Ditakdirkan Mencintaimu

Ditakdirkan Mencintaimu
Battle 2


__ADS_3

Malam perkumpulan para pemuda Bravo Grup mungkin berakhir dini hari. Dan seperti biasa, setelah perkumpulan itu, mereka akan berkumpul paginya di rumah Madam. Sesuai permintaan dari Madam Eyang sendiri.


Vino telah sampai terlebih dahulu pagi ini. Dia melakukan mobilnya sedikit lambat. Dia sengaja tidak menyuruh Arjun untuk menjemput, agar dia sampai lebih pagi.


"Pagi, Tuan Vino!" sapa pak satpam yang tertera nama Joko pada bagian dada.


"Pagi pak Joko!" timpal balik Vino yang membuat dada Joko seketika membusung. Ternyata anak majikannya mengenal dirinya. Begitulah yang Joko pikirkan, padahal ya, jika Vino tidak membaca label identitas Joko mana tahu dia.


Joko pun mengikuti mobil Vino hingga terparkir, membukakan pintu mobil dan membungkuk sopan. Vino menatap sekeliling. Halaman rumah yang cukup luas itu masih terlihat sepi.


"Belum ada yang datang, Pak?" tanya Vino.


"Belum Tuan, memangnya bakal ada acara apa ya, Tuan?" kepo Joko. Vino hanya menatap datar Joko.


"Maaf Tuan, saya terlalu ikut campur," Joko segera tahu diri.


"Generasi Bravo Grup akan berkumpul." Menepuk bahu Joko, kemudian Vino masuk ke dalam rumah. Joko memegang pundak yang baru saja dipegang Vino.


"Anda orang yang baik Tuan, semoga selalu mendapat perlindungan," doa Joko. Dia selalu menghormati cucu dari majikannya itu. Biarpun Vino anak majikan, tapi Vino tidak pernah memandang hina dirinya.


Vino masuk ke dalam rumah besar itu dengan langkah santai. Dia mendapati satu orang pelayan tengah mengelap guci.


"Kau, kemari!" Vino cukup menjentikkan jari, pelayan itu mendekat.


"Dimana semua orang?"


"Madam belum keluar sejak tadi malam Tuan!" Pelayan itu masih menunduk.


"Yang lain?"


"Nona Sana dan Nona Saras di ruang gym, se_"


"Sudah cukup!" Dasar Vino. Bilang saja mau ketemu Sana, kenapa malah nanya semua orang segala.


Vino sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Sana. Inilah kesempatan yang selalu dia tunggu. Menemui Sana tanpa melanggar janji kepada Riki.


Vino menaiki tangga sambil bersiul, seolah ada bunga di setiap langkahnya.


"Bahagia sekali Mas!" sebuah suara menghentikan langkah kakinya. Vino pun memutarkan badan. Terlihat Faza membawa handuk kecil dan sarung tinju di tangan.

__ADS_1


"Darimana kau?"


"Biasa Mas!" mengangkat kedua tangannya yang masih berbalut profesional fight gloves.


"Mau kemana Mas?" tanya Faza, sebab tidak biasanya abangnya itu naik ke lantai atas. Paling juga Vino hanya sampai di kamar Maria, itupun berada di lantai bawah. Sebab satu-satunya kamar terbesar di rumah ini adalah milik Maria yang berada di lantai bawah.


"Itu ... aku," Vino menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Dia cukup bingung mencari alasan yang tepat.


"Faza ... !" Rindi kini yang memanggil. Vino bernafas lega.


"Ya, ada apa Rindi," Faza melongok lewat pagar tangga. Terlihat Rindi sudah rapi memakai hodie berwarna putih.


"Kok belum siap?"


"Tunggu setengah jam, oke!" Faza menggerakkan tangannya.


"Mau kencan, Luh," tebak Vino.


"Bukan, kita mau ke toko buku," jawab Faza sambil setengah berlari ke kamar. Vino melongok juga ke bawah. Terlihat Rindi duduk manis di sofa dengan tangan yang masih dimasukkan ke dalam saku.


"Pilihan yang bagus!" komentar Vino sambil tersenyum mengejek.


Pintu ruang itu terbuka sedikit. Suara musik terdengar semakin jelas. Seperti suara musik yang lagi hits dikalangan anak-anak milenial.


Vino melongok sedikit ke dalam, nampak Saras dan Sana yang meliuk-liuk mengikuti gerakan di layar dengan begitu energik. Saras yang memang selalu bersikap elegan tidak bisa bergerak selincah Sana. Saras hanya mengikuti gerakan dengan lambat, dan bahkan menjatuhkan tubuhnya dengan sengaja ke lantai.


