
Pagi ini begitu cerah, secerah mentari pagi yang datang untuk menghangatkan bumi. Sana tengah asyik menyiram beberapa bunga yang terjajar rapi di dekat air mancur.
"Warna yang indah!" Sana membelai bunga mawar yang bergaris putih keunguan. "Cantik dan berkelas," gumam Sana lagi.
"Pagi Cecan!"
"Pagi Za, mau kemana pagi-pagi gini sudah rapi?" tanya Sana melihat Faza mulai mengeluarkan moge miliknya. Eh tunggu, tapi sepertinya itu bukan milik Faza.
"Motor siapa Za?" Tanya Sana serius. Faza nampak gugup, tapi tidak sampai terlihat oleh Sana.
"Motornya lah Kak, diakan anak orang kaya, pasti tidak akan puas hanya dengan satu motor." teriak Rindi secara tiba-tiba.
"Kakak nanya dia malah kamunya yang jawab!" membuat Rindi menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Sedangkan Sana mulai berasumsi yang tidak-tidak.
"Faza bener itu motor kamu?" tanya Sana penasaran.
"Iy_iya Kak!" kikuk Faza.
"Mau dibawa kemana?"
"Kerumah sakit kak, nganterin aku cek up!" Kali ini Rindi yang menyela.
"Tapi, bukankah kalian bilang tadi malam pergi cek up, makannya tidak bisa hadir dalam jamuan makan malam?" tanya Sana penuh selidik. Vino mengatakan jika seluruh keluarga bakal hadir, termasuk Rindi yang menjabat sebagai adik dari Sana.
Sana ingat betul, bahwa Vino mengatakan jika semuanya diundang, termasuk Eyang Madam, tapi karna Eyang Madam kurang enak badan, jadinya diam dirumah.
"Itu, karna tadi malam dokternya kebanyakan pasien, jadi kami tidak sabar menunggu dan akhirnya pulang." Rindi menggaruk tengkuknya yang tidak gatal lagi, Rindi pikir Sana mengabaikan itu semua. Tapi nyatanya dalam keremangan matanya, Sana bisa melihat itu semua. Hingga dia mengerjap beberapa kali.
"Kakak baik-baik saja?"
"Yah, baik!" Sana bersikap biasa saja, padahal pandangannya mulai berkabut, sepertinya sinar matahari mulai mengganggu penglihatannya.
"Sebaiknya kakak masuk deh, sinar matahari hari ini sangat cerah." Sana pun mengangguk dan berlalu.
"Kalian hati-hati di jalan ya!" ucap Sana sebelum benar-benar pergi.
Rindi dan Faza bernafas lega setelah kepergian Sana.
"Rindi, kita jadi jual motor ini?"
"Harus! Aku butuh banget uang untuk biaya hidup."
"Tapi Rindi, bagaimana jika ayahmu mengetahui hal ini?"
"Tidak akan! Kita bertemu saja dia tidak mengenaliku!" ada raut kesedihan di wajah Rindi.
__ADS_1
"Sebaiknya kita segera pergi. Aku harus segera menyelesaikan administrasi hari ini."
"Oke, let's go!"
Sana kini sampai di ruang keluarga, mendapati Maria yang tengah membaca majalah pagi ini.
"Selamat pagi Madam!" Sapa Sana.
"Pagi Sana!"
"Bagaimana kondisi Eyang?" menatap lembut wajah Maria, lalu Sana menekuk lututnya dan meletakkan ponselnya, Sana meraih kaki Maria dan mulai memijat pelan.
"Apa yang kau lakukan Sana?"
"Tidak ada, mungkin Madam kecapean, jadi tidak ada salahnya Sana membantu memijat." Sana menekan pelan kaki Maria, nyaman dengan pijatan Sana. Maria menepuk sofa dan meminta Sana untuk memijat sambil duduk saja.
"Sana!"
"Iya Madam!"
"Bagaimana dengan acara tadi malam?" Sana berhenti sejenak dari memijat, menatap Maria lalu menunduk lagi.
"Semua lancar, Madam!" Bingung harus jawab apa, dia saja sempat shock akibat acara dadakan itu. Untung sebelumnya Sana sudah mengenal mereka, jadi tidak terlalu sulit untuk bersikap, meski begitu juga masih saja jantungnya berdegup kencang. Apa benar bertemu calon mertua semenegangkan itu.
"Benar, kok Madam tahu?"
