Ditakdirkan Mencintaimu

Ditakdirkan Mencintaimu
Makan siang


__ADS_3

"Hufft capek juga ya kerja kayak gini. Padahal tinggal melenggok gini, eh kurang senyum. Kurang gaya dikit, mimik mukanya, lihat kamera siyapp, tahan dikit," menirukan instruksi kameramen.


"Tapi Vino bilang kemarin nggak bilang kalau kerjaan aku sekarang jadi model iklan parfum. Apa salah rekomendasi ya? tau ah bingung. Ah jadi kangen sama Rindi, mending curhat sama dia" Sana mengambil handphone miliknya.


"Yah, bisa lupa gini seh habis beterai nya, mati lagi. hufft," bersandar lagi di sofa.


Tak berapa lama Saras datang dengan sebuah map berwarna merah. "Madam ingin kamu tanda tangan kontrak ini, sebagai formalitas," melempar map itu tepat di hadapan Sana.


"Apaan ini, Kak?" masih bingung, dia mana ngerti hal yang beginian.


"Ini surat kontrak kamu dan Madam, kamu akan bekerja dan di gaji sesuai dengan apa yang tertera di sana."


Sana mengambil map itu, matanya bergerak seirama arah kata per kata yang dia baca. "Gede banget gajinya," Sana sampai tidak berkedip melihat nominal yang tertera di sana.


"Ini seh, bisa buat aku makan selama setahun," heboh Sana.


"Lha kontraknya kan memang dalam jangka waktu satu tahun," balas Saras. Sana membacanya ulang kembali.


Eh iya e satu tahun, tak apalah masih lebih, bisa buat bayar sekolah


Rindi dan daftar uang pendaftaran kuliah. Sana tersenyum dalam hati.


"Bagaimana setuju apa tidak? itu nanti belum bonus dan fasilitas berupa mobil pribadi dan_,"


"Aku setuju aku tanda tangan," Saras belum selesai bicara dia main samber saja. "Kak, mobilnya ganti sama motor matic saja, ya. Aku tidak bisa menyetir mobil, aku sudah terbiasa kemana mana dengan motor."


Saras memicingkan matanya "Gadis yang aneh, biasanya para perempuan lebih suka barang mewah lalu di pamerkan kepada semua orang lha..dia


"Baik, akan aku sampaikan kepada Madam," Saras mengambil kembali map yang telah di tanda tangani oleh Sana.


Saras kembali kepada majikannya setelah selesai dengan tugas yang di embannya.


"Bagaimana? apakah dia setuju?" wanita tua yang modis itu menggoyangkan gelas miliknya.


"Dia setuju, hanya saja_" Saras tampak ragu untuk mengatakannya.


"Apa?"


"Dia tidak ingin mobil, dia ingin motor matic saja,"


"Alasannya!"


"Dia tidak bisa menyetir," Saras menundukkan wajahnya biasanya dia sering mengurus perempuan matre dan sombong tapi ini, gadis itu menolak pemberian Madam.


"Apa dia menghinaku, sehingga menolak pemberian dariku," Maria menatap tajam bola mata Saras, membuat asisten itu serba salah.

__ADS_1


"Saya kira, dia tipe gadis yang sederhana," Maria semakin menatap tajam Saras hanya bisa menunduk berharap atasannya tidak tersinggung.


"Pergilah, kau tidak usah mengajari diriku," Maria tersenyum tipis tanpa di ketahui oleh Saras.


"Gadis yang bodoh," Maria tersenyum lalu meneguk minuman yang tersisa.


🌿🌿🌿


Diruang kerja Vino.


"Masuk," ucap sang pemilik ruangan saat ada yang mengetuk pintu.


"Bos, Madam Maria telah mempekerjakan nona Sana menjadi foto model produk terbarunya," ucap Arjun dia menyodorkan tablet ke hadapan Vino.


"Apa? kenapa bisa begitu? aku hanya menyuruh eyang untuk memberinya pekerjaan," Arjun hanya menggidikkan bahunya. Dia tidak mau ikut campur dalam permasalahan cucu dan nenek itu.


"Lalu!"


"Tidak ada, nona Sana sudah menjalani sesi pemotretan tadi sore. Jadi dialah yang akan menjadi brand ambassador produk terbaru Madam," terang Arjun lagi.


"Kita kerumah Eyang," Vino bangkit dari tempat duduknya.


