Ditakdirkan Mencintaimu

Ditakdirkan Mencintaimu
Suatu keputusan


__ADS_3

"Sana, keputusan yang ku ambil sudah sangat bulat. Aku tidak akan menundanya lagi. Terlalu banyak aku menahan segalanya, termasuk insiden yang menimpa kita tadi, membuat aku semakin mantap untuk melangkah lebih jauh." Vino menggenggam tangan Sana, menyalurkan rasa cinta yang begitu dalam, hingga merobohkan kegundahan yang melanda hati Sana. Perlahan kepala itupun mengangguk.


"Tapi kita belum bicara dengan orang tua kita." Sudah pasti yang dikhawatirkan hanya satu orang. Yaitu Riki.


"Apa kau tidak mencintaiku?" tebak Vino. Otomatis tangan itu ditarik kasar oleh Sana


"Apa kau pikir aku pendusta. Bagaimana aku bisa berbuat sejauh ini dan memberikan hal yang paling aku tidak sukai jika bukan karna cinta?" Yah, sudah tentu Vino mengerti akan maksud Sana. Sana meski pernah memiliki kekasih, tapi satu kali pun belum pernah bersentuhan fisik. Haruskah Vino berterima kasih kepada kekasih pertama Sana, sebab menjaga Sana tanpa menyentuhnya. Lucu.


"Jadi, mantapkan lah hatimu dan menikahlah denganku!" Sana menatap nanar gedung KUA yang berdiri kokoh di hadapannya. Masih bingung tentu saja, pernikahan bukanlah sebuah hubungan yang hanya menyatukan dua orang saja. Harus ada persetujuan dari kedua belah pihak keluarga.


"Vino, apa kita tidak keliru. Menurutku ada baiknya kita bicarakan hal ini dengan keluargamu juga keluargaku."


Vino menghentikan langkahnya dan kemudian menggenggam erat tangan kekasihnya. Sana sedikit menyipitkan mata sebab cahaya matahari yang silau membuat matanya terasa perih dan berair.


"Kau benar. Tapi untuk saat ini kita sudah ada di sini. Tidak baik menunda perbuatan baik, apalagi sebuah ibadah yang dampaknya sangat positif." menarik tangan Sana tanpa permisi. Keduanya berjalan bergandengan. Sana pun menatap tangan Vino yang lain, nampak membawa sebuah map.


"Itu apaan?"


"Kau akan tahu nanti."


Kini kedua orang itu telah sampai di dalam. Sana sungguh terkejut sebab Vino telah mempersiapkan semuanya. Owh tidak! Sana telah mati kutu sebab tanpa dia duga telah masuk kepada hubungan yang lebih serius. Bukannya dia tidak mau, tapi lebih kepada khawatir dan cemas. Sana tidak mau bahkan terlalu takut untuk membayangkan apa reaksi Riki setelah tahu nanti.


✓✓✓


"Bagaimana kondisi Sana akhir-akhir ini?"


Dua orang pria duduk berhadapan dengan dua cangkir kopi mocca yang tinggal separuh. Keduanya menyesap rokok.


"Perubahan yang cukup lumayan. Hanya saja dia tidak boleh stres. Aku yakin pasti pengaruh dari CEO muda itu.


"Ya, aku dengar hubungan mereka berdua sangat baik. Hanya saja aku takut dia hanya main-main saja. Kau tahu sendiri, bagaimana keponakanku itu di bodohi oleh guru sialan itu." Meremas puntung rokok yang baru saja dia hisap.


"Riki ... aku melihat keseriusan dari wajah pria itu, dan cinta yang besar dari keponakanmu untuknya." Membuang asap ke udara hingga membuat pola yang begitu menenangkan.


"Kau tidak tahu saja Pras, dia pria yang bodoh. Bagaimana dulu dia tidak bisa mempertahankan tunangannya. Lalu bagaimana dengan nasib Sana nanti. Sana bukanlah gadis yang kuat."


"Yah aku tahu, hanya kau saja yang mengetahui itu semua." Kini dokter itu menyesap kopinya.

__ADS_1


"Malam yang memilukan itu, sungguh aku tahu dengan jelas. Cara Sana melampiaskan amarah dan kekecewaan ternyata lebih mengerikan." Riki mengusap kasar matanya yang berkaca-kaca.


Riki ingat saat dimana Sana memegang sebuah botol yang terbuka, air itu hampir saja mengucur untuk melukai matanya sendiri.


Riki yang melihatnya sungguh terkejut. Sebuah bahan kimia yang tidak seharusnya terkena mata. Riki segera meraih benda itu dan melemparkannya sembarang arah. Namun sayang, sebagian telah sukses mengenai mata Sana.


