Ditakdirkan Mencintaimu

Ditakdirkan Mencintaimu
Cepat


__ADS_3

"Pa, ayo dong pa, cepat jalannya. Anak kita kecelakaan tapi kenapa papa nyetirnya lambat begini." Raya yang panik dan khawatir itu tidak henti-hentinya mengoceh. Membuat kepala Mareno terasa mau meledak.


"Apa mama tidak lihat hah, jalanan sedang macet begini," ucap Mareno dengan setengah frustasi memukul stir mobil yang dia tumpangi.


"Ya papa ngapain kek, minta relasi papa untuk mengatur jalan agar kita bisa lewat dengan leluasa. Rekayasa tuh lampu lalu lintas biar ijo semua."


"Kalau ijo semua malah lebih bahaya ma, mereka tidak ada yang mengatur malah banyak kecelakaan."


"Tapi anak kita juga kecelakaan walaupun ada lampu merah di mana-mana. Papa bilang sama pengatur lalu lintas lah untuk pas kita jalan saja suruh ijo semua. Biar kita cepat sampai." Nafas Raya tersengal bahkan pundaknya naik turun menahan emosi yang meledak di dadanya. Dia mengusap kasar air mata yang menetes di pipi.


"Ma, bersabarlah ma," nasehat Mareno yang sebenarnya juga khawatir. Tapi dia harus tetap tenang agar bisa menghadapi situasi yang sedang genting. Apalagi dia begitu tidak tega melihat wajah istrinya yang nampak memerah sebab menangis.


"Mama sudah sangat bersabar, bahkan mama sudah sangat sabar sampai menunggu kemacetan selama tiga puluh menit di sini." Raya semakin tersulut emosi. Tangisnya semakin menjadi.


"Bagaimana keadaan Faza Pa, aku tidak mau kehilangan anak kita." Raya mengguncang lengan kekar suaminya yang masih berpegangan pada kemudi mobil. Kemudian menarik lengan kekar suaminya mengusap ingus dengan lengan jas sang suami.


"Ma, kenapa malah mengotori jas papa?" Mareno menarik paksa lengannya dan menatap nanar noda putih yang tertinggal di sana.


"Papa sudah tidak sayang sama mama, gitu saja marah!" Gantian mengambil tissue dan mengelap ingusnya. Mareno hanya bisa mengelus dadanya.


Kayaknya memang benar kata pepatah jika wanita adalah sumber kebenaran. Iyalah, mau benar mau salah, wanita tetap makluk yang tidak mau disalahkan. Kerenkan.


"Bukan begitu Ma!"


"Sudah jalan sana, tuh sudah ijo lagi. Cepetan, nanti keburu merah lagi. Kamu kan tahu, Bahwa merah itu, menyala lebih lama daripada yang ijo."


Mereno menghela nafas panjang dan membuangnya kasar. Berharap setelah ini jalannya lancar jaya.


"Pa, bagaimana keadaan anak kita, ya, Pa?" Setelah beberapa saat terdiam kini bersuara kembali. Mareno yang fokus untuk mengebut mengurangi lagi laju mobilnya sebab jika tidak menjawab pasti disalahkan lagi.

__ADS_1


"Berdoalah Ma, semoga anak kita baik-baik saja. Dia anak yang kuat. Tidak akan terjadi sesuatu apapun kepadanya," hibur Mareno. Tangannya terulur mengusap lembut pipi istrinya.


Baru juga melewati dua tikungan kini ada lampu merah kembali."


"Pa, bagaimana kalau papa suruh asisten papa mengirim pesawat jet kemari. Kita naik itu saja ya, cepetan dong pa. Panggil orang-orang papa untuk bersiap." Mareno menekan pelipisnya yang mendadak lebih pening dari pada sebelumnya.


"Papa, kenapa diam ayo lakukan, Pa!" Raya masih merengek. Rasa di hatinya untuk segera melihat keadaan sang putra kesayangan begitu membuncah. Rasa khawatir dan panik berbaur menjadi satu, sehingga akalnya tidak berpikir dengan normal.


"Pa, ayo pa, biar kita cepat sampai."


"Mama tolong tenang deh, jangan bikin papa semakin pusing."


"Papa ternyata begitu pelit. Percuma punya pesawat pribadi tapi tidak bisa digunakan saat genting begini," teriak Raya semakin menjadi.