"Hai, gini-gini juga pernah menikah Sana! Kamu ini." Maria terkekeh geli, dan Sana tersenyum kaku. "Bahkan dulu aku sampai diomeli sama mama, sebab pas jamuan makan malam selalu izin pergi ke toilet. Rasanya tuh dag dig dug pengen pipis pengen bab apalah, pokoknya nervous banget," Madam berbinar menceritakan pengalaman masa mudanya.
"Berbeda dengan Vino, dahulu Eyangnya sangat dingin dan irit bicara, meski kami saudara sepupu, tapi kami tidak pernah saling akrab sebab masalah keluarga. Jadi, kami berdua seperti orang asing, apalagi ternyata Eyang Kakungnya Vino, memiliki kekasih. Aku harus berjuang untuk hubungan kami, yang tidak memiliki pondasi. Hanya percaya pada keputusan orang tua adalah yang terbaik. Untung ada mama dan membimbing ku Sana, bahkan di saat tersulitku dalam membina bahtera rumah tangga."
"Bahagianya memiliki orang tua ya Madam!" lirih Sana. Reflek Maria menepuk lembut bahu Sana, tentunya setelah menurunkan kakinya.
"Jangan seperti itu, Sana! Anggaplah Madam juga orang tua kamu, jika ada masalah apapun kedepannya nanti, kamu jangan sungkan meminta nasehat dari orang tua yang tak guna ini."
"Terima kasih Madam, Madam begitu baik!"
"Haruslah, apalagi terhadap calon cucu mantunya!" goda Maria yang membuat pipi Sana Memerah.
✓✓✓
Sedangkan di sebuah rumah minimalis modern, duduk dua laki-laki dengan beda usia yang bertatapan tanpa ingin memulai percakapan, sebab mereka tahu jika salah satu diantara mereka buka suara, maka yang ada hanya perdebatan unfaedah.
"Masih betah diem-dieman," ucap Vanka sambil menggendong anaknya yang sudah mulai aktif menggerakkan tangannya. Bahkan tidak jarang mengeluarkan bahasa unik ala bayi, anggap saja mulai merespon benda di sekelilingnya.
"Sini sama Uncle tampan yuk!" mengambil alih bayi mungil itu dadi dekapan Vanka, lalu menghadiahi pipi gembul si baby dengan banyak ciuman. Tanpa dia sadari, jika satu pria yang lainnya berdecih kesal sebab kalah cepat.
__ADS_1
"Hati-hati pegangnya! Jika sampai dia sampai patah tulang sebab ulahmu, aku tidak segan untuk membalas!" ancam Riki dengan ketus.
"Tidak, Sayang! Sepertinya dia begitu lihai dalam menggendong anak, lihatlah! Bahkan cara dia menaklukkan bayi lebih terampil daripada kamu!" fakta yang dikemukakan oleh Vanka membuat Vino tersenyum mengejek.
"Apa!" ucap Riki tanpa suara. Membuat Vanka yang masih memperhatikan hanya geleng-geleng kepala.
"Umur sudah tua, tapi kelakuan masih tetap saja sama."
"Seperti kadar cintaku kepadamu yang tidak akan pernah berubah!" gombal Riki.
"Lebay, norak!"
"Itu namanya romantis!"
"katrok!"
"Iri bilang, Bos!"
Vanka memijit kepalanya yang berdenyut.
"Nggak! Ngapain iri sama orang yang egois." mendadak suasana panas.
"Maksudmu?"
"Restui Gua sama ponakan Luh!"
"Wani Piro?"
Riki bersikap pongah dan sok jual mahal.
"Vino, kau masih menganggap dia tidak merestui hubungan dirimu lagi?" heran Vanka. Tentu saja akal Vino yang hanya diisi oleh sosok Sana itu mungkin lupa, seperti apa karakter Riki. Vanka menyenggol lengan suaminya, berharap Riki tidak lagi membuat adiknya galau.
"Memang dia tidak merestui!" ketus Vino.
Ingat terakhir kalinya mereka bertemu tetap saja Riki mengatakan tidak akan mau menjadi wali untuk Sana. Dan Vino beranggapan bahwa, Riki sampai saat ini belum merestui hubungannya dengan Sana.
"Ayolah Kak Vanka, beritahukan kepadanya, bahwa aku sangat serius."
Vanka menatap intens ke arah Vino, kemudian beralih menatap suaminya.
"Sayang!"
"Tetap sama, keputusanku tidak bisa diganggu gugat. Aku tidak akan menjadi wali dalam pernikahan Sana!"
Bersambung .....
__ADS_1