Ditakdirkan Mencintaimu

Ditakdirkan Mencintaimu
foto


__ADS_3

"Nah, betulkan dugaanku!" semua mata tertuju kepada Vino dan Sana.


"Kenapa Kalian menatapku seperti itu?"


"Bagaimana tidak menatap, Kalian datangnya barengan. Apa Kalian janjian, ya?" tuduh Saras. Vino memutar bola matanya malas.


"Jangan mulai deh, Kalian tinggalkan Dia di bawah. Tadi diserang sama macan," ucap Vino yang langsung mengambil tempat duduk setelah bersalaman dengan Mareno dan Maria tentunya.


"Macan?"


"Dahlah forgeted!" Vino malas menjelaskan.


"Bukan apa-apa kok. Cuma ada kecelakaan kecil tadi, aku tanpa sengaja menabrak orang, hingga map yang dibawanya terhempas. Jadinya, aku bantu pungutin kertas-kertas yang tercecer. Dah gitu aja." terang Sana, saat Maria menatapnya diikuti gerakan alis, pertanda Maria ingin sebuah penjelasan.


"Baiklah, yang terpenting kamu baik-baik saja. Kita mulai meeting dadakan hari ini, ya!" ucap Maria kemudian, tanpa ingin memperpanjang masalah, pasti Vino sudah bisa mengatasi hal sepele macam itu.


"Pertama, saya ingin dipasangkan reklame di seluruh penjuru kota. Dan mengenai konsepnya Saya sudah buatkan. Parfum ini khusus buatan suami Saya. Jadi, saya tidak mau ada kesalahan sekecil apapun dalam promosi kali ini. Dan satu lagi, saya hanya menjual barang ini secara limited edition." ucap Maria setelah Sana dan Vino duduk.


Mareno nampak menghembuskan nafas berat. Mamanya memang super perfect dalam segala hal. Lihatlah, Maria bahkan menggunakan bahasa formal terhadap anaknya sendiri. Itu artinya, dia ingin sepenuhnya membicarakan bisnis tanpa menerapkan status sebagai keluarga di dalamnya.


"Kalau seperti itu, kenapa Eyang harus repot-repot membuat promo besar-besaran seperti ini? cukup Eyang tunjukkan kepada teman sosialita Eyang dan mama, sudah pasti akan laku semuanya." Vino merasa percuma saja datang, jika barangnya saja hanya beberapa biji.


"Hai, aku ingin formula yang dibuat oleh Eyang Kakung menjadi trending topik dan dikenal oleh semua orang."


"Baiklah, aku tanda tangan dimana," Vino mulai jengah sepertinya.


"Disini, Tuan!" Saras memberikan berkasnya sambil tersenyum. Dia merasa begitu senang, sebab Vino langsung setuju tanpa minta dijelaskan isi dari perjanjian itu.


"Kamu yakin, tidak ingin membaca terlebih dahulu apa isi surat perjanjian-nya?" Mareno memperingatkan anaknya.


"Dia masih saja ceroboh. Vino, jangan pernah menyepelekan sesuatu, apapun itu, Kau juga harus cermat dan teliti dalam segala hal. Termasuk sebelum menandatangani kontrak atau sebuah berkas apapun," Maria menegur cucunya masih dengan tersenyum.


"Aku rasa dia terlalu percaya pada kita," Mareno tersenyum simpul.


Dari mereka berdua, Vino mulai menaruh curiga, sudah terjadi sesuatu yang menjebaknya.


"Nona Saras, bisa Kau kemarikan surat itu?" pinta Vino. Dia langsung membuka dan membaca surat yang baru saja dia tanda tangani. Matanya membulat sempurna setelah membaca surat itu. Sedangkan yang lainnya mengulum senyum.


"A_apa maksudnya ini?" Vino menunjuk poin yang dirasa memberatkan baginya.


"Kurasa kau sudah pintar membaca," seloroh Mareno.

__ADS_1


"Jadi, persiapkan dirimu besok. Atau sekarang juga tidak masalah. Sana pasti sudah siap untuk melakukan pemotretan." Maria meminta pendapat Sana.


"Ah, iya, lebih cepat itu akan lebih baik," tanpa ragu Sana mengucapkannya.


"Sebentar, aku akan menghubungi Arjun terlebih dahulu."


"Ah, itu Dia datang," ucap Vino seraya berdiri sambil membukakan pintu. Benar saja, Arjun berdiri di depan pintu.


