
"Hai manis, kita ketemu lagi di sini!" Sapa seseorang yang membuat Sana diam di tempat. Sana kembali mengalami kesulitan mengenali wajah pria yang berada di hadapannya.
"Siapa kau?" tanya Sana.
Sana membuka dan menutup pupil matanya, sebentar nampak jelas, kemudian wajah itu terlihat rata kembali. Sana mencengkram pegangan tangga.
Apakah penyakit itu datang lagi? Setelah sekian lama, aku bisa melihat dengan jelas dan sekarang, akankah terulang kembali?. Batin Sana.
"Manis, apa kau lupa namaku, baru kemarin lho kita bertemu," cerca pria itu lagi. Sana mengerutkan keningnya mencoba mengingat suara dan bentuk postur tubuh serta gerak gerik orang di depannya ini. Tetap nihil dia tidak ingat. Malah kepalanya yang terasa semakin pusing. Pasti efek dari menangis tadi.
"Maaf, tapi aku benar-benar lupa," lirih Sana sambil memijat pelipisnya.
"Tidak perlu diingat!" tegas Vino yang tiba-tiba menyela obrolan mereka.
"Vino," desis Sana. Entah kenapa jantungnya selalu berdetak lebih kencang akhir-akhir ini bila bertemu dengan Vino.
"Hai, pria sok tampan, aku tidak akan membiarkan dirimu mengambil milikku," tuduh Vino tanpa perasaan. Vino segera mendekati Sana dengan prosesifnya, bagaikan anak kecil yang tidak akan membiarkan mainannya disentuh siapapun.
"Milikmu?" cengo pria yang tertuduh. Padahal dia sudah menunggu Sana dengan hati yang berdebar-debar.
"Kau juga, jangan dekat-dekat dengan sembarang pria, bisa jadi dia begitu berbahaya," meraih tangan Sana yang masih berpegangan pada anak tangga paling bawah. Vino tidak peduli pada sahabatnya yang kini menatap Vino dengan heran.
"Hai, manis. Kau benar-benar lupa kepadaku?" pria itu berdiri tepat di depan Sana. Mau tidak mau Sana pun berhenti.
"Kita bertemu di mall di rak susu." terang pria itu lagi.
"Mike!" ucap Sana. Bersamaan dengan itu, Vino semakin mengeratkan pegangannya. Pertanda bahwa Sana miliknya. Tapi, apakah Sana tahu maksud hati Vino
"Nah, itu ingat! Masak sama cowok ganteng gini kamu lupa? Keterlaluan!" Mike semakin menggoda Sana. Puas dia melihat Vino yang sepertinya frustasi.
Vino semakin meremas jemari Sana. Ada sesuatu yang menjalar di tubuh Sana. Perasaan hangat yang hanya dia dapatkan dari seorang Vino.
"Itu karena kau yang memaksa dia untuk mengingat!" ketus Vino.
Perlahan tapi pasti, Sana melihat samar-samar wajah Mike, lalu terlihat lebih terang dan jelas. Sana berucap syukur di dalam hati. Setidaknya dia akan mengenal lebih banyak orang dengan penglihatan yang bagus hari ini.
"Apa dayaku, ternyata dia lebih cantik dan manis daripada di foto," ucap Mike.
"Jangan mendekat! Kau diam saja di sana!" bentak Vino saat melihat pergerakan Mike. Mike diam ditempat sambil mendengus.
__ADS_1
"Aku tidak akan menculiknya." sewot Mike.
"Kenapa kau baru turun? Ngapain saja di kamar hemmm?" Vino mengabaikan keberadaan Mike yang mengumpat kesal.
"Bukan urusanmu," Sana menarik kasar tangan yang di pegang oleh Vino.
"Hai, kenapa kau malah meninggalkan ku? Dasar wanita selalu saja membuat pria tergila-gila," umpat Vino.
"Mau kemana?" Mike mencekal lengan Vino.
"Mau apa kau!" mencoba menghindari Mike. Vino tahu benar, bahwa Mike saat ini sedang ingin mengintrogasi dirinya.
"Tenanglah, sensitif sekali." Vino menyugar rambutnya kasar. Satu sisi Vino ingin sekali menyusul Sana, tapi kini malah diintrogasi oleh Mike.
."Apa maumu?" tanya Vino berterus terang.
"Tidak ada_" belum selesai Mike bicara Vino sudah pergi terlebih dahulu.
"Sana ... Sana ... !" Vino berusaha meraih tangan Sana yang berusaha menjauh dari Vino.
