
Malam pesta penyambutan calon anggota keluarga Jizzy telah diselenggarakan dengan meriah. Meski pesta ini menerapkan beberapa peraturan yang tak masuk akal untuk sebagian orang yang hadir.
Pesta yang bertema cinta. Dimana undangan wanita dan pria dipisahkan meja serta tempat duduknya. Bagian pria ada di sebelah kanan sedangkan wanita di sebelah kiri. Lumayan unik untuk pesta kalangan atas yang biasanya membaur jadi satu. Meski tidak dipisahkan oleh satir atau penghalang lainnya. Para hadirin masih bisa melihat pasangan mereka yang berjarak.
Kebetulan Rindi mengambil tempat duduk dimana ada tiga orang lain yang di kenal Rindi sebagai karyawan Vino. Dua lagi masih ada kursi tersisa.
"Halo, kakak cantik. Bagaimana kabarmu? Kita bertemu kembali," sapa Sawitri terlihat girang. Langsung menarik kursi paling dekat dengan Rindi. Sawitri terlihat cantik nan menggemaskan dengan gaun merah pucat. Rambutnya dibiarkan terurai lurus dengan sentuhan bando bunga.
Tiba-tiba ponsel di tangan Rindi bergetar. 'Faza! Tumben dia kirim pesan.' batinnya. Rindi segera membukanya.
'Jaga dia untukku ya, namanya Sawitri!' tulis Faza di via WhatsApp. Rindi melirik gadis kecil di depannya.
'Aku sudah tahu! Sampai segitunya. Apa status dia bagimu?' tulis Rindi.
'Dia penenang hatiku. Juga obat dari rasa bersalah.' balas Faza. Dari tempatnya dia menatap Faza yang tampak tersenyum sambil melambaikan tangan. Rindi menyatukan jari dan jempolnya tanda setuju.
"Kakak cuekin aku!" Kembali Rindi menatap wajah cantik mungil di hadapannya.
"Ah, tidak! Kakak hanya sedang menerima pesan penting." Menunjukkan ponselnya, menyakinkan.
Gadis kecil periang ini makin hari makin terlihat berkilau. Rindi sempat tertegun beberapa saat. Bahkan Rindi juga tak menyadari bila ada pelayan yang menanyainya hendak minum apa.
"Kakak, Kakak ingin minum apa?"
"Sama saja denganmu!" ucap Rindi tanpa sadar.
"Samakan saja denganku." ucap Witri kepada pelayan. Namun matanya melirik ke arah Rindi yang juga menatapnya intens
"Hai...Kakak cantik yang baik hati. Jangan melamun nanti jauh jodoh lho."
'Gadis kecil ini, pakai menjentikkan jari lagi.'
"Kamu, Sawitri, Ya!" sapa balik Rindi. Dia tersenyum lembut meski hatinya masih saja merasa tersaingi. Juga merasa kurang suka dengan gadis kecil yang banyak bicara ini.
"Dari tadi kita ngobrol, baru nanya nama! Kakak cantik tapi lemot." gerutu Sawitri.
Rindi hanya membalas dengan senyuman. "Maaf, kakak kurang fokus."
__ADS_1
"Kakak cantik sekali," Sawitri bahkan meletakkan tangannya di meja sambil menopang dagu. Rindi tak sadar bila wajahnya bersemu merah. Runtuh sudah rasa tersaingi yang dia rasakan dari kemarin.
"Pantas saja banyak pria yang mengejar kakak, ternyata kakak cantiknya pakai banget." Sawitri terlihat polos mengacungkan satu jempol dan satu tangan lainnya masih menopang dagu.
"Kamu manis sekali!" Mencubit gemas pipi Sawitri. "Kamu juga cantik."
"Terima kasih! Semua karena Bang Faza. Dia membelikan semuanya untukku. Dia juga menyuruhku gabung dengan kakak. Ternyata benar, Kakak sangat baik dan juga cantik."
"Jangan membual."
"Itu kenyataannya, Kakak! Semula sih, aku tidak percaya. Sebab kakak terkesan sombong kemarin bahkan buru-buru pergi. Tapi, sekarang aku percaya sama apa yang diucapkan Bang Faza."
"Benarkah!"
"Aku anak baik, nggak pernah bohong, Kakak cantik."
"Uhhh...kamu memang manis sekali." Rindi menoel hidung Sawitri dengan telunjuk.
"Emmh, Witri, kalau boleh tahu, emang apa saja yang di ceritakan Bang Faza padamu? Khususnya tentang saya!"
