
Ketukan pintu membuat seseorang bangkit dari ranjangnya meski dengan sedikit malas.
"Siapa?" Masih enggan bangun, bahkan matanya belum terbuka sempurna.
"Ini aku, Sana!" Hening beberapa saat. "Aku masuk ya?" pinta Sana, lebih tepatnya sebuah izin.
"Apa tidurmu nyenyak?" Meletakkan susu hangat diatas nakas. Sana kemudian duduk di tepi ranjang di mana Faza masih bergelung dengan selimutnya.
"Yah, lumayan!" merenggangkan otot-otot hingga terdengar gemeletuk saat Faza bergerak.
"Tumben Cecan pagi-pagi kemari?" Faza mulai menepi dan duduk sejajar dengan Sana. Dengan lembut Sana menyerahkan gelas itu untuk Faza.
"Faza, aku ingin kau jujur kepadaku, kemana Rindi dan dirimu pergi kemarin? Aku curiga jika ada hal serius yang disembunyikan oleh Rindi. Dan kau pasti tahu itu." tuduh Sana. Terlihat jelas Faza menunduk sehingga Sana semakin yakin akan kecurigaannya.
Faza sudah menduga dalam pikirnya, pasti Sana akan menanyakan hal ini. Tapi tidak juga di pagi buta beginikan?
"Cecan ini. Tidak ada apapun, kami hanya bertengkar seperti biasa layaknya anak muda! Ada kesalahpahaman diantara para geng motor yang membuat kami harus mempertahankan daerah kekuasaan." jawab Faza asal. Membuat Sana geram di dalam hati.
"Kau jangan mengelak Faza, atau aku akan meminta bantuan kepada Vino. Aku tahu, ada sesuatu yang disembunyikan oleh Rindi. Dan sebenarnya kau tahu itu. Aku juga dengar waktu itu Rindi mengajarimu style bermotor dan Rindi tudak mau dibayar dengan uang."
"Apa Cecan mendengar semuanya?"
"Ya! Dan katakan kebenarannya sekarang, atau aku akan mencari tahu sendiri dengan melibatkan Vino." ancam Sana menunjuk wajah Faza, bahkan rambut tak gatal milik Faza itu menjadi pelampiasan sang empunya.
"Cecan, kenapa seolah aku merasa tersangka? Aku mana tahu perihal Rindi, lagian aku cuma berlatih motor, bukan bergosip." elak Faza.
"Faza, aku mohon!" Sana menghiba dan menarik tangan Faza.
"Tapi Cecan, aku benar-benar tidak mengerti apa yang Cecan maksud." Sana menatap dalam-dalam wajah Faza. Sepertinya Sana percaya, membuat Faza menghembuskan nafasnya.
"Ini tentang Rindi yang seperti-nya memiliki sebuah rahasia besar. Aku menduga, kau pasti tahu itu!"
"Kalaupun iya, kita tidak berhak untuk ikut campur kan Kak! Rindi sudah dewasa, pasti dia akan bisa mengatasi masalah ini tanpa bantuan kita."
"Faza ... ah sudahlah percuma saja aku menemuimu!" Sana cemberut lalu keluar dari kamar Faza dengan muka masam, Sana juga membanting pintu kamar Faza dengan kuat.
"Ngeri banget kalau marah! Hii. Mending aku lanjutkan tidur ah!" Faza merebahkan tubuhnya kembali. Lupa sudah pada segelas susu yang dibawa oleh Sana sebagai alasan untuk menemui Faza.
✓✓✓
Di kantor, seseorang terlihat uring-uringan dengan banyaknya jumlah berkas yang menumpuk. Rencananya pagi ini dia ingin menemui sang pujaan hati, namun akhirnya di batalkan sebab klien penting yang mendesak untuk segera bertemu.
"Kayaknya langit tidak secerah kemarin ya Bos!" ucap Arjun menyindir Vino.
"Hemmmh!"
Masih sibuk memeriksa setiap map yang diambilnya, lalu membubuhkan tanda tangan.
__ADS_1
"Bos, lima belas menit lagi kita harus keruangan rapat. Ada temu janji dengan investor kita yang berasal dari Singapura."
Vino menghela nafas berat. "Apa tidak bisa diundur?"
"Maaf, Tuan! Tapi, kita sudah membatalkan janji sebelumnya. Akan terlihat sekali, bahwa kita bisa saja dianggap lalai, dan tidak profesional."
"Baiklah, aku akan memimpin rapat kali ini." ucap Vino yang malah membuat Arjun diam mematung.
"Apa bisa?"
"Kau meremehkan kemampuanku?" tanya Vino balik.
"Sepertinya kau dalam dilema!"
"Pergilah, dan siapkan semuanya. Aku akan memimpin rapat." titah Vino.
