
"Air matamu terlalu berharga untuk kau tumpahkan."
"Kau...!"
Rindi belum sempat menerima sapu tangan itu ketika pemiliknya lebih dulu bertindak.
"Jangan banyak menangis. Aku tak sanggup melihatnya." Terakhir dengan sapuan lembut menggunakan jempol. "Gini lebih enak dipandang."
Entah kenapa tiba-tiba pipi Rindi terasa panas. Ditatap sedemikian rupa oleh Mike. Intens juga penuh kekaguman. Sorot mata menyejukkan hati. Dalam nan menusuk ke dalam jiwa yang merana sebab cinta dalam diam.
"Kenapa kamu bisa ada di sini?" tanya Rindi. Dalam hati berprasangka curiga kemungkinan Mike mengikuti dirinya.
"Aku baru saja tiba lima menit yang lalu. Tanpa sengaja melihat bidadari lewat di depan mata. Mana mungkin aku mengabaikannya begitu saja." Mike mengerling nakal.
Benar adanya. Ketika dia baru saja sampai, melihat Rindi berjalan tergesa-gesa menuju toilet. Awalnya, Mike berusaha agar bersikap pura-pura tidak peduli.
"Rindi...!" Mike menarik tangan Rindi kemudian mengangkatnya sejajar dada. "Katakan padaku. Apakah perlu aku menyeret Faza lalu menyuruhnya untuk mencintaimu?"
Cukup terkejut dengan perkataan Mike. Sejak kapan pria di hadapannya tahu, bila dia mencintai Faza? Namun bukan Rindi namanya jika tidak bisa berkelit.
"Ke-ke-kenapa, Kamu bicara seperti itu?"
Rindi menarik tangannya dari genggaman Mike yang mendapatkan tatapan nanar dari penggenggamnya.
"Sebab cintaku padamu tulus. Aku tak suka melihatmu bersedih. Sedemikian pula keinginanku. Dengan siapapun kamu nantinya, aku akan tetap ikut bahagia asal kamu juga bahagia. Meski awalnya aku juga akan sakit melepas-mu untuk orang lain."
Seperti gerimis di musim kemarau, kata-kata Mike benar-benar membuat Rindi tersentuh. Tatapan mata mendamba penuh cinta bagaikan embun di pagi hari yang membasahi gersangnya hati Rindi.
"Mike! Aku tidak apa-apa. Oke! Jadi..., kamu tidak perlu melakukan apapun. Aku dan Faza...ka- ka-mi berteman. Ada hubungan spesial diantara kami. Hubungan persahabatan yang lebih indah dari hubungan manapun."
"Kamu pikir aku anak kecil huhhh!" Mike tersenyum sumbang. Merangsek tubuh Rindi lebih merapat ke dinding, kemudian meletakkan kedua tangannya di antara kepala Rindi.
Deg deg deg
Keduanya terdiam lama dalam perasaan masing-masing. Rindi yang biasanya sadar kondisi pun kali ini pasrah saja diperlakukan demikian.
Sebagai seorang pria Cassanova, Mike sangat paham arti diamnya Rindi. Pria itu melabuhkan ciuman pada bibir Rindi. Lembut namun menuntut. Mike telah merobek batas yang dibuat oleh Rindi selama ini.
Tanpa mereka sadari jika sepasang mata menyaksikan live mereka berdua.
"Rupanya kalian telah bersatu. Semoga kebahagiaan menjadi takdir kalian selanjutnya." Dia adalah Faza.
__ADS_1
Teman Rindi yang sebenarnya juga penasaran akan perlakuan Rindi terhadapnya. Kadang Faza merasa jika Rindi bersikap lebih dari sebagai seorang sahabat. Namun janji tetaplah janji. Dia senantiasa berusaha agar tidak melanggarnya.
"Maaf! Tapi aku tak bisa menahannya lagi. Aku juga tidak bisa memberimu ruang. Maaf!"
Mike menyesal sebab nyatanya dia tak dapat menjauh dari Rindi meski hanya seminggu. Dan Rindi, dia bukan perempuan munafik yang sebenarnya sungguh penasaran akan bagaimana rasanya dicintai.
"Mike, aku juga berubah pikiran!" kata Rindi kemudian menunduk. Malu! Tentu saja. Dia ingin tetap menjadi teman Faza, tapi juga ingin merasakan hangatnya dicintai.
"Maksudmu?"
"Ajari aku mencintaimu?"
Mike menatap lurus jauh ke dalam pelupuk mata milik Rindi.
"Apa kamu serius?" tanyanya memastikan.
"Tentu saja!" Entah dapat dorongan dari mana Rindi bisa yakin mengatakan hal itu. "Kita jalani ini dulu. Kita lalui kebersamaan kita dalam suka dan duka. Selebihnya, kita pasrahkan saja pada yang Kuasa."
