
"Jadi!"
"Vino, maksud aku!" bingung mau jelasin kek gimana lagi biar ngerti.
"Sana atau sebaiknya kita ....
"Apa!"
ketus Sana, sebenarnya dia tidak ingin sembarangan disentuh oleh siapapun, walau berstatus sebagai kekasih. Kan belum halal gitu lho. Tapi entahlah, satu sisi dia menikmati, tidak ada salahnya kan hanya berpegangan, tapi sisi lainnya melarang.
Vino duduk di hadapan Sana, menggenggam erat tangan Sana dengan penuh perasaan. "Sana, aku ingin segera menikahi dirimu." memegang tangan Sana dan menciuminya.
"Tapi?"
"Aku mohon Sana, bersedialah menikah denganku, aku juga takut khilaf. Sebab aku tidak bisa mengendalikan diriku jika bersama dengan dirimu." bujuk Vino.
"Tapi bagaimana dengan Om Riki?" terlihat sekali mendung menghampiri wajah cantik Sana saat ini.
"Aku akan meminta restu darinya. Aku juga akan menjemput keluarga Pakdemu agar memberi restu atas pernikahan kita." Sana membulatkan matanya sempurna.
"Kau juga tahu, aku memiliki Pakde!" Vino mengangguk antusias.
"Apa kau lupa? Aku adalah Pria Ciplukan! Sudah pasti aku juga mengenal Pakdemu itu!" Vino mencubit hidung mungil Sana.
"Iya, tapikan Pakde ...!"
"Bekerja di kota B sekarang! Aku tahu semua tentang dirimu, Sana. Bahkan aku juga tahu semua hal yang terhubung tentang dirimu yang kamu sendiri bahkan tidak tahu!" Sana memperbaiki posisi duduknya. Dia menekuk kakinya dan mencondongkan tubuhnya ke arah Vino.
"Apa kau tidak bohong!" Ih lucu sekali muka penasaran yang ditampilkan Sana, membuat Vino semakin tidak sabar untuk menghalalkan gadis itu. Vino bahkan membuang muka dan mengumpat dalam hati bisakah dia khilaf sekarang dan mencuri cium sebentar saja?
"Sana, bisakah kau tidak menggodaku saat ini?" Owh bahkan kerutan di dahi Sana terlihat begitu menggoda dan sesuatu dalam diri Vino bergejolak. Baru kali ini dia bisa segila ini saat bersama wanita.
"Aku hanya bertanya!" cengo Sana.
Vino bahkan kini memejamkan matanya, tak kuasa akan pesona Sana. Semakin serakah mengambil pasokan udara yang tiba-tiba terasa sesak. Bolehkah dia sedikit berbuat mesum?
"Sana dengarkan aku, jangan perlihatkan wajahmu yang menggemaskan ini kepada siapapun! Kau mengerti?" Vino mencubit lembut pipi Sana. Dan bibir mungil itu, membuat Vino semakin berfantasi liar. Ya Tuhan, sanggupkah Vino bertahan lebih lama lagi?
__ADS_1
"Aku tidak mengerti apa maksudmu?" ih kan polosnya nggak ketulungan. Bahkan kadang Vino berpikir, apakah Sana pernah sekolah, kadang terlihat bodoh tapi menggemaskan, dan itulah yang membuat Vino jatuh cinta. Ingin rasanya dia langsung bawa pulang.
"Kau akan mengerti saat kau menjadi pendamping hidupku. Menjadi tempatku mengadu, melewati hari-hari yang penuh warna bersamaku dan menjadi penting dalam hidupku, menjadi tujuan dalam meniti kehidupan ini. Aku hanya ingin itu semua kulakukan bersamamu. Setiap saat, aku akan merepotkan dirimu, memintamu untuk memasangkan dasi untukku, lalu aku akan mencium keningmu. Lalu, akan ada tawa anak-anak kita yang membuat keluarga kecil kita semakin bahagia. Sampai kita menua nanti, tetap saling berbagi dan memberi, menyanyangi dan mencintai."
Tiba-tiba saja mata Sana berembun, sungguh sebuah sebuah mimpi yang indah.
"Kenapa malah menangis, hemmh!" Vino mengusap air mata Sana yang menetes.
"Tidak!" terlihat sekali suara lirih Sana terdengar begitu rapuh.
"Apa kau baik-baik saja?" Vino menangkup pipi Sana.
"Vino, apakah aku berhak bahagia? Apakah keluarga kita akan lengkap?" entah apa yang Sana rasakan, tapi Vino seperti melihat lautan duka yang begitu dalam.
"Sana, syuut!" Vino menarik tubuh Sana kedalam pelukannya. Tubuh Sana bergetar sebab tangisan yang semakin menderu.
