
Di dalam sebuah masjid yang tidak terlalu besar, seorang perempuan tidak henti-hentinya melafalkan ayat suci Al-Qur'an yang menenangkan. Satu hal yang paling bisa membuat hati dan pikiran terasa tenang. Vino yang bersandar pada dinding masjid akhirnya tertidur dalam keadaan duduk. Suara yang indah dan alunan yang mendayu merdu, bagaikan angin surga.
Sana sudah merasa tenang dan damai. Hatinya yang sempat membeku, kini sudah mulai mencair. Dia melipat mukena yang kemudian dia lipat dan simpan di dalam tasnya, lalu mencium kitab yang sebelumnya dia baca dan diletakkan juga di dalam tas, dengan tersenyum Sana berucap. "Alhamdulillah, Ya Muqollibal qulub tsabbit qolbi ala dinika. Maafkan aku ya Allah, aku ingin sekali berdamai dengan hatiku, tapi rasanya begitu sakit." Setelah itu, Sana membaca doa sapu jagat dan kemudian alfatihah.
Kini dia yang merasa lebih tenang, berjalan pelan menuju pintu, saat bersamaan dia melihat Vino yang duduk bersila dengan mata terpejam dan bersandar pada jendela. Sana menatao wajah tampan yang begitu mempesona.
Hati ini telah terpaut begitu dalam kepadamu, hingga sulit untuk berpaling. Rasa ini sangat menggebu bahkan terus bertambah dari waktu ke waktu. Vino, aku sadar telah jatuh cinta sejak pertama kita bertemu. Saat itu, kita masih terlalu kecil, tapi aku ingat. Aku langsung kagum akan pesonamu, kau tampan, bersih dan wangi.
"Kau sangat tampan, bahkan aku mengagumi itu sejak masih kecil. Saat itu, aku berusia tujuh tahun dan itu sebuah kekaguman. Tapi kita dipertemukan kembali setelah dewasa, apakah kita memang berjodoh. Andai iya, aku ingin kita pergi dari sini. Aku tidak ingin bertemu dengan ibu." Sana kini menjajarkan tubuhnya dengan Vino, melihat wajah teduh Vino yang masih tertidur.
"Neng!"
"Ah iya pak!" Terkejut oleh kehadiran marbot masjid yang tadi mereka temui.
"Mas nya masih tidur ya? Dari tadi lho, masnya nungguin Neng ngaji." kata marbot itu.
"Iya Pak, mungkin dia jenuh ya, atau mungkin kecapekan."
"Ya sudah, biarkan saja dulu."
Marbot itupun melangkahkan kakinya.
"Bapak mau kemana?"
"Bapak mau ngepel, sebentar lagi tiba waktu sholat ashar."
"Saya bantu ya Pak!"
"Nanti malah merepotkan!"
"Ah tidak, hitung-hitung saya olahraga pak." Sana tersenyum manis.
Sepeninggal Sana dan Pak Marbot itu, Vino mengerjapkan matanya, dari tadi sebenarnya dia sudah terbangun. "Apa yang membuatmu begitu membenci ibumu, Sana."
__ADS_1
Satu jam telah berlalu.
"Apakah kamu sudah merasa baikan?" Vino dan Sana kini berada di sebuah taksi. Vino tidak bisa membawa pulang satu-satunya mobil yang tadi di supiri oleh Faza.
"Sudah!" Sana tersenyum bahagia.
"Tapi kenapa wajahmu masih murung begitu hemmh." Tanpa bisa dibendung lagi, Sana mengeluarkan air mata.
"Kenapa rasanya begitu berat?" entah kenapa dengan hatinya saat ini, terlalu manja atau apa, dia tak kuasa untuk menahan semuanya sendiri.
"Syuuuut. Menangislah, jika itu membuatmu lebih baik." Menggapai kepala Sana dan merebahkan di pundak, Vino mengusap pelan bahu Sana.
Untuk beberapa lama, Sana sesenggukan di dekapan Vino. "Lihatlah, bajumu jadi basah dan kotor." Sana kini sudah tenang dan bangkit dari pundak Vino "Terima kasih bahunya, enak buat bersandar." Vino hampir saja tertawa kalau tidak melihat wajah rapuh Sana.
"Kamu biar menangis gini masih cute dan cantik." Vino menoel pipi Sana.
"Gombal. Ada yang sedih bukannya di hibur malah diledekin. Nyebelin!" Mengerucutkan bibirnya.
"Habisnya kamu benar-benar lucu dan gemesin. Tapi aku suka." Mencubit hidung Sana, kemudian beralih mengusap air mata yang tersisa di pipi. "Lihatlah, hidungmu sampai mengembang sebab kau aliri air mata terus-menerus." menyentuh ujung hidung itu dengan telunjuk sambil tersenyum.
