanpa banyak bicara.
🍒🍒🍒🍒
Riki sudah sangat letih memikirkan bagaimana caranya agar ponakannya ini bisa tersenyum kembali, pasalnya dia juga harus keluar Negeri untuk mendampingi Vinka berobat.
"Om Riki, aku perhatikan, om melamun terus dari tadi! lagi mikirin mbak Afsana ya!" Rindi meletakkan wedang jahe di samping Riki duduk. Lalu dia menempati tempat kosong di sana. Mereka sedang di beranda rumah sekarang, menatap langit malam yang temaram.
"Sudah, jangan di pikirkan terus, mbak Sana perlu waktu untuk menerima kenyataan ini. Aku saja masih belum percaya jika ayah sudah meninggalkan kita semua apalagi mbak Sana."
"Saya tidak tega melihatnya, Rin! Dari kecil, dia tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu, dan sekarang." Riki tidak melanjutkan lagi kata katanya.
"Minumlah dulu, Om! Biar lebih rileks." Riki mengambil cangkir yang di sodorkan oleh Rindi. Pas banget dengan keadaannya yang kurang enak badan akibat kurang istirahat.
"Terima kasih!" ucapnya sedikit serak, terlihat jelas Riki menahan kesedihannya. "Aku tidak bisa membuat Sana kembali tertawa," menoleh sekilas ke arah Rindi, lalu membuangnya lagi ke depan.
"Tuhan punya cara tersendiri untuk menunjukkan rasa kasih sayangnya Om, seperti mbak Sana sekarang ini. Allah SWT memberinya ujian, agar dia bisa naik level untuk bisa mengalahkan segala tantangan yang akan di berikan kepadanya nanti. Mbak Sana hanya perlu waktu untuk menguasai permainan, sedangkan kita hanya bisa menunjukkan jalan kepadanya agar bisa melewatinya, sehingga dia mendapatkan skor terbaik."
"Kamu ini, sistem game di jadikan pedoman." Rindi cemberut karna kata kata yang keluar dari mulut omnya tidak sesuai dengan asumsinya.
"Tapikan benar!" gumam Rindi yang masih terdengar jelas oleh Riki.
__ADS_1
"Sebenarnya, bukan itu masalahnya Rin, om akan pergi menemani Vinka berobat."
"Ya pergi saja lah, Om." Riki menoleh ke arah Rindi, dan memutar tubuhnya. Kini mereka duduk berhadapan.
"Tapi om tidak tega meninggalkan Sana dalam keadaannya yang seperti sekarang," jelas Riki.
"Itukan gampang, om bisa menengok mbak Sana setelah pulang berobat, kayak mau pergi keluar negeri saja."
"Memang benar mau pergi ke luar negeri berobatnya."
"What!" Riki membekap mulut Rindi.
"Jangan kenceng kenceng." Melepaskan bekapannya lalu meletakkan jari di bibirnya. Rindi mengangkat dua jari.
Riki akhirnya menceritakan semuanya tentang penyakit yang di alami Vinka. Tentang keputusan Mareno yang sudah tidak bisa di ganggu gugat untuk membawa Vinka keluar negeri.
"Om harus pergi, untuk menemani Bimud. Soal mbak Sana, biar aku yang urus." Rindi menyodorkan dirinya dengan antusias.
"Aku tidak bisa, Rin! aku tidak mau meninggalkan Sana dalam keadaannya seperti sekarang."
"Tapi istrimu lebih memerlukan dirimu di saat terberat nya Om, om adalah suaminya."
"Entahlah, Rin! Sana juga kewajibanku. Aku akan pergi jika sudah melihat Sana tersenyum kembali."
Tanpa mereka sadari, ada seseorang di balik korden mendengarkan perbincangan mereka.
**Bersambung....
__ADS_1
Jadi pergi apa tidak ya si Riki nantinya**.