Ditakdirkan Mencintaimu

Ditakdirkan Mencintaimu
Permintaan


__ADS_3

"Vino, hai bos Vino! Kita sudah sampai!" Sana mencoba membangunkan Vino yang terlelap di kursi sebelahnya. Tapi nihil, sepertinya Vino begitu larut dalam dunia mimpi hingga sulit untuk dibangunkan.


"Gampang banget dia tidurnya, padahal beberapa menit yang lalu dia masih bicara kepadaku." ucap Sana yang masih sibuk memarkirkan mobilnya. Eh ralat, tepatnya mobil Vino. Setelah mereka bertukar tempat, Vino tidak ingin lagi mengendarai mobilnya. Vino lebih memilih menikmati wajah Sana dan sesekali mengajak Sana mengobrol. Sedangkan Sana yang polos itu hanya menurut saja.


"Bos Vino! Bos! Vinooo ... !" Kini mobil sudah berhenti. Sana mengguncang dengan lembut bahu Vino.


"Kenapa wajahmu terlihat begitu polos saat tidur begini, ya!" Sejenak Sana terpesona oleh wajah tampan Vino. Dia memandang lebih lama wajah nampak anteng di kursi sampingnya.


Ingin rasanya aku membangunkan dia dengan cara mencubit hidung mancungnya, atau dengan mengelus rahang tegasnya itu. Atau dengan ciuman lembut di pipi. Batin Sana. Hai kau setan keluarlah dari raga Sana.


"Sadarlah Sana, dia bukan siapa-siapa bagimu." ucap Sana sambil memukul kepalanya sendiri.


Sedangkan Vino melebarkan mata sebelah untuk mengintip raut wajah Sana yang nampak frustasi sebab Vino tidak kunjung bangun. Untung Si Sana sudah mengalihkan pandangannya.


"Vino, Bos, Bos Vino ayo bangun dong." Vino menikmati ucapan Sana yang terdengar syahdu di telinga. Bahkan tanpa sadar bibir seksi Vino melengkung tipis tanpa sepengetahuan Sana.


"Vino oh Vino ayolah cepat bangun. Bagaimana aku nak turun kalau kau tak kunjung bangun." Menirukan gaya Upin Ipin sambil memukul stir mobil layaknya gerakan penabuh gendang.


Sungguh Vino sebenarnya tidak tahan dengan tingkah konyol Sana, tapi mau bagaimana lagi, dia ingin melihat bagaimana perjuangan Sana untuk bisa membuatnya terbangun.


"Vin, Vin, Vin, Vin, Vin! Bangun dong, ih dasar Kebo, susah banget dibangunin," gerutu Sana dengan bibir manyunnya. Dia mulai memutar bola matanya, mengingat sesuatu yang bisa membuat segera bangun dari tidurnya.


"Dibangunin pakai apa, ya?" Sana nampak mengerutkan keningnya berpikir keras.


"Ahaaaa ... ini dia!" ucap Sana sambil tersenyum devil. Otaknya kini sudah menemukan cara yang paling jitu untuk membangunkan Vino. Bersamaan itu, sebuah mobil masuk ke dalam pekarangan rumah, siapa lagi kalau bukan si Riki.


"Ada om Riki lagi," gumam Sana yang juga didengar oleh Vino. "Baiklah, aku harus segera menyelesaikan ini."

__ADS_1


Sana segera membuka botol air mineral yang sudah berada di tangannya. Sana mulai memasukkan air itu kedalam mulutnya. Dia ragu apakah harus melakukan hal itu atau tidak. Padahal di mulut Sana telah penuh dengan air. Ada rasa tidak tega tiba-tiba terselip di hati Sana ketika ide jail sembur ala dukun berputar di otak pintar Sana.


"Ternyata Kalian!" Sebuah suara membuat Sana terkejut hingga benar-benar menyemburkan air yang berada di mulutnya.n


"Wooi, kamu apa-apaan ini? hah!" Vino segera menghapus mukanya yang kena cipratan air sebab ulah Sana.


"Om Riki sih, ngagetin saja. Lihat tuh dia kena imbasnya." Sana pura-pura menjadi korban. Padahal tadinya niat banget mau bikin Vino kesal. Eh, kenapa bisa pas banget situasinya.


"Sana, kamu nyetir mobil?" Bukannya menanggapi ucapan Sana dan meminta maaf, Riki malah bertanya tentang hal yang lain.