"Om, aku tidak ingin mata ini melihat penghianatan yang dia lakukan. Andai aku buta aku tidak akan melihatnya bukan. Jadi seharusnya aku buta saja Om!" Saat itu Riki mencoba menghalangi keinginan Sana. Riki mencoba memberikan pertolongan pertama, namun Sana tetap berontak dalam kesakitan.


"Kau bodoh Sana, kau gadis bodoh."


"Karna itu aku tidak ingin melihat kebodohan ini. Aku tidak ingin melihatnya lagi."


Plak


"Jangan hanya satu orang saja membuat kau melupakan beberapa orang yang menyanyangi dirimu Kak!" entah darimana datangnya Rindi menampar wajah Sana.


Rasa sakit di mata Sana semakin menjadi dan membuat pandangannya semakin mengabur. Bahan itu telah bekerja. Reaksinya sampai membuat Sana menjerit kesakitan dan akhirnya tak sadarkan diri.


"Kejadian itu masih begitu jelas Pras."


"Itu sebabnya kau tidak menyetujui hubungan mereka?" Riki memilih diam. Dan Pras bisa mengartikan bahwa jawabannya adalah 'iya"


Riki hanya menghela nafas berat. Sebenarnya dia juga tahu itu, namun ketakutan yang lainlah justru membuat Riki semakin takut.


"Apa aku salah?" Pada akhirnya Riki sadar akan caranya melindungi.


"Tidak! Hanya mungkin caramu lah yang keliru. Aku takut mereka akan nekat. Bukankah kau tahu kemana pergi tadi siang?"


Riki menarik salah satu sudut bibirnya.


"Lucu bukan? Aku cukup terkesan dengan keberanian iparku itu." Terkekeh seperti orang gila. Kopi di meja diambilnya lalu diseruput sedikit, kemudian dicampakkan kembali.


"Itu salahmu! Vino bisa nekat lebih dari itu, aku melihat cara dia menatap keponakanmu itu." Riki bergeming menunggu lanjutan cerita Pras.


Hening


Pras sengaja menjeda agar temannya mau bertanya, tapi ternyata salah. Tetap hening, bahkan Riki membuang muka.

__ADS_1


"Cintanya begitu dalam." Kini Pras menatap wajah temannya itu. "Bahkan pria itu sedikit konyol tapi kau akan melihat pria itu sanggup menghancurkan Monas hanya demi cintanya."


"Sejak kapan kau jadi dokter pembual begitu." Riki terkekeh geli.


"Entahlah, aku bahkan sudah lama melupakan sisi terburukku itu." ikut terkekeh. "Tapi rasa dihatiku sepertinya terkoyak kembali." Mengambil rokok yang baru dan membakarnya.


"Hai, kau ... dokter laknat." Mengambil rokok yang menyala di mulut Pras, dan melemparkannya ke meja.


"Tak perlu menasehatiku." Mengambil kembali rokok itu dan menyesap dengan penuh nikmat. Dasar, dokter edan.


"Sebentar, siapa orang yang telah mengoyak hatimu?"


Pras menerawang seperti orang gila.


"Gadis aneh yang begitu menyiksa batin." memegang dadanya sendiri, sedang akal warasnya hilang bersama hadirnya bayangan seorang wanita yang tengah tersenyum di awang-awang.


💦💦


Seorang gadis beberapa kali berdesis dan memegang bibirnya yang terasa perih.


"Kak Saras, minum ini mungkin saja bisa meredakan rasa perihnya," Sana membawa obat berupa tetesan. Saras menerima kemudian berdesis kembali sambil mengipas mulutnya dengan tangan.


"Ouwwwhhh."


"Sakit banget ya Kak!" Saras mengangguk tanpa suara.


"Kata orang, kalau pas makan kita kegigit, itu artinya ada yang lagi merindukan kita."


"Hoaks!" Saras berdesis lagi, terlebih saat menyuapkan makanan ke mulutnya. Sedangkan Madam Maria yang sedari tadi diam saja kini berdiri dan menyudahi makannya.


"Pergi periksa kalau sudah tidak tahan. Mungkin lebih baik jika ketemu dokter Pras, sepertinya kau merindukan pria itu sampai makanmu terganggu." Tersenyum tipis kemudian pergi. Sana melongo dan berkedip beberapa kali.


"Itu benar apa yang diucapkan Madam." saat beberapa lama baru tersadar.


"Entah dosa apa yang aku lakukan hari ini, kenapa setiap kali makan selalu tergigit," kesal Saras menahan perih, sesekali berdesis.


"Pasti kena tulah sebab sering mengomeli pria ganteng ini." Faza yang baru saja datang, tersenyum manis sambil menarik turunkan alisnya sangat mempesona bagi pelayan yang berada di sekeliling meja. Tapi senyum itu terasa menjengkelkan bagi Saras. Sedang Faza dengan tanpa dosa duduk di samping Saras dan mulai makan malam.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2