
...*๐Saudara adalah bagian dari tubuh jika satu terluka maka yang lain akan bereaksi. Begitupun denganku. Sebelum cinta di hati Vanka menorehkan rasa sakitnya pedang penghianatan aku akan menjadi perisai hubungan mereka๐...
...~Vino*~...
"Arjun, apa yang terjadi di sana? kenapa ribut sekali?"
"Aku akan memeriksanya, Bos." Arjun yang semula hendak makan siang, kini memutar arah menuju tempat terjadinya keributan.
"Ada apa ini?" ucap Arjun. Semua orang menyingkir saat mendengar suara dari orang yang berpengaruh di kantor ini buka suara.
Perempuan ular ini lagi, mau apa dia kemari. Menyusahkan saja.
"Mau apa kau kemari. Apakah belum cukup keributan kemarin," Sima yang semula marah marah mendadak diam. Nampak pakaiannya yang kotor dan basah. Arjun melihat alat pel dan kawan-kawan berserakan di lantai. Juga lantai yang masih tergenangi air.
"Sayang, lihatlah karyawan mu itu semua menertawakan aku," rengek Sima sambil setengah berlari ke arah Vino. Pak satpam masih saja menghalanginya sebab pakaian Sima yang kotor. Bahkan buah dadanya tercetak sempurna membuat beberapa karyawan pria menatap penuh takjub.
"Maaf, Pak! tapi kemarin bapak berpesan untuk tidak membiarkan perempuan ini masuk," Satpam itu membela diri sambil tetap memegang tubuh Sima.
...Lumayan, bisa pegang pegang gratis wanita cantik. Salah alamat dikit nggak masalah. Kena semprot juga tidak masalah, pumpung dapat sentuhan gratis. Plus plus yang aduhai lagi. batin Satpam....
"Sayang, suruh satpam kurang ajarmu ini untuk menjauh dariku. Dia selalu menghalangiku dan satu lagi pecat juga OB kamu yang tidak becus bekerja ini. Dia dengan sengaja telah membasahi lantai. Sehingga membuatku terjatuh," rengek Sima sambil terus saja berusaha menggapai Vino. Seiring setianya pak satpam yang menghalangi usaha Sima.
"Arjun sesuai apa yang di minta oleh wanita itu. Berikan mereka ganjaran yang setimpal. Dan kau pulanglah biar di sini Arjun yang mengurusnya," titah Vino tetap dengan tampang datar.
"Vino, aku yakin kamu masih memiliki perasaan terhadap aku kan? aku sudah menduganya. Kau akan membelaku. Dua orang tak tahu diri ini memang songong. Berlagak sok pintar pecat saja mereka," ucap Sima dengan pede. Membuat nyali satpam dan ob baru itu menciut.
"Silahkan anda pulang sekarang nona, sebelum Bos kami berubah pikiran," tegas Arjun.
"Hai, apa maksudmu? aku kemari untuk menemui kekasihku beraninya kau menyuruhku pulang."
"Tuan Vino masih banyak pekerjaan, jadi dia tidak punya waktu untuk hari ini. Silahkan anda pulang atau_," tangannya memberi kode kepada satpam untuk segera mengusir gadis itu dari sana.
__ADS_1
"Sebentar-sebentar, ini ada surat undangan dari perusahaan Kami. Kami akan mengadakan perayaan ulang tahun perusahaan yang ke empat , aku tadi meminta kepada ayah agar menyerahkan undangan ini secara khusus melalui diriku. Kamu hadir, ya! please demi aku."
Wanita ini sungguh luar biasa percaya dirinya. Apa dia sebodoh itu hingga tidak mengerti sama sekali. Aku tidak ingin semuanya berlarut larut.
"Ya, kamu datang ya demi aku."
"Ngarep sekali anda," Arjun sudah mulai jengah.
"Baik, tapi sebaiknya kau pulang sekarang jika ingin aku hadir di saat pesta," ucapan Vino membuat Arjun memutar arah pandangannya.
"Terima kasih,Sa_"
"Bereskan semuanya dan kembali ke rutinitas semula." titah Vino tanpa melihat lagi ke arah Sima yang menatap nanar kepergiannya.
