Ditakdirkan Mencintaimu

Ditakdirkan Mencintaimu
Rindi Sakit 1


__ADS_3

Di Mansion.


Tampak seorang gadis mondar-mandir meremas tangannya berulang kali, sambil sesekali melihat ke arah pintu. Dialah Sana yang menunggu adiknya yang belum juga datang.


"Dia kemana saja sih, apakah ada halangan di jalan. Dari kemarin belum juga memberi kabar," gumam Sana sambil sesekali menggigit kuku jari-jarinya. Matanya tidak lepas dari pintu.


"Sana, kau menunggu siapa?" tanya Saras yang baru saja turun dari kamarnya. Saras nampak lebih bahagia setelah puas memaki Vino dari sambungan VC.


"Sana, kenapa kau mondar mandir begitu? Kau seperti menunggu seseorang!" ralat Saras. Tapi dia yakin jika Sana pasti tengah menunggu kedatangan seseorang. "Jangan tunggu Vino, dia tidak akan datang. Aku sudah memakinya lewat sambungan telpon."


"Bukan, Kak! Ini Kak, katanya Rindi kemarin pagi sudah berangkat dari rumah, tapi kenapa hingga saat ini belum juga sampai di mari ya?" Sana semakin gelisah sebab malam mulai datang. Dan di luar keadaannya mendung.


"Mungkin terkena macet di jalan, jadinya terlambat."


"Tapi perasaanku tidak enak, Kak. Dia sudah berjanji untuk melihat perform aku secara langsung. Malah sampai sekarang belum nongol juga tuh anak." Sana ingat janji yang diucapkan oleh Rindi saat itu.


"Kak Sana, Rindi pulang dulu ya, nanti kalau urusan Rindi selesai bakal langsung balik kok," pamit Rindi waktu itu. Dia harus mengambil beberapa surat penting di rumah sebagai kelengkapan pendaftaran beasiswa untuk melanjutkan pendidikan perguruan tinggi.


"Oke, tapi setelah mengambil surat langsung balik ke sini ya! Kamu harus melihat aksi panggung kakak!" pinta Sana. Bukan apa-apa, tapi Sana kasihan jika Rindi tinggal sendiri di rumah mereka. Selain itu, sekolah Rindi juga sudah selesai, bahkan ujian saja melalui online.


"Tentu saja kakakku Sayang, aku pastikan langsung kembali setelah istirahat sebentar di rumah!" tawar Rindi. Sana diam melotot ke arah Rindi. "Kan capek kak, tiga jam naik motor sampai rumah kudu balik lagi."


"Oke lah, istirahat dulu, setelah itu balik lagi malamnya sebelum kakak perform ya!" Rindu mengangguk antusias waktu itu. Sana mengantar Rindi sampai di gerbang depan.


Sana menghembuskan nafasnya pelan mengingat perpisahannya dengan Rindi.


"Sudahlah, positif thinking saja. Rindi mungkin masih dalam perjalanan." hibur Saras.


"Tapi dari kemarin ponselnya tidak dapat dihubungi Kak!"


"Sabarlah, lebih baik kita makan malam terlebih dahulu, yuk!" ajak Saras.


Sana hanya mengangguk menuruti ajakan Saras. Dari lantai atas terlihat Faza menuruni tangga dengan sedikit terburu-buru.


"Hai Anak Mami, kau mau kemana?" tanya Saras begitu penasaran dengan penampilan Faza. Anak itu juga nampak membawa ransel di pundaknya.


"Aku akan menginap di rumah teman untuk beberapa hari Kak, dan ada standing motor cross di Pati. Alamnya terbuka di tepi pegunungan, baru saja dibuat empat bulan lalu," jawab Faza.

__ADS_1


"Apa kau sudah minta izin kepada Madam?" Faza nampak menghembuskan nafas dalam-dalam. Wajahnya dibuat seimut mungkin. Sana dan Saras saling menatap dan menaruh curiga akan kelakuan Faza.


"Kak Saras yang manis, dan Cecan pujaan hati yang selalu menenangkan jiwaku." Faza meletakkan kedua tangannya di atas kedua bahu gadis yang beda usia itu dengan manjanya.


"Hemmh." Sana dan Saras mencebikkan bibirnya masing-masing.


"Tolong Faza ya, please! Bukankah kakak adalah orang terbaik, mencubit lembut pipi Saras. Dan Cecan, yang baik hati bantulah adikmu yang manis dan lugu ini. Bukankah kalian sangat menyayangi diriku?" mata berkedip menampilkan wajah imut yang membuat siapa saja iba karenanya.


