
Sebelum dilanjutkan, Author minta maaf bila ada khilaf baik dalam segi penulisan, atau tutur kata yang kurang berkenan di hati para readers terlove. Sebab author masih terus berusaha untuk menjadi yang lebih baik. Tapi apa daya, kemampuan author hanya segini, semoga bisa memberi sedikit hiburan di waktu senggang anda.
Beberapa hari ini, bocil radak rรจwรจl terus, jadi tidak sempat menulis.
Semoga para readers selalu senantiasa dalam keadaan sehat walafiyat dan penuh rahmat Allah SWT. Amiiin.
...~Nafi~...
๐
Vino dengan perasaan dongkol setengah mati sebab Riki, membawa mobilnya dengan ugal-ugalan bahkan ketika sampai di sebuah jalan yang lumayan sepi, dia hampir saja menabrak seseorang.
Chiiittt
"Astaghfirullah!" ucap seorang pria yang hampir saja dia tabrak. Kakek itu jatuh di atas aspal dengan barang jualan yang banyak tercecer di tanah. Rusak, tentu saja. Beberapa di antaranya bahkan menggelinding dan terlindas oleh kendaraan yang lewat. Pak tua itu menatap nanar rezekinya yang musnah dengan percuma.
"Maaf Kek! Saya tidak sengaja." Vino membantu pak tua itu mengumpulkan beberapa dagangan yang tercecer.
"Tidak usah diambil pak! Semuanya sudah kotor, biarkan saya mengganti kerugian yang bapak alami!" Vino berkata dengan sopan, namun tidak digubris oleh kakek itu.
"Apa kakek tidak apa-apa? Apakah ada yang luka? Atau perlu saya bawa anda ke dokter untuk pemeriksaan lebih lanjut?" tanya Vino lagi memeriksa setiap detail tubuh pria tua itu setelah semua dagangan terkumpul. Dan wajah kakek yang semula sendu, kini berubah menjadi sedikit lebih cerah.
"Apa? Apa kamu bicara dengan saya Nak?" mengorek lubang telinga. Sepertinya kakek itu mengalami masalah pada pendengarannya.
"Saya tidak apa-apa, Nak!" kakek itu masih mengusap sikunya yang lecet, namun bibirnya tetap tersenyum.
"Bapak terluka, saya bawa ke rumah sakit saja ya, kakek!" tawar Vino.
"Rumah sakit?"
"Ngapain?"
"Tentu saja, biar luka bapak diobati."
"Tapi, Nak! Itu tidak perlu. Bapak tidak kenapa-kenapa, ini hanya luka kecil yang bisa sembuh dalam waktu dekat." pria tua itu tersenyum tulus sambil ujung jarinya mengorek lubang telinganya. Begitu bersih hatinya, hingga tidak terbesit rasa untuk memarahi Vino.
"Kakek begitu baik!" lirih Vino tanpa sadar.
"Kamu bicara sama saya, Nak?"
"Ah tidak!"
Rupanya pendengaran kakek tua itu masih lumayan baik.
Vino melihat ke arah sekeliling, sepertinya dia menghalangi jalan, jadi berinisiatif untuk menepikan mobilnya dan bicara baik-baik dengan sang kakek. Dia harus bertanggung jawab, bahkan Vino dan kakek itupun berbincang dengan hangat. Sesekali mereka tertawa sebab kekonyolan yang mereka ciptakan lontarkan.
__ADS_1
โโโ
Di tempat lain, Rindi tengah bertransaksi dengan seseorang. Motor hasil balapan itupun telah laku terjual setelah menyetujui sebuah kesepakatan yang memuaskan diantara pembeli dan penjual.
"Rindi, apa kamu benar-benar akan meninggalkan Negara ini?" tanya Faza pada akhirnya. Rindi terdiam sejenak, menghentikan langkahnya yang berjarak satu langkah dari Faza.
"Entahlah, aku sudah sangat nyaman berada di sini. Tapi aku juga tidak bisa disini lebih lama lagi. Eyang sudah menemukanku. Pasti Dady juga akan mengetahui keberadaan ku." Rindi mendongakkan kepalanya, butiran bening itu hampir saja terjatuh jika saja Rindi tidak cepat mengusapnya kasar.
Faza lalu memutar tubuhnya dan menarik Rindi kedalam pelukan. "Jangan bersedih Rindi. Apapun yang terjadi, kita tetap sahabat." lirih Faza semakin mengeratkan pelukannya.
"Tapi aku mencintaimu!" Ledek Rindi.
"Hai, terhadap sahabat dilarang jatuh cinta. Apa kau ingat itu hemmh!"