"Sayang."
Deg deg deg entah kenapa setiap kali Vino mengatakan kata ajaibnya, Sana merasa ada sejuta kupu-kupu berterbangan.
"Hemmh."
"Kita cari makan dulu yuk! Sejak tadi siang kita belum makan." Sana hampir saja akan menolak jika cacing di perutnya tidak berdemo. Mereka pun memutuskan untuk mampir ke sebuah restoran.
Setelah memesan beberapa makanan. "Sana!"
"Iya!"
"Jika aku bertanya tentang ibumu, apa kau akan tersinggung?" tanya Vino dengan hati-hati.
__ADS_1
"Tidak!" Sana masih dengan garis bibir yang melengkung manis, berharap hatinya juga bisa menerima nasib yang membuatnya sering tertekan.
"Sana, kenapa kamu begitu membenci ibumu?"
Deg
Kenapa? "Aku sebenarnya tidak membenci. Toh karena dia juga aku lahir di dunia ini. Dan seharusnya aku berterima kasih, aku hanya kecewa." Jawaban Sana terdengar lirih dan menyanyat. "Mungkin hatiku yang terlalu sempit, sehingga sulit untuk memberinya ruang maaf, bertahun-tahun lamanya, aku mendamba kasih sayang, setidaknya di hari saat aku terlahir di dunia." Sana menerawang jalanan yang terlihat dari kaca restoran, mengedipkan mata dalam beberapa detik dan membukanya lebar-lebar.
"Tapi mustahil." Matanya mulai menganak sungai lagi. Vino meraih tangan Sana, berharap dengan itu bisa menyalurkan kekuatan agar Sana lebih tegar.
"Kau tahu Vino, apa yang dia katakan saat itu, saat aku sakit dan di rawat? Aku duduk di kursi dan diantar ayah untuk melihat taman, aku melihat wanita itu datang kerumah sakit. Dengan sangat bahagia hatiku bersorak. Ternyata ibu datang untukku, rasa sakitku pun sepertinya hilang, dengan tertatih aku berdiri dan berjalan ke arahnya dengan dibantu oleh ayah." Sana tersenyum, seiring air mata yang dia usap kasar.
"Tapi ternyata, semua itu hanya mimpi semu. Seorang pria dewasa menghentikan langkahku, dan menarik tubuh wanita itu menjauh dariku. Ayah segera mendudukkan aku kembali, lalu berusaha mengejar wanita itu untukku. Kau tahu, apa yang dia katakan." terlihat jelas Sana dalam keadaan amat rapuh.
"Jangan diingat jika itu membuatmu sakit."
"Aku bahkan ingin membuangnya Vino, tapi tidak pernah bisa. Peristiwa itu sangat menyakitkan hatiku. Selalu menghantuiku. Setiap ingin berdamai dengan perasaan kata-kata wanita itu selalu muncul."
"Sana!"
"Kau tahu, apa yang dia katakan saat itu? Saat Ayah mengejarnya untukkku "Dia anakmu, jadi untuk apa aku harus repot-repot mengurusnya?" Dia berlalu begitu saja setelah mengatakan itu. Ayah pun meneteskan air mata dan menyembunyikan dibalik senyuman."
"Sana!"
"Dan yang lebih menyakitkan lagi adalah kabar tentang kematiannya. Kami menangis untuknya. Bahkan berjaga semalaman dan menguburkan jasadnya dengan derai air mata, tapi ternyata." Sana menggelengkan kepalanya putus asa, kekecewaan terlihat jelas dari caranya berbicara.
"Aku melihat wanita itu Vino. Wanita itu datang ke pemakaman. Dia memakai kacamata hitam, melihat semua orang, lalu pergi tanpa sepatah kata. Sedangkan kita seperti orang bodoh yang membuang air mata untuknya. Aku ingat semuanya aku melihat itu semua. Bahkan ayah berhari-hari menyiksa dirinya. Dan wanita itu, dia bahagia dan tertawa dengan pilihannya." Sana semakin bergetar. Menangis tertahan dan terisak. Vino berdiri untuk bisa berpindah tempat duduk, dia meraih tubuh Sana dan membawanya dalam pelukan. Beruntung tempat dimana mereka berada adalah ruang VIP.
Seorang wanita dengan masker yang menutupi wajahnya terciduk oleh pelayan yang membawa pesanan untuk Sana dan Vino.
"Maaf, untuk apa Anda di sini?" Wanita itu terkejut, dengan sigap menutup wajahnya dengan kerudung.
"Tidak, aku hanya mencari seseorang namun tidak ada. Permisi." Buru-buru pergi agar tidak diketahui identitasnya.
__ADS_1
Bersambung......
Hai semuanya, apa kabar? Semoga terhibur dengan cerita receh aku.