"Berarti kau menyuruhku untuk memintakan izin kepada Madam?" Faza mengangguk antusias.


"Ayolah Kak Saras, ini demi diriku yang lemah dan tak berdaya ini. Aku akan membawakan oleh-oleh yang paling kakak sukai." Saras menolehkan kepalanya, Faza mengedipkan mata sebelah untuk merayu Saras.


"Bagaimana Sana?" yang ditanya hanya diam menatap bergantian dua orang yang juga menatap dirinya.


"Oke oke, tapi ingat, jangan lupa belikan kita sarang madu, makanan khas Pati." ucap Sana akhirnya. Tidak sulit sebenarnya tinggal bilang sama Madam jika Faza pergi ke rumah temannya. Tapi entah kenapa Faza lebih suka pergi tanpa pamit, mungkin enggan memberikan alasan yang tepat.


"Siaaap." Faza mencium kening kedua gadis itu dengan gemas.


"Hai, aku bukan adikmu," teriak Saras.


"Faza kau kurang ajar ya!"


Sampai di luar rumah, Faza mendapatkan panggilan masuk dari seseorang.


"Ya Bawel, Aku sudah keluar rumah, dan mulai jalan." ucap Faza. Lalu mematikan ponselnya kembali. "Nyusahin orang saja," gerutu Faza sambil menstarter mobilnya.


Beberapa jam pun berlalu, Faza telah sampai ke tempat tujuannya. Hari sudah terlalu malam, bahkan sebuah gedung bertingkat yang berisikan manusia yang membutuhkan pertolongan itu nampak lengang. Orang-orang biasa menyebutnya rumah sakit. Faza mengambil tas ransel miliknya dan dua kantong kresek ukuran besar. Dia berjalan santai menelusuri koridor rumah sakit, lalu berbelok naik ke dalam lift menuju lantai sembilan.


"Halo, selamat malam!" sapa Faza langsung mendorong pintu dan nampak olehnya seorang gadis tengah berbaring di atas tempat tidur. Ada lagi manusia lain duduk di sofa dengan laptop di pangkuannya, itupun menoleh.


"Malam friend!" Seorang gadis tersenyum bahagia melihat kedatangan Faza. "Auwwhh!" ucapnya kemudian, menyadari jika dirinya kini sedang terluka.


"Makannya hati-hati," Pria yang tadinya duduk di sofa dengan cekatan memeriksa tubuh Rindi.


"Hai, kau mau ambil kesempatan dalam kesempitan ya," memukul lengan kokoh pria yang hampir saja membuka kancing bajunya.


"Aku hanya ingin memeriksa lukanya, atau aku panggilkan dokter?" tanya orang itu, meski wajahnya terlihat datar, tapi suaranya terkesan khawatir.

__ADS_1


"Nggak usah, cuma ngilu sebentar doang!" ucap Rindi asal


"Sakit apa seh, Luh? Merepotkan saja!" gerutu Faza. Sambil meletakkan barang bawaannya di atas meja. Diapun mendekat lagi ke arah kedua manusia beda genre itu.


"Kau sudah bawa apa yang dia pesan?" tanya Pria berwajah bule itu.


"Iya! Itu aku bawa, sekalian juga pesanan makanannya, makanlah." ucap Faza.


"Wah, anak manja, ternyata kau dermawan juga, ya!" ucap gadis yang tak lain adalah Rindi.


"Tidak usah sok memuji, bilang saja kalau orang ini pelit," menunjuk pria yang berada di hadapannya.


"Hai, kau ...!" pria blasteran itu menatap tajam ke arah Faza.


"Busem! diam, Luh. Dari tadi Gua nyuruh Luh cari makanan yang Gua inginkan, tapi salah teros." ketus Rindi.


"Yah, mana dia ngerti, orang dia di Indonesia saja cuma untuk bisnis doang." heran sama Rindi yang menyuruh dirinya untuk membeli makanan dengan lauk ikan gabus.


"Yah, tapikan ada Google!"


"Oh my God! kenapa aku bisa lupa itu?" si bule tepuk jidat.


"Nah, kan! Ini nih si bule kuper!" ejek Rindi.


"Kiper?"


"KUPER woi bukan KIPER," sewot Faza.


"Apalah itu, apa maksudnya?"


"Telo godok!" ucap Rindi asal. Sedangkan Faza tertawa terbahak. Si bule menghembuskan nafasnya berat. Baru kali ini dia di ketawain sama anak ingusan.


Bersambung...


Ayo tebak, siapa bule itu?


Baca juga Gadis Pembayar Hutang, sebab Rindi dan Mike juga ikut ambil peran di Sana. Oke

__ADS_1



__ADS_2