"Sana, aku minta maaf!" Vino berhasil meraih tangan Sana, dengan cekatan Vino mengunci tubuh Sana didinding koridor rumah yang mewah dan besar itu.
Ada sepasang lelaki dan perempuan yang sepertinya suami istri melewati mereka.
"Apa kau yakin akan mengambil alih perusahaan itu?" tanya wanita.
"Tentu saja. Siapa yang sudi menunduk seumur hidup di bawah kekuasaan perempuan itu."
"Sebenarnya aku tidak setuju dengan rencanamu itu. Terlebih mereka sudah banyak membantu kita."
"Mereka melakukan itu sebab memiliki tujuan yang besar. Aku akan tetap menjalankan rencanaku. Aku sudah berjuang sejauh ini dan tidak mendapat apa-apa? Hanya orang payah yang sanggup melakukan itu.
Vino sejenak menaruh curiga tentang apa yang mereka bicarakan. Vino bisa mendengar jelas ucapan mereka, tapi belum bisa memastikan apakah baik atau buruk. Yang pasti dia memang benar-benar harus waspada.
Kedua orang itupun berlalu, Vino menghembuskan nafasnya lega. Begitupun dengan Sana. Dia cukup tersiksa dengan detak jantungnya yang sulit terkontrol saat bersama Vino.
Lagi-lagi Sana dihadapakan pada kenyataan yang membuatnya aktif olahraga jantung. Apalagi aroma parfum maskulin Vino yang membuat Sana mabuk kepayang. Sudah tidak ada jarak di antara mereka berdua. Vino menarik kuat pinggang Sana hingga keduanya menempel dengan sempurna. Sana mendongakkan kepalanya terlihat samar tapi kemudian semakin jelas, bahwa Vino memang pria yang begitu tampan. Tidak bisa dipungkiri jika, selain jantungnya yang berdetak kencang, Sana juga merasakan nyaman dalam pelukan itu.
Keduanya saling mengunci tatapan satu dengan yang lainnya. Vino semakin terpesona oleh kecantikan gadis mungil yang begitu manis. Dia tidak memungkiri Mike memang ahlinya menilai seorang wanita. Sana sangat manis dan cantik.
__ADS_1
Kau sangat menarik hatiku Sana, kau sungguh indah mempesona. Aku mencintaimu sangat mencintaimu. Batin Vino.
"Kau begitu sempurna Vino, aku selalu terperdaya oleh pesonamu, tapi siapalah aku, hanya gadis biasa yang bertahan hidup. Batin Sana
"Vino, bisakah kau melepaskan aku?" Bukan tidak apa-apa, tapi dia akan malu jika Vino mendengar detak jantungnya.
"Maaf!" ucap Vino melepaskan pinggang Sana.
Keduanya tersenyum canggung. Sana hanya menunduk, lalu memilih pergi.
"Sana ... jangan menghindari ku, aku tidak kuat jika kau dingin seperti ini." Kini Vino menangkup wajah Sana dengan kedua tangannya.
"Siapa aku bagimu?" Vino tersentak akan kata yang keluar dari bibir mungil Sana.
"Apa maksudmu?"
"Ah tidak! Aku tidak menghindari dirimu, tapi aku masih ada urusan. Permisi!"
"Tidak! Kita datang berbarengan!" ajak Vino.
"Tapi mereka pasti akan mencurigai kita memiliki sebuah hubungan!"
"Aku tidak peduli! Aku bahkan sangat senang jika itu memang benar terjadi. Entah kenapa hati Sana tiba-tiba menghangat setelah mendengar ucapan Vino.
"Vino, kau tidak tahu tentang diriku, kau akan malu jika tahu yang sebenarnya," ucap Sana.
"Untuk apa malu, kau cantik, manis dan menyenangkan, juga lemah lembut. Cocok untuk dijadikan partner membina rumah tangga." Jangan di tanya pipi Sana sekarang pasti sudah Semerah bendera negara.
"Sana, apakah kau memiliki kekasih?"
"Apakah perlu aku jawab?
"Tentu saja, temanku banyak! Mungkin saja salah satu dari mereka bisa aku rekomendasikan untuk dirimu jika berkenan. Kau ingin pasangan yang seperti apa?"
Kenapa hatiku mendadak sedih ya ... apakah aku terlalu pede dan menyalah artikan perlakuan Vino terhadapku?
***Bersambung....
Ciee Sana sudah begitu berandai malah patah hati sebelum di tembak. wkwkkkk
__ADS_1
jangan lupa dukungannya ya please***