Ditakdirkan Mencintaimu

Ditakdirkan Mencintaimu
Satu cara


__ADS_3

"Dimana Eyang?" sebuah suara mampu memutar kepala dua gadis yang masih setia di meja mereka.


"Tuan Faza, itukah kau?" Saras langsung memeluk erat dengan hebohnya lalu mencubit pipi Faza. "Tampannya pangeran aku, makin dewasa makin gemesin," masih mencubit pipi Faza hingga sang empunya menoleh ke kanan dan kiri seirama goyangan cubit dari Saras.


"Kenapa harus cubitan? seharusnya ciuman nih, Disini," Faza menunjuk ke bibirnya yang langsung mendapat pukulan dari Saras.


"Jangan mesum, mentang mentang sekarang sudah tampan. Tapi boleh juga seh, dengan syarat Luh harus datengin rumah gua dan bilang sama nyokap."


"Dih ogah, sama saja artinya ngelamar, Gua ngelamar perawan tua nggak deh, takut di gigit," Saras langsung mencubit pinggang Faza.


"Sakit, Kak! main kekerasan sekarang idih aku adukan sama Eyang Madam. Di mana Eyang Madam, Kak?," Faza menatap sekeliling "Waah ada Cecan, nih. Kenalan dong," Faza mengulurkan tangannya ke arah Sana.


"Madam pergi sebentar, baru saja, katanya ada urusan," jawab Saras menyusul Faza ke meja makan lagi.


"Cecan, kenalan dong, tapi wajahmu seperti tidak asing ya, apakah kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Faza serius.


Faza yang memang pernah melihat Sana di bengkel miliknya, saat motor Sana mogok. Dan yang kedua dia juga melihat Sana saat ikut kedua orang tuanya pergi melayat ayah Sana waktu itu. Tapi namanya juga Faza, malah memilih duduk di luar saja dari pada masuk ke dalam apalagi cuacanya cukup terik waktu itu, sehingga lebih adem di luar.


"Hai, jangan tebar pesona di sini. Dan kau Sana bilang kepadaku jika dia berbuat ulah kepadamu," Saras menatap mereka berdua bergantian. Sana hanya mengangguk sedangkan Faza mulai malah mendekati Sana.


"Hai, aku akan tinggal di sini beberapa lama, sampai aku lulus ujian sepertinya aku akan betah di sini, secara ada Cecan menawan seperti dirimu," Faza menaik turunkan alisnya.


"Cecan itu apa," tanya Sana dih kepo, iyalah dia yang di panggil Cecan.


"Mau tahu, ya! dih yang kepo. Cecan itu Cewek cantik. Kayak kamu ini," mentoelhโ€‹ pipi Sana lagi. Sudah berusaha menghindar tetap saja kena. Dasar Faza.


"Hai, kamu kebiasaan deh, tangan di kondisikan."

__ADS_1


"Namanya juga usaha, Kak," Faza mengedipkan mata sebelahnya ke arah Sana.


"Jangan genit genit kalau tidak ingin bersaing sama si Raja Elang," Faza menaikkan satu alisnya.


Raja Elang adalah panggilan khusus buat Vino. Saras dan Vino tumbuh secara bersamaan. Vino terkenal sedikit nakal dan menjahili bahkan kerap membuat Saras menangis. Sehingga Saras memberinya julukan Raja Elang. Tapi Vino juga melindungi Saras kok jika Saras di ganggu sama orang lain.


Saras adalah anak dari adiknya Maria. Jadi, secara tidak langsung Saras seharusnya di panggil tante. Tapi karna umurnya seperantara Vino dia tidak mau di panggil tante. Dan untuk orang tua Saras akan di bahas di episode setelah dan seterusnya entah episode yang keberapa, pokok yang pas sama judulnya.


"Oke, manisku kau berhutang penjelasan kepadaku nanti," Faza menunjuk Saras. Tidak mungkin ghibahin seseorang yang jelas-jelas berada di hadapan mereka. Kurang banyak dosa haha. Sana kayak orang hilang saja nggak ngerti arah pembicaraan mereka berdua.


"Hai, diam saja dari tadi. Nggak faham kemana arah obrolan kami, ya. Gapapa yang penting aku tetap ngerti kemana arah menuju hatimu," Saras memutar bola matanya malas, begitupun dengan Sana yang memilih meneguk minumannya.


