Ditakdirkan Mencintaimu

Ditakdirkan Mencintaimu
Jalan satu langkah


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Vino mendatangi rumah Eyangnya.


"Hai, Vino! Tumben pagi-pagi sudah ada di sini? Mau minta jatah sarapan ya." Saras yang baru saja turun itu membuat mood Vino berubah buruk.


"Kalau ya, mau apa Luh?" sungut Vino matanya berkeliling menyoroti setiap ruangan dengan di ikuti oleh Saras di belakang Langkahnya pun belum berhenti, dengan masih diikuti oleh Saras di belakangnya.


"Cari apa Luh, Vin?"


Saras masih sok tak tahu, meski sebenarnya dia sudah bisa menebak bahwa Vino pasti mencari keberadaan Sana.


"Dimana istri Gua?"


"Sejak kapan Luh punya istri?" tanya balik Saras yang langsung disambut oleh muka tengil Vino.


"Sejak mulai saat ini dan seterusnya. Sana akan menjadi istriku." Senyum tidak jelas itu dan impian yang berlabuh di otaknya membuat Vino tersenyum manis seperti orang gila.


"Dih, ngaku-ngaku, kepedean pula!" Keduanya masih berjalan. Hingga sampai di depan kamar Sana. Tentunya Vino yang menjadi pemimpin.


"Hai, ketuk pintu dulu." Saras mencegah kehendak Vino yang tidak digubris oleh pria yang kini sudah menekan gagang pintu itu.


Ceklek


"Hai kau ini. Masuk ke kamar cewek sembarangan." teriak Saras. Seketika kepala Saras membentur tubuh kokoh itu, sebab Vino berhenti tiba-tiba. Dasar Saras, dia yang melarang tapi juga pengen ikut masuk juga.


"Kenapa berhenti?" omel Saras memegang pangkal hidungnya yang sedikit ngilu.


"Cantik!" ucap Vino tanpa sadar. Saras mengernyit bingung, hingga memaksa punggung lebar di hadapannya itu bergeser. Sekarang dia bisa melihat dengan jelas, ada Sana yang baru saja keluar dari kamar mandi. Sana yang sepertinya belum menyadari keberadaan Vino dan Saras. Terbukti cara Sana yang dengan santainya mengeringkan rambut dengan handuk, setelah itu Sana mengambil sisir guna merapikan rambutnya yang masih basah.


"Dia benar-benar memukau. Ah, jadi tidak sabar untuk membawanya pulang. Mengurungnya di kamar seharian, membuatnya menjerit dalam ******* pasti sangat memabukkan." Tanpa sadar apa yang ada di otaknya dia beberkan, yang langsung mendapat serangan dari Saras.


"Dasar otak mesum!" menarik rambut Vino.


"Kak Saras, Vino, kalian sejak kapan ada di sini?" Baru sadar jika ada orang lain di daerah kekuasaannya. Dalam pikiran Sana juga ada Vino dan kelanjutan hubungan yang belum juga direstui.


"Sayang, aku datang untuk mengajakmu pergi." menahan sakit yang diakibatkan oleh tarikan Saras.


"Jangan mau Sana, dia mempunyai niat terselubung kepadamu." pikirannya masih pada ucapan Vino yang tadi.


"Hai, lepas." Meringis karna cengkeraman semakin kuat.

__ADS_1


"Tidak akan!"


"Kak Saras, kasihan tuh Kak, dia pasti kesakitan. Aku tidak tega melihatnya." Bersamaan dengan itu ponsel Saras berbunyi.


"Awas saja kalau kamu macam-macam lagi." Saras menunjuk wajah Vino secara sebelum benar-benar pergi sebab ponsel yang berdering.


"Sayang sakit banget." rengek Vino menyandarkan kepalanya di pundak Sana.


"Aduh, kasihan sekali." memeriksa dengan cemas dan khawatir.


"Obati dong Yang." makin manja dan memeluk tubuh Sana, harum sabun dan juga shampo membuat Vino semakin betah pada posisi itu.


"Sini aku elus biar sakitnya berkurang."


"Cium juga." nada manja Vino semakin menjadi.


Cup


"Sudah!" pada rambut Vino.


"Bukan disana tapi sini." menunjuk pada pipi, sedikit mendongak agar bisa melihat seperti apa perubahan wajah Sana yang kini sudah memerah.


"Ayo dong mau."


"Nggak, kita belum muhrim." masih berusaha menolak dan Vino tetep kekeh untuk mendapatkan keinginanya dengan memegang tangan Sana.


