
...“Jauhilah kalian dari kebanyakan persangkaan, sesungguhnya sebagian prasangka adalah dosa” (QS. Al-Hujuraat: 12). “Jauhilah prasangka, karena prasangka itu adalah perkataan yang paling dusta” (HR. Bukhari-Muslim)"...
...Kayak e si Vino perlu di cekoki sama hadits ini deh!...
...🍂🍂🍂🍂🍂...
"Riki, Kamu di sini? lalu Vinka sama siapa?" tiba-tiba ada sebuah suara yang mengagetkan mereka berdua.
"Apa hubungan kalian berdua? apakah selingkuh?"
deg...
"Eyang," Riki tampak senang bertemu dengan nenek dari istrinya. Nenek tercantik yang pernah dia temui di jagat raya ini. Iyalah orang-orang saja memanggilnya dengan sebutan Madam.
"Eyang apa kabar?" memeluk nenek mertuanya dengan sayang.
"Kabar baik, Kamu juga apa kabar? lama tidak berjumpa dengan Kamu? dan maafkan Eyang, waktu itu tidak ikut melayat ke rumah kakakmu," Maria menepuk bahu Riki dengan lembut.
"Hai, kau Sana, kenapa bisa bersama Riki?" heran Saras menatap Sana dan Riki bergantian. Riki tersenyum kemudian menarik lengan Sana sejajar dengannya.
"Apa Madam lupa siapa dia?" tanya balik Riki.
"Maksud, Kamu?"
"Waktu Riki masih pacaran sama Vinka. Riki juga beberapa kali bawa Sama ke rumah Eyang lho," Maria menatap lekat wajah Sana. Pantas saja dia merasa tidak asing dengan wajah gadis yang berada di hadapannya.
"Ternyata dia masih saja, jadi gadis bodoh, ya," Maria tersenyum tipis. Waktu itu Sana sering datang bersama Riki dengan pakaian seperti pria, alias tomboy. Dan sekarang, gadis itu berubah menjadi gadis yang feminim dan sedikit pemalu. Tapi juga sedikit bodoh atau polos entahlah.
"Madam kok selalu bilang Sana bodoh, seh," Sana cemberut. Walau betul, tapikan dia tetap nggak terima. Mana ada orang mau di cap bodoh.
Aku kan pelupa, aku memang sulit banget mengenali sosok orang lain. batin Sana.
__ADS_1
"Tentu saja, buktinya kamu tidak jujur kepadaku siapa kamu sebenarnya. Mau saja dicalonkan pembantu sama orang lain. Apa namanya kalau bukan bodoh," tegas Maria sambil menaikkan satu alisnya.
"Maaf, karna aku memang sulit mengenali sosok wajah orang yang jarang aku temui," ucap Sana.
"Iya, Madam Eyang, ternyata Sana pernah mengalami kondisi yang bisa menyebabkan seseorang merasa sulit untuk mengenali dan mengingat wajah seseorang. Kondisi tersebut dinamakan prosopagnosia. Prosopagnosia alias face blindness adalah kondisi yang terjadi karena ada kelainan pada sistem saraf, kami sudah berusaha semampu kami untuk menyembuhkan Sana. Walau tidak bisa sembuh seratus persen, tapi Sana sekarang sudah lebih baik 85%."
Maria menghembuskan nafasnya berat "Masih muda sudah punya penyakit pikun," cibir Maria. Sana melototkan matanya tajam.
"Tapikan, sekarang sudah sembuh," lirih Sana. "Sana juga masih ingat kok, Madam pernah kasih cincin ini sama Sana. Waktu itu, Madam baru pulang dari Australia," Maria tidak menyangka, jika Sana mengingat hal itu. Berarti barang itu sangat berharga bagi Sana. Sebab waktu itu Sana masih dalam pemulihan saraf.
"Untung Madam lebih tahu dari awal, ya Madam," celetuk Saras. Yah, malah buka rahasia Saras langsung menutup mulutnya mendapat pelototan dari Madam.
"Tahu apa?"
"Madam sudah mengenali jika dia adalah Sana keponakanmu, kalau tidak, pasti dia sudah menjadi pembantu."
"Pembantu?" Riki belum bisa mencerna ucapan Saras.