Mike merapikan surai rambut Rindi yang berantakan. Kemudian mengelus pipi sang pujaan hati. "Itu tandanya, aku diterima?"
Tampak olehnya senyum Rindi disertai anggukan. Sontak saja Mike senang bukan kepalang. Hampir saja dia berjingkrak layaknya bocah kecil jika tidak ada Rindi di sana.
"Aku sangat bahagia. Akhirnya kamu memberikan aku kesempatan." Rindi tersenyum menanggapi, entah kenapa perasaan juga larut dalam kebahagiaan yang Mike pancarkan dari hati.
"Aku mohon. Jangan ada wanita lain di antara kita. Dan aku juga tidak mau jadi yang ketiga semisal ada wanita di kehidupan mu sekarang."
Rindi belajar dari kehidupan mamanya sewaktu masih menjadi istri dari ayahnya Sana. Risya tiap hari mendapatkan perlakuan buruk. Dimana Risya diperlakukan seperti budak yang hanya disuruh bekerja serta melayaninya sebagai suami. Selebihnya hanyalah ejekan dan umpatan serta aniayaan, lalu berakhir pada perceraian. Sehingga, Risya mengalami gangguan mental. Semua itu terjadi sebab adanya orang ketiga.
Sebab alasan itulah, Rindi enggan menerima Mike yang notabenenya adalah Cassanova. Dan cintanya kepada Faza, enggan pula dia mengungkapkan sebab Faza seringkali gonta-ganti pacar.
"Perlu kamu ketahui, Rindi. Jika ada satu saja orang yang bertanya siapa kekasih Mike? Pasti mereka akan menjawab, kamulah yang pertama dan selamanya!"
Mike melebarkan senyum kembali. Menekan lembut kedua bahu Rindi dengan tangan kokohnya.
"Karena aku sangat mencintaimu. Tiga tahun bukan waktu yang mudah bagiku. Mana mungkin aku sia-siakan sepanjang hari melelahkan itu, dengan menyakitimu nanti?"
"Terima kasih, Mike!"
Keduanya berpelukan.
Kembali ke acara. Dimana Sawitri yang ditinggal sendiri mulai gelisah. "Kak Rindi kenapa belum datang juga, Ya!" Gumamnya. Sawitri melirik pada gadis di sampingnya. Yang katanya adalah pacar Faza tampak sibuk dengan ponsel di tangannya.
__ADS_1
Pelayan telah datang pada Sawitri lalu menanyai gadis kecil itu "Adek ingin makan apa?" tanya waiters menodongkan daftar menu.
Sawitri yang tak biasa dengan hal itu mengerutkan dahi. "Apa ini?" tanyanya polos. Meski begitu tetap menerima buku lalu membukanya. Perutnya terasa lapar ketika melihat beberapa gambar makanan yang menggugah selera.
"Anak Kampung!" Sinis Marta yang katanya pacar Faza.
"Ini namanya table menu atau buku menu. Adek bisa memilih makanan sesuai selera adek, lalu memesannya pada kami." Penjelasan waiters membuat Sawitri kembali bertanya
"Hei...anak kampung. Kolot banget jadi orang!" Martha kembali mengejek. Tatapan jijik dan penuh kebencian. Sawitri pun tak suka ditatap begitu.
"Apakah nanti saya bayar?" Waiters itu kembali tersenyum.
"Tidak! Semua sudah ditanggung oleh pemilik acara. Yaitu Tuan dan Nyonya Vino Jizzy.
"Baiklah! Aku ingin mie goreng ini saja." Tunjuk Sawitri. Waiters itu kembali tersenyum lebih lebar.
"Ini namanya spageti."
Sawitri sedikit kesusahan mengulangi ucapan sang waiters. Kembali lagi Martha dengan senang hati mengejek.
"Tante juga kolot dan kampungan. Sudah besar tapi pakai baju anak SD."
"Berani kamu, Ya!"
Martha menghunuskan tatapan permusuhan.
"Sama Tante Kolot harus berani dong!" Sawitri membalasnya dengan senyum penuh provokasi. Bahkan Sawitri menjulurkan lidah. Martha yang bertambah kesal, mengeram dengan kedua tangan diangkat seakan hendak mencabik-cabik gadis di hadapannya.
"Awas kamu, ya!"
Martha memilih bangkit dengan maksud menghindar dari gadis kecil menyebalkan itu. Namun naas, sebab karena terburu-buru high heels nya nyangkut pada taplak meja.
"Auwgghhh."
Prang prang byurrrrr
Martha terjatuh dengan posisi memalukan. Tumpahan makanan serta cipratan minuman membuat tubuhnya kotor.
"Semua ini gara-gara Kauuuu...Gadis Kampuungggg!"
Martha memungut apa saja di yang diraihnya kemudian hendak dia balang kepada Sawitri.
__ADS_1
To be continued