
Gladi resik panggung spektakuler peluncuran parfum terbaru telah selesai. Beberapa penyanyi dan para penari telah menyempurnakan performa mereka. Para artis lain juga telah datang dan memulai gladi resik dengan semangat.
Dari itu semua, satu orang yang memerankan bintang utama, seperti biasa tidak terlihat batang hidungnya. Sana kembali berlatih dengan Kak Seto, tanpa Vino. Padahal aksi panggung hanya tinggal menunggu hitungan jam saja.
"Lihatlah! Bos Besar Alvino memang benar-benar keterlaluan." Saras mengumpat dan menekan kepalanya yang mendadak pusing sebab Vino. Beberapa asisten yang dia tugaskan untuk membantu dirinya terlihat saling melemparkan tatapan. Tidak ada yang berani mendekat untuk sekedar menghibur. Citah yang lincah ini jika marah bisa berubah menjadi singa yang berbahaya.
"Jangan marah terus Kak, minum dulu gih." Sana menyodorkan botol air mineral kepada Saras.
"Bagaimana aku tidak marah, jelas-jelas ini hari terakhir kita latihan, malam nanti malam semua harus perfect. Aku tidak mau ada kesalahan apapun." Saras yang kesal itu, membuka botol minumannya dengan kasar, lalu meneguknya hingga setengah.
"Biar aku yang telpon Kak!" ucap Sana kemudian menghubungi Vino.
Owh, dadaku kenapa jadi begini? Padahal cuma telpon doang. Vino kenapa tidak diangkat ya? batin Sana.
"Bagaimana?"
"Tidak diangkat!" Sana mendadak badmood sebab telpon yang tidak diangkat. Apalagi Saras rasanya pengen banget seret Vino dan memakinya seperti yang dia lakukan kepada yang lain. Tapi apa daya, kalah jabatan.
✓
"Bos, kenapa kita tidak pergi ke studio saja untuk latihan?" keluh Arjun yang masih dengan mode jengkelnya. Kini dia harus menerima adegan romantis yang membuatnya ingin muntah.
Vino mengulang beberapa kali adegan mengungkapkan cinta dan adegan menggandeng mesra pasangannya. Bahkan Arjun harus rela disentuh pipinya.
Owh, Ya Tuhan! jiwa perjaka ku bisa ternoda oleh atasanku sendiri. batin Arjun.
"Apa kau sudah bosan bekerja kepadaku," hardik Arjun.
"Bukan begitu Bos. Setidaknya Bos bisa latihan di sana dibantu oleh para instruktur pelatih dan para kru pelaksana." ucap Arjun sambil duduk bersandar di sofa.
"Andai aku punya keberanian sebesar itu Arjun. Dadaku sungguh sakit saat berdekatan dengan Sana. Aku ingin bersama, tapi juga tidak ingin membuatnya kembali bersedih."
Vino mengingat kejadian sewaktu di mansion Maria, saat acara pesta. Vino sebenarnya sempat melihat Riki memaki Sana.
Flashback
Vino saat itu masih duduk di lantai setelah adu kekuatan dengan Riki. Vino melihat sekilas siluet tubuh Vanka yang berdiam diri tanpa melerai mereka. Vino akhirnya mengalah sebab tidak ingin melihat Vanka bersedih akan perlakuannya kepada kakak ipar.
__ADS_1
Vino menatap Riki yang sudah membawa Sana ke balkon. Vino punengikuti keduanya.
*Sepertinya aku harus selalu mengawasi dirimu. Sudah aku peringatkan, agar kau berhati-hati dan selalu menjaga diri. Kenapa kau ceroboh Sana. Aku memberi kebebasan kepadamu tapi bukan untuk pergaulan bebas. Sana, pria akan selalu mengambil kesempatan dalam kesempitan. Mereka akan berkata manis dan memabukkan karna sebagai umpan agar bisa mendapatkan mangsa. Tapi, apa? Setelah mangsa di dapat, dia akan menunjukkan wajah asli mereka. APA KAU TAHU ITU!" ketus Riki tanpa melihat ponakannya. Kini mereka berdua telah berada di teras yang berlawanan dengan tempat pesta.
"Kau perempuan Sana, dimana harga dirimu? Kau mau saja di perlakukan sesuka hati olehnya. Apakah kau tidak risih hah!" Sana hanya menunduk ketakutan, bahkan tubuhnya bergetar. Sana meremas kedua tangannya kuat.
"Sana ... maafkan Om! Om tidak mau kehilanganmu. Maaf, jika om terlalu kasar dan tegas kepadamu," Suara Riki merendah saat melihat air mata Sana yang berlinang*.