"Sana, capek! Kamu tidak capek apa, meloncat-loncat gerak kayak orang kesurupan gitu." Saras menyeka keringatnya dengan punggung tangan. Saras memilih duduk sambil berselonjor.


"Enakan begini lah tidak ngantuk. Bukannya kayak lagi bertapa gitu kayak orang lagi minta petunjuk," Sana tergelak mengingat Saras yang tadi mengajarinya yoga.


"Itu yoga namanya, Sana! Supaya pikiran kita fresh," Saras berdiri dan melangkah ke arah handuknya berada. Setelah itu tepar di sofa.


"Berarti aku yang menang ya?" teriak Sana kegirangan.


"Terserah deh," Saras masih mentralkan nafasnya. Tapi dalam sekejap Saras tersenyum melihat Vino tak henti-hentinya memandang ke arah Sana. "Sepertinya dia benar-benar menyukai gadis itu," batin Saras.


"Apa dia sedang menggodaku dengan pakaian seperti itu?" gumam Vino sambil bersandar di pintu. Tangannya bersendekap. Jakunnya naik turun melihat body Sana yang aduhai. Baru kali ini Vino melihat Sana berpakaian serba terbuka. Biasanya, Sana akan memilih pakaian yang lebih tertutup, lha ini lekuk tubuh dan semuanya tercetak dengan jelas.


"Bang liur menetes kemana-mana," bisikan halus membuat Vino tergagap.

__ADS_1


"Kau!" mata Vino melotot.


Saras nampak tersenyum mengejek lalu menjulurkan lidahnya.


"Sana, ada yang mengintip nih," Saras menunjuk wajah Vino.


"Tidak, aku hanya kebetulan saja lewat!" pungkir Vino dengan wajah yang memerah. Sana dengan cepat menyambar handuknya, lalu menghilangkan di dada.


Bukankah kak Saras bilang tidak ada yang akan datang kemari? Sana merutuki kebodohannya yang menanggalkan hodie saat berolahraga. Sana berusaha bersikap biasa saja walau sebenarnya dia malu, bertemu dengan Vino dalam keadaan yang serba terbuka.


*Ya Tuhan, apa yang dia pikirkan, ya? batin Sana.


Sungguh eksotis, dia semakin cantik saja. Batin Vino*.


"Woi, mau apa Luh dimari? Ini ruangan khusus milik Saras," menunjuk ke wajah Saras sendiri. "Tapi, Luh pria tukang ngintip, kenapa bisa sampai di sini?" menunjuk dada Vino dengan telunjuknya.


"Tidak ada!" Vino memejamkan matanya sejenak, memilih kalimat yang kiranya tepat untuk sebuah alasan yang masuk akal.


"Aku heran saja, tidak biasanya ada suara bising di lantai ini, jadi, karna penasaran a_aku ingin tahu! Maksudku, aku ingin memeriksa apa yang terjadi di sini," ucap Vino sedikit gugup. Tapi bukan Vino namanya jika tidak segera menguasai keadaan.


"Nona Saras yang terhormat, sepertinya kau lupa, hari ini ada rapat keluarga yang akan diadakan di rumah ini." Vino mengerling. Saras menepuk keningnya.


"Astaga Vinooo ... untung kau mengingatkan aku!" Saras segera berbalik. Tapi langkahnya terhenti lagi. "Sana, kau harus segera mandi dan bersiap," Sana mengangguk paham, sebab tadi malam telah diberi tahu oleh Saras.


"Karna asyik bermain dengan Sana, aku jadi lupa semuanya. Baiklah, aku harus bersiap dan memeriksa semuanya nanti." gumam Saras sambil setengah berlari.


Kini tinggallah Sana dan Vino. Sana sebenarnya ingin segera keluar menyusul Saras pergi, tapi otak Vino yang cerdik itu berfungsi lebih baik daripada gerakan Sana. Vino berdiri memenuhi pintu.


Pandangan Vino tidak lepas dari wajah Sana yang masih sedikit basah oleh keringat.


"Tuan Vino, bolehkah saya lewat?" Sana meremas handuk yang menutupi bagian dadanya.


"Mau kemana? Hemmmh!" Vino menaik turunkan alisnya.


"Sa_sa_saya ... !"


"Apa?"


Kenapa suara Vino mendadak terdengar seksi ya? Owh tidak! Batinku ternoda.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2