Ditakdirkan Mencintaimu

Ditakdirkan Mencintaimu
Mohon


__ADS_3

"Sana, ini naskah yang harus kamu pelajari dan kamu hafalkan." Sana menerima beberapa lembar naskah drama yang harus dia perankan bersama Vino. Kini Sana berada di ruang rapat kantor Madam Maria di sana ada Vino, Arjun, dan beberapa orang lainnya yang menjadi orang penting dalam Launching Parfum Petinggi Bravo.


"Dan ini Vino, untuk mu!" Saras menyodorkan lembar yang sama kepada Vino. Terlihat jelas wajah lesu Vino yang memang tidak ingin terlibat dengan pentas panggung launching Parfum milik Eyangnya.


"Madam Eyang, bisakah aku mundur dari pekerjaan yang tidak berguna ini?" tanya Vino dengan malas. Dilemparkan ke meja lembaran naskah yang tadi diberikan oleh Saras.


"Bisa! Berikan delapan puluh persen sahammu kepadaku, maka kau bisa bebas dari pekerjaan ini," ucap Maria dengan penuh penekanan. Jika Madam sudah memutuskan sesuatu, maka wajib hukumnya bagi yang lain untuk patuh, atau akan tahu konsekuensinya seperti apa.


"Saras, sepertinya kita akan pindah kantor mulai besok." sudut bibir Maria terangkat sempurna, wajah wanita itu masih terlihat cantik meski ada beberapa bagian yang mulai keriput.


"Baiklah! Akan aku selesaikan pekerjaan ini!" ucap Vino masih dengan malas.


"Nah, itu baru pemain profesional. Hebat!" puji Madam dengan sedikit senyum geli.


"Pemerasan!" cibir Vino.


"Itu namanya brilian," bantah Madam menunjuk kening sendiri dengan telunjuk. Yang lain hanya tersenyum tertahan, dan pura-pura tidak memperhatikan saat mata Madam menyapu wajah mereka.


"Kau sendiri yang teledor, kenapa tidak dibaca dahulu sebelum tanda tangan?" timpal Saras.


Sana juga nampak tidak semangat setelah membaca naskah yang diberikan oleh Saras.


"Sepertinya kalian tidak tertarik dengan naskah itu. Apa ada yang perlu kita rubah? Ah, gini saja, aku ada ide. Saras, tambahkan saja adegan mesra diantara pemeran utama, sepertinya lebih menarik! Buat adegan yang lebih waoooow agar malam penuh bunga ini semakin harum." Vino menangkap gelagat Maria yang nampak mencurigakan.


"Tidak!" ucap Vino dan Sana dengan kompak.


"Nah, kalian bisa kompak gitu kok, jadi, setelah ini aku harap kalian bekerja sama dengan baik. Bangun chemistry diantara kalian berdua, agar nama Parfum ini semakin harum di pasaran."


Semua diam kembali baik Vino ataupun Sana. Kisah percintaan di memang menarik, tapi Vino dan Sana sedang di landa dilema. Keduanya memang saling mencintai. Takutnya mereka akan semakin terjerumus ke dalam peran yang mereka jalankan. Padahal kemarin Riki sudah memberi peringatan.


"Madam, bisakah waktunya di perpendek? Ah maksudku peran kita berdua yang di perpendek." ucapan Sana malah di salah artikan oleh Vino.


*Kenapa Sana berbicara seperti itu? Apakah dia tidak mau berdekatan lebih lama denganku? batin Vino.


Vino, katakan sesuatu, aku mohon! Aku berpura-pura seperti ini untuk bisa melihat reaksimu seperti apa. Jika kau keberatan, berarti kau memang benar mencintaiku. batin Sana*.

__ADS_1


"Aku tidak terbiasa dengan kyalayak ramai. Bagaimana jika aku membuat kesalahan?" tanya Sana kurang percaya diri.


"Berusahalah, aku yakin kau pasti bisa. Ini sama halnya dengan pertama kali kau pemotretan. Bukankah kau juga tidak pernah bergaya di depan kamera?" Sana mengangguk. "Nah, anggap saja seperti itu." ucap Madam kemudian.


"Kamu, Vino!" Aku tahu kau akan teledor dan membuat masalah. Tapi ingatlah, aku bisa mengambil perusahaan mu itu jika kau tidak bersungguh-sungguh." ucap Madam kemudian berdiri dan pergi diikuti yang lainnya.


