
Ayah menggenggam erat tangan Sana. "Kecantikan seorang wanita tidak terletak pada wajahnya, warna kulitnya, atau barang-barang yang melekat pada dirinya. Kecantikan sejati seorang wanita ada di dalam hatinya, dalam Imannya, takwanya, dan kecintaannya terhadap agama. Begitu sedikit pria yang mengerti hal ini, bahkan lebih sedikit lagi wanita yang mau melakukannya."
"Maksud ayah?" Sana belum mengerti.
"Nak, jika usiamu sudah sampai waktunya, kamu akan mengerti. Bahwa wanita adalah ratu untuk dirinya sendiri. Dan apa kau tahu tugas seorang ratu?"
Sana menggeleng ke kanan dan ke kiri dengan cepat.
"Dia berkuasa sepenuhnya pada daerah kekuasaannya. Dia yang menjaga daerah kekuasaannya agar tetap terjaga kemurniannya." tangan ayah Sana menunjuk melingkar di udara menunjuk seluruh tubuh Sana. "Semua yang ada pada tubuhmu, adalah daerah kekuasaan yang harus selalu kau jaga."
"Apakah aku harus melawan mereka yang tadi sudah berani mendorongku?"
"Tentu saja! Tapi kamu tidak harus melawannya dengan otot, kau akan buang-buang tenaga. alangkah baiknya kau melawan dengan ini," ayah Sana menunjuk kening.
"Dengan kening ayah?" ucap Sana polos.
"Bukan, tapi dengan akal!" ayah mencubit pipi tembem Sana.
"Akal!" Sana nampak berpikir. Ayah pun bingung hendak menjelaskan seperti apa. Tiba-tiba lampu menyala di atas kepala. Ting, dapet pencerahan.
"Seperti kancil, ya! Seperti kancil yang cerdik dengan seribu caranya mengelabuhi lawan." Ayah Sana menjentikkan jarinya.
"Lalu, kalau Sana di bully seperti tadi bagaimana?" tanya Sana.
"Sana maafkan mereka, dan tetap berbuat baik. Ambil hatinya, ketika kau sudah mendapatkan hatinya, maka dengan mudah Sana akan menjadi teman mereka." ucap ayah Sana.
"Tidak, Sana akan mengambil alih kerajaan mereka dan menguasainya." Sana merentangkan kedua tangannya. Seolah Sana merangkul dunia dan mengambilnya ke dalam genggaman.
"Berarti, sampai di sini, Sana paham?" Sana mengangguk antusias.
"Pusatnya berada di sini." Kini ayahnya menunjuk tepat di dada Sana.
"Disaat kerajaanmu terancam, dia akan memberontak, dia akan merasa cemas dan khawatir. Pada saat itulah kau harus waspada dan tetap siaga di benteng pertahanan agar kerajaanmu aman dari mereka yang mengincar mahkota kerajaan." Sana mendengar setiap kata yang terucap dari bibir ayahnya dengan seksama.
Sana hanya manggut-manggut entah mengerti atau tidak, dia hanya mengangguk.
"Baiklah, pelajaran sore ini berakhir, dan akan berlanjut setelah kau dewasa nanti. Bahwa sang ratu pada saatnya akan menyerahkan tahta dan mahkotanya kepada seorang raja yang berhak dan sah dimata dunia."
__ADS_1
Kini Sana masih tergugu mengingat itu semua. Dia mengusap air mata di pipi. Wajahnya sedari tadi dia telungkup kan pada lutut, kini dia angkat tinggi-tinggi.
Dia pun ingat akan ada acara keluarga Madam sebentar lagi diadakan. Dia tidak akan larut dalam penyesalan sebab tidak mampu menjaga kerajaannya dari si pengganggu seperti Vino. Dia akan berusaha melindungi kerajaannya.
Aku akan berusaha sekuat tenaga mempertahankan kerajaanku. Aku sudah kecolongan dua kali oleh pencuri yang bernama Vino. Aku tidak akan membiarkan untuk yang kedua kali. Aku akan menjaga dan melindungi kerajaanku, sampai kutemukan seseorang yang tepat untuk menerima mahkota berharga milikku. Batin Sana.
"Baiklah, kau harus bangkit Sana. Kau jangan sampai teledor dan terperdaya oleh rayuan Vino, jangan sampai kecolongan lagi." Tangan Sana terkepal.
✓✓✓
Rindi yang menunggu Faza mulai bosan. Dia sesekali berdiri, memeriksa jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan.
"Tuh anak ngapain aja se, sampai jam segini belum juga muncul." Heran Rindi.
"Kamu kenapa Rin," nampak Madam berdiri tidak jauh darinya. Disusul pula oleh Vanka Dan Riki.
Tadi Riki dan Vanka juga melewati Rindi yang gelisah menunggu Faza bersiap. "Katanya dia mau keluar sama anak mami, Eyang!" Vanka yang menjawab.