"Ya, aku tahu. Kita akan selalu menjalin persahabatan dan tidak akan merusaknya dengan kata cinta," Rindi tersenyum manis, walau di hatinya ada perasaan lain.
"Faza!"
"Ya!" Faza mengurai pelukannya.
"Apakah jika aku sudah jauh darimu, kau akan melupakanku?"
"Buat apa mengenang wajah jelekmu itu, nggak ada guna bukan?"
"Kau jahat!"
"Tapi bagaimana dengan kak Sana nanti ya Za!"
"Cecan masih punya aku!"
"Apa kau sungguh-sungguh menyukai kakakku?" Faza terdiam sejenak sebelum pada akhirnya mengangguk pelan.
"Apa yang membuatmu menyukai kakakku?" Pertanyaan yang membuat Faza enggan untuk menjelaskan. Sebab Faza hanya bisa merasakan tanpa tahu bagaimana mengungkapkan.
"Mungkin semua yang ada pada diri kakakmu. Aku mulai menyukainya saat pertama kali bertemu di rumah Eyang. Tapi ternyata Mas Vino juga menyukainya. Bahkan Mas Vino lebih cepat dari pada aku." terdengar begitu berat kenyataan yang menghimpit dada Faza.
puk, sebuah tepukan lembut mendarat di bahu Faza, terasa menenangkan meski lembut. Bahkan sesuatu yang didasari ketulusan, ternyata mampu membuat kita tenang.
"Kau akan mendapatkan pengganti yang lebih baik," hibur Rindi. Padahal setiap kali Rindi melihat Faza seperti ini, hatinya pun terasa sakit. Namun entah mengapa Rindi memilih bungkam dan melanjutkan pertemanan daripada cinta.
Dan tanpa mereka sadari, ada seseorang yang mengintai mereka berdua. Pengintai itu mengambil benda pipih pada saku jaketnya, lalu menghubungi seseorang.
"Bos, Nona muda sudah ketemu. Dia ada di Negara kelahiran Nyonya." Sambungan terputus.
โโโ
__ADS_1
Vino berjalan ke dalam rumah sambil bersenandung kecil. Sepertinya dia sudah melupakan rasa kesalnya terhadap kakak ipar dan juga calon Omnya itu. Bahkan Raya yang melihatnya pun terheran, melihat kelakuan anaknya yang datang sambil bersiul.
Tadi saat bicara dengan pria tua itu, Vino sudah mendapatkan pencerahan. Dan Vino telah memantapkan hati dan pikirannya untuk mengikuti saran dari kakek itu.
Flashback
Vino duduk dengan kakek tua sambil bercengkrama santai. Namun ketika kakek tua itu menghentikan obrolannya, terlihat sekali raut wajah murung pada Vino.
"Sepertinya kau ada masalah anak muda?"
"Tidak!"
"Jangan berkelit aku sudah lama makan asam garam kehidupan. Pria muda sepertimu jika nampak murung begini pasti sebab cinta."
"Kakek kenapa bisa tahu?"
"Kau tidak fokus pada sekelilingmu. Bahkan kau tadi hampir saja menabrak ku. Padahal jalanku sangatlah pelan."
Vino menghembuskan nafasnya kasar. "Anda memang benar Kek, maafkan saya yang hampir saja mencelakai kakek." Kakek itu pun menepuk lembut bahu Vino tanpa bersuara.
"Kakek, saya mencintai seseorang tapi terhalang oleh restu." Vino pun menceritakan kisah cintanya yang terhalang oleh restu dari Riki. Dengan seksama kakek itu mendengarkan. Sesekali manggut-manggut.
"Hanya segitu usahamu?" saat cerita Vino yang mengalir itu terhenti.
"Kita sebagai pria harus lebih lihai dan licik dalam masalah cinta. Tunjukkan pada iparmu itu, bahwa kau pria yang pantas untuk ponakannya.
"Caranya?"
pak Tua itu mendekatkan bibirnya pada telinga Vino. Wajah Vino yang semula kusut nampak cerah merekah.
Sekarang
"Vino, sepertinya kau bahagia sekali!"
"Ah mama," memeluk erat tubuh Raya dan mengguncang perlahan.
"Mama jadi kepo deh, apa yang membuat anak ganteng mama ini jadi begitu bahagia hemmmh." Mencubit gemas pipi anaknya yang tengah bermanja-manja.
"Ma, kalau Vino menikah dalam waktu dekat ini, apakah tidak masalah Ma?"
"Tidak masalah, mama setuju aja dan mama akan sangat mendukung niat baikmu itu."
"Beneran ma!"
"Tentu saja. Kamu itu sudah sangat pantas untuk menikah, jadi jangan lagi di tunda."
__ADS_1
"Kalau begitu Vino nikah besok bagaimana ma?"
"APAA!"