Arjun akhirnya membalikkan badan dan keluar. Setelah memberi salam tentunya. Vino mengacak rambutnya frustasi.
"Apakah aku harus memaksa Sana untuk menikah denganku tanpa sepengetahuan Riki sialan itu!" gumam Vino kemudian.
Kemarin malam, Vino merasa bahwa misinya untuk mendapatkan restu akan berhasil. Tapi nyatanya, Riki masih teguh pada pendiriannya.
Malam itu, makan malam telah diselenggarakan. Vino dan Riki menyantap segala menu yang tersaji dengan santai dan saling melemparkan canda tawa.
Flashback
Seketika tangan Vino terkepal kuat. Darahnya terasa mendidih, ternyata jalan yang dia anggap lurus rupanya berliku dan masih banyak tanjakan. Haruskah dia menaklukannya? Tentu saja. Vino adalah tipe orang yang menyukai tantangan, semakin dilarang, dia akan semakin gencar untuk berusaha.
"Aku tidak peduli. Sekuat apapun kau menolak, maka sekuat itu pula aku akan berusaha untuk mendapatkan Sana. Jika kau tidak merestui, maka jangan salahkan aku, jika menggunakan segala cara untuk mendapatkannya."
"Aku tidak percaya!" ejek Riki. "Berusaha saja kalau bisa!" Guratan senyum dibibir Riki sungguh penuh dengan ejekan yang membuat tubuh Vino semakin memanas.
"Akan aku buktikan!" tegas Vino.
"Omong kosong!"
"Kau menantangku?"
"Terserah!"
Riki menggidikkan bahunya acuh. Sesekali Riki menikmati dessert yang tersisa di hadapannya. Sedangkan Vino sudah tidak berselera sejak Riki masih mengibarkan bendera perang.
"Kau iparku, tapi kenapa kau begitu sulit percaya kepadaku?"
"Apakah kau baru menyadarinya?"
Ya, sejak awal Riki dan Vino memang tidak begitu akrab. Semua yang terlihat hanyalah sebagai formalitas sebagai Saudara ipar. Selain itu, mereka jarang berkomunikasi dan meluangkan waktu santai seperti yang tengah mereka lakukan.
__ADS_1
Hening
"Apakah ada alasan lain yang membuatmu melarang hubungan ini?" tanya Vino pada akhirnya, setelah emosinya mereda.
"Tidak ada!"
"Ayolah Iparku, katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi. Hingga kau mempersulit hubunganku dengan Sana?"
Riki hanya terdiam menatap nanar segala arah.
"Apakah itu perlu bagimu?"
"Sangat! Sudah berulang kali aku jelaskan padamu, aku sangat mencintainya."
"Vino, jika suatu saat Sana tidak mengenali dirimu, apakah kau akan masih mencintainya?"
"Lelucon macam apa itu? Tentu saja! Apakah kau berpikir cintaku hanya main-main?"
"Aku serius Vino!"
"Aku bahkan lebih serius darimu!" Tidak kalah tegasnya dari yang Riki ucapkan. "Apa kau pikir aku tidak tahu apa yang dialami oleh Sana?" Vino mengambil minuman di meja dan meminumnya pelan, agar emosinya sedikit menurun. Entah kenapa dia selalu bersitegang jika bertemu dengan Riki.
"Jelaskan!"
"Aku tahu benar apa yang menimpa Sana di kampungnya. Si mata duitan itu sudah memperdaya Sana, hingga mendapatkan tuduhan keji."
"Kau yang membantu Sana menyelesaikan masalah itu?" tanya Riki.
"Kau pikir apa? Aku kurang kerjaan hingga harus mengurusi anak orang?" tanya balik Vino, pura-pura tidak tahu. Senyum samar tercetak di bibir Riki.
Hening kembali, bahkan Riki terlihat masih enggan mengucapkan restunya. Vino melirik jam ditangannya.
"Sebaiknya aku permisi. Percuma di sini hanya membuang-buang waktu saja. Dengan ataupun tanpa izinmu, aku akan tetap menghalalkan Sana. Terserah kau mau berbuat apa! Tapi aku tetap akan pada tujuanku. Persetan dengan doa restumu yang tidak penting itu."
"Hai, nikahmu tidak akan sah tanpa seorang wali,"
"Sekarang banyak wali hakim! Aku hanya perlu membujuk Sana." Senyum ejekan Vino mengakhiri perdebatan mereka.
Sekarang, Vino menghembuskan nafasnya. "Kenapa aku merasa bahwa cintaku adalah sebuah tantangan?" gumam Vino.
Tak berapa lama, terdengar suara pintu diketuk, datanglah Arjun.
"Bos, rapat sudah siap kita mulai."
"Baiklah!"
**Bersambung......
__ADS_1
Jangan lupa dukungannya ya, mohon tinggalkan jejak. Terimakasih 😊**