"Vino, nggak boleh, nanti malah kebablasan." Masih terus menghindar dan berusaha mendorong tubuh Vino hingga menjauh. Sedang Vino semakin gencar untuk mendapatkan keinginannya.


"Ayolah Sayang."


"Vino, jangan."


"Sedikit saja!"


"Tidak! Pasti kamu akan meminta lebih." tahu betul akan tabiat kekasihnya itu. Sana semakin mundur agar bisa terhindar dan Vino semakin memaksa tubuhnya mendekati Sana.


Kini tubuh mereka berdua jatuh ke ranjang sebab acara saling mempertahankan keinginan masing-masing. Entah mengapa Vino pun jatuh tepat di atas tubuh Sana. Posisi yang begitu menguntungkan bagi dirinya. Sesuatu di dalam tubuh Vino berontak otomatis, sehingga akal warasnya tidak lagi berfungsi. Vino mencumbu tubuh Sana, mulai dari ciuman hingga kecupan yang membekas pada bagian tubuh sensitif milik Sana.


"Ssshhhhh!" Suara laknat itu membuat Vino semakin bergairah. Nafasnya memburu dan dipenuhi oleh nafsu yang menggebu.

__ADS_1


"Ja-jangan Vino." meski menikmati setiap sentuhan yang diberikan oleh Vino, tapi akal waras Sana masih sedikit berfungsi.


"Vino, jangan lakukan itu, kita belum halal. Om Riki akan semakin marah padamu." Suara Sana terdengar berat sebab menahan ******* yang ditimbulkan oleh kelakuan Vino.


"Vino!" pergerakan Vino pun melambat sebelum akhirnya berhenti.


"Maaf!" Vino meletakkan kepalanya di ceruk leher Sana. Nafas yang memburu membuat leher itu meremang. Sana memejamkan mata sejenak merasa menyesal sebab menghentikan rasa nikmat yang dia dapatkan dari Vino. Tapi satu sisi dia harus bisa menahan semuanya agar bisa tetap menjaga mahkota kerajaan yabg nantinya akan dia serahkan kepada pemilik sesungguhnya.


"Tak apa Vino, bila memang sudah tidak tahan, kita bisa segera menikah. Tidak apa kita mengadakan pernikahan sederhana asal kita bisa terhindar dari dosa besar." lirih Sana masih dengan memejamkan mata, berusaha mengendalikan rasa yang baru saja timbul. Perasaan terlarang yang hampir saja menghilangkan mahkota kerajaan miliknya.


"Maaf. Aku hampir saja merusakmu." Mencium kening Sana sebelum bangun dari tubuh Sana yang setengah telanjang. "Kau, ganti baju. Aku akan membawamu pergi ke suatu tempat." ucap Vino tanpa menoleh bahkan wajahnya berubah datar, lalu pergi tanpa menoleh.


"Apa dia marah." batin Sana. Entahlah! Kenapa dia merasa bersalah dan juga kecewa, kenikmatan itu membuat dia jadi dilema.


Sedangkan Vino dengan terburu-buru pergi untuk mengasah senjata miliknya. "Sabarlah bird, aku akan segera mengabulkan keinginanmu agar bisa keluar masuk sangkar sesuka hati." terus bersolo ria hingga mencapai pelepasan sempurna.


Di sepanjang perjalanan keduanya tetap saling diam. Sesekali Sana menoleh pada kekasihnya itu. Berpikir jika mungkin saja Vino marah kepadanya.


"Vino, kita akan pergi kemana?" Memecah keheningan yang terasa bagaikan siksaan dalam setiap detiknya. Sebab sudah selama satu jam Vino diam saat berdua dengan Sana. Seolah ada pembatas yang menciptakan jarak diantara mereka berdua.


"Vino, jangan diamkan aku. Bicaralah."


"Sana, kamu percaya kepadaku kan?" Sudah pasti Sana mengangguk semangat.


"Sana, kau percaya bahwa aku begitu mencintaimu bukan?" Meski belum juga mengerti akan maksud dari pertanyaan yang diajukan Vino, Sana tetap mengangguk. Vino meraih jemari Sana dan menariknya hingga menempel sempurna di bibir Vino. Untuk beberapa saat Vino masih nyaman dengan posisi seperti itu.


Perasaan Sana yang tadinya kusut kini telah memudar. Hingga Vino menghentikan laju kendaraannya dengan sempurna, Membuat Sana terpengarah tidak mengerti.


"Apa kita tidak salah tempat!"


"Tidak"!


"Ngapain kita kemari?"


"Menurutmu?"


Bersambung....


Hai, semuanya.... para readers terkeceh Jangan lupa dukungan nya yaa.

__ADS_1


__ADS_2