
"Tidak ada!" ucap Mike dan Rindi serentak.
Vino memicingkan alisnya, heran. Tangan Rindi masih menggantung di leher Mike.
"Kau mau menggoda iparku?" menarik Rindi, dan menarik gadis itu menjauh dari Mike. "Kakakmu ada di dalam. Dia baru saja makan." Vino menggeser tubuhnya, memberi jarak agar Rindi bisa masuk.
"Eits mau apa kamu?" Vino menghalangi tubuh Mike.
"Masuklah!" Vino tetap menghalangi, bisa berabe jika Mike masuk ke dalam, sebab kondisi Sana yang tadi hanya memakai kimono. Dia saja bisa panas dingin saat melihat hal itu, apalagi Mike yang terkenal Cassanova. Padahal, hal itu belum tentu terjadi. Pikiran Vino saja yang terlalu berlebihan.
Enak saja dia mau masuk, mau mengintip istriku?
"Sebentar, kita bertemu di luar."
Bram
Vino menutup kasar pintu hotel.
"Dasar prosesif, pasti dia sedang menyembunyikan sesuatu." Mike bersandar pada dinding depan pintu. "Sana, Sana, bukankah gadis itu partner kerja Vino? Cantik juga seh." Membayangkan wajah cantik Sana saat mereka bertemu pertama kali di mall, kemudian Mike melihat dasinya yang belum terpakai. Percuma saja pakai dasi, dia tidak bisa melakukan itu tanpa dibantu orang lain. Alhasil Mike melemparkan benda kecil itu sembarang arah.
"Sana Sayang, aku keluar sebentar ya, ada meeting dengan Mike, secepatnya aku akan kembali." Mencium puncak kepala Sana. "Untuk sementara kau bisa lepas dariku, tapi tidak untuk nanti malam." Bisik Vino.
Keadaan kamar sudah rapi seperti sebelumnya.
"Vino! Kita ketemu di bawah saja. Aku juga ingin menemui seseorang." Vino menghentikan langkahnya. Menatap Sana, lalu mengelus pipi istrinya "Baiklah." Rindi yang nampak was was, akhirnya tersenyum.
"Jaga kakakmu dengan baik!" Vino memasukkan tangan kanannya dengan gaya yang keren.
"Siap!"
"Dan kamu Sayang, bajumu ada di lemari itu." Sana melotot dibuatnya. Vino menunjuk sebuah lemari paling bawah.
"Jadi, kau tadi berbohong kepadaku?" geram Sana yang hanya di tanggapi ciuman jauh dari Vino. Sejak tadi Sana ingin berganti pakaian, tapi Vino selalu berdalih bahwa pakaian Sana belum juga di kirim.
"Ekhemm!" Rindi pura-pura.
"Apa!"
"Sepertinya ada yang mandi basah nih! MP jadi dong?" Rindi mengedipkan mata menggoda.
"Nggak ada MP adanya PP." sarkas Sana.
"Aneh banget istilahnya." Rindi seolah berpikir.
"Iyalah, anak kecil mana ngerti?" Ucap Sana mencari benda yang dia butuhkan sekarang ini.
"Apa tuh PP?" Rindi semakin bingung.
__ADS_1
"Rahasia!" Sana masih terus saja mencari, "Ketemu!" tenyata baju itu berada di tempat paling bawah yang tidak mungkin terpikir oleh Sana sebagai tempat pakaian.
Kurang kerjaan banget si Vino. Dengan dongkol Sana mengambil paper bag dan segera mengeluarkan isinya untuk dipakai.
"Pasti suamimu itu mau minta lagi, makannya nggak ngebolehin kakak pakai pakaian." Celetuk Rindi.
"Ah, masak kayak gitu." Pintu lemari belum tertutup sempurna, tanpa Sana sadari, ada kain putih yang jatuh dari dalamnya.
"Ini apaan?" curiga dengan apa yang dilihatnya, Sana hendak meraih benda itu.
"Cepetan kak, Rindi sudah tidak tahan ini lapar banget." Sana hanya memasukkan kain itu kembali, tanpa melihat lebih teliti.
"Ih, kebiasaan! Kalau nggak betah lapar, kenapa tidak sarapan di rumah?"
"Nggak sempat. Sudah ayok jalan!" Menarik lengan Sana.
