Ditakdirkan Mencintaimu

Ditakdirkan Mencintaimu
Party 1


__ADS_3

"Kayaknya bagus juga tuh, apalagi yang di bawah tangga tadi. Dia terlihat menggoda wajahnya mirip sekali dengan idola favorit aku, Lee min hoo. Hanya saja kau datang menganggu perkenalanku." Sana pura-pura cemberut dan kecewa. "Kalau tidak ... !" Sana menjeda omongannya, sudut matanya melirik ke arah Vino. Dia ingin lihat seperti apa reaksi Vino. Untung saja, penglihatannya sadar situasi begitu tajam kali ini.


"Kalau tidak apa?" Sungut Vino


Hati Vino mendadak panas. Dia mengepalkan tangannya. Mau marah, tapi apa daya bukankah dia yang memulai tadi? Selain itu, dia juga merasa tidak berhak, secara tidak ada hubungan serius di antara keduanya. Vino harus segera memantapkan dan meresmikan hubungan mereka.


"Mungkin saja, aku dapat nomer ponselnya."


"Biasakan jangan kecentilan sama cowok! Bagaimana kalau cowok itu ternyata hanya mempermainkan dirimu?"


Mata Sana melotot sempurna, perasaan dari tadi dia bersikap biasa saja. Tapi kenapa Vino tega menuduhnya begitu.


"Memang kenapa? Toh namanya juga usaha," cuek Sana. Dia harus bermain cantik.


Jangan mentang-mentang tampan lalu bicara seenak jidat. Tadi berlagak sok puitis, sok gombal biar apa itu? Biar aku kepedean? Cih aku tidak akan tinggal diam. Tekad Sana yang hanya bisa dia rancang di dalam hati


"Usaha seh usaha, tapi setidaknya yang berbobot dikit kan bisa," ucap Vino mengedipkan mata. Sana sudah menduga, jika secara tidak langsung, Vino mencintai dirinya. Tapi sepertinya terhalang ego. Tapi Sana tidak mau ambil pusing. Biarkan semuanya mengalir apa adanya.


"Ogah sama yang berbobot. Pasti gembrot! Aku sukanya sama roti sobek dan berotot. Ah aku jadi teringat pemuda kekar tadi." Sana menangkup kedua pipinya sendiri.


"Hai dibilangin jangan mudah terpesona hanya dengan covernya saja. Kau juga harus tahu apa isinya." Sana menunduk sejenak, memang benar apa yang dikatakan Vino. Tapi dia lagi mode membantah jadi harus bisa menemukan kata yang tepat buat membalas ucapan Vino.


"Biasanya cover selalu menggambarkan apa yang ada di dalam deh. Buktinya pas kamu beli hp gambar luarnya sama dengan apa yang ada di dalam isinya," Sana mengangkat ponsel pemberian Vino.


"Sebaiknya kau diam saja atau aku akan berbuat sesuatu untuk membuatmu diam," ancam Vino. Mereka telah kembali ke tempat pesta.


Keduanya pun hening kembali, hingga melewati gerombolan Raya tadi.


"Wah, siapa yang kau bawa ini Vino?" masih saja wanita gendut si Tante Betty yang nerocos.


"Raya, kau tidak memberitahukan kepada kami, kalau kau sudah punya calon!" kali ini seorang berambut blonde ikut menggoda. Raya tersenyum bahagia saat mendapati Vino dengan Sana.


"Dia juga tidak memberi tahuku. Kalau aku tahu, mungkin saat ini aku sudah menikahkan mereka." jawab Raya yang langsung mendapat pelototan dari Vino.

__ADS_1


"Ma ... !"


"Lihatlah! Dari kecil dia selalu saja nakal," Raya menunjuk anaknya. "Aku bahkan harus ekstra sabar menghadapi kelakuannya itu. Dia membawa gadis ke pesta, tapi tidak pernah membawanya ke rumah,"' ucap Raya lagi, diikuti gelak tawa yang lain.


"Hai gadis kau cantik sekali, siapa namamu?" Betty mencubit dagu Sana.


"Owh, perkenalkan saya Sana, Tante!" ucap Sana sopan sambil mengulurkan tangannya. Disambut oleh para ibu-ibu itu.


"Bukannya kau model iklan parfum baru Madam, ya!" selidik wanita di samping Betty.


"Benar tante!"


"Kau lebih cantik daripada yang di iklan."


"Raya, ternyata anakmu selalu pandai dalam memilih perempuan. Senangnya punya calon menantu yang cantik dan manis." puji yang lain.