Baru satu hari di sini dia sudah di hadapkan dengan tiga manusia dengan karakter berbeda. Saras yang terlihat datar dan dingin tapi sangat hangat ketika dengan orang yang lama di kenalnya. Si pendatang ABG yang selalu tebar pesona dan yang Madam, Sana sulit menjelaskan karakternya. Belum nemu kata yang cocok.


๐Ÿ€๐Ÿ€๐Ÿ€


"Arjun, kau saja yang pergi ke pesta itu. Aku malas," Vino bersandar di kursi kebesarannya. Meeting yang seharusnya berjalan satu jam harus molor lebih lama sebab beberapa kesalahan di buat oleh devisi keuangan. Membuat mood bos Vino seketika buruk.


"Dia sudah tidak berarti lagi bagiku. Terserah apa yang akan mereka bilang aku tidak peduli." Vino enggan bertemu dengan Sima yang seolah masih menyandang status sebagai kekasihnya.


"Tapi, orang tua mereka pasti akan menggunakan hal ini untuk menjadi trending topik. Bukankah sebaiknya anda buktikan kepada mereka bahwa anda sudah melupakan kejadian itu?" Vino mengelus dagunya sejenak, alisnya terangkat menunjukkan jika dia sedang berfikir.


"Lucu sekali, aku menyesal, karna pernah frustasi ditinggalkan oleh gadis sok cantik itu," Vino tertawa getir.


"Katakan keinginanmu, Tuan. Aku akan mengaturnya," ucap Arjun. Dia juga merasa geram dengan keluarga Sima yang tidak pernah mengetahui lebih tepatnya tidak mau tahu perihal kenakalan anaknya. Gagalnya pertunangan itu sebab Sima ketahuan selingkuh tapi mereka berdalih jika Vino lah yang telah mempermainkan perasaan anak gadisnya.


"Kita wujudkan saja tuduhan mereka," Arjun seketika menautkan kedua alisnya.

__ADS_1


"Apa Tuan yakin?" Arjun tentu tahu kemana arah pembicaraan Vino. Yaitu mencari seorang gadis untuk menjadi pemeran utama dalam sandiwara cinta Vino.


"Kamu pikir apa? pertama aku harus menyelamatkan rumah tangga kakakku. Dan kedua aku harus membungkam mulut keluarga Lodra. Bukankah waktu itu mereka bilang jika aku memiliki gadis lain sehingga membatalkan pertunangan, kali ini akan aku benarkan perkataan mereka," Vino memutar bolpoin di jarinya.


"Tapi_"


"Kau tidak perlu khawatir atas goncangan yang terjadi nanti. Aku sudah memikirkannya matang-matang. Perusahaan kita cukup kuat untuk menahan badai yang akan terjadi. Kau siapkan saja senjata yang sudah kita simpan sejak lama," Arjun tersenyum penuh. Dia begitu bersemangat sebab Bosnya kini telah bangkit kembali.


Aku bersyukur, karna kau sudah move on dari wanita ular itu. Aku yakin setelah ini kau akan bahagia menjalani kisah cintamu yang baru.


"Jadi, aku harus menghubungi gadis itu dan membuat persiapan untuk nanti malam?"


"Tidak," Vino memutar bola matanya.


"Nggak jadi, Tuan. Apa anda masih tidak tega membalas perlakuan Sima yang sudah jelas-jelas menyakiti dan menghianati sucinya cinta anda," Vino seketika melempar bolpoin yang di pegang. Dengan gelagapan Arjun menangkap dan meletakkannya kembali ke meja.


"Iya, iy_ iya, Bos aku paham. Aku akan persiapkan semuanya."


"Tapi, Bos!"


"Apalagi...?"


"Apakah Madam akan mengizinkan kita membawa gadis itu?" tanya Arjun. Vino menyugar rambutnya kasar. Dia lupa jika perjanjian kemarin, Eyangnya mengajukan syarat jika, Vino tidak boleh meminjam atau pun membawa gadis itu kembali.


"Gunakan otakmu itu?" titah Vino nggak mau tahu. Arjun menghela nafas panjang. Otaknya mendadak buntu jika berhadapan dengan Madam Maria.


"Ada satu cara, Bos"

__ADS_1


"Katakan!"


Bersambung.....


__ADS_2