Vino yang tidak kuasa melihat air mata Sana yang berlinang menjadi khawatir. Vino pun hendak menyusul mereka dan mengatakan semuanya.
"Jangan kesana Vino!" tangan Vino tiba-tiba dicekal oleh seseorang. Dan dia adalah Vanka."
"Kak!"
"Kita obati lukamu terlebih dahulu!" bijak Vanka setengah mendorong tubuh adiknya. Vino pun menurut tanpa perlawanan. Vanka mengobati luka adiknya dengan setengah bercanda pada Vino agar rasa sakit Vino teralihkan.
Selanjutnya baca di judul party 2.
Sekarang.
"Bos!"
"Lagi memikirkan apa Bos?" selidik Arjun. Vino hanya menghembuskan nafasnya kasar. Dia menatap datar wajah Arjun.
"Arjun, apa menurutmu Sana juga mencintaiku?" tanya Vino dengan gusar.
"Kenapa Bos menanyakan itu?" timpal balik Arjun. Tidak seperti biasanya sang Bos menanyakan keputusan tentang perasaannya. Vino mendesah dan menghembuskan nafasnya kasar. Dia sungguh tidak mengerti akan perasaanya. Baru kali ini dia begitu dilema.
"Ada sebuah rahasia yang membuatku tidak bisa bertindak gegabah Arjun." ucap Arjun tanpa melihat ke arah lawan bicaranya.
"Rahasia!" Vino mengangguk lemah.
"Bisakah kau katakan kepadaku, apa itu? Ah maaf Vino, tapi sebaiknya jangan katakan jika kau tidak mau diketahui orang lain."
"Tidak apa-apa Arjun. Aku percaya padamu."
"Ini ada sangkut pautnya dengan over protective Riki kepada Sana. Ibu Sana ternyata meninggal bukan karna akibat pendarahan sebab operasi. Tapi karna bunuh diri." Arjun seketika mengerutkan keningnya.
__ADS_1
"Lalu, apa hubungannya dengan perasaanmu terhadap Sana?"
"Tentu saja ada! Riki masih terpukul dengan meninggalnya mendiang ibu Sana. Ibu Sana meninggal sebab dilecehkan oleh seorang pria." Arjun menegakkan tubuhnya, tatapannya menyimpan sejuta pertanyaan.
"Maksudmu?"
"Riki tidak ingin keponakannya mengalami nasib yang sama. Dia takut jika Sana hanya akan dijadikan budak nafsu semata, dan mengalami nasib yang sama seperti ibunya."
"Owh, jadi itu alasannya."
"Itu mah kecil, kalau Tuan bersungguh-sungguh lebih baik Tuan bicara langsung kepada Tuan Riki dan meminta persetujuan Riki untuk menyunting Nona Sana."
"Maksudmu menikah?"
"Yup tepat sekali."
"Apakah tidak terlalu dini dalam mengambil keputusan Arjun? hubunganku dengan Sima saja yang terjalin selama bertahun tahun bisa putus. Lalu bagaimana dengan hubungan ini, yang baru saja saling mengenal? Apakah kami akan mampu melewati bahtera rumah tangga bersama-sama jika memutuskan untuk menikah?"
"Kenapa Tuan memikirkan hal itu? Bukankah Tuan dan Nona Sana saling mencintai? Kalian bisa saling belajar mengerti satu sama lain dan mengenal dengan seiringnya waktu. Bahkan bisa melakukan apapun tanpa menimbulkan fitnah, jika menikah nanti. Nona Sana dan Sima, adalah dua sosok yang berbeda Tuan. Nona Sima haus akan harta dan tahta sedangkan Nona Sana tidak demikian."
"Dan yang paling utama adalah anda harus memikirkan bagaimana caranya meluluhkan hati ipar Anda, Tuan."
"Kau benar!" suara Vino terdengar lemah dan kurang bergairah. Dapat diartikan bahwa Vino buntu ide untuk urusan yang satu ini.
"Kenapa anda mendadak lesu begini?"
"Arjun, aku tidak ingin Sana mendapat tekanan dariku, juga dari Omnya. Aku merasa kasihan. Tentu dia sangat dilema menentukan pilihannya. Jika aku memaksa, aku takut Riki akan semakin menjauhkan Sana dariku."
"Lalu, berdiam dan menunggu, bukan watak anda Tuan!" Mata Vino menatap lurus kepada Arjun.
"Jadi!"
"Yah, bukankah Tuan Vino sudah berlatih? Gunakan kesempatan ini untuk mengambil keuntungan." Vino terdiam sejenak, memikirkan apa arti ucapan Arjun. Beberapa menit kemudian, sebuah ide muncul.
"Terima kasih Arjun!"
Bersambung.....
__ADS_1
Selamat membaca.