"Tapi, Eyang, Vinka ingin bertemu dengan dirinya," terang Riki.
"Besok saja biar dia datang bersamaku. Dan ingat, jaga baik-baik cicit aku," Riki melongo dibuatnya. Eyang Madam memang luar biasa dia tahu segalanya entah darimana.
Apa dia punya mata-mata?
"Hai, jangan berpikir yang macam-macam. Kurang kerjaan apa, aku memata-matai orang lain. Tadi Vinka yang telpon dan kasih tahu semuanya. Selamat, ya!" Maria menepuk bahu Riki pelan.
"Cepat pulang sana, kasihan istri Kamu sendiri di rumah." titah Maria. Sana masuk ke dalam mobil dan betapa terkejutnya dia di sana ada Faza yang terlelap di bangku belakang.
"Dia itu *****. Sekali nempel langsung molor," ucap Saras menjelaskan.
"Bukan itu, maksudku_"
__ADS_1
"Vino meninggalkannya," Saras lagi yang menjawab.
"Sudah, nanti saja dilanjut bicaranya. Sekarang jalankan dahulu mobilnya aku sudah lelah," titah Maria "Lihatlah cucu yang paling manja ini, dia bahkan tidak bangun saat kita berhenti. Nanti kalau sampai rumah, biarkan saja dia tidur di dalam mobil," Saras langsung tertawa senang. Sepertinya dia tidak akan repot-repot membangunkan Si ***** yang satu ini.
Di tempat lain. Vino nampak kacau dia tidak pulang ke rumah tapi ke apartemen miliknya dan lucunya lagi, Vino malah pergi ke kamar yang pernah ditempati oleh Sana.
Pagi harinya, Vino melihat Sana yang nampak cantik dengan dress merah maroon dengan panjang mencapai lutut. Sana begitu sibuk sampai-sampai tidak menyadari kehadiran Vino.
"Hai, Bidadari, lagi ngapain?" bisik Vino tepat di telinga Sana. Membuat bulu kuduk Sana merinding. Vino lalu membelitkan kedua lengan kekarnya di perut Sana, setelah itu mencium pipi Sana dan menenggelamkan wajah di ceruk leher Sana. Beberapa bunga bahkan sampai menunduk malu melihat romantisnya mereka berdua.
"Sayang, kamu ih. Pagi-pagi sudah gangguin saja iseng banget deh," Sana terlihat malu-malu. Jangan ditanya lagi, sekarang wajahnya memerah.
"Biarkan seperti ini, aku rindu banget sama Kamu," Vino semakin mengeratkan pelukannya. Keduanya asyik menikmati kebersamaan mereka.
"Kita setiap hari ketemu, lho. Masih saja bilangnya rindu. Kelihatan bohong banget ih. Dimana-mana kalau ketemu tiap hari tuh pasti bosan yang ada."
"Itu kalau mereka yang tidak saling mencintai seperti kita. Aku sangat mencintaimu makannya selalu rindu dengan Kamu, dan tidak bisa jauh barang sedetikpun," gombal Vino. Aktivitas Sana pun terhenti sebab ulah Vino.
"Sayang, bagaimana kalau ada yang melihat kita seperti ini nanti?" ucap Sana berusaha melepaskan pelukan Vino.
"Diamlah Sayang, dan nikmati kebersamaan kita ini," Vino seperti lem saja nempel melulu.
"Bagaimana nanti kalau ada Eyang, aku malu ah!" Sana menutup mukanya dengan kedua telapak tangan.
"Tenang saja nggak bakalan ada yang lihat," bisik Vino. Tanpa mereka sadari ada seseorang yang berkacak pinggang di belakang mereka berdua.
"Owh, pantesan dipanggil dari tadi nggak ada yang jawab ternyata di sini hah? enak banget Kamu, ya! main cium dan peluk anak orang. Tanggung jawab kamu nikahin dia," perasaan Vino dirinya sudah sah jadi suami Sana. Tapi kenapa Eyangnya marah, ya?
"Ampun Eyang, jangan dipukul Eyang, ampun!"
Brukkk, Vino jatuh dari tempat tidur dia meringis kesakitan. Kemudian mengusap wajahnya kasar setelah nyawanya terkumpul.
__ADS_1
Bersambung......