Ditakdirkan Mencintaimu

Ditakdirkan Mencintaimu
Kebingungan Vino


__ADS_3

Aku bibirmu dan kau adalah suaraku


Aku gitarmu dan kau adalah nadaku


Jika angin telah menunjukkan arahnya


Maka cinta akan menemukan syairnya


~🍂🍂🍂~


"Shiit, sial"


Vino mengumpat beberapa kali, karna kehilangan jejak. Tadinya dia mengikuti Riki yang tengah asyik berboncengan dengan seorang gadis. Malah terhalang oleh lampu merah.


Bukankah Riki memiliki mobil, tapi kenapa harus memakai motor dan berboncengan mesra seperti itu?


Vino akhirnya memutar arah menuju kantornya. Dalam perjalanan Vino mendapatkan sebuah panggilan masuk.


"Ya, ada apa, Arjun!" ucap Vino sambil menyetir.


"Bos, klien kita dari PT Nusa sudah datang. Mereka sudah menunggu kita di ruang meeting."


"Baiklah, lima menit lagi aku akan sampai, kau pelajari dulu proposal yang mereka ajukan," titah Vino sambil tetap fokus menyetir.


"Siap, pak bos!" Arjun mengakhiri panggilannya.


"Kenapa harus ada lampu merah lagi," Vino mengumpat kesal. Jam di tangannya telah menunjukkan jika waktu lima belas menit telah berlalu.


"Halo, Arjun, kamu handel semuanya dan kirimkan berkasnya ke emailku nanti. Aku terjebak macet di sini," ucap Vino setelah panggilannya mendapat jawaban.


~


~


Dua orang yang asyik berboncengan kini telah sampai di depan sebuah rumah berlantai dua di perumahan elit.


"Sampai juga akhirnya, hufft," Sana merenggangkan ototnya yang terasa kaku, karna berkendara.


"Capek, ya!" Riki mengacak rambut ponakannya.


"Jangan di acak-acak, Paman," ucap Sana cemberut sambil merapikan dan menyisir rambutnya dengan lima jari.

__ADS_1


"Habisnya, kamu tuh aneh, punya hijab bukannya di pakai di kepala malah di kalungin di leher," cicit Riki.


"Yeay ini aku jadiin syal, nanti kalau pengen ngaji aja aku pakai. Aku masih minder kalau pakai hijab," menarik benda di lehernya lalu memasukkannya ke dalam tas.


"Kok malah di lepas?" heran Riki.


"Sudah tidak panas," jawab Sana singkat, dia melangkahkan kakinya terlebih dahulu di susul oleh Riki. Baru saja mereka tiba di pintu, sebuah mobil memasuki pekarangan rumah.


"Lho bukannya itu mobilnya, Om?" tanya Sana.


"Tantemu menginap di rumah mertua selama aku menemanimu!," jawab Riki.


Seorang perempuan gembul yang cantik memiliki tinggi kira-kira seratus enam puluh lima. Dia keluar dari mobilnya sambil melambaikan tangan ke arah Riki dan Sana. Dia setengah berlari kemudian menubruk Riki, hingga Riki terhunyung ke belakang.


"Auwwhh, pelan pelan, Sayang! kangen banget, ya!" Riki begitu bahagia melepaskan kerinduan di dalam pelukan sang istri.


"Bangeeeeeet, aku sampai mimpi-mimpi tiap malam, karna jauh dari kamu tau, nggak seh! aku sampai nggak bisa bobok nggak bisa tidur selalu kepikiran sama kamu!" Riki menikmati setiap kalimat yang diucapkan istrinya, bagaikan makan es krim di bawah pohon beringin saat terik matahari.


"Aku juga, Sayang, bahkan aku merindukan dirimu setiap waktu, setiap detik. Hati dan pikiranku begitu kacau, karna dirimu yang tak ada di sisiku," Riki memejamkan matanya menikmati hangat dan harumnya tubuh sang istri.


"Owh, Sayang ku! kau begitu manis sekali, aku benar-benar mencintaimu, semaaakin cinta," mencium pipi suaminya berkali-kali. Begitu pula dengan Riki yang sepertinya tidak mau kalah mencium seluruh wajah istrinya bertubi-tubi.


"Ekhemm! nyamuknya banyak banget ya," Sana pura pura menepuk udara berkali-kali. "Iya, terusin gih! pelukan aja teruss, nggak liat ada anak kecil di kacangin di sini," sungut Sana sambil bersendekap.


"Eh, Sana!" cengir Vinka setelah melepaskan pelukannya.


"Nggak usah peduliin gue," sungut Sana.


"Aaaa...makin cantik aja kalau gih ngambek," ganti memeluk Sana sekarang, hingga yang di peluk batuk batuk karenanya.


"Bimud, ya! mentang-mentang jadi orang gede, uhuk uhuk," berusaha menetralkan nafasnya kembali.


"Biar samaan dapet pelukannya, adilkan," mengedipkan matanya sebelah. "Sudah ayo masuk," kata Vinka kemudian sambil menarik lengan suami dan ponakannya.


"Mau minum apa, atau mau di bikinin apa, nih!" setelah mereka sampai di ruang tamu.


"Sayang, aku ke kamar dulu, ya! buat bersih-bersih," izin Riki yang mencuri cium istrinya sebelum pergi. Pipi Vinka bersemu merah. Untung saja Sana tidak melihatnya, mas Riki ih malu maluin aja.batin Vinka memegang pipinya yang terasa panas.


"Nggak usah repot Bimud," ucap Sana sambil duduk di sofa.


"Beneran nih!" tawar Vinka lagi.

__ADS_1


"Yah, air putih aja deh. Sama camilan kalau ada, terus buah juga kalau mau dan minumnya yang dingin ya jus jambu misalnya," ucap Sana. Posisinya wenak banget sekarang menyandarkan kepalanya di sofa dan kakinya di angkat ke atas meja.


"Wooi, nggak ada akhlak lu yah jadi tamu, sudah pesen banyak kayak di warung kopi, bibi buatkan apa yang di pesen sama Sana tadi, ya!" entah sejak kapan ART Vinka sudah berdiri tidak jauh dari mereka.


"Eh ini kaki malah nangkring kayak nggak pernah di sekolahin aja," memukul kaki Sana pakai tas yang di bawanya. Pura pura kok marahnya, bibirnya masih tetap senyum tuh.


"Habisnya enak banget Bimud selonjoran untuk meregangkan otot," nyengir kuda masih enggan menurunkan kakinya.


"Eh, kamu nginep sini aja, ya!" ucap Vinka sambil duduk di sebelah Sana.


"Nggak nggak, nggak mau! Sana nanti pulang," menurunkan kedua kakinya.


"Ayolah, biar nanti malam kita bisa jalan-jalan bareng," bujuk Vinka. Dia ingin sekali melihat seberapa jauh Sana sudah mulai move on dari masa berkabung.


"No, no, no! aku pulang, kasihan Rindi Bimud dia sendirian di rumah," Vinka cemberut dengan jawaban Sana.


"Ya udah, deh!" suara Vinka melemah karena kecewa.


"Tapi Sana bakal nginep kalau nanti Bimud punya baby," celetuk Sana.


"Yah, semoga saja ya Sana, aku sangat berharap bisa segera mendapatkan momongan, maka dari itu, aku mengikuti perintah papa untuk berobat keluar Negeri," ucap Vinka sambil menunduk, memainkan jemarinya.


"Bimud positif thinking aja, ya! aku yakin pasti Tuhan akan mendengar doa doa Bimud," hibur Sana, keduanya lalu berpelukan.


"So sweet bangeeeeeet, peluk pelukan gitu! ikut dong," ucap Riki yang baru muncul dari atas. Keduanya tersenyum sambil mengurai pelukan mereka.


~🍂~


Di kantor, semua nampak sibuk dengan kegiatan masing-masing tak terkecuali dengan Arjun dan Vino.


"Jadi, bagaimana menurut pendapatmu, Arjun?" yang di tanya nampak menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Saya mah tidak terlalu tahu sama hal yang begituan, Pak Bos!" harapan Vino musnah seketika.


"Kamu ini pernah jatuh cinta nggak seh, gitu aja nggak bisa di andelin," sungut Vino


"Ya, pernah! tapi..kalau soal memisahkan dua pasangan yang lagi di mabuk asmara," jawab Arjun. " Tapi menurutku ada jalan keluarnya seh!" ucap Arjun kemudian, matanya menyiratkan sesuatu yang menegangkan.


"Apa itu, cepat katakan,"


Bersambung

__ADS_1


Jangan lupa dukungannya ya.


__ADS_2