
Di mansion.
Tiga wanita beda usia tengah menikmati kopi dengan beberapa camilan yang terhidang begitu menggoda selera. Rindi mengulurkan tangannya, mengambil stik dan mencocolnya ke saos tomat, kemudian memakannya dengan nikmat.
Sedangkan Saras, meluruskan kakinya sambil membawa toples di pangkuan, kripik talas dengan cita rasa pedas itupun kini tinggal separuh.
Maria masih tetap membolak-balik majalah, seolah tidak ada yang menarik untuk dia lihat, namun begitu antusias dia bolak-balik. Secangkir kopi terkadang dia angkat, lalu diseruput perlahan.
Pemuda tampan yang baru saja bergabung,, sudah dalam keadaan wangi karena habis mandi, memilih duduk di samping Rindi yang memeluk kakinya. Mengikuti gaya Rindi mencocol stik. Kemudian tanpa ragu-ragu merebahkan kepalanya di paha Rindi.
"Hai, minggir-minggir." mendorong kepala Faza. Yang lain melirik sejenak, kemudian tampak acuh kembali. "Minggir, paha gua ternoda tau." sungut Rindi. Bukannya berdiri, Faza malah semakin meringsek dan meletakkan kepalanya kembali ke paha Rindi.
"Nitip kepala doang, pusing gua." Rindi akhirnya diam mematung, setelah itu membiarkan Faza berbuat sesukanya.
Tega Luh Za, nggak tau apa, dadaku rasanya mau copot karena tingkah Luh ini. Semoga Faza tidak menyadarinya ya Tuhan." batin Rindi.
"Kalian semua kenapa diam saja?" heran dengan kompak diamnya para wanita di mansion ini.
"Eyang,"
"Kak Saras!"
Kali aja di absen mau nyahut.
"Ada apa?"
"Nggak! Gua lagi sêbêl sama Vino."
Pernyataan Saras membuat Vino bangkit, dan duduk tegak di samping Rindi.
"Bagaimana bisa?"
"Bisalah!" ketiga wanita itu kompak.
"Kalian kompak sekali." Semua juga bersama menghela nafas panjang.
"Kita kan sudah buat persiapan untuk malam pengantin mereka, kita buat kamar Sana dengan riasan romantis dan manis. Eh taunya ... suaminya malah bawa Sana ke hotel."
"Usaha kita kan jadi sia-sia." kini Rindi yang bicara.
"Dan Oma sudah menyiapkan sebuah gaun malam yang keren, tapi tidak kepakai karena ulah Vino yang sok menguasai itu." Kini Madam ikut bicara.
Hahahaha. Faza memegang perutnya yang kram akibat tertawa cukup lama. "Kalian benar-benar lucu."
"Nggak usah ketawa!" yah serempak lagi.
"Hahahaha."
"Yang malam pertama tuh kalian atau mereka berdua? Sepertinya kalian antusias sekali. Atau jangan-jangan kalian juga mau ngintip mereka melakukannya?"
Plakkkk
Majalah melayang di kepala, setelah sebuah tangan juga mendarat di bahu, banyak juga ikut-ikutan melayang setelah majalah.
"Sadis sekali kalian."
__ADS_1
"Tapi kira-kira di hotel mana mereka menginap ya?"
"Mau nyusul?"
"Kagak!"
"Ngapain nanya?"
"Kalian kompak banget."
"Emang!"
Tak berapa lama, suara handphone terdengar nyaring dari saku celana Rindi.
"Halo, Iya Pah!"
"Kenapa!" Rindi mendengarkan cukup lama, hingga saat sudah selesai, dia meletakkan ponselnya dengan lesu.
"Ada apa?" cerca Maria.
"Mama mempermalukan kak Sana di restoran tadi."
"Bagaimana bisa?"
"Mereka tanpa sengaja bertemu, tapi papa sudah bisa melerainya kok. Tapi aku khawatir akan keadaan kak Sana, secara dia seringkali mengalami gangguan psikis seperti ini."
"Sudahlah, jangan dipikirkan, Vino pasti menjaga Sana dengan baik."
"Semoga."
"Yah malam pertama pasti gagal tuh!" celetuk Faza yang membuat semua orang menatapnya tajam.
✓✓✓
Di sepertiga malam, Sana terbangun dari tidurnya, sebuah tangan memeluk pinggangnya dengan erat. Sana mencoba mengingat apa yang terjadi, hembusan nafas lembut menyapu tengkuknya. Sana seketika tersadar, suami, ya dia suami. pikir Sana.. Sana tersenyum, ingat akan kejadian semalam yang membuatnya merasa tersentuh oleh kelembutan Vino yang mampu menenangkan.
Sana mengerjapkan mata, melihat cahaya remang-remang oleh lilin yang tinggal separuh,, "Jadi Vino mempersiapkan ini semua? Dan gagal oleh ketidakberdayaan diriku menghadapi perempuan itu." Sana mengambil nafas dalam-dalam. Sana tidak boleh berlarut-larut dalam kesedihan. Ibunya bukanlah seseorang yang harus dia benci, tapi kenapa hatinya begitu sulit menerima.
Sana kembali memutar kepalanya ke samping