
"Kenapa kemari, Bos? gadis itu jika hari libur biasanya cuma senam dan berdiam di rumah. Tapi ini jam sembilan. Mereka pasti ada di warung makan panggung di tepi sawah, Bos."
"Kau sepertinya begitu mengenal mereka," ucap Vino dengan nada yang terdengar kesal.
"Tentu saja, hebat kan, Bos," Riyan begitu bangga atas hasil pekerjaannya. Membuntuti gadis ternyata menyenangkan juga. Tapi juga mengerikan saat ada yang memergokinya, pasti di tuduh memiliki niat jahat. Untung hari menegangkan itu cepat berlalu.
Vino masih belum sadar jika dia lah Dalang di balik penguntitan Riyan.
Astaga, kenapa aku mendadak bego gini seh, aku yang membayar Riyan buat nyari info tentang gadis itu, tentu saja dia tahu segalanya. Kenapa mendadak bodoh gini seh kamu Vino. batin Vino.
"Kenapa Bos, kok tepuk jidat," tanya Riyan heran dengan tingkah bosnya.
"Ada nyamuk tadi," alasan Vino yang dia anggap paling masuk akal.
"Lho kita mau kemana ini," Vino tahu benar jika jalan yang mereka lalui ini bukan menuju rumahnya Sana. Ditolehnya Riyan yang belum juga menjawab sebab fokus pada jalanan yang lumayan banyak berlubang.
Di sekeliling menyuguhkan
sebuah pemandangan alami yang memanjakan mata siapa saja yang melihatnya. Di sampingnya ada sebuah warung makan panggung dengan geladak kayu jati. Halamannya cukup asri dengan beberapa buah buahan di kelilingi oleh tatanan beberapa bunga hias yang indah.
"Ngapain kita kemari?" Vino memicingkan matanya heran. Bagaimana bisa Riyan mengajaknya ke tempat yang berbeda dari yang dia inginkan.
"Nanti, Bos juga bakalan suka. Santai ajalah Bos," kata Riyan sambil melangkahkan kakinya ke dalam rumah makan.
🍁
💕
"Lek, sambalnya nanti di banyakin biara pedes terus, kecapnya sedikit saja." ucap Sana yang kini duduk berhadapan dengan Rindi. Sarapan telat ala gadis kampung ini sungguh asyik sekali. Dia memilih makanan yang berkuah yaitu soto sedangkan Rindi memilih lontong sayur.
"Makan yang banyak, Rin biar gemuk." Sana mengunyah makanannya dengan semangat.
"Siapa yang kurus wooi, aku mah sudah ideal ini. Kamu saja yang kurang gemuk, kayak sapu lidi." cerca Rindi tidak mau kalah.
__ADS_1
"Mbak, ternyata ada baiknya juga kita sarapan lebih siangan biar nanti tidak usah makan siang. Kita tahan saja sampai nanti waktu makan malam."
"Nah, itu tahu, apa tujuanku ngajak makan agak siangan." ujar Sana terkekeh. Tabungannya semakin hari semakin menipis dan dia harus pandai berhemat sebelum mendapatkan panggilan kerja.
"Maafkan Mbak, Rin. Mbak belum bisa kakak yang baik untukmu. Jadinya kita harus berhemat agar kebutuhan kita tercukupi."
"Jangan katakan itu, Mbak. Rindi sudah sangat berterima kasih, karna Mbak, Rindi bisa sekolah lagi dan bisa melanjutkan hidup Rindi. Mbak adalah orang terbaik yang pernah Rindi temui dan Rindi punya." di tatapnya mata Sana dengan tatapan penuh haru.
Andai tidak ada Sana, mungkin Rindi sudah tidak ada lagi di dunia ini. Dan andai saja tidak ada Rindi, mungkin Sana akan sendiri meratapi kematian ayahnya, hingga berlarut larut. Keduanya saling melengkapi meski tidak ada ikatan darah.
"Wah, kebetulan sekali ada mantan pacar, nih!"
Suara seseorang yang begitu familiar di telinga Sana. Tanpa aba-aba orang itupun duduk di samping Sana.