"Keluar!"
"Tapi bakal acara di sini Rindi! Dan kalian mau keluar!" Riki nampak tidak setuju dengan keinginan Rindi Faza meninggalkan rumah saat acara keluarga.
"Sebentar saja kok Madam Eyang," ucap Faza yang muncul dari tangga. Dia mendengar apa yang diperbincangkan mereka bertiga.
"Kami akan secepatnya kembali kok, Eyang!" bujuk Faza sambil mencium pipi Eyangnya dengan sayang. Madam Maria pun tersenyum.
"Baiklah, hanya satu jam tidak lebih. Ingat, nanti sekalian kamu ambilkan pesanan kue di tempat langganan Eyang, ya!" Madam sebenarnya bisa saja menyuruh para pelayan atau orang lain untuk mengambilnya. Bahkan toko itu juga menyediakan jasa pengiriman barang. Tapi Maria tidak ingin Faza melewati acara keluarga seperti yang biasa anak itu lakukan.
"Kenapa tidak suruh Si Joko atau Mang Ujang untuk mengambilnya, Eyang? Kami hanya punya waktu satu jam!" kesal Faza.
"Ya itu terserah padamu, kau mau keluar dan ambil kue Eyang, atau diam dirumah dan ikuti acara keluarga kita." Sama saja sebenarnya, ambil kue juga ujung-ujungnya tetap ikut acara keluarga. Tidak keluar rumah, tapi makalah harus terkumpul empat hari lagi.
"Sudahlah Faza kita pergi. Lagian juga cuma ambil kue, apa susahnya seh."
"Good girls, you are the best!" Maria mencium jauh Rindi.
Ternyata adanya Sana dan Rindi di rumahnya berdampak baik untuk Faza yang biasanya enggan belajar.
__ADS_1
"Oke kami pergi!" pamit Rindi menyalami semua orang.
"Eyang, kenapa Eyang tiba-tiba mengumpulkan semua orang?" tanya Vanka saat Rindi dan Faza sudah pergi. Kini ada mereka bertiga yaitu Riki, Maria dan Vanka. Maria mengembuskan nafasnya pelan. Kemudian menyuruh Riki dan Vanka duduk setelah dirinya duduk tentunya.
"Aku ingin vakum dan menikmati masa tua dengan menyendiri di Villa Mutiara. Setelah parfum terjual semua, aku akan menyerahkan tampuk pimpinan kepada ayahmu dan Vino." ucap Maria tegas.
Vanka dan Riki saling menatap. "Apakah Madam Eyang baik-baik saja?" Semua terlihat normal, tapi kenapa tiba-tiba Eyangnya ingin vakum. Maria masih saja bungkam setelah sekian lama.
"Jangan menatapku seperti itu," Maria terkekeh dengan tatapan cucunya yang nampak bagaikan seorang polisi yang ingin mengintrogasi. Riki menatap keduanya, seperti melihat ada hal rahasia yang hendak mereka bicarakan.
"Maaf sebelumnya, Sayang! Aku akan menengok baby kita di atas." Riki dan Vanka tadi meninggalkan bayi mereka di kamar bersama baby sitter.
"Iya Sayang!" jawab Vanka yang langsung mendapat hadiah kecupan singkat di bibir.
*Dasar Riki, nggak malu apa ada Eyang juga.
Aku berharap selamanya kalian seperti itu, Sayang. Doa Maria di dalam hati*.
"Baiklah, ikuti aku. Akan aku jelaskan semuanya." Riki naik ke atas menaiki tangga dan Vanka mengikuti Maria ke kamar, Vanka duduk di hadapan Maria pada sebuah sofa panjang.
"Ada satu hal yang tidak diketahui oleh orang banyak. Sebuah tanggung jawab yang selama ini menjadi beban di pundakku."
Vanka begitu tegang mendengar ucapan Maria. Ingatannya berkelana saat menemani Eyang terbaring lemah menjemput ajal.
"Aku ingin melepaskan tanggung jawab itu sebelum benar-benar menyingkir dari dunia bisnis. Kau tentu tahu pesan terakhir dari Eyang kakung mu Vanka?" Vanka mengangguk lemah.
"Tentu saja aku ingat Eyang! Eyang tidak perlu khawatir sebab aku akan selalu berusaha membantu Eyang untuk mewujudkannya. Tapi sebelumnya aku meminta maaf, sebab sampai saat ini aku belum menemukan petunjuk apapun. Aku masih terlalu kecil saat itu," ucap Vanka.
Tapi dia ingat sesuatu matanya berbinar, menatap netra Eyangnya. "Eyang, bukankah pesan terakhir itu ... !"
Maria mengangguk meski tidak bicara, dia tahu benar bahwa cucunya mengerti apa yang dia pikirkan.
**Bersambung.....
hai, selamat membaca dan selamat beraktivitas
othor lagi mager nih hehe**
__ADS_1