Ditakdirkan Mencintaimu

Ditakdirkan Mencintaimu
DM 110 Sawitri


__ADS_3

"Jangan protes! Atau kamu turun sekarang juga!" Sana memberi kode keras ketika Faza baru saja mau bicara.


Sialnya lagi Faza pergi tanpa membawa dompet. Apalagi uang dan kartu semuanya di sita sama Vino.


"Oke! Gadis cantik siapa namamu?" Tanya Sana. Memutar kepala menoleh pada si gadis.


"Sawitri!"


"Hahaha...sawi makanan kelinci!"


"Fazaaaa..!"


Kembali tutup mulut dan ketika menoleh mendapati gadis kecil itu menatapnya sendu.


Bola mata coklat tua yang menyiratkan kesejukan bagi siapa saja yang menatap. Menunjukkan kenaifan gadis kecil di hadapannya. Tanpa sadar hatinya ikut bersimpatik.


"Kamu, jangan dekat-dekat denganku." Ucap Faza memutuskan kontak. Sangat arogan meski batin sesungguhnya iba.


"Faza...!"


Sana memperingati.


"Baiklah Rindi, sekali lagi dia berulah. Turunkan saja di pinggir jalan." Sana berekspresi serius. Menatap tajam pada bola mata Faza. "Gadis kecil, ah, maksudku Sawitri. Jangan hiraukan dia. Anggap saja dia tidak ada." Imbuh Sana yang kali ini ditujukan pada Sawitri.


Gadis kecil itupun hanya mengangguk lemah kemudian menunduk dengan ekor mata tetap melirik ke Faza.


Faza memindai tubuh gadis itu. Pakaian lusuh yang bisa di bilang tak lagi berwarna putih serta rok yang warnanya memudar paling menyedihkan adalah ujung kaki. s


Sepatu lusuh yang mulai koyak. Miris sekali. Berbeda jauh dari kehidupannya.


'bagaimana dia bisa menjalani hari-harinya?' batin Faza tanpa sadar.


"Oke cantik! Dimana rumahmu?"


"Rumah sakit KSH!" Ucap gadis itu.


Rindi dan Sana saling pandang. "Sayang, apa kamu tidak salah sebutkan alamat?" Tanya Sana


"Ayah ada di sana."


"Ayah kamu sakit?" Gadis itu mengangguk antusias.


"Ditabrak seseorang." Lanjutnya lagi. Faza langsung terbatuk sebab tersedak air liurnya sendiri. Sana yang baik hati mengambilkan air minum di dashboard mobil.


Deg.


Faza ikut terkesiap. Matanya menyipit memastikan jika gadis kecil itu tidak berbohong.


"Kapan?" Faza ikut bicara. Entah takut atau bagaimana, semula gadis yang mendongak itupun kembali menunduk. Melirik Faza dengan ekor mata.


"Kalau bicara tatap orangnya." Kesal Faza seakan layaknya hantu.


"FAAZAA!"


Sana melototkan mata.

__ADS_1


Rindi menghembuskan nafas panjang. Temannya ini semakin hari semakin tak dia kenali. Ada saja kelakuannya. Tapi mengapa dia bisa jatuh cinta ya? Bodo ah! Cinta kan memang buta.


"Kapan ayahmu kecelakaan dek?"


Nada bicara Sana lembut.


"Ketika nungguin angkringan kemarin malam. Sekarang rumah kami juga diambil sama yang punya." Cerita gadis itu sambil mengusap kasar cairan bening yang menetes di pipi menggunakan ujung  seragam lusuhnya. 


"Kakak juga akan ke sana. Kita pergi bareng-bareng ya!"


Faza kini yang melototkan mata. "Cecan, jangan bilang jika Cecan menginginkan aku untuk meminta maaf pada korban itu."


Rindi menautkan kedua alis. 'Korban apa?' Batinnya.


"Wajib dan harus. Kalau tidak, siap siap saja kamu dikirim papa ke kutub Utara. Bukankah itu yang diucapkan papa terakhir kali kamu kebut-kebutan di jalan?"


Sana menaik turunkan alisnya.


"Terserah!" Faza hanya bisa pasrah. Toh mereka juga sudah sampai di halaman rumah sakit.  



"Arjun, apa jadwal kita selanjutnya?" Vino masih berkutat dengan laptop miliknya.


"Ada janji dengan Pak Doni!" Vino menghembuskan nafas panjang. Berurusan dengan sosok bernama Doni membuat moodnya berubah buruk. Tapi demi menjaga keutuhan BG tentu saja Vino harus bersikap profesional.


"Dimana?"


"Hotel Mahkota!" Lirih Arjun yang juga heran bagaimana bisa tempatnya bisa berada di sana. "Bos! Sebaiknya kita tidak usah datang."


"Siapa yang bertanggung jawab dari pihak PT Sejahtera?"


"Nama yang tertera adalah Nona Luna Sasmitå Di sini juga tercatat jika dialihkan penanggung jawabnya, maka dikenakan denda berupa pembekuan aliran dana."


