Ditakdirkan Mencintaimu

Ditakdirkan Mencintaimu
Dia


__ADS_3

Berani sekali mereka masih berhubungan di belakang kak Vinka. Awas saja, aku akan memisahkan kalian bagaimanapun caranya. batin Vino.


Gelas di tangannya sampai retak, karna di remas olehnya. "Hai, apa yang kau lakukan" Sana melihat ada darah merembes melalui gelas transparan itu. Seketika Vino tersadar bersamaan dengan buyarnya kepingan gelas yang jatuh ke lantai.


"Kau ini!" Sana merasa tidak tega melihatnya, langsung merogoh kain kerudung di tasnya, lalu dia belitkan pada luka di tangan Vino.


Kenapa aku harus peduli sama orang songong ini, ya! ah inikan rasa kemanusiaan namanya. Saling tolong menolong dalam kebaikan.


"Kalau mau pamer kekuatan jangan di sini, cari saja pertunjukan tarian Singo Barong biar bisa makan beling sekalian," tangannya masih sibuk menutupi luka Vino.


Singo Barong itu loh tontonan rakyat warisan leluhur yang di mainkan oleh penari menggunakan kepala singa yang terbuat dari kayu. Yang paling di kenal adalah Reog Ponorogo biasanya tarian itu juga di padukan dengan atraksi makan beling, oleh bantuan ilmu magic. Biasanya Singo Barong ini tampil di acara Sedekah Bumi, Karnaval, atau Sedekah Laut.


"Sudah selesai, dan tidak usah berterima kasih," mulut Vino ternganga, karna ucapan Sana.


"Siapa juga yang mau bilang terima kasih?" songong nih orang.


"Lagian ini juga terjadi, karna dirimu" batin Vino.


"Benar benar, nih orang.


"Sekarang habiskan tuh makanan kamu!" ketus Sana.


"Hilang selera makanku gara-gara kamu," Vino berdiri dan meninggalkan tempat itu tanpa permisi.


"Dia, pergi, terus siapa yang bayar makanan sebanyak ini," gumam Sana. "Lagian salahku juga seh, janjian belum pasti malah pesan makanan terlebih dahulu," Sana meratapi nasib sialnya hari ini.


Riki yang tiba-tiba membatalkan janji dengannya, karena di tengah jalan Vinka mengalami kram di perut, sehingga harus banting stir untuk menemui dokter. Setelah itu bertemu dengan Vino, orang songong yang pertama kali bertemu dengannya. Sana merogoh dompetnya memeriksa apakah uangnya cukup atau tidak.


"Syukurlah, semoga cukup," menghela nafasnya kasar.


~


~


Sampai di luar, Sana masih melihat Vino yang tampak kesulitan membuka pintu mobil. Tangan kanannya yang terluka pasti terasa sakit saat hendak di gunakan membuka pintu.


"Butuh bantuan, Tuan!" Sana memainkan kunci motornya sendiri. Sesekali dia melirik ke arah Vino, menanti reaksi dari pria itu.


"Bisakah, kau, bukakan ini untukku?" ketus Vino. Dia ingin segera pulang, tapi malah terjebak luka yang di deritanya.

__ADS_1


"Di Negara ini sepertinya masih memiliki tradisi menggunakan kata tolong, deh!" Sana mencondongkan tubuhnya ke arah Vino yang tampak memejamkan mata, karna kesal.


"Tolong, nona!" Vino berbicara lembut, tapi wajahnya mengatakan hal lain.


Sana tersenyum kaku, melihat tingkah Vino "Sudah selesai, hati hati di jalan, Tuan."


"Apakah dia bisa menyetir?" Sana menggelengkan kepalanya berulang kali. Bisa-bisanya dia seperhatian dan menghawatirkan pria aneh macam Vino.


Dan benar saja, sepanjang perjalanan Vino kesulitan membawa mobilnya. Dia menghubungi seseorang dengan ponselnya. Ternyata Faza orang yang dia hubungi.


"Ya, halo!" suara di seberang sana.


"Cepat jemput gue di jalan Indah nmer lima kafe Chika," nggak ada basa basi banget, langsung di matiin lagi.


Yang di seberang mendengkus kesal.


"Riyan, ikut gua, yuk! jemput Mas Vino!" dua orang itupun keluar dari tempat nongkrong mereka.


