Ditakdirkan Mencintaimu

Ditakdirkan Mencintaimu
SESUATU


__ADS_3

Malam pertama, mungkin malam itu adalah malam yang ditunggu-tunggu oleh semua orang. Bahkan mereka pasti merencanakan sesuatu yang indah nan romantis agar malam yang mendebarkan itu berkesan.Bisa jadi, malam pertama terpatri menjadi salah satu kenangan terindah bagi pasangan sehidup semati.


Tapi sepertinya tidak bagi pasangan yang satu ini. Vino dan Sana tengah berada di sebuah hotel dengan fasilitas suite room yang di sempurnakan dengan hiasan kamar yang terkesan romantis. Kini hanya terdengar isakan dari bibir Sana.


Sebenarnya Vino begitu geram dengan kelakuan ibu mertuanya yang selalu menorehkan luka di hati Sana.


Satu jam yang lalu.


Sana dan Vino tanpa sengaja bertemu dengan ibunya di restoran hotel. Risya yang kebetulan menemani suaminya menemui klien, Risya melihat Vino dan Sana yang tengah asyik bercanda tawa ria. Vino sengaja mengajak Sana makan di luar kamar agar bisa menyiapkan kejutan romantis untuk istri tercinta.


"Sayang, kita hanya makan di sini kan? Bukan ngelakuin hal lain yang lebih dari ini?" tanya Sana yang hatinya tidak menentu setelah ijab Qabul. Tadinya Sana begitu lega, saat Vino melepaskannya saat berduaan di kamar dengan istrinya, Vino yang pergi untuk sebuah urusan pekerjaan. Membuat hati Sana merasa sedikit tenang.


"Apakah istriku, sedang menginginkan sesuatu yang lebih? Di tempat romantis yang hanya ada kita berdua? Atau mungkin melakukan hal yang begitu menggairahkan sehingga kita berkeringat." goda Vino menaik turunkan alisnya. Sana terkesiap dan mulai gusar.


"Ah tidak suamiku, ini sudah cukup. Kita bukan pasangan lebay seperti orang-orang itu kan?" kenapa mulut dan hati ini berseberangan? Dasar Sana, kenapa tidak jujur saja. Lagian dia suamimu sekarang, kamu berhak menuntut apapun darinya, termasuk makan malam romantis. Juga malam yang mendebarkan penuh kejutan, Sana juga menginginkan itu.


"Kamu ini! Apakah itu benar dari hatimu?" Vino terkekeh dengan ucapan Sana yang menurutnya lucu.


"Kenapa istriku, apakah kamu merasa tidak nyaman?" beberapa kali Sana menggeser bokongnya.


"Tidak! Aku hanya cemas saja, sebab kita kan makan malam di restoran hotel, terus aku mengira, kau akan menyewa kamar malam ini!" Sana membekap mulutnya. Entah kenapa, sejak Vanka mengatakan bahwa seorang perawan akan kesakitan saat malam pertama, membuat dirinya was-was juga panik. Tapi malah kini dirinya mengatakan hal yang tabu.


"Baiklah, jika itu keinginan kamu! Kita pesan satu kamar untuk sejarah kita yang baru."


"Tidak-tidak! Jangan!"

__ADS_1


"Kenapa? Ini hotel yang sangat bagus untuk menjalajahi dunia baru kita." Vino tersenyum mesum.


"Tapi itu?" Sana ingin menghindar dari malam ini. Dia tidak ingin diserang.


"Itu apa?" Vino mengulum senyum menahan tawanya. Wajah Sana yang semakin memerah sebab tidak bisa membuat alasan yang tepat.


Dan tepat di saat itu, datanglah Risya.


"Ternyata begini ya, dasar anak tidak tahu balas budi." Sana terpengarah mendengar suara lantang Risya. Bahkan beberapa pengunjung menoleh guna mencari tahu apa yang terjadi. Sana merasa udara mendadak memenuhi dadanya.


"Apa maksud Anda!" Sana menahan air mata yang siap tumpah ruah hanya karena ucapan mamanya.


"Kalian menikah tanpa memberitahu mama. Apakah itu pantas?" Semua orang mulai bicara menurut asumsi masing-masing.


"Anak macam apa itu?"


"Hai, bukankah dia artis yang baru saja tenar itu?"


"Ya! Itu pasangan yang fenomenal itu!"


"Kalian benar! Dan mereka menikah diam-diam tanpa memberi tahu aku! Ibunya." Sana mengepalkan tangannya.


"CUKUP! siapa Anda yang berani mengatakan hal itu kepada istriku." Vino tidak mungkin diam saja melihat istrinya diperlakukan seperti itu. Bahkan Vino tidak habis pikir dengan jalan pikiran mertuanya itu.


"Hah! Itukan pemuda sukses itu?"

__ADS_1


"Iya! Jadi benar mereka menikah diam-diam?"


"Saya pikir Anda sudah tidak peduli dengan kehidupan saya!" Sana berusaha tegar dan membantah omongan Risya.


"Kau lupa? Darimana hidupmu berasal kalau bukan aku yang melahirkan dirimu dan disaat kau bahagia, kau melupakan siapa aku?" Risya menuding Sana seolah Sana adalah anak durhaka yang pantas dipermalukan di depan semua orang.


"Ma! Apa yang Mama lakukan. Malu dilihat orang!" Beruntung klien Raga telah pergi, sehingga Raga bisa langsung menyusul istrinya.


"Biar saja pa! Biar semua orang ta_" Raga membekap mulut istrinya dan membawa Risya pergi. "Maaf semuanya, istriku sedang dalam kondisi yang kurang baik, jadi jangan diambil hati ucapannya." Raga menoleh kepada Vino dan Sana, kemudian pergi dengan tangan memegang prosesif pinggang istrinya.


"Sana sayang!" tangan Vino terulur lembut, guna mengusap wajah istrinya.


"Aku ingin istirahat!" Sana merebahkan kepalanya di pundak Vino.


"Yah! Kita ke kamar saja ya!" Sana mengangguk pasrah. Vino terus saja mengusap lembut pundak Sana, bahkan hingga sampai di kamar hotel yang sama sekali tidak diperhatikan oleh Sana.


"Kamu ingin istirahat hemm?"


"Kenapa aku harus dilahirkan? Kenapa aku hidup dalam hubungan yang tidak sempurna? Apa salahku? Apakah aku anak yang nakal?" Sana meracau seperti orang yang tengah mabuk. Vino dengan sabar menyerahkan jiwa dan raganya untuk menenangkan Sana. Berharap Tuhan memberi kekuatan kepada istrinya agar tetap kuat.


"Sayang, sudah ya! Jangan menangis, jangan diambil hati." mencium kening Sana berulang kali. "Istirahatlah, dan lupakan kejadian tadi." Vino merebahkan tubuh Sana di ranjang, Sana bahkan tidak menyadari kelopak mawar berjatuhan ke lantai. Dia terlalu sibuk dengan pemikirannya yang kacau.


"Aku anak yang buruk!" Sana sesenggukan, Vino dengan telaten mengusap air mata yang terus mengalir, mencium kepala istrinya dengan sayang.


"Tidurlah!" Vino ikut berbaring di samping istrinya. "Temani aku!" nada manja nan serak membuat gairah Vino tersulut. Bahkan tubuh Sana yang meringsek kini membuat bagian tubuh Vino membengkak di dalam.

__ADS_1


Sabarlah junior, jatahmu akan datang nanti, tapi tidak untuk malam ini. Kita harus menahannya oke!


Bersambung


__ADS_2