"Kapan diresmikan Vino, aku sudah tidak sabar menunggu tanggal baiknya." Betty bergelayut di lengan Vino. Sambil mencubit pipi Vino dengan gemas.


"Iya, kalau bisa besok saja Vino, pumpung pamanmu masih memiliki waktu libur," ucap wanita berambut pirang. Dia dan suaminya menetap di Swiss.


"Mau bagaimana lagi, terlanjur cinta," ucap wanita itu terkekeh. Semuanya tertawa kembali


"Dulu, dia si kecil yang imut dan menggemaskan, lihatlah sekarang! Dia sudah membuat banyak gadis patah hati." kali ini yang berucap adalah Jenna ibu dari Mike.


"Sana, aku Jenna, ibu dari Mike teman masa kecilnya Vino." Jenna mengulurkan tangannya. "Kau sangat cantik dan manis. Andai Vino tidak memilihmu, pasti aku akan membuatmu menjadi menantuku." canda Jenna. Sana melirik Vino yang sepertinya mulai geram.


"Aku rasa Mike juga sebentar lagi seperti itu." ucap Raya yang melihat Mike sedang bicara dengan seorang gadis di kejauhan. Vino yang juga melihatnya menjadi lega. Meski belum ada kepastian hubungan antara dia dan Sana, tapi dia sudah mantap akan mengatakan cintanya kepada Sana secara resmi.


"Benarkah?"


"Lihatlah di sana!" tunjuk Raya pada arah yang dimaksud. Jenna mengikuti petunjuk Raya. di lihatnya Mike tengah berbicara dengan seorang gadis. Mereka berdua sibuk menatap Mike, tapi kemudian beralih lagi pada keributan yang dibuat oleh ibu-ibu itu untuk menggoda Vino. Bahkan lengan Vino masih dicekal kuat oleh Betty.


"Sudah! Sudah! Kalian selalu saja menggoda anakku." Raya merasa kasihan akan anaknya yang jadi bullyan.

__ADS_1


"Hai, itu karna kami menyanyangi ankmu ini," Betty tak henti-hentinya membuat Vino kesal. Bahkan wajah tampan itu kini sudah berubah masam.


"Tante, bisakah Tante lepaskan tangan Saya?" ucap Vino setengah memelas. Sana menutup mulutnya yang hampir saja terkikik. Vino memberi kode kepada Sana agar membantunya lepas dari cengkeraman wanita gendut itu.


"Begini tante, sebenarnya saya tidak enak hati mau meminta tante untuk melepaskan tangan tante itu," menunjuk tangan Betty yang masih di lengan Vino. "Tapi perlu tante ketahui ya, dia terkena penyakit gatal yang menular Tante," ucap Sana berbisik di telinga Betty. Tentu saja Betty langsung melepas kasar tangan Vino.


"Permisi ya Tante! Semuanya!" Sana menggandeng lengan Vino. Entah kenapa rasanya puas sudah membuat Vino badmood.


"Kenapa kau katakan itu tadi?" biar berbisik tapi telinga Vino yang tajam mampu mendengar ucapan Sana.


"Katakan apa?"


"Tadi!"


"Yang mana? Aku tidak merasa berkata apapun" elak Sana pura-pura tidak bersalah.


"Kenapa kau bilang aku memiliki penyakit gatal," hardik Vino tertahan.


"Oooohoo, kau punya penyakit gatal? Sejak kapan? Mana? Coba tunjukkan kepadaku, aku akan mengobatinya." Sana menutup mulutnya pura-pura terkejut. Lalu memeriksa bagian tubuh Vino.


"Kau benar-benar ingin melihat?" Entah kenapa otak mesum Vino tiba-tiba muncul.


"Ayo akan aku tunjukkan." Menarik tangan Sana pada sebuah sudut ruangan.


"Hai, kenapa kemari?" Sana dibuat kelimpungan karenanya. Pasti Vino akan berbuat sesuatu kepada dirinya.


"Tidak-tidak! Itu tidak perlu. Aku tidak mau melihat." ucap Sana gugup.


"Bukankah tadi kau bilang ingin mengobati?" goda Vino semakin menjadi. Dia menarik pinggang Sana dan mengikis jarak di antara keduanya, lalu mendaratkan kecupan kecil di kening Sana.


"Disini selalu gatal. Disini!" Cup! cup cup Vino kembali mencium Sana bertubi-tubi.


"Hentikan Vino!" bariton suara yang kemudian disusul oleh bogem mentah.

__ADS_1


**Bersambung....


heh siapa yang berani sama si Tengil Vino eh**


__ADS_2