"Gua ikut!" yang satunya lagi ngintil melulu.


"Kenapa tanganmu, Mas?"


"Habis berantem ya, Mas. pasti gara gara cewek!" si Tengil Zilki dengan biasa sok tahu. Padahal benar lho tebakannya.


"Sotoy, Luh," Riyan menampol kepala temannya.


"Sudah, bacotnya?" suara tak bersahabat itu pun membungkam mulut mereka.


Vino menyerahkan kunci mobilnya kepada Riyan dan Faza masih bersama Zilki. Vino punya maksud tertentu untuk membawa Riyan


yaitu untuk menjadikannya mata mata.


"Jadi, saya harus mengetahui tentang gadis itu, Mas?" Vino mengangguk.


"Mulai dari dia bangun sampai tidur lagi?," Riyan memastikan.


"Iya, kalau perlu sampai ukuran baju dan ukuran sepatu. Tapi ingat, ini rahasia kita, jangan sampai Faza tahu, dia harus fokus sama pelajaran. Kalian selalu saja membuat ulah," ucap Vino mengingatkan.


Saya juga harus fokus, Bos agar bisa lulus dengan nilai terbaik. batin Riyan.

__ADS_1


"Kau juga boleh ajak satu orang lagi, tapi orang yang benar-benar bisa menutup mulutnya," Riyan langsung berinisiatif mengajak Zilki dalam misi ini.


"Jangan berpikiran mengajak si Tengil itu, atau rencana kita akan berantakan," Riyan terkesiap, bagaimana bisa Vino membaca isi otaknya.


"Tapi kalau memang bisa di andalkan juga tidak masalah," Riyan tersenyum tipis, setidaknya nanti jika ada kesalahan tidak dia tanggung sendiri amarah dari si bos Vino.


"Bos, ketemu di mana dengan gadis itu? apakah dia cantik sampai-sampai pak Bos mengejarnya sedemikian rupa," selidik Riyan Bagaimana tidak cinta namanya, tidak ada angin tidak ada guntur, tiba tiba Vino menyuruhnya untuk mengikuti seorang gadis yang di temui bosnya itu hanya dua kali pertemuan. Kalau bukan cinta apa namanya.


"Diam kau, aku_" Vino menyadari kekeliruannya. Dia tidak mungkin menjelaskan jika gadis itu adalah selingkuhan Riki. Akan jadi Maslah besar jika hal itu sampai ke telinga Vanka.


"Ikuti saja apa yang ku suruh, buntuti gadis itu, dan laporkan kepadaku, apa saja yang dia lakukan mulai pagi sampai pagi kembali."


"Siap, Bos! cuma tiga hari kan Bos, aku membuntutinya." Riyan menyakinkan dirinya sendiri, agar pekerjaannya tidak mengganggu sekolahnya.


"Iya, soal izin kepada Faza, bilang saja jika ibumu menyuruhmu pulang," ucap Vino.


"Tapi saya tidak punya ibu, Bos," tolak Riyan. Ibunya sudah meninggal beberapa tahun yang lalu dan ayahnya pergi dengan wanita lain tanpa ingin lagi mengurus dirinya, hingga dia di pertemukan dengan Faza, anak mami yang suka bikin rusuh.


"Terserah padamu, buat alasan apa,". males berdebat.


"Bayarannya, gimana, Bos!"


Dalam bisnis semua harus jelas, iyakan. aku harus tahu bayarannku berapa nanti.


"Itu tergantung pada pekerjaan yang kau lakukan, kalau hasil pekerjaan kamu memuaskan, aku akan membayar mahal. Tapi kalau sebaliknya, jangankan gaji, kepalamu bahkan bisa kupisahkan dari ragamu."


"Sadis amat jadi orang, Bos," Riyan bergidik ngeri.


Setelah melewati beberapa lampu merah, kini mereka hampir mencapai tujuan utama yaitu rumah keluarga Jizzy.


Chiiit ...


"Bisa nyetir, nggak?" Vino nampak marah, karna Riyan mengerem mobil secara mendadak.


"Itu, Bos!" ada yang menghalangi perjalanan kita. Siapa bos cantik banget oiii," Riyan menatap penuh kekaguman kepada seorang wanita yang baru saja turun dari kendaraannya.


"Dia," Vino mulai berpikir, bagaimana bisa gadis ini di sini.


,

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2