
"Mike, tumben Luh datang lebih awal!" tanya Vino, kini mereka berdua tengah duduk di sofa. Dan jangan tanya dimana sekretaris yang mengantarkan Mike ke ruang Vino tadi, Dia masih shock dan minum air putih sampai beberapa gelas di pantry. Sedangkan Arjun, pergi ke meja kerjanya untuk mempersiapkan berkas untuk rapat nanti.
"Kau benar! ada hal penting yang harus aku bicarakan kepadamu." Mike menghela nafasnya sejenak, sebenarnya ada rasa sungkan saat dirinya meminta bantuan orang lain.
"Bukankah kau mengenal PT B. Jaya." Vino nampak tertegun sejenak, alisnya terangkat. Bukankah itu perusahaan besar yang berpusat di kota S.
"Tentu saja, pemiliknya adalah Tuan Bagaskoro. Perusahaan yang bekerja di bidang rekontruksi bangunan dan perhotelan. Apa kau punya masalah dengan perusahaan itu? Jika iya, aku sarankan untuk segera menyudahinya. " Mike mengernyit heran akan kalimat terakhir saudara jauhnya itu. Seperti tanda peringatan, atau sebuah pagar pembatas agar Mike tidak meneruskan langkahnya.
"Memangnya kenapa?" tanya Mike lagi. Vino tahu kemana arah pembicaraan saudara jauhnya, itu. Pasti ada masalah besar yang akan terjadi, jika Mike datang langsung kepadanya.
"Perusahaan itu sulit untuk dilawan. Sistemnya begitu tangguh, dahulu pernah sekali dijatuhkan oleh pengusaha asing. Tapi, apa yang terjadi, bukannya kemenangan yang di dapat, pengusaha itu bahkan sampai sekarang tidak bisa berdiri kembali, keluarganya bercerai-berai dan tidak bisa diketahui keberadaannya." jawab Vino.
"Apa kau tidak tahu seberapa besar kekuatan Anderson," Vino tersenyum kecut. Vino tentu tentu tahu benar, siapa Marcell Anderson. Pria berdarah dingin yang mampu melakukan apa saja untuk mencapai tujuannya. Strategi yang digunakannya cukup rumit, sehingga lawannya sulit untuk menebak. Hanya satu kelemahannya, yaitu istrinya.
"Tentu saja, bukankah dia pamanku," pilihan kata yang tepat untuk sebuah jawaban.
"Kau pasti tahukan, Anderson gudangnya ilmu bisnis dan senjata. Orang Amerika."
Vino terkekeh akan jawaban Mike.
"Apa kau lupa sejarah Indonesia? Jepang, Inggris, Belanda, mereka semua memiliki senjata lengkap. Bisnis mereka juga lebih baik katanya. Tapi, apa?" Vino terkekeh. "Bahkan Belanda memiliki meriam, masih kalah dengan bambu runcing. Ingat bro, bambu runcing. Jadi, jangan remehkan mereka." ucap Vino memegang miniatur bambu runcing di mejanya. Vino selalu bisa membuat down lawan bicaranya, tapi bukan Mike namanya jika tidak bisa mencapai apa yang menjadi tujuannya. Darah Anderson terkenal akan kegigihan dan pantang menyerah.
"Aku tidak menyangka, sekarang kau seperti hantu saja," ejek Mike. Yang artinya Vino hanya bisa menakut-nakuti.
"Oke, aku akan membantumu. Apa tujuanmu mengganggu keluarga Bagaskoro?"
"Vino, aku hanya ingin mengambil Nyonya Muda keluarga Bagaskoro!" jelas Mike to the poin. Vino tercengang karenanya.
"Mike, jangan bercanda!" Mata Vino seakan keluar dari tempatnya. Mike memang orang yang bejat dan di kelilingi banyak wanita, tidak seharusnya Mike merebut istri orang.
"Tidak! Aku tidak bercanda. Tentu dunia entertainment tahu, siapa istri dari Tuan Aditya Bagaskoro," ucap Mike, Vino mengangguk masih mencoba memahami apa yang hendak disampaikan sahabatnya.
"Mike, dia istri orang!" geram Vino. Dia mengira Mike akan merebut istri orang lain.
"Aku tahu. Dia juga princess Anderson." Vino terkesiap oleh pernyataan Mike.
"Apakah sudah ada bukti yang menunjukkan hal itu?" Mike mengangguk antusias.
"Kemarin, saat Momy dan Dady cek up kesehatan dan gula darah mereka, tanpa sengaja mereka bertemu dengan seseorang yang mengatakan jika Nyonya muda Bagaskoro adalah Princess Anderson. Dan kami sudah melakukan penyelidikan. Juga serangkaian tes. Hasilnya seratus persen menyatakan, jika Nyonya Muda Bagaskoro adalah anak tabung Momy and Dady."
"Ya, aku pernah mendengar cerita tentang paman Marcell yang datang beberapa kali untuk mencari bayi itu. Aku tidak menyangka, jika putri mereka ternyata menantu Tuan Bagaskoro." Vino memainkan bolpoin yang ada di tangannya. "Lalu apa yang bisa aku lakukan untukmu?"
"Aku ingin data terbaru untuk Princess Anderson. Kau memiliki banyak kenalan di kedutaan dan kantor transmigrasi, aku ingin kerahasiaan data diri Princess Anderson."
__ADS_1
"Kalau itu masalah kecil," sombong Vino.
"Tidak semudah itu. Aku ingin Bagaskoro mengira, jika Nyonya Muda mereka meninggal. Sehingga mereka tidak akan mencari keberadaannya. Aku sangat kasihan dengan keadaan adikku. Nyonya besar Bagaskoro menyiksanya."