๐๐๐๐
Di tempat lain.
"Apa ini benar, Rin?" tanya Sana enggan sekali turun dari boncengan.
"Kalau menurut alamat yang tertera di sana sih, Iya. Terus tadi pas nanya sama orang juga memang bilang e rumah paling ujung dan megah inikan," menunjuk rumah super keren di antara rumah yang lainnya.
"Orang kaya eyangnya juga kaya ya Rin," ucap Sana. Polos banget.
"Keturunan itu namanya, Mbak pantesan berani sombong dan songong penyakit orang kaya kan gitu Mbak."
"Rindi mudah banget menilai orang. Padahal mana ada sombong hanya untuk mereka yang kaya saja. Tuh ada lagi si Dion, miskin juga berlagak kaya. Mana duwit aku di hutang sama dia belum juga di balikin," tiba-tiba wajah Sana berubah mendung.
"Berhenti bahas mantan. Buang saja tuh nama mantan kelaut jangan di ingat-ingat lagi. Mantan sudah bahagia itu artinya kita merdeka. Mulailah belajar melupakan dan cari ganti yang lebih baik. Di balik sebuah musibah pasti ada hikmahnya."
"Siapa yang kena musibah?" menonyor kepala Rindi.
__ADS_1
"Lha itu, di putus pacar musibah apa anugrah menurutmu?" Rindi malah balik nanya. Sana sebenarnya merasa senang juga sudah di putus sama pacar yang sok baik tapi suka pinjam duwit itu. Salah ayahnya juga kenapa dulu nyuruh Sana deketin tuh si Dion rese.
"Yang namanya kehilangan pasti juga merasa ada sedihnya lah. Walau tidak sepenuhnya. Aku hanya bertanya-tanya, kenapa aku di putusin? apakah aku memang bersalah. Atau memang tidak pantas untuk di cintai dan bahagia dengan cinta," lirih Sana sambil menatap nanar jalanan.
"Dahlah forgeted. Jangan di bahas lagi, oke!" Rindi pun turun dari motornya dan berjalan ke arah gerbang. Rumah megah dengan halaman luas yang di tumbuhi banyak pohon buah itu terlihat sangat memukau.
"Maaf, mau cari siapa ya Neng?" tanya pak Satpam berkumis tipis itu.
"Saya kemari atas permintaan dari nyonya Maria Selena," jawab Sana menyodorkan sebuah pin yang di berikan oleh Vino kemarin.
Satpam memperhatikan dengan seksama pin itu, kemudian membuka gerbang. Rindi mengambil motornya dan mengendarainya masuk ke dalam.
"Silahkan nona nona, mari saya antar. Nyonya besar berada di halaman belakang," satpam itu berjalan lebih dahulu diikuti oleh Sana dan Rindi.
"Ini rumah apa kerajaan Majapahit Mbak gede banget." komentar Rindi sambil menatap kagum setiap detail rumah milik Nyonya Sultan ini. Halamannya meski luas tapi tertata rapi dan bersih.
"Iya, aku juga baru kali ini bisa melihat kerajaan dalam bentuk nyata," Sana lebay ih.
"Rumah, Mbak. Kerajaan."
Satpam di depan mereka mengulum senyum mendengar celotehan dua bersaudara di belakangnya itu.
"Nyonya besar, ini ada tamu yang ingin menghadap anda," ucap satpam itu. Sana dan Rindi masih sibuk mengamati sekitar kolam renang. Ada juga kolam ikan di sana yang di lengkapi dengan segala hiasan. Ikan mas bergerak bebas di sana. Lalu halaman yang di penuhi oleh wahana permainan anak anak yang terawat dengan baik.
"Kalian, siapa yang menyuruh datang kemari?" Nyonya besar itupun menurunkan kakinya dari bangku malas. Menarik sedikit kaca matanya.
"Kami di suruh sama, Vino" ucap Sana.
"Vino, cucu tidak tahu diri itu," tangannya meremas koran yang berada di tangannya
**Bersambung....
__ADS_1
...ayo dong dukung author biar semangat**...