Ditakdirkan Mencintaimu

Ditakdirkan Mencintaimu
Bertemu


__ADS_3

Sana mondar-mandir di dalam kamar yang dari kemarin mengurung dirinya. Dan untuk pagi ini, dia sungguh dibuat terkejut. Beberapa pelayan datang dengan membawa semua jenis baju dengan style yang biasa di kenakan, juga sepatu dan tas, dan beberapa alat make up lengkap. Bahkan Sana sampai terbengong heran, saat mereka membawa alat make up sesuai dengan merek yang biasa dia gunakan. Dan yang lebih mengejutkan lagi, Sana mendapatkan perlakuan bak seorang putri dalam negeri dongeng, dia dilayani mulai dari melepas pakaian, mandi dan sampai berpakaian kembali.


Bukan apa-apa, hanya saja pikiran Sana tidak karuan dari kemarin . Dia disekap dalam kamar, tapi mendapat perlakuan bak seorang putri, jika dia berada di tangan orang-orang jahat, tentu tidak akan bisa berganti pakaian atau hanya sekedar bisa bernafas dengan baik sekalipun. Dia pasti sudah diikat dan diletakkan di ruang yang gelap.


"Atau aku di sandera oleh seorang germo dan akan dijual?" Sana bergidik ngeri membayangkan dirinya akan melayani orang-orang asing yang aneh dan jahat. "Tidak-tidak," pikiran baik kembali menguasai otaknya, Sana berpikir positif kembali, namun tidak berapa lama lagi, pikiran negatif pun mulai muncul. "Tapi bagaimana jika itu yang terjadi?"


Sana mulai berpikir keras menggunakan akal pendeknya itu, namun lagi-lagi mengalami jalan buntu.


"Tuhan, tolong lindungi aku dari orang-orang yang jahat." Menengadahkan kedua tangannya kemudian mengusap ke wajah. Dan melanjutkan acara mondar-mandir sambil sibuk menerka apa yang akan terjadi padanya.


"Apa yang sebenarnya akan mereka lakukan? Apakah aku akan dijadikan istri seperti yang di novel-novel ituh? Atau, aku sedang masuk ke dalam markas mafia dan akan dijadikan budak *****? Tidak-tidak aku harus bisa keluar dari sini."


Mencari celah untuk bisa keluar dari kamar yang membuatnya ketakutan. Tetap saja, saat Sana memegang handel pintu, terkunci dari luar. Sana tidak patah semangat, dia mengelilingi kamar itu, dan melihat balkon.


"Bagaimana aku bisa turun dari sini?" pikir Sana yang juga bergidik ngeri melihat tinggi balkon dimana dia berada sekarang.


Pintu diketuk dua kali, kemudian seperti yang sudah-sudah Lala masuk dengan membawa sesuatu. Ponsel milik Sana. Kenapa dari kemarin dia melupakan benda yang begitu amat penting baginya?


"Darimana kau menemukan ponselku?" Dengan sengaja langsung merebut ponsel miliknya. Lala tersenyum manis.


"Nona muda yang memerintahkan saya untuk memberikan ponsel ini kepada Anda!"


"Nona Muda." Ah sudahlah, yang penting aku bisa mendapatkan celah untuk kabur dari sini. Pikir Sana. "Yah, ponselku mati lagi." batin Sana, pupus sudah harapannya untuk sekedar meminta pertolongan agar bisa kabur dari tempat ini.


"Iya, dan Nona Muda meminta saya untuk mengajak Anda bertemu dengan dirinya saat ini." Sana yang sibuk menghidupkan ponselnya itupun terpaksa mengangguk.


"Baiklah, aku ikut saja," Setidaknya Sana bisa bernafas lega, bahwa orang yang akan dia temui adalah seorang wanita.


Lulu berjalan terlebih dahulu, namun sesekali menoleh untuk memastikan bahwa Sana telah mengikuti langkahnya.

__ADS_1


Pertama yang Sana lakukan adalah berhenti sejenak untuk mengagumi kemegahan sangkar yang telah mengurung dirinya dua hari ini. Ternyata jauh lebih indah dan megah dari yang dia duga. Rumah yang lebih besar dari milik Maria, juga lebih luas. Beberapa tiang yang kokoh dan ruangan yang luas, serta deretan kamar yang dia lalui, menunjukkan betapa megahnya rumah yang menyerupai istana.