"Baiklah, lalu tugasku apa?" tanya Vino lagi, dia melihat arloji di tangan "Sepuluh menit lagi kita rapat."
"Aku ingin kau melibatkan Tuan Bagaskoro dalam proyek barumu. Sehingga aku punya waktu untuk menyiapkan semuanya, termasuk rekayasa penculikan dan pembunuhan Nyonya muda Bagaskoro," jelas Mike.
"Kau sadis sekali," cibir Vino.
"Aku hanya tidak ingin Princess Anderson semakin menderita. Keadaannya tidak baik-baik saja. Aku marah kepada Bagaskoro. Mereka harus mendapatkan ganjaran yang setimpal." Mike mengepalkan kedua tangannya.
"Baiklah, kita teruskan pembahasan ini nanti. Tekan emosimu, kita harus menemui Tuan Bagaskoro dan yang lainnya."
"Berapa persen saham Tuan Bagaskoro di perusahaan Bravo," Vino terdiam sejenak, tapi kemudian tertawa tipis.
"Tiga puluh persen," ucapnya. Mike tidak menyangka jika Bravo juga bernaung di bawah kekuasaan Bagaskoro.
"Jadi!"
"Yah, kau bisa mengukur sejauh mana dampak yang akan kita alami jika bermain-main dengan mereka."
"Aku tahu!" Lirih Mike. "Aku hanya ingin adikku hidup tanpa tekanan batin."
"Sepertinya, kau akan bertaubat setelah ini!" ejek Vino.
"Tidak ada!" Vino berdiri lalu berjalan keluar ruangan untuk rapat. Baru saja dia menekan handel pintu, Arjun sudah berada di sana dengan beberapa map di tangan kanan.
"Hai, aku belum selesai!"
"Ini terlalu singkat untuk membicarakan hal itu, kita bahas nanti setelah rapat. Aku harap kau tidak gegabah dalam hal ini, sebab Tuan William pasti tidak akan tinggal diam saat istri keponakannya diculik." Mike nampak terkejut.
✓✓✓
Di kediaman Madam. Seorang gadis uring-uringan sebab marah kepada Sana.
"Kak Saras, aku minta maaf!" Sana mengejar Saras yang berjalan lebih cepat daripada biasanya.
"Tidak ada yang perlu dimaafkan," ketus Saras masih mode jalan cepat walau menaiki tangga. Moodnya tiba-tiba berubah sejak pulang dari cafe.
"Berarti Kak Saras sudah tidak marah?" Sana berjalan lebih cepat dan menjegat Saras. Bahkan hampir saja Sana terjatuh jika pegangannya tidak kuat.
"SANA!"
__ADS_1
"Hehe, maaf Kak! Jangan marah, ya!" Mengangkat jarinya membentuk huruf V. Saras menghembuskan nafasnya kasar.
"Bisa minggir, nggak!"
"Tuh ... kan! Masih ketus," Sana mengerucutkan bibirnya.
"Bisa minggir nggak?"
"Nggak!" Sana menggelengkan kepalanya ke kanan dan kiri.
"Ngapain kalian di sana? Kayak berantem gitu" Tiba-tiba Madam datang dari atas tangga.
"Ini Mad_"
"Tidak apa-apa Madam. Aku cuma bahas masalah gladi resik besok!" Sana mengernyitkan dahinya bingung. Dia ingin bicara lagi, tapi mulutnya dibekap oleh Saras.
"Iyakan Sana! Bahkan kita tadi berdebat lho Madam. Sebab Sana tidak bisa latihan dengan maksimal. Dan dia bilang katanya takut nanti tidak bisa menjalin chemistry saat di panggung. Sehingga perannya kurang hidup." Sana melorotkan matanya. Kenapa mendadak Saras jadi pembohong ya.
"Owh, itu. Vino sudah bersedia datang kok! Jadi jangan ambil pusing." Madam mengibaskan tangannya. "Sana, kamu cukup latihan yang sungguh-sungguh. Tidak perlu lagi memikirkan Vino, oke!"
"Oke, Madam! Siap!" jawab Saras sambil melepas tangannya dari mulut Sana.
"Kenapa Kak Saras bilang begitu."
"Yah, anggap saja kita impas. Kau sudah memperbolehkan teman sialanmu itu menyentuh tubuhku. Jadi, aku akan balas dendam kepadamu," ketus Saras.
"Hai, dia hanya menggendong dirimu. Sebab kau tidak kunjung bangun tadi." bela Sana.
"Itu juga termasuk kesalahan yang akan aku balas," ketus Saras menuding wajah Saras.
"Tapi pas bangun tadi kak Saras sempat terpesona dengan dokter Pras. Kalau saja tidak kejedot pintu mobil juga kak Saras tuh tidak bangun tadi!"
*Benar juga seh, bahkan aku tadi sempat mengagumi ketampanan pria itu. Bentar-bentar, owh jadi namanya Pras. Ganteng seh, dia juga baik kayaknya. Buktinya mau gendong aku yang tak kunjung bangun. Harusnya tadi aku tidak marah ya! Harusnya aku bilang terima kasih.* batin Saras. Dia tersenyum sendiri membayangkan wajah Pras.
"Hai Kak! Ciee lagi teringat wajah dokter Pras ya!"
"TIDAK!"
"Sudah, ngaku saja. Buktinya senyum-senyum sendiri tidak jelas.
"Aku senyum karna bayangin berendam di bathtub dengan air hangat. Pasti badan terasa lebih fresh! Bay," Saras dengan muka ketusnya pergi dari hadapan Sana. Padahal jangan ditanya, dadanya seperti lari maraton.
Bersambung ....
__ADS_1
baca juga karya author yang lain. Disana juga ada Mike dan keluarga nya lhov