"Hai, kau, berani-beraninya duduk di antara kami. Enyah kau dari sini." usir Rindi tanpa basa-basi. Dia mendadak kenyang hanya dengan melihat pria sok kecakepan di hadapannya ini.
"Sabar calon adik ipar, eh lebih tepatnya mantan adik ipar," pria itu terkekeh yang menurut Sana sangatlah memuakkan. Rindi memutar bola matanya malas.
"Sayang, kenapa kau duduk di sini?" tanya seorang wanita yang juga sangat di kenal oleh Sana.
"Harusnya Kamu tuh bilang sama pacar barumu itu agar menjauh dari kehidupan Mbak Sana," sewot Rindi tidak terima.
"Sayang, jangan ribut dong malu di lihat orang. Kita pesan makanan saja, ya," ucap Dion dengan begitu lembut, tapi tatapan matanya tidak lepas dari wajah Sana yang cuek saja.
"Iya, Sayang aku mau. Satu piring saja, ya kita suap suapan," ucap gadis itu dengan suara yang di buat buat, bahkan bagian tubuhnya dia gesekkan di lengan Dion.
"Dasar kere, makan sepiring berdua,"
"Apa kamu bilang," teriak Raya.
"Sayang, sudahlah, jangan di ladenin. Dan bisa ini, aku mohon lepaskan dulu, ya! aku tidak akan meninggalkan kamu, kok. Aku hanya mau pesan makanan dulu," Dion mencoba melepaskan diri dari lilitan Raya. Rindi menatap keduanya dengan bibir mencebik menirukan ucapan lebay Dion tanpa suara.
"Cepat kembali ya aku menunggumu di sini," suara manja Raya membuat Sana dan Rindi ingin muntah.
__ADS_1
"Ngapain lihat-lihat," bentak Raya.
"Nggak ada, dia yang numpang malah sok pamer kemesraan." gumam Rindi.
Ketiganya gencatan senjata sepeninggal Dion.
Tak berapa lama Dion kembali dengan dua piring makanan di tangannya. Dion juga memperlakukan Raya dengan begitu sayang, membuat Sana teringat masa-masa kebersamaan mereka. Saat Sana berada di posisi itu. Dion memang pria yang lembut dan penyayang. Bohong jika Sana tidak patah hati, tapi sebisa mungkin dia berusaha untuk kuat.
"Emmh enak sekali rasanya di suapi sama kekasih emhhh, nikmat," suara Raya terdengar seperti tikus kejepit di telinga Sana dan Rindi. Tapi menurut Dion sangat seksi, sehingga mampu membangkitkan birahinya.
"Makan yang benar, Sayang jangan belepotan kayak anak kecil," Dion terkekeh sambil mengusap bibir Raya.
Sekuat apapun Sana berusaha dia tetaplah perempuan. Meski bilang jika tidak patah hati, namun hatinya tetap sakit saat orang yang pernah ada di hatinya kini secara terang-terangan memadu kasih di depan matanya sendiri.
Tidak, aku tidak boleh bersedih. Aku harus kuat. Aku harus tetap tegar, dan air mata ini kumohon jangan sampai jatuh.
"Mbak tidak apa apa?" Rindi memegang tangan Sana.
"Iya, aku baik-baik saja." Segera mungkin mengusap air mata yang hampir jatuh.
"Kau itu terlalu kampungan jadi Dion lebih memilihku daripada dirimu." Raya tersenyum sinis setelah membisikkan kalimat itu. Wajahnya penuh kedengkian dan keangkuhan juga kemenangan.
"Waow, tampan sekali pria itu!" kata Raya dengan tiba tiba. Ada seorang pria yang kini berjalan ke arah duduk mereka.
"Ada aku di sini tapi kau memuji pria lain."
"Ayolah, Sayang kau jangan begitu, aku hanya bercanda, aku mengatakan itu sebab ingin membuatmu cemburu saja kok."
"Hai, aku mencarimu," pria itu langsung duduk di sisi Sana.
"Jangan di habiskan aku belum minum ih," Sana menarik gelas yang di pegang oleh pria itu.
Sial, kenapa dia selalu dapat yang lebih baik dariku seh. gerutu Raya.
__ADS_1
Bersambung....