"Vino ... apakah semua impian kita akan menjadi kenyataan?" Vino semakin mengeratkan pelukannya. Seperti ada sebuah kesedihan yang membuat Sana menjadi seperti ini. Tubuh Sana bergetar, beberapa saat keduanya terdiam menyalurkan perasaan masing-masing. Sana dengan kesedihan masa lalunya, dan Vino dengan rasa sayangnya mencoba untuk menguatkan Sana melalui bahasa tubuh.
"Tenanglah Sana, kita akan hadapi semuanya bersama-sama. Aku akan selalu ada untukmu!"
"Terima kasih Vino." Sana melonggarkan pelukannya, mengusap air matanya dengan singkat, Vino pun tidak mau kalah, dengan sigap dia mengusap pipi Sana dengan lembut. Dia juga mencuri kesempatan mencuri cium di pipi Sana.
"Harus itu, kalau menunggu dikasih tidak akan dapat."
"Isssh" mencebikkan bibir. "Kalau sudah resmi ya ... tidak usah minta bakal aku kasih kali! Aku kan mencintaimu!" gumam Sana yang dia kira hanya dia mendengar.
"Apa kamu bilang?" Vino pura-pura tidak tahu.
"Aaaa ... nggak ada! Aku hanya bilang ingin masuk ke rumah. Mau bersih-bersih."
"Tidak semudah itu kamu bisa lari dariku, Sayang!" Menarik tangan Sana, namun Sana yang berusaha menghindar terpelanting hingga malah terduduk di atas Vino. Meski sedikit sakit sebab timpahan dari tubuh Sana, tapi Vino menikmati adegan itu.
"VIN!"
"Apa sayang, hemmh! Katakan kepadaku, tadi kamu bilang apa?"
"Yang mana? Nggak ada! Aku nggak bilang apa-apa!" elak Sana.
__ADS_1
"Tadi, ada sebuah kalimat yang berakhir dengan sebuah kata yang bermakna!" Sana menggelengkan kepalanya cepat.
"Nggak ada ye!"
"Ada! Ayo katakan lagi! Atau aku akan menciummu!" Vino berusaha mendapatkan wajah Sana, tapi ditepis oleh sang empu.
"Vinoooo... please lepasin ih!"
"Tidak, sebelum kau mengatakan apa yang kamu katakan!" semakin erat Vino memeluk tubuh Sana.
"Oke, oke! Aku akan mengatakannya." Sana memberanikan diri memutar badannya, hingga kini wajahnya berhadapan langsung dengan Vino. Jangan ditanya saat ini, keduanya tengah berlomba menaklukkan detak jantung mereka yang sedang berlompatan.
"Vino, akuuu... Vino aku ...!" Menatap manik mata Vino, Sana menangkup wajah Vino, lalu mengelus rahang itu dengan lembut.
"Vinoooo!" lirih Sana, membuat bulu kuduk Vino semakin meremang, terlebih Sana mengelus rahang lalu turun ke leher. Perlahan pelukan Vino melemah.
"Vin, aku ingin mengatakan sesuatu."
"Iya, katakanlah!" Mata Vino sudah berkabut. Sedangkan Sana memilih cara itu dengan tujuan untuk melepaskan diri.
"Vino, Akuuu ... " Vino semakin tegang saja, terlebih suara Sana yang sengaja dibuat-buat.
"AKU INGIN BUANG AIR!" suara Sana dengan sedikit lebih tinggi dari sebelumnya. Membuat Vino refleks memegang telinga, dan disaat seperti itulah, Sana melepaskan diri dan lari ke menuju rumah.
"Hai, Kau! Awas ya!" teriak Vino.
Dari lantai dua, terdapat seorang pria yang sejak tadi memperhatikan keintiman hubungan Sana dan Vino. Pria itu tampak sekali tidak suka akan hubungan keduanya.
"Hai, kau disini rupanya?" seorang perempuan menepuk bahu pria itu. "Sepertinya kau tidak baik-baik saja," tanya perempuan itu lagi sambil menatap wajah tampan pria itu.
"Jangan sok tahu!"
"Aku memang tahu!" Pria itu mendengus kesal. Tak guna menunjukkan rasa cemburu. "Tapapanmu kepada gadis itu terlihat sekali."
"Apa maksudmu?"
"Sudah kubilang tadi, Kau sedang tidak baik-baik saja!" Wanita itupun melenggang pergi tanpa pamit. Pria itu kembali mengamati Vino dan Sana yang hampir sampai pada pintu rumah.
__ADS_1
"Masihkah ada kesempatan untuk aku bisa singgahi?"
Bersambung....