
Bos!"
Sana menatap ke arah sumber suara. Sedangkan Vino masih enggan berpindah posisi.
"Maaf, anda mencari siapa ya?"
"Sana, apa maksudmu?" Vino seketika mendongak membuat Sana gelagapan karenanya.
*Vino, kita begitu dekat, tapi kenapa aku merasa kau semakin menjauh.
Sana, andai saja aku bisa mengungkapkan perasaan ini. Andai aku bisa menjadi orang ingkar dan melupakan semua yang aku janjikan kepada Riki. Ya, hari ini pun aku telah ingkar, meski sebisa mungkin tetap berusaha untuk tetap bisa menepati janji. Batin Vino*.
Sejenak Sana melupakan seseorang yang telah hadir diantara mereka berdua. Bahkan Arjun berharap agar keduanya disatukan dalam sebuah ikatan.
"Ekhemm ... ekhemm!"
"Ah, maaf Tuan! Anda tadi mencari siapa?" tanya Sana untuk yang kedua kalinya.
"Maaf Nona, bukankah kita sudah saling mengenal?" Arjun sejenak heran akan pertanyaan Sana. Sedangkan Vino masih sibuk menatap wajah Sana. Dia juga bingung akan pertanyaan yang terlontar dari bibir mungil Sana.
"Iyakah?" Sana mencoba mengingat bentuk postur tubuh dan suara orang yang berada di hadapannya. Sana tidak bisa mengenali bentuk wajah Arjun. Semuanya terlihat datar. Beberapa saat Sana mengingat, akhirnya dia bisa menemukan sebuah nama. Senyuman pun terbit di bibirnya.
"Arjun, iyakah? Maaf Arjun!"
"Kenapa kau meminta maaf kepada Arjun? Dia yang harusnya minta maaf karna mengganggu waktu berharga kita," potong Vino dengan ketus. Ternyata Vino sedang kesal sebab acara ingkar janjinya kembali gagal. Dia sibuk mengumpat di dalam hati. Bahkan Vino tidak begitu mendengar percakapan Sana dan Arjun sebelum kata maaf yang dilontarkan Sana.
"Maafkan saya Tuan. Klien kita dari Hongkong meminta bertemu sekarang di hotel Bravo White," ucap Arjun dengan sopan. Vino sudah duduk sejajar dengan Sana.
"Apa tidak bisa kita tunda besok?" tawar Vino.
"Maaf, Tuan! Kita sudah membatalkan pertemuan dengannya kemarin. Takutnya mereka akan menganggap kita kurang profesional, sehingga berdampak buruk bagi perusahaan kita nantinya," bujuk Arjun secara halus.
"Tapi_" Vino begitu enggan pergi, sebab ingin berlama-lama dengan Sana.
Vino menatap wajah Sana kemudian dia juga teringat akan janjinya kepada Riki. Membuat Vino merasakan sesak di dada. Kenapa selalu saja ada halangan untuk bisa berdua dengan Sana.
"Baiklah, tunggulah di mobil."
__ADS_1
"Permisi Tuan, Nona Sana," pamit Arjun kepada mereka berdua.
"Silahkan Arjun."
"Hai, jangan senyum seperti itu kepada orang lain," hardik Vino yang membuat dahi Sana seketika berkerut.
"Kenapa memangnya? Apakah salah?"
"Tentu saja!"
"Senyum itu ibadah! Dimana letak kesalahannya?"
"Pokoknya salah!" tegas Vino.
"Aku tidak rela jika senyum itu untuk semua orang. Lihat saja nanti jika kau menjadi istriku, kau hanya boleh tersenyum untukku," sungut Vino kemudian mencium singkat kening Sana.
"Jika seperti itu, aku tidak akan mau menjadi istrimu," ucap Sana setengah bercanda.
"Akan ku culik kamu, dan ku hamili terlebih dahulu. Setelah itu, siapa yang mau menjadi suamimu?"
Mata Sana hanya membola saja tanpa berkedip. Bahkan mulutnya melongo sebab shock dengan ucapan Vino kali ini.
"Aku akan lebih mengerikan lagi jika tidak bisa mengikatmu dengan tali pernikahan," bisik Vino di telinga Sana, bahkan Vino dengan jailnya menggigit sedikit daun telinga Sana.
Sana segera beringsut ke belakang dengan mendorong kuat dada bidang Vino. Sungguh darahnya berdesir begitu hebat saat Vino membisikkan kata-kata intim seperti itu.
"Dasar mesum!" ketus Sana yang langsung ditanggapi gelak tawa Vino.
