
Vino hanya duduk diam di sofa sambil menyaksikan aktivitas semua orang. Mereka tampak asyik bercanda dan tertawa. Keluarga besar Bravo berkumpul.
"Aku tidak menyangka acaranya akan sebesar ini," ucap salah satu saudara perempuan sebaya dengan Maria.
"Aku ingin mereka tahu, bahwa diantara mereka semua adalah saudara mereka satu darah. Mereka harus senantiasa bahu membahu dan bekerja sama, saling tolong menolong. Bravo akan tetap jaya jika semuanya bersatu."
Perempuan yang memiliki dua warna rambut itupun mengangguk. Memang saudara di depannya begitu berkharisma. Jiwa kepemimpinannya begitu disegani semua kalangan. Randika Jizzy memang patut di jadikan panutan.
"Kau sudah berbuat banyak untuk kejayaan Bravo, Kau bahkan membawa Bravo pada masa kejayaan, Bravo bisa menentukan jalannya sendiri sekarang. Lalu, apa kau akan benar-benar Vakum?"
"Tentu saja, buat apa aku didik para pemuda itu, jika di masa tua aku tetap yang bekerja keras," canda Maria sambil tergelak yang langsung disusul tawa wanita di hadapannya.
"Flo, apakah kau sudah menemukan petunjuk tentang keberadaan cucumu?" tanya Maria. Maria menatap dalam manik wajah sepupunya yang bernama Flora itu. Flora hanya mendesah.
"Entahlah, aku sudah melakukan berbagai cara untuk bisa menemukan cucuku. Tapi ... hasilnya nihil."
"Apa kau perlu bantuan?" Flora mendongakkan kepalanya, membalas tatapan Maria.
"Apa kau pikir aku tidak mampu?"
"Hai, kau semakin tua semakin sensitif sekali!" cibir Maria sambil berdecih.
"Kau ingin aku selalu berhutang budi kepadamu?" Flora tergelak Maria juga tertawa setelahnya. Maria tahu benar, jika Flora adalah orang yang mandiri sejak remaja. Flora tidak pernah mau merepotkan orang lain, termasuk sahabat juga saudaranya Maria.
Kumpulan para pemuda membahas hal yang berbeda. Mereka tak henti-hentinya saling melempar ejekan dan canda tawa.
"Random, kusut banget muka Luh!" sapa Kevin yang baru saja datang. Kevin memamerkan tunangannya di hadapan teman-temannya dan semua orang.
"Putus sama pacarnya haha," Dava sang adik membuka kedok dibalik kekusutan wajah sang kakak.
"Kapan Luh bisa setia sama satu wanita hah?" Renald melempar biji anggur yang dimakannya ke wajah Random.
__ADS_1
"Lalu dimana Mike?" Vino menggoyangkan sedikit gelas di tangannya lalu meneguk sedikit minuman beralkohol itu.
"Entahlah, tuh bocah tidak pernah datang tepat waktu. Selalu saja terlambat."
"Eh itu Si Indra kemari," timpal Random tiba-tiba yang membuat para pria itu diam seketika. Indra berjalan semakin dekat ke arah mereka.
Indra adalah teman dan juga saudara Vino sama halnya dengan yang lain. Tapi Indra pernah membuat Vino begitu marah. Waktu itu Indra yang tidak tahu jika Sima adalah tunangannya Vino. Indra pernah ketahuan menghabiskan malam bersama Sima di sebuah kamar hotel.
Indra sang Cassanova yang sering menghabiskan malam di bar. Tentu saja paham benar dengan orang yang masuk dan keluar bar dan juga profesi mereka di sana. Sima adalah termasuk wanita yang rela menyerahkan mahkotanya hanya karna uang. Dia sering di sewa oleh para pengusaha untuk menarik simpatik klien mereka, agar kontrak bisnis berjalan dengan mulus.
Tak jarang Sima mendapat bonus yang besar jika kontrak itu berhasil didapatkan. Atau hanya bersenang-senang dengan teman satu malam untuk mencapai kepuasan. Sima memberi kenikmatan kepada siapa saja yang mampu membayar mahal tubuhnya.
Sampai pada akhirnya, Indra sang Casanova itu mengetahui jika Sima bertunangan dengan Vino, cara Indra membongkar kebusukan Sima memang salah, telah berbuat nekat dengan menjebak Sima di dalam sebuah hotel.