"Aku pastikan Madam akan terpesona akan aksi panggung ku nanti." tegas Vino dengan mantap. Madam yang hampir melangkah keluar, berhenti sejenak.


"Tentu kau tahu benar apa konsekuensinya jika kau tidak menepati janji." Madam menoleh sekilas ke arah Vino. Lalu melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti. Sudut bibir wanita berusia senja itupun melengkung. Menunjukkan rasa di hatinya.


Kina hanya ada Vino, Arjun dan Sana. Vino memberikan kode untuk Arjun agar meninggalkan mereka berdua.


"Apa kabarmu Sana?"


"Kabarku baik, lalu, bagaimana kabarmu? Kuharap kau juga baik-baik saja."


"Yah, seperti yang kau lihat!"


Keduanya hening kembali. Hanya detak jantung mereka yang bicara.


Sama Vino! Aku juga merindukanmu.


"Sana, apa kau juga sama?" Sana menatap netra Vino beberapa saat, ada sorot mata yang penuh dengan keteduhan. Vino nampak begitu tampan dan menawan.


"Jangan melihatku seperti itu Sana, aku bisa khilaf karnanya." Sana mengerjapkan mata berulang kali, mendadak pipinya terasa panas.


"Maaf Vino!"


"Untuk"


Ah iya untuk apa ya? Kenapa aku mendadak bodoh gini seh? Ngapain aku malah meminta maaf. Cepat cari alasan Sana. Batin Sana.


"Untuk yang kemarin, karna aku, Om Riki malah memukulmu. Aku jadi merasa bersalah."


Untung saja aku melihat bekas luka di sudut bibirnya itu.

__ADS_1


"Tak apa, ini bukan sepenuhnya kesalahan dirimu. Aku juga meminta maaf sebab telah lancang menyentuhmu."


"Aku juga tidak kuasa menolak," Sana membungkam mulutnya yang kelepasan bicara itu.


"Jadi, kau memiliki rasa untukku? Apakah kau juga menyukaiku?" tanya Vino antusias.


Haduh! Tolong aku oh Dewi cinta, kenapa kau membuat dadaku bergetar begini seh! batin Sana.


"A_Aku ... aku!" Vino berdiri dari kursinya dan berjalan menuju Sana berada. Vino berhenti di belakang kursi yang Sana duduki, lalu membungkukkan badannya. Hembusan nafas Vino menerpa ceruk leher Sana. Sana memejamkan matanya perlahan, aroma maskulin menusuk Indra penciuman, Sana semakin terperdaya oleh cinta.


"Sana, aku berjanji akan meminta dirimu dari om kamu. Bersiaplah," Suara Vino bagaikan melodi romantis yang membuat Sana terbang ke alam nirwana.


"Hai, bengong saja Non! Mikirin apa!" ucap Vino menoel pipi Sana. Sekejap saja Sana langsung tersadar dari lamunan sesaat nya. Vino bersendekap di sampingnya.


"Kau ... kau tidak mengatakan sesuatu apapun tadi?" ucap Sana memastikan apa yang dia dengar.


"Tidak ada! Apakah kau berharap aku mengatakan sesuatu kepadamu."


"Tidak! Bukan! Bukan begitu!" Sana meremas tangannya yang mendadak basah karna keringat.


"Aku masih ada urusan. Jadi, bolehkah aku pergi terlebih dahulu?"


"Kalau aku tidak memperbolehkan, apakah kau akan tetap tinggal?" Sana dibuat bingung oleh pertanyaan Sana tapi kemudian mengangguk.


Detak jantung Vino semakin berdetak lebih kencang, membuat Vino grogi dan lupa akan apa yang ingin dia ucapkan saat bertemu dengan Sana.


"Sana, apakah kau juga keberatan dengan om Riki yang menyuruh kita untuk menjaga jarak? Sana, aku ingin ada sebuah ikatan di antara kita berdua. Sebuah ikatan yang bukan hanya status." Vino menjeda omongannya. Dengan setia Sana tetap menunggu.


"Aku mohon Sana, berikan aku sebuah Jawaban."


"Jawaban apa Vino? Aku tidak paham apa maksud kamu!" Membuat Vino frustasi sendiri. Dia sudah berusaha mengumpulkan segala keberaniannya untuk mengungkapkan apa yang dia rasa, tapi kenapa malah kata-kata sampah yang sulit untuk di mengerti.


**Bersambung....


...Jangan lupa dukungannya ya**...

__ADS_1


__ADS_2