"Jaga diri baik-baik, aku pergi dulu. Lihat! Kau begitu menggemaskan sekali jika seperti ini," Vino mencubit hidung Sana yang masih terlihat bodoh itu. Kemudian dia mengusap pipi Sana dengan pelan dan lembut.
Kalau saja klien yang mengajak bertemu hari ini bukan orang yang penting, sudah kupastikan aku lebih memilih disini bersama Sana. batin Vino.
"Ah, iya!" Sana tersentak sebab tadinya dia sempat terbengong.
"Apakah aku perlu periksa jantungku ya, sepertinya bermasalah. Mendadak detaknya lebih cepat dari sebelumnya. Ini semua gara-gara Vino yang menyebut kata istri. Owh, Tidak," Sana mengusap wajahnya kasar. Tapi kemudian tersenyum sendiri. Mungkin jika di film anime akan ada bunga bertaburan di sekitarnya.
"Apakah aku jatuh cinta," Sana menangkup kedua tangannya di wajah.
__ADS_1
Alvino, kau telah memporak porandakan hatiku. Eh, tunggu! Apakah aku terlihat bodoh tadi.
"Aaa ... ini semua gara-gara kau Vino," ucap Sana sambil tertawa sendiri seperti orang gila. Lalu menghentak-hentakkan kedua kakinya, sedangkan kedua tangan menutup wajahnya membayangkan detik-detik terakhir kebersamaan antara dia dan Vino.
"Aku lama-lama bisa gila jika terus bertemu denganmu Vino." Kini kedua tangan itu berpindah pada kedua pipi Sana yang sudah berubah warna seperti tomat yang hampir matang.
"Sana ... apa kau baik-baik saja?"
Deg!
"Kak Saras!" ucap Sana yang sudah hafal betul dengan suara syahdu Saras.
"Ada apa, Kak?" Duh! Malunya aku, apakah kak Saras melihat apa yang aku lakukan tadi?" batin Sana. Dia hanya mampu menggigit bibir bawahnya untuk mengurangi rasa panik dan malu jika ketahuan tingkah konyolnya tadi.
"Sepertinya kau begitu bahagia," selidik Saras sambil tersenyum sebetulnya dia sudah melihat adegan gratis antara Sana dan Vino. Bahkan Saras juga telah mengabadikan interaksi keduanya.
"Kenapa kakak kemari?" Saras tahu betul jika Sana mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Madam ingin bicara kepadamu," ucap Saras seakan tidak mengerti maksud Sana.
🍂🍂🍂
Seorang pengendara motor melajukan kendaraannya dengan kecepatan penuh. Dia begitu bersemangat menyusuri jalanan yang lumayan lenggang, sehingga motornya bisa melesat dengan cepat. Dia sudah tidak sabar lagi untuk bertemu dengan saudara satu-satunya yang dia miliki.
Sudah dua lamanya dia tidak bertemu. Rindu yang membuncah membuat dia kalap, hingga hanya rasa ingin bertemu yang ada dibenaknya. Dengan gesit dia menyalip dan mendahului kendaraan lain yang dia anggap menghalangi. Motor sport dan helm full face juga jaket hitam kulit itulah ciri khasnya saat ini.
Dari arah kiri jalan, pengendara mobil melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang. Seharian penuh dia bertarung dengan alat-alat otomotif dan oli.
"Aku pulang kemana, ya?" gumam pria tampan itu sambil fokus menyetir. Siapa lagi jika bukan Faza.
Dia memang anak yang pekerja keras. Jika pagi dia akan bergelut dengan pelajaran di sekolah. Dan jika siang, sepulang dari sekolah, Faza lebih nyaman menghabiskan waktu di bengkel miliknya.
"Ah, pulang saja ke rumah Eyang, lumayan ada Cecan di sana. Pasti aku tidak akan bosan." Senyum manis tercetak jelas di bibir Faza.
"Duh, iya! Aku lupa, pesanan Om Rangga," Faza menepuk jidatnya sendiri sebab ingat akan onderdil pesanan yang belum dia pasrahkan kepada anak buah. Faza segera mencari benda pipih miliknya untuk menghubungi seseorang.
"Oke, kita hubungi saja si Zilki," ucap Faza sambil mencari kontak nama yang di maksud. Saat Faza telah sampai di pertigaan jalan, dia terlalu fokus menscroll nomor sehingga tidak melihat jika ada sebuah motor yang melaju dengan kencang dari arah samping.
__ADS_1
Bruukkk