"Tapi_"


"Kenapa?"


"Apakah tidak bisa kita tunda?" Vino mengetukkan jari beberapa kali ke meja. Menatap penuh harap kepada Arjun. Tapi kali ini Arjun tidak mau lagi membuat alasan untuk sang bos


"Tuan, sudah dua kali kita membatalkannya, apakah tidak akan membuat citra anda rusak di mata mereka jika seperti itu?" Vino menarik nafas dalam-dalam.


"Persiapkan rapatnya."


Arjun mengangguk patuh, dia bernafas lega. Kali ini pekerjaan yang dia garap berhari hari akan selesai. Dia berharap bosnya mengesampingkan kebutuhan pribadinya.


🌿🌿🌿


"Saras, panggil gadis itu kemari, dia harus makan untuk menjaga kesehatannya."


"Baik, Madam."


Tak berapa lama Saras kembali dengan membawa Sana.


"Afsa, silahkan," mengulurkan tangannya mempersilahkan. Saras menganguk tanda mengiyakan.


"Terima kasih, Madam," Sana duduk dengan anggun. Dan Saras hilang lagi entah kemana.

__ADS_1


"Afsa, nanti malam kamu temani saya ke sebuah pesta. Dan kamu Saras, persiapkan semuanya. Kalian berdua harus mengawal saya."


"Baik, Madam," hampir bersamaan.


"Afsa, kenapa kamu bisa mengenal cucu tidak berguna itu, ah maksud saya Vino."


Sana membenahi tempat duduknya. Kenapa dia merasa gugup ya, seperti orang yang ketahuan maling.


"Tuan Vino menolong saya waktu ban motor saya kempes, Madam. Lalu membantu saya membawa ke bengkel dan saya di ajak menginap di apartemennya." ucap Sana dia berpikir itulah pertemuan yang paling tepat walau sebenarnya pernah berjumpa sebelum itu.


"Apa penilaianmu tentang Vino?" tanya Maria kembali.


"Tidak ada, dia itu cowok yang nyebelin suka seenaknya saja. Dan pelit,"


"Pelit," ulang Maria menaikkan sebelah alisnya. Sebab Maria tahu seberapa banyak uang yang telah di hamburkan untuk menyenangkan kekasihnya dulu.


"Iya, dia menolong saya, tapi saya harus membayarnya. Seperti saat di apartemen miliknya. Saya harus membayar uang menginap satu malam dan juga biaya makan dan masak," adu Sana. Maria malah tertawa terbahak mendengar cerita Sana.


"Hahahaha...Vino sepelit itu terhadapmu?" Sana hanya mengangguk.


"Baiklah, apa kau punya kekasih," Sana yang hampir menelan pudingnya itu tersedak. Dia segera mengambil minuman.


"Tidak punya," jawabnya terus terang.


"CK. CK. CK.Cantik tapi jomlo," cibir Maria.


"Kemarin punya, tapi di putusin," Sana pamer pernah punya pacar.


"Itu namanya sama saja tidak punya," Saras muncul kembali di antara mereka. Menarik salah satu kursi gabung makan bersama mereka.


Madam ini, orangnya terkesan galak dan angkuh tapi makan dengan bawahannya seperti ini, dia tidak merasa jijik. Aku rasa Madam adalah orang baik. Hanya saja mimik mukanya terkesan sombong.


"Jangan pandangi saya seperti itu, aku tahu apa yang kamu pikirkan," Maria mengambil minuman dan meneguknya. Sana terkesiap apakah Madam tahu jika Sana menilainya dalam hati.


"Selesaikan makan siangmu. Aku harus keluar sebentar. Ada urusan yang harus aku selesaikan."


Saras juga ikut berdiri "Saras kau di rumah saja temani dia dan ajarkan mata pelajaran yang belum rampung. Untuk pemotretan selanjutnya dia harus lebih lihai. Dan Afsa jangan kau dia siakan kesempatan ini. Sebab tidak ada kesempatan dua kali. Jadi bersungguh sungguh lah."


"Terima kasih, Madam," Maria hanya tersenyum tipis lalu meninggalkan mereka berdua.


Tak berapa lama terdengar mobil semakin menjauh. Tapi bersamaan itu juga ada suara mobil berhenti.


Tak berapa lama.


"Dimana Eyang?"

__ADS_1


**Bersambung.....


jangan lupa dukungannya ya**


__ADS_2