"Arjun, Luh harus bilang sama mereka, kalau hari ini dan seterusnya gua sibuk," Vino setengah berbisik kepada Arjun yang belum sepenuhnya masuk.


"Arjun!" Maria menduga, pasti Vino sedang ingin mencuci otak anak buahnya. Dia harus mengambil seribu langkah untuk mencegahnya.


"Arjun, pinjam tablet Kamu, boleh?" Vino gelagapan dibuatnya. Eyangnya ini memang seribu langkah di depannya. Vino mengkode Arjun agar tidak memberikan tablet itu. Sebab di sana berisi agenda kegiatan Vino.


"Arjuuuuunn." ulang Maria.


"Ah, iya nyonya, ini!"


"Baiklah, kita lihat. Oke, hari ini free jadi kita mulai sekarang saja. Biar semuanya cepat selesai. Dan kamu Vino, kau sudah tahu apa konsekuensinya jika kamu melanggar perjanjian itu."


🌱🌱🌱




"Lihatlah! mereka bahkan masih saja sama-sama kaku." Kesal Maria yang langsung menyandarkan badannya di sofa.


"Kita salah melulu," Sana nampak cemberut sebab foto kali ini dia rasa melelahkan.


"Iya, mereka enak tinggal bilang gini, tinggal ngoceh gtu. Lah kita, kayak boneka saja diatur-atur dari tadi." Diangguki oleh Sana yang tak kalah capek.



"Tapi mereka serasi banget lho ... Lihat deh. Mereka begitu serasi. Seperti pengantin," Saras tersenyum lebar melihat foto-foto yang baru saja diambil oleh fotografer.



"Kalau yang ini, nanti kita letakkan di dekat taman kota. Kayaknya bagus tuh. Pas banget dengan produk kita. Seolah-olah si pria begitu terpikat dengan gadis ini setelah mencium aroma parfum yang menguar dari tubuh si gadis," Saras nampak antusias.


"Ya, kau memang selalu bisa diandalkan." Maria memberi dua jempol untuk Saras.

__ADS_1


Sedangkan Vino dan Sana masih anteng di tempat. Mereka merasa capek dengan perintah-perintah yang menurut mereka mengesalkan.


"Sana, temani aku makan di luar, yuk," ajak Vino sambil membuka kancing jas yang membalut tubuhnya.


"Memangnya kemana asistenmu itu?" Sana sebenarnya enggan pergi berdua dengan Vino.


"Aku suruh kerjalah, biar kapok. Aku suruh buat alasan agar aku terhindar dari moment ini, malah dia memberi tabletnya pada Eyang," jujur Vino.


"Ya, bukan salah Bang Arjun. Memang siapa dia yang berani melawan perintah Madam. Dia juga memberikannya sebab terpaksa." bela Sana.


"Kau kenapa membelanya?"


"Ya, aku hanya mengatakan apa yang aku lihat!" bela Sana.


"Sudah diam, ayo temani aku cari makan yuk."


"Eh, ganti baju dulu," Sana pergi ke kamar ganti.


"Madam Eyang, aku pinjam Sana sebentar yah. Mau pergi makan, tapi nggak punya teman," pamit Vino.


"Kenapa cuma Sana? aku juga lapar lho," Saras mulai menggoda.


"Minta saja sama Madam Eyang, porsimu kan banyak. Ntar bangkrut gua gara-gara traktir Luh." Saras berdecih.


"Sudah, kau ikut denganku saja. Biar aku punya teman," Maria tersenyum sambil tetap bersandar di sofa. Dia menandai setiap foto yang dirasa bagus.


"Yah, pergi sama yang tua terus, kapan lakunya kalau begitu," sungut Saras kesal.


"Makannya, jangan pemilih jadi orang. Kemarin ada yang ngajak jalan, malah menolak seh," seloroh Maria.


"Tega benar Madam ngomong begitu, dia itu punya anak lima, Madam. Istrinya saja ada dua," Saras bergidik ngeri sebab ketemu klien kemarin. Klien yang genit itu mencoba merayu Saras agar mau jalan dengannya. Mana orangnya berkepala botak lagi. Maria hanya tertawa terbahak.


"Sana, enaknya panas-panas gini makan apa, ya?" tanya Vino sambil mengemudikan mobilnya.


"Emmh, apa, ya!"


"Kayaknya makan makanan yang berkuah seperti soto enak deh."


Chiiit. mobil berhenti mendadak.


"Hai ... !"

__ADS_1


**Bersambung...


Jangan lupa tinggalkan jejak oke, sudah aku kasih bonus visual Vino dan Sana lho**...


__ADS_2