"Hehe, iya Om!" Sana hanya bisa nyengir sambil garuk-garuk kepala yang tidak gatal. Dia mendadak merasakan aura yang kurang menyenangkan dari sorot mata paman omnya.


"Sana, kamu harus ingat, jangan pernah lagi menyetir sendiri. Dan kamu Vino, aku ingin berbicara sesuatu yang serius kepadamu," tatapan mata Riki berubah lebih tajam dari sebelumnya.


"Om, Sana sendiri yang ingin menyetir, ini bukan salah Vino. Sana yang salah karna Sana ingin menyetir sendiri. Sana tidak akan mengulanginya lagi. Sana janji, om jangan marahi Vino. Dia hanya berniat baik meminjamkan mobil untuk Sana." Sana menangkupkan kedua tangannya di depan wajah Riki. Jika seperti ini, rasanya begitu sulit bagi Riki untuk menolak keinginan Sana.


Nada bicara Riki terdengar begitu lembut. Riki mengusap pelan puncak kepala Sana, lalu mengecupnya.


"Masuklah, pasti bibimu sudah rindu kepadamu." Di angguki oleh Sana dengan antusias, Sana berjalan santai masuk ke dalam rumah. Sedangkan Vino sudah turun dari mobilnya. Dia merenggangkan otot-ototnya yang terasa kaku.


"Sana, jangan lupa suruh pak Kardi dan Bi Narti untuk mengambil barang-barang yang berada di dalam mobil," teriak Vino sebelum Sana benar-benar masuk ke dalam rumah.


"Oke, siyap," balas Sana sambil mengacungkan jempolnya.


"Vino, ada hal yang ingin aku bicarakan kepadamu." Riki menjentikkan jarinya sebagai pertanda bahwa Vino harus mengikuti kemana arah kaki Riki melangkah.


"Langsung saja Vino," Riki menghembuskan nafasnya berulang kali. Mencari kata yang tepat agar tidak menyinggung iparnya.

__ADS_1


"Vino, apa kamu sudah lama mengenal Sana?"


"Baru saja beberapa hai terakhir ini, mungkin hanya sekitar satu bulan yang lalu," jujur Vino tanpa basa-basi. Riki menatap bola mata Vino, terdapat keseriusan dari sana.


Sedangkan Sana begitu antusias menaiki tangga. Dia yang tadi sempat mengambil sebuah bingkisan untuk baby-nya Vanka, menambah binar wajah ayu seorang Sana.


"Bimud, kamu dimana?" teriak Sana sambil terus berjalan menuju kamar Vanka. Terdengar suara tangisan bayi bercampur dengan suara lembut Vanka yang mencoba menenangkan buah hatinya.


"Cup ... Cup ... cup duh anak manis jangan menangis ya, kita pakai baju dulu, ya,' ucap Vanka begitu telaten mengurus anaknya yang masih bayi.


"Kenapa Bimud? Apakah dia baru selesai mandi?" Sana mendekati ranjang dimana Vanka tengah berjuang memakaikan baju di tubuh si kecil.


"Tidak, dia hanya gumoh saja, tapi bajunya basah semua. Jadinya harus ganti deh," Vanka nampak sabar sekali mengurus bocah itu.


"Hai, anak manis apa kabar. Apa kau merindukan kakakmu ini," Sana menunjuk wajahnya sendiri. Maksud hati membantu Vanka agar anaknya anteng.


"Apa maksud kamu kakak ipar? Kenapa kau tega meminta hal itu?" Kini Riki dan Vino tengah bicara serius di teras samping rumah.


"Kau belum tahu apa yang terjadi kepada Sana. Jadi, aku mohon kepadamu dengan sepenuh hatiku. Lakukanlah apa yang aku minta Vino."


"Apakah aku boleh tahu apa alasannya kau melakukan hal ini. Sana bukanlah anak kemarin sore yang bisa kau atur dan kau rubah sesuka hatimu." geram Vino, tangannya terkepal kuat.


"Karna aku pamannya, tentu aku lebih tahu, mana yang baik dan mana yang buruk untuk keponakanku." Riki kini berubah dingin.


*Ternyata benar, dia keponakan Riki. Tapi kenapa Riki meminta hal itu dariku.


Bersambung*

__ADS_1


__ADS_2