"Ma, ini jalan raya, jalan umum. dekat lampu merah dan pemukiman, bagaimana caranya kita membawa pesawat pribadi, sedangkan pesawat itu butuh landasan untuk berhenti."


Satu jam yang lalu, seorang polisi menghubungi mereka bahwa anak mereka berada di rumah sakit setelah mengalami kecelakaan.


🌿


Saras dan Sana setengah berlari menyusuri koridor rumah sakit. Sana begitu panik ketika mendapat telpon dari Rindi. Sana takut terjadi sesuatu yang bisa membuat Rindi dalam masalah. Setelah meminta izin dari Maria, mereka berdua pun segera meluncur ke alamat rumah sakit yang telah diberitahukan oleh Rindi.


"Kak Saras, ayo cepat kak!" Sana semakin mempercepat gerak langkah kakinya. Sedangkan Saras sebisa mungkin mengimbangi.


"Sana, kau harus bersabar semuanya pasti baik-baik saja."


"Aku juga berharap begitu, Kak!"


Keduanya kini telah sampai di depan ruang IGD. Sana mengusap matanya berulang kali, takut jika dia salah akan penglihatannya sendiri yang akhir-akhir ini mulai samar.

__ADS_1


Ada empat orang berada di depan ruang IGD, Sana melihat ada dua orang berseragam polisi dan dua orang lainnya dia seperti pernah melihat hodie itu di rumah Madam. Dan yang satu memakai jaket kulit yang sangat dia kenali.


Dia kadang tidak bisa mengenali wajah orang lain, jika penyakit itu kambuh. Semua orang terlihat sama di matanya. Sana tidak bisa melihat dengan jelas letak mata, hidung, mulut dan lainnya. Itu adalah kelemahan dirinya setelah mengalami kecelakaan beberapa tahun yang lalu. Meski tidak setiap saat penyakit itu datang, tapi Sana tentu merasa terganggu dengan penyakit yang datang dan pergi sesuka hati itu.


Meski begitu, Sana masih tetap bersyukur sebab dia masih bisa mengenali orang lain dengan cara mengenali suara, bentuk postur tubuh. Kelemahan Sana adalah mengenali wajah atau bisa disebut dengan penyakit face blindness yang sewaktu-waktu mengganggu penglihatannya.


Prosopagnosia atau face blindness bisa disebabkan oleh kelainan genetik atau masalah pada otak yang berfungsi untuk mendeteksi dan mengingat wajah. Penderita kondisi ini umumnya akan sulit mengenal dan membedakan wajah orang lain, baik yang belum atau sudah dikenalnya.


Tapi, tenang saja. Sebab Sana masih dalam kasus yang ringan. Dia akan mengalaminya jika dalam tekanan, stres atau faktor lainnya yang membuat dia kurang fokus.


"Kak Sana!" teriakan itu membuat hati Sana lega seketika. Dia sangat bersyukur sebab tidak terjadi sesuatu apapun kepada adiknya. Sana segera memeluk adiknya dengan begitu erat, menyalurkan rasa rindu, sebab dua minggu lamanya mereka tidak bertatap muka secara langsung.


"Rindi, apakah kau baik-baik saja?" Kini Sana kembali melihat dengan jelas raut wajah adiknya. Sana akan mengalami face blindness sewaktu-waktu, misal saja saat dia cemas atau sedang stres.


"Ya, kak aku baik-baik saja. Aku sangat merindukan Kakak tahu. Aku bahkan sampai membatalkan janji dengan teman-temanku hanya ingin menemui kakakku tercinta ini," Rindi melepas pelukannya dan mencubit pipi Sana dengan lembut.


"Kau ini Si Biang masalah. Di manapun kau berada, kau selalu membuat kehebohan."


"Hai, itulah keunikan yang aku miliki. Jangan mencemooh dan memarahiku karena itu. Karna itu, adalah identitas diriku," Rindi berlagak sok sombong.


"Ah iya, kenalkan ini adalah Saras te_"


ucapan Sana terhenti saat melihat orang lain yang begitu dia kenali juga berada di tempat yang sama.


"Hai, kau juga tidak mau memelukku, aku juga korban kecelakaan."


**Bersambung...


Jangan lupa dukungannya ya**,

__ADS_1


__ADS_2