Vino yang merasa di khianati tentu marah besar. Bahkan membuat Indra babak belur di kamar hotel itu.
"Itu dia si Badboy datang." Vino berdecih dan memalingkan muka. Enam bulan telah berlalu, Indra sudah menanti kesempatan ini untuk meminta maaf kepada Vino. Sebab di saat seperti inilah, Vino akan lebih bisa mengontrol emosinya. Berharap hubungan yang retak bisa sedikit bersatu walau tidak sepenuhnya kembali ke wujud aslinya.
"Halo semuanya! Apa kabar!" Sapa Indra kepada semua orang.
"Maafkan Saya Vino," ucap Indra di hadapan para teman-teman. Semuanya saling menatap tegang.
"Terserah apa kau masih marah atau tidak, aku lakukan semua itu untuk kebaikanmu Vino," Indra bukan pengecut yang akan lari atau sembunyi dari masalah. Dia malah semakin gencar mendekati Vino dan bertanggung jawab atas perbuatannya. Bahkan sekarang dia duduk di samping Vino.
"Kau tidak takut mati!"
"Buat apa takut. Toh memang semua orang akan mati." balas Indra. Vino berdecih.
Pantas saja dia terus berbuat seenaknya. Matipun dia tak takut. Dasar bajingan. umpat Vino dalam hati.
Vino yang masih kesal dengan tingkah sahabatnya itu memilih pergi. Bukan karna masih mencintai Sima, tapi karna merasa jengkel akan kelakuan Indra yang seakan-akan tidak menghargai dia sebagai sahabat.
__ADS_1
"Vino, kau mau kemana?" sergah Arnold yang mengerti akan kekesalan Vino. Tidak semudah itu memaafkan seorang penghianat, apalagi orang itu sangat dekat dengan kita.
"Toilet!"
Vino berjalan santai menuju rumah dengan tangan yang di saku. Dia terlihat cool. Melewati beberapa orang yang menyapanya ketika dia lewat. Kini dia sampai pada kumpulan ibu-ibu dari keluarga Bravo. Dia juga melihat ada mamanya di sana.
"Hai tampan, kau mau kemana? Hemmh?" Bibi gendut itu adalah ponakan Maria. Kini dia bergelayut manja di lengan Vino. Tangannya mengelus rahang Vino dengan lembut.
"Tante aku_"
"Kau tampan sekali, dulu kau begitu menggemaskan dengan tubuh Gembul. Sekarang kau mempesona dengan dada kerasmu ini," wanita itu menepuk-nepuk dada Vino. Vino hanya tersenyum garing.
"Kenapa kau gugup seperti itu? Pantas saja kau ini masih bujang. Lihatlah, dia tidak bisa mengahadapi seorang wanita." ledek mamanya Kevin. Vino mendengus dalam hati. Anak dan ibu sama saja.
"Biasa itu mah masih perjaka, nanti kalau sudah waktunya, dia akan mengurung seorang gadis seharian di dalam kamar," ledek yang lainnya lagi dan diikuti oleh gelak tawa yang lain.
"Maaf ya, Bude, Tante, Bulek Vino mau kebelakang dulu. Kebelet!" ucap Vino langsung pergi dari kerumunan mak-mak itu.
"Dia tetap menggemaskan seperti waktu kecil." wanita gendut itu tergelak.
"Kalian keterlaluan, selalu saja menggoda putraku yang berhati suci itu," Raya pura-pura marah pada semua orang. Tetapi mereka malah tergelak semua.
Sedangkan Sana kini dia baru saja keluar dari kamarnya. Gaun simpel berwarna putih itu, membuat kecantikan Sana semakin terlihat.
"Apakah aku harus kesana?" gumam Sana masih setia berdiri di ujung tangga.
Beberapa kali ponselnya bergetar, pesan dari Saras yang menginginkan dirinya segera sampai di tempat acara.
"Baiklah, aku akan pergi kesana!" Sana mengetik kata itu di ponselnya lalu send.
"Hai manis, kita ketemu lagi di sini!" Sapa seseorang yang membuat Sana diam di tempat. Sana kembali mengalami kesulitan mengenali wajah pria yang berada di hadapannya.
__ADS_1
"Siapa kau?" tanya Sana.
Bersambung....