"Cerita apa ya...? Banyak sih! Tentang kakak yang baik hati, tentang kakak yang apa adanya dan suka menolong sesama. Bang Faza juga bilang kalau diantara semua teman perempuan Bang Faza, Kak Rindi yang paling cantik."
Rindi membuang muka sambil menahan senyum. Entah kenapa mendengar celotehan Sawitri dia malah kepikiran untuk menyatakan perasaan nya langsung pada Faza.
"Benarkah! Dia bilang begitu?" tanya Rindi penasaran. Sawitri mengangguk antusias.
Ketika tengah asyik berbincang, datanglah seorang gadis dengan gaun minim bertali spaghetti, bagian dada memiliki potongan rendah hingga dua bukit kembarnya hanya tertutupi separuh saja.
"Aku ikut gabung ya!" ucap perempuan itu pada Rindi dan yang lainnya.
'Sopan sih, tapi pakaiannya kenapa begitu?' Rindi membatin.
"Dia pacarnya Bang Faza," bisik Sawitri lembut. Namun terdengar menusuk sampai ke hati Rindi.
Tanpa sadar dia memperhatikan sekali lagi penampilan perempuan yang duduk tepat di hadapannya. Lalu beralih menatap lurus ke arah Faza yang di kira Rindi juga menatap tepat ke arah perempuan yang sama.
'Apa itu benar? Selera Faza mêmang gadis modern bergaya kebarat-baratan. Dan perempuan di hadapannya adalah sampel perempuan yang sesungguhnya. Anggun, cantik serta berkelas.
__ADS_1
"Darimana kamu tahu?"
"Kemarin aku lihat fotonya dia di ponsel Bang Faza. Kata Bang Faza itu pacarnya."
Rindi semakin merasa sesak. Dia segera bangkit. "Kakak mau kemana?" ucapan Sawitri menghentikan langkahnya.
"Kakak kebelet. Kamu baik-baik di sini dulu, ya!" Sawitri mengangguk patuh.
Rindi berjalan cepat keluar dari tempat pesta. Terdengar suara MC tengah membacakan urutan acara, namun kemudian hilang oleh suara tangisnya sendiri. Rindi tergugu di dinding kamar mandi.
"Kamu bodoh Rindi!" katanya sambil terisak. "Berhentilah menyakiti dirimu sendiri."
Sebenarnya, bukan cinta salah. Cinta dalam diam kepada teman sendiri, itulah yang salah. Rindi pikir, seseorang akan paham cintanya. Namun ternyata keliru. Mana ada yang bisa mengerti bahasa hati seseorang. Kalaupun bisa menebak itu hanya kebetulan saja.
Bukan tanpa alasan Rindi hanya memendam perasaannya. Itu semua memiliki alasan kuat. Dia pernah mengucapkan janji persahabatan dengan Faza. Bahwa keduanya tidak akan merusak persahabatan dengan saling jatuh cinta. Namun, nyatanya, janji itu hampir saja dia langgar. Bahkan nyatanya sudah. Hanya saja belum terungkap.
Rindi mengusap kasar air matanya "Stop Rindi! Jangan bodoh," katanya menguatkan diri sendiri. Semakin dia ingin kuat, semakin deras air mata mengalir.
Rindi ingat ketika itu, saat dia dan Faza sama-sama pergi ke sekolah. Ketika semua orang mengatakan mereka layak menjadi pasangan kekasih.
"Apa kamu juga berpikir jika kita pantas menjadi sepasang kekasih?" tanya Faza.
"Kalau menurutmu?" tanya balik Rindi berharap Faza mengatakan 'iya'
"Aku lebih bahagia ketika kamu menjadi sahabatku. Kamu terlalu berharga untuk dijadikan mantan." Canda Faza waktu itu. Sebab semua gadis yang di rayu Faza pada akhirnya akan jadi mantan pacar.
"Yeaaayy, aku juga ogah dijadikan pelarianmu."
"Makannya kita berteman saja. Sebab teman itu selamanya."
"Oke! Kalau begitu kita buat perjanjian." Rindi mengacungkan jari kelingking. Saat itu, perasaan Rindi hanya ingin berteman saja. Tanpa sadar jika seiring berjalannya waktu, semua itu berubah.
Sebuah sapu tangan berwarna putih berada tepat di depan wajah Rindi. "Air matamu terlalu berharga untuk kau tumpahkan."
"Kau...!"
To be continued
__ADS_1