"Pintar sekali mereka!" Desis Vino dengan suara berat. Jemarinya mengambil ponsel dari saku kemudian menghubungi seseorang.


"Bos, bagaimana jika ...!" Vino menjentikkan jari sebelum Arjun melanjutkan bicara. Pria itu tengah menunggu sambungan telpon seseorang.


"Assalamualaikum!" Sana memberi kode pada semuanya untuk diam. Baru saja menginjakan kaki di lobi rumah sakit.


"Wa'alaikumsalam!" Sudut bibir Vino membentuk bulan sabit. Arjun bisa menebak jika yang dihubungi bosnya saat ini adalah Afsana istri si Bos.


"Sayang, kamu dimana? Lagi ngapain?"


Kepo Vino.


"Ditempat yang seharusnya. Pokoknya aku lagi sibuk nunggu suamiku pulang." Sana memandang Rindi dan Faza bergantian.


'Pakai acara bohong lagi'dua orang menggerutu dalam hati. Si gadis kecil hanya memandang aneh mereka bertiga.


"Beginilah nasib kalau jomblo." Gerutu Arjun berlalu pergi dari hadapan Vino.


"Sayang, aku butuh solusi dari kamu nih!" Ini suara Vino dibuat sedikit manja. Dasar suami bucin.


"Solusi?" Sana mengernyit bingung. Memandang ke arah Rindi yang mengernyit aneh.

__ADS_1


Sana kayak orang lagi kasmaran.


"Solusi agar bisa meluapkan rindu padamu."


Vino menggigit bibir bawahnya dengan setengah berdesis. Membayangkan reaksi Sana pasti tengah tersipu malu.


Benar saja. Sana malah memukul bahu Rindi dengan keras sehingga sang empu hampir bersuara. Untung langsung di sumpal dengan tangan Sana. Mengkode agar diam.


"Solusinya ada di ranjang kamar kita!" bisik Sana menghalangi mulutnya dengan tangan.


Rindi memutar bola mata. Faza semakin jengah. Dia menarik Sawitri dan Rindi untuk pergi dahulu ke ruang rawat ayah Sawitri.


"Jangan menggodaku."


Goresan bulan sabit itupun semakin merekah. Istrinya selalu menjadi mood booster untuknya.


"Baiklah, sekarang katakan apa masalahmu, Sayang. Kamu sampai mengganggu tidur cantikku." Ucap Sana. Melirik pasukannya yang kian menjauh.


"Aku akan ada meeting dengan Luna. Baiknya aku pergi apa tidak ya?"


"Seberapa penting meeting itu?" Sana memang istri yang bijak. Meski keberatan tetap mempertimbangkan baik buruknya.


"Tidak terlalu rugi sih, paling cuma bayar denda sekitar dua M."


Mata sana melotot seketika, dia bahkan susah payah menelan salivanya sendiri.


"Du-dua M!" Ayolah, berapa nol dibelakang angka dua M itu? Pikir Sana meronta.  "Sayangku, Vino. Tidak baik kamu mengabaikan dua M itu. Maksudku. Lakukan meeting dengannya. Tapi...!"


"Tapi kamu harus ditemani sama Arjun dan salah satu sekretaris kamu, Sayang. Agar tidak ada sedikitpun peluang Luna untuk memperdaya kamu. Oke!"


"Jadi...aku harus pergikah?"


Iya tentu saja dong. Batin Sana antusias. Tapi dia harus terlihat biasa saja.


Sana bahkan menggunakan alasan adanya begitu banyak karyawan yang bergantung hidup pada suaminya.


"Hufft! Oke! Karena ini menyangkut dua M aku bebaskan kamu, Lun. Tapi tidak lain kali!"  Desis Sana setelah panggilan itu terputus.


"Sekarang, waktunya menyusul adik-adikku." Sana berjalan menyusuri koridor rumah sakit. Setelah bertanya dimana ayah Sawitri dirawat.


Namun Sana terpengarah ketika melihat Faza berbincang dengan Sawitri di bangku tunggu. Lalu, dimana Rindi?


"Nguping ah, siapa tahu penting!" Gumam Sana mencari persembunyian terdekat dengan menempel pada dinding tikungan lorong rumah sakit. Mengorek telinga "Eh, ketutup sama hijab e, hihi."  Oceh  Sana konyol. "Apa aku videoin aja ya! Siapa tahu nanti ada gunanya."


Dengan sigap Sana mengaktifkan fitur video dengan kualitas super hingga suara yang terdengar sayup-sayup terekam jelas apalagi gambarnya.


"Lalu, kamu akan berhenti! begitu?" Suara Faza terdengar ketus. "Kamu masih kecil."


Hanya disahuti isak tangis Sawitri. "Masa depanmu masih panjang. Kamu harus lebih tangguh agar bisa menjadi orang yang besar. Punya rumah sendiri dan uang sendiri."


"Tapi ayah...hiks di-dia...!"


"Aku yang akan bekerja untuk biaya sekolahmu."


To be continued

__ADS_1


Kayaknya, akan seru kalau cerita Faza dan Sawitri dimuat dalam novel lain dengan judul yang baru ya!


__ADS_2