"Silahkan Nona!" Lala terus melangkah menuju sebuah ruangan luas yang mungkin lebih cocok disebut sebagai ruang keluarga. Disana dia bisa melihat seorang perempuan tengah duduk dengan elegan. Sana merapatkan pupilnya kemudian membuka lebar-lebar. Tetap saja matanya yang mulai berkabur sulit untuk mengenali siapa perempuan itu.


Apakah sebab kurang tidur semalam mataku bermasalah?


"Hai Kaka! Bagaimana kabarmu? Apakah kau bisa tidur lebih nyenyak semalam?" Sana tahu benar siapa pemilik suara itu, tanpa ragu lagi dia mendekat dan memeluk tubuh perempuan itu.


"Kau ... kau Rindi?" betapa bahagianya Sana memeluk adiknya begitu erat. Hancur sudah rasa khawatir yang selama berjam-jam lamanya bersemayam di hati. Kenapa dia baru ingat jika kemarin pergi bersama Rindi?"


"Kakak! Apakah kakak baik-baik saja?" merasa tubuh Sana bergetar di dalam pelukannya.


"Maafkan Kakak, Kakak melupakanmu sebab sibuk memikirkan diri sendiri. Kakak sampai lupa kalau kita pergi bersama kemarin!" ungkap Sana seperti bocah.


"Tidak Kak! Jangan meminta maaf. Sebab ini memang bukan kesalahan Kakak. Seharusnya Rindi yang meminta maaf, karena Rindi ..."


Entah perasaan apa ini, dia merasakan sakit dan kehangatan yang bersamaan. Hatinya bahagia dan juga terluka. Sakit yang tidak berdarah dan kasih sayang yang lama dia rindukan kini bergejolak di dada, hingga sesak dan sulit baginya untuk bisa bernafas.


"Maaf! Anda siapa?" Mencoba menolak kenyataan yang ada. Bertahun tahun lamanya dia mencoba melupakan rasa yang membuat batinnya tersiksa.


"Apa kau melupakan aku, Nak?" perempuan cantik yang kini berdiri di hadapan Sana itupun merenggangkan pelukan. Membelai lembut wajah putrinya yang basah oleh air mata.


"Hentikan!" Sana menepis tangan mulus yang mengusap pelan wajahnya.


"Nak!"


"Maaf Nyonya! Sepertinya kita tidak saling mengenal."


Deg

__ADS_1


Sakit. Itulah yang dirasakan oleh wanita paruh baya itu. Dia tidak menduga bahwa momen yang paling dia tunggu dan dia mimpikan akan berakhir dengan sebuah pelukan, nyatanya berbalik menjadi penolakan.


"Apa kau tidak mengenali ibu Nak?"


Sana tersenyum sinis, air matanya sudah mengering, meski di dalam ingin sekali tumpah. "Ibuku sudah meninggal sejak aku masih kecil."


"Tidak Nak, aku ibumu!"


"Nyonya Risya. Anda pasti salah orang. Aku adalah anak tidak tahu diri yang ibunya meninggal sejak dia berusia empat tahun."


Risya masih berusaha membujuk, tangannya ingin sekali menyentuh Sana, namun beberapa kali dia berusaha, Sana terus saja menepisnya.


"Kak!"


"Rindi, aku tidak akan lagi percaya padamu?"


Sana melangkahkan kakinya menuju pintu yang dia sendiri tidak tahu kemana arahnya. Sana tetap berlari dengan kenangan yang menyakitkan.


Sana ingat saat dimana dia tersenyum kepada seorang wanita yang mendatangi dirinya saat bermain layang-layang. Saat itu, Sana begitu bahagia, sebab ibunya kembali setelah beberapa lama tidak kembali. Tapi apa? Ibunya pergi lagi dan meninggalkan dia yang masih butuh kasih sayang.


Bahkan saat Sana tanpa sengaja bertemu di sebuah rumah sakit, Risya tetap pergi, meski Sana bilang agar Risya berhenti.


"Kakak!" Sayup-sayup diantara kenangan dan akal warasnya, suara Rindi terdengar.


Sana tidak menghiraukan panggilan itu, terus berlari dan tanpa sengaja menabrak sebuah mobil yang baru saja memasuki halaman.


"Hai, kau mau cari mati ya?"


Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2