Sana dan Rindi berjalan santai menuju restoran terdekat dari kamar Sana dan Vino. Kini mereka sampai pada sebuah meja dimana ada seorang pria paruh baya tengah menunggu mereka.
"Maaf kak, Rindi tidak bilang dari awal. Rindi dan Papa hanya ingin menjelaskan sesuatu." Rindi menundukkan wajahnya. Sana mencoba berdamai dengan keadaan.
"Kalian sudah sampai! Apa kabar kalian?" Raga. Iya, dia adalah suami Risya, ayah kandung Rindi. Banyak pertanyaan muncul di otak Sana, dia menduga-duga dalam hati, apa yang akan pria ini bicarakan kepadanya.
"Sesuai dengan yang papa perintahkan." Ucap Rindi dengan wajah datarnya. Sana kurang jelas melihat bagaimana wajah pria dihadapannya, tapi dia tahu bahwa itu ayah barunya.
"Kalian duduklah." ucap Raga, menghela nafas sejenak. "Sana, maafkan Om, karena telah menyuruh Rindi membawamu kemari."
Raga merapikan duduknya, kemudian menatap Sana dan Rindi bergantian.
"Om minta maaf atas semua yang telah terjadi. Mama sebenernya tidak bersalah. Mamamu memang kurang sedikit." Menyatukan jari telunjuknya dengan jari jempol. "Mungkin ayahmu juga tahu yang sebenarnya, bahwa mama kamu, bukanlah wanita yang memiliki pemikiran seperti wanita lain."
"Apa maksud Om?" kata Sana
"Saat itu, saat yang sulit untuk hubungan mamamu. Risya menolong Maria, wanita yang saat itu aku sandra. Saya berpikir, Risya memiliki ikatan darah dengan Maria, jadinya aku membebaskan Maria dan tetap menyekap Risya, agar bisa mengancam Maria melalui Risya. Saat itu sedang berlangsung pertikaian diantara kami para pewaris Bravo. Saling menggulingkan kekuasaan satu dengan yang lainnya," ucap Raga, lalu meneruskan cerita.
"Singkat cerita, saya jatuh cinta kepada Risya, saat mamamu menjadi tawananku, dia selalu saja meminta izin pulang agar bisa bertemu dengan anaknya. Mamamu wanita yang polos dan begitu menarik di hatiku, suatu saat saya izinkan Risya pulang dan mengorbankan perasaan saya. Saya mengantarkan dirinya sampai di depan rumahnya, dan Risya turun dengan bahagianya."
Setiap hari saya melihat ke arah rumah Risya, berharap bisa melihatnya walau dari jauh. Hingga suatu hari, saya melihat Risya diseret oleh suaminya sendiri yaitu ayah kamu. Ada orang ketiga diantara hubungan ayahmu dan Risya. Ayahmu mengatakan talak dan Risya tidak bisa menerimanya. Risya sampai bersujud kepada ayahmu agar tidak menceraikan dirinya. Tapi ayahmu yang keras kepala, tidak mau juga berubah dan mendengarkan. Bahkan saat saya datang meminta agar mengiklaskan Risya untuk saya, ayahmu malah memberikan begitu saja. Tentu saya sangat senang.
Dan sejak saat itu, Risya mengalami gangguan jiwa. Ayahmu bahkan tidak peduli, saat saya mengatakan kebenarannya. Ayahmu malah melayangkan gugatan, dan berakhir dengan perceraian. Sejak saat itu, Risya penyakitnya semakin parah. Bahkan Risya tidak sadar keadaan dirinya sendiri. Saya yang selalu ada untuknya, menginginkan kesembuhan dirinya, sekuat tenaga untuk bertahan di sisinya. Bahkan saya harus melawan orang-orang yang saya cintai. Dan membuat kerajaan saya sendiri.
Lima tahun lamanya, waktu yang saya butuhkan untuk menunggu Risya, dan bisnis yang saya rintis dari nol membuahkan hasil. Risya yang sembuh, sekali lagi menemui ayahmu, sakit hati saya, saat tahu akan hal itu. Dan lagi-lagi Risya terluka. Ayahmu tetap membuang dirinya. Bahkan hak asuh anak jatuh ke tangan ayahmu. Mamamu kembali lagi mengalami depresi, lupa akan dirinya dan semua orang. Kembali lagi mengalami perawatan.
Beberapa bulan kemudian, Risya sembuh, meski keadaannya tidak bisa normal seperti semula. Beberapa saraf di otaknya tidak bisa berfungsi dengan baik, sehingga dia menjadi berbeda dari yang seharusnya. Aku mengantar dia menemui anaknya tapi dia berlari lagi kepadaku, dan bilang tidak mau lagi sakit. Setiap melihatmu, dia selalu kesakitan. Dia juga bilang benci kepada wanita yang selalu menerornya."
Sana mengusap air matanya yang sejak tadi tidak berhenti menetes. Rindi juga melakukan hal yang sama.
"Apakah sampai sekarang, mama masih merasakan kesakitan itu?"
__ADS_1
"Masih!" Lirih Raga kemudian mengusap pelupuk matanya dengan gaya coolnya. "Dia selalu membuat jarak diantara kalian. Dia menginginkan dirimu, tapi juga membenci hati dan perasaannya yang tidak bisa melupakanmu. Dia bilang, terlalu lelah dengan semuanya. Bahkan saat dia melahirkan kedua adikmu. Kejiwaannya kadang kambuh dan itu yang membuat saya harus memisahkan mereka. Risya terlalu prosesif, bahkan kadang tidak membiarkan siapapun memegang anaknya, tapi dia kadang lupa bahwa anaknya butuh makan dan minum."
"Apakah Mama bisa sembuh?" Ucap Sana kemudian.
"Kata dokter, itu tergantung dari keinginannya untuk berdamai dengan masa lalunya."
"Sampai sekarang, mama terlihat normal, tapi diwaktu tertentu, mama bisa menjadi sosok yang menyebalkan. Tapi aku pernah membaca buku diary mama keinginan terbesarnya adalah ingin anaknya memaafkan dirinya." Rindi memegang tangan Sana.
"Apakah itu alasanmu untuk mendekati aku?" Tebak Sana yang diangguki oleh Rindi.
"Dasar Kamu!"
✓✓✓
Hembusan angin menerpa lembut kulit, hawanya yang sejuk menenangkan hati yang gundah.
"Istri cantikku ini lagi ngapain di sini hemmh?" Sana tersentak, namun selanjutnya tersenyum bahagia.
"Udaranya begitu sejuk."
"Sepertinya hatimu juga sejuk!" memegang tepat di dada Sana, meremas dua aset yang menurutnya paling berharga. "Vino, kau nakal sekali." memukul manja tangan Vino yang liar, dibalas tawa bahagia Vino.
"Biar nakal begini, tapi kamu suka kan?" Dengan senyum malu, Sana mengangguk.
"Sekarang tidak ada masalah diantara kita. Soal Riki, soal mamamu, semua sudah selesai. Aku bahagia." mencium pipi istrinya dengan sayang.
"Entahlah,"
"Apa maksudnya?"
"Mama beruntung, memiliki seorang suami yang rela menunggunya selama bertahun-tahun. Papa Raga bisa saja meninggalkan mama yang sedang sakit. Dan ayah, sosok yang selama ini aku banggakan dan aku agungkan, nyatanya dialah yang memisahkan aku dan mama."
"Kita hanya manusia biasa yang memiliki rasa. Rasa di hati yang kadang mengajak kita untuk mencintai, atau kadang meminta kita untuk membenci. Tapi dia yang memilih mencintai hidupnya akan bahagia, dan dia yang memilih membenci, hanya akan ada rasa was-was dan curiga saja."
"Kau memang suami idaman!"
"I love you!'
"Love you too!"
The end
**Terima kasih untuk semua pembaca setia author. Maaf jika ada salah, baik dari segi penulisan, tutur kata yang kurang tepat. Atau mungkin kesalahan author yang lain. Mohon maaf yang sebesar-besarnya.
Author sudahi cerita ini sebab memang sudah targetnya segini. Maaf bila tulisan author membosankan atau mungkin kurang menarik. tapi sebisa mungkin author belajar menjadi yang lebih baik.
Untuk selanjutnya nanti, mungkin ada cerita tentang Rindi dan Mike. Di lain kesempatan. Ketika author sudah selesai bertapa dan mandi air tujuh sumur.
__ADS_1
Salam cinta, peluk dan cium untuk semuanya emmmuah**.