Ditakdirkan Mencintaimu

Ditakdirkan Mencintaimu
Sana di pecat


__ADS_3

"Mobil siapa, Mbak?" Rindi mengamati mobil mewah yang terparkir di depan rumahnya.


"Mana aku tahu?" ketus Sana. Sejak dari kantor sekolah hatinya belum saja membaik. Ada dua musibah yang menimpa dirinya hari ini. Pertama, dia di pecat dari pekerjaannya Dan yang kedua di putus sama pacarnya. Dan yang lebih menyakitkan adalah yang menjebak dirinya adalah pacar kekasihnya itu.


Bagaimana bisa proposal yang dia buat dengan susah payah telah di curi dan di ambil alih oleh pacarnya mantan kekasih.


" Ini semua gara gara penjambret itu, kalau handphone ku tidak hilang, aku pasti sudah tahu kejadiannya bakal begini. Aku di marahi sama pacar lagi. Ah ralat mantan pacar sekarang. Aku patah hati.." Sana menangis di dalam hati.


"Rindi dengan pelan masuk kedalam pekarangan rumahnya. Dia melihat ada pemuda tampan sedang bersandar pada tiang teras.


"Mbak ada tamu." ucap Rindi menggoyangkan lengannya. Sana masih setia memeluk erat Rindi seperti anak kecil yang berlindung di ketiak ibunya.


"Biarin, aku nggak mau ketemu sama orang lain. Aku masih patah hati. Dia yang aku cintai telah menduakan aku dan teganya memberi pekerjaan aku kepada pacarnya itu. Dasar kepala sekolah sialan.


"Sudahlah, Mbak. Besok daftar saja di sekolah aku, siapa tahu di terima." Saran Rindi.


"Nggak, aku nggak mau kerja aku mau libur saja dan ngemil biar gendut kayak istri Om Riki. Biar Om Riki cepat pulang saat melihat aku seperti istrinya itu," tanpa Sana sadari ucapannya membuat orang yang bersandar di kursi ayunan kepalanya mulai memanas.


Apa?, dia mau mengadu kepada Riki.


"Ya, kau saingi saja istrinya itu. Biar kau semakin di sayang dan istrinya kepikiran, pas pulang dia akan mendapati istrinya kurus kering sebab mengurus dirimu yang tidak berguna ini, Mbak." Rindi sebal juga akhirnya ikut menyalahkan si Om.


"Hai, kalian tidak lihat ada tamu di sini. Kalian malah asyik bicara berdua. Dasar pemilik rumah tidak tahu diri," sĂȘngol Vino yang sudah berdiri di hadapan mereka.


"Sana mendongakkan kepalanya setengah terpaksa "Sejak kapan ada istilah tuan rumah tak tahu diri, yang biasanya tidak tahu diri itu tamu yang tidak di undang terus marahin si pemiliknya," suara serak akibat menangis terdengar jelas.


"Luh, nangis, ya," Vino tertawa meledek melihat hidung Afsana bak tomat matang. "Gua fotoin, ah!" jadilah foto Sana yang lagi berantakan itu tersimpan di galeri Vino.


"Rambut semrawut, muka bodal badil gitu kok di foto. Nggak takut nanti handphonenya kaget terus kena stroke, Mas," Rindi jujur banget dari hati yang terdalam. Sana sampai setengah mati menahan amarahnya, akhirnya dia lampiaskan dengan pukulan di bahu Rindi.


"Demen banget nyiksa adiknya seh, Mbak?"

__ADS_1


"Makannya kalau ngomong di filter dulu, biar nggak bikin sakit di hati." Sana turun dari motornya dan membuka pintu rumah.


"Lho, pintunya nggak di kunci tadi," mulut Riyan mangap saja dan matanya berkedip beberapa kali.


"Awas, laler centil bisa masuk kalau ada goa, apalagi goa becek yang airnya hampir menetes, Tuh," ucap Rindi tersenyum jail.


Riyan secepat kilat menutup mulutnya dan mengusap mulut dengan punggung tangan miliknya.


"Berani sekali gadis ini ngerjain gua, Jangan panggil aku Riyan, kalau tidak bisa membalas nantinya." sungut Riyan dalam hati.


"Kita tidak di persilahkan masuk, nih? wooi." teriak Riyan. Beda sekali dengan Vino yang masuk rumah Sana dengan gaya coolnya. Vino langsung duduk di sofa dengan santainya.


"Hai, Tuan rumah yang baik dan dermawan. Kasih kita minum gih, haus ini," Rindi memutar bola mata malas. Lalu mengambil minuman dingin dari dalam kulkas.


"Air putih doang," Riyan mengernyit heran dengan kelakuan gadis tomboy di hadapannya ini.


"Minta minum, kan? mau tidak? kalau tak mau ya sudah, lagian air putih lebih sehat daripada air keruh," ucap Rindi menggoyang kan minuman yang berada di tangannya.


"Semua minuman selain air putih," jawab singkat Rindi.


Kini ruang tamu itu nampak hening sejenak. Sana keluar dengan pakaian yang baru. Rapat dua jam yang berakhir dengan pemecatan dirinya adalah hal terburuk yang pertama kali ini di jalani oleh Sana.


"Ada perlu apa sampai kalian berdua repot-repot datang kemari," kata Sana sambil mendudukkan bokongnya di sofa berhadapan dengan dua tamu tak di undang.


"Riyan, berikan apa yang menjadi tanggung jawab dirinya," titah Vino yang hanya di jawab anggukan saja.


"Apa apaan, nih," Sana melempar kertas tagihan pembayaran dirinya menginap di apartemen Vino.


"Tagihan, Luh menginap di apartemen gue lah," Vino menikmati wajah panik Sana.


"Pasti gadis itu akan memohon kepadaku. Apalagi dia sudah tidak punya pekerjaan tadi katanya."

__ADS_1


Vino berharap jika benar Sana di pecat dari pekerjaannya, dia bisa masuk sebagai dewa penyelamat lalu menjauhkan Riki dari gadis yang dianggapnya pelakor.


"Nggak mau, bukannya kemarin kamu sendiri yang menawarkan bantuan?" Sana sebenarnya pusing bukan kepalang. Bagaimana bisa dia melunasi uang sebanyak itu, terlebih dia sekarang pengangguran dadakan.


"Tidak ada yang gratis di dunia ini, Nona," Riyan sok bergaya menjadi penarik hutang yang baik.


"Tapi, aku tidak punya uang sebanyak itu? Apalagi sekarang, untuk makan saja bagaimana kedepannya aku tidak tahu, memikirkannya saja aku begitu pusing. Ditambah kalian ini yang seenak jidat minta upah sebab menginap. Dasar pelit," gerutu Sana.


"Riyan katakan yang lainnya." titah Vino.


"Nona, sebelum. hutang ini lunas, Tuan Vino akan memberikan anda fasilit berupa handphone pekerjaan yang baru untuk Nona, jika mau menurut sama Bos."


Sana termangu mendengar penuturan Riyan. Bencana apalagi ini, haruskah dia menerima tawaran dari Vino.


"Jangan mau, Mbak. Biasanya cowok itu modus mereka menggunakan segala cara untuk memperdaya kita kaum wanita." cegah Rindi sebelum Sana mengiyakan permintaan itu.


"Hai, jangan menuduh sembarangan, itu sama artinya dengan dengan fitnah yang kata Miss lambe turah "Fitnah lebih kejam dari pda pembunuhan," Riyan tidak terima.


"Gini saja, kau pikirkan tawaranku ini, aku akan tunggu sampai jam 12 malam." ucap Vino santai. Dia bahkan mengangkat salah satu kakinya.


"Riyan, berikan kepadanya. Yang tadi kita bawa."


"Ini Nona, hadiah kecil dari Bos Vino."


Sana langsung membuka kado istimewa dari Vino. "Handphone" Sana hampir saja berteriak kegirangan. Di saat dia kesusahan begini masih saja ada orang berhati malaikat yang mau memberinya ponsel secara cuma-cuma.


"Eits, tapi ini tidak gratis," Vino menarik kembali paper bag. Membuat lutut Sana lemas tak berdaya.


"Tidak sekalian kau cekek aku di sini


**Bersambung....

__ADS_1


Jangan lupa dukungannya shoob**


__ADS_2