
Hari telah berganti, Sana dan Vino pun sibuk dengan aktivitas masing-masing, hingga bisa melupakan sejenak masalah mereka tentang larangan Riki. Mereka berdua mencoba tidak saling berkabar lewat dunia maya, walau sebenarnya ada rasa rindu yang begitu menggebu. Seperti pagi ini, adalah jadwal latihan untuk aksi panggung spektakuler. Launching Produk Baru Presiden Bravo ini akan dimeriahkan oleh artis papan atas dan artis luar negeri.
"Sana, apakah kau sudah siap?" Saras yang dari pagi sudah begitu sibuk dengan jadwal pelatihan dan pembinaan untuk Sana dan beberapa artis dan model untuk penunjang aksi panggung yang pastinya akan meriah.
"Sudah! Tapi, aku begitu gugup." ucap Sana, dengan menautkan jari jemarinya yang berubah basah oleh keringat. Setiap kali latihan, itulah yang terjadi kepadanya, lalu bagaimana nanti jika di panggung nyata. Ah memikirkan itu saja, rasanya Sana ingin mundur dari perannya.
"Sana, aku sudah cukup pusing dengan Vino yang tidak pernah datang latihan, jadi, aku mohon kepadamu, jangan membuatku bertambah down," Saras duduk dihadapan Sana dengan wajah lesunya.
"Maaf! Aku tidak bermaksud begitu?" Sana mengusap wajahnya kasar.
"Percayalah pada diri kamu sendiri. Ikuti arahan dari instruktur dan kru yang mengajarimu." ucap Saras menyemangati. Tapi bukan itu yang membuat Sana gelisah.
Perasaan ini begitu menyiksaku. Apa yang harus aku lakukan saat menghadapi Vino nanti? Padahal belum bertemu saja, aku sudah tidak karuan begini. Kami harus berlatih dan memainkan drama bersama dengan sebaik mungkin, tapi bagaimana jika aku melakukan kesalahan? Bagaimana jika aku terbawa perasaan? Apakah itu tidak apa-apa? Batin Sana.
"Kamu pasti bisa Sana, lupakanlah sejenak perasaanmu itu, dan mulailah untuk bekerja." gumam Sana menyemangati dirinya sendiri. Sana kembali membaca naskah yang diberikan kepadanya. Membaca berulang kali agar ucapannya sesuai dengan yang tertera di sana.
"Sana, kau hari ini belajar dengan kak Seto anggap saja dia Vino ya, dan mulailah berlatih." Sana mengangguk setuju. Ada perasaan lega dan juga bersedih saat mengetahui Vino tidak datang untuk berlatih.
Dua jam telah berlalu dengan seharusnya. Sana telah menyelesaikan latihannya hari ini. Seto ternyata orang yang tepat untuk menimba ilmu akting darinya. Metode dan teknik akting yang diajarkan oleh Seto terasa gamblang dan mudah dipelajari. Sana jadi mengerti dan berharap perannya nanti terlihat hidup di mata para penonton.
"Huft, akhirnya selesai juga." Sana melihat jadwalnya hari ini. Ada janji ketemu dengan dokter Pras hari ini. Itu semua adalah permintaan dari Riki. Sana masih membutuhkan terapi, untuk mengatasi penyakitnya.
"Aku berharap penglihatanku bisa kembali seperti sedia kala." lirih Sana. Kemudian bangkit dari tempat duduknya, menuju ruang di mana Saras berada.
"Ini adalah ketiga kalinya Vino tidak datang. Lalu bagaimana jika gladi resik besok dia juga tidak datang? Aku takut acaranya tidak berjalan sesuai rencana." Saras membanting map, dia frustasi dan kesal sendiri. Menekan kepalanya yang tiba-tiba pusing.
"Kak Saras? Apakah kau baik-baik saja?" tanya Sana sedikit ragu. Sana melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan Saras.
"Yah, aku baik-baik saja, hanya ada sedikit perubahan buat aksi panggung nanti, tapi Vino. Ah! Sudahlah. Vino selalu menyepelekan pekerjaan ini. Aku pusing karenanya." ucap Saras dengan kepala di sagga oleh kedua tangan.
"Kak, Saras, sebenarnya aku juga ingin izin kepada kakak untuk menemui seseorang!" Saras menatap lekat wajah Sana.
__ADS_1
"Apakah tidak bisa ditunda?" Saras begitu lesu saat ini, banyak tugas yang menyita waktu dan pikirannya. Membuat dirinya mudah stres.
"Tidak! Bagaimana kalau kakak juga ikut bersamaku! Hanya sebentar saja kok, kakak pasti akan merasa baikan setelah ini." Entah apa yang Sana lakukan. Tapi yang pasti, Sana tidak mau mengecewakan Riki lagi seperti kemarin. Dia akan menemui Pras sesuai dengan keinginan Riki.
"Ayolah, Kak!" bujuk Sana. Dengan lesu Saras mengangguk setuju. Mungkin dia juga butuh refreshing untuk sekedar mengembalikan bad moodnya.
"Hari ini aku yang akan bawa mobil," ucap Sana tanpa persetujuan menarik kunci mobil Saras.
"It's oke!"
✓✓✓
"Bos, lima belas menit lagi akan ada meeting dengan pihak investor asing." Sebenarnya Arjun sudah lelah dengan tugas baru yang diberikan oleh Vino untuk menggantikan posisi Sana dalam berlatih.
Waktu dua jam terbuang sia-sia hanya untuk menemani Vino berlatih. Arjun tak habisnya mengumpat dalam hati sebab jengkel dan kesal.
Bagaimana bisa si Bos mengajak bermain seperti ini, sedangkan pekerjaan menumpuk di meja. batin Arjun.
"Oke, kita akhiri setelah mengulang adegan yang ini sekali lagi."
"Baiklah, kita mulai dari adegan yang ini," ucap Vino memposisikan dirinya berlutut. Ini adalah adegan terakhir dalam pertunjukan spektakuler launching parfum baru Mara.
"Kamera siap, satu, dua, tiga, mulai." Arjun sudah bersiap dengan gaya anggunnya seolah-olah dia memperagakan princess dalam dunia animasi.
"Geli gua lihatnya," celetuk Vino terkekeh.
"Jadi latihan apa, tidak!" Arjun jengkel juga akhirnya.
Vino berdehem beberapa kali, lalu memulai dialognya. "Wahai gadis pujaan hatiku."
"Bos, bisakah lebih menghayati peranmu." ejek Arjun. Vino bagaikan pembaca dongeng anak anak saja.
__ADS_1
"Diamlah, aku mencoba mendalami peranku di sini. Menjadi pria romantis, apanya. Kalau saja bukan saham perusahaan yang dipertaruhkan di sini, jangan harap aku mau! Menyebalkan."
"Oke, oke! Waktu kita tinggal sepuluh menit lagi. Bos harus lakukan presentasi, kita lanjutkan yang ini, atau Bos pelajari_"
"Lanjutkan sebentar."
"Baiklah!" Arjun mulai memposisikan dirinya. Vino meraih tangan Arjun dan mulai dialognya.
"Wahai gadis pujaan hatiku, gadis yang selalu membayangi langkahku. Kau adalah jantung hatiku. Belahan jiwaku, diri sakit tiada henti, memikirkan cinta yang belum pernah tersampaikan. Bila memungkinkan bolehkah aku menyunting dirimu, menjadikanmu permaisuri di kerajaan cintaku." Vino menggenggam kedua tangan Arjun.
"Ya, aku bersedia," jawab Arjun berubah menjadi mirip suara perempuan.
Tanpa mereka sadari, ada dua pasang mata tengah menonton drama mereka. Yang satu bergidik ngeri sebab mengira sang bos memiliki kelainan. Sedangkan yang satunya tertawa geli dalam hati.
"Waoooow! Romantis sekali. Kalian memang pasangan yang cocok."
"Hai, bedebah sialan, kenapa tidak ketuk pintu dulu?" umpat Vino.
"Siapa suruh pintunya tidak terkunci?" bela Mike melirik sekretaris yang di sebelahnya. Sekretaris itu nampaknya shock melihat sang Bos memegang erat jemari Arjun.
"Mesra sekali." kini tatapan Mike beralih pada jemari yang bertaut. Vino mengibaskan dengan kasar, lalu menepuk-nepuk tangan, seolah menyingkirkan debu yang menempel.
"Tadi, saja! Aku diperlakukan bak putri raja." Arjun
Sedangkan sekretaris perempuan itu sudah mulai memikirkan kata yang tepat untuk bergosip nanti di kantin. Dia memergoki atasannya tengah bermesraan dengan asisten yang genrenya sama dengan sang Bos.
"Hai, buang jauh-jauh pemikiranmu itu, kalau kau tidak mau jadi gelandangan." Mike menyenggol lengan perempuan itu.
"Ah, maaf Tuan!"
Bersambung....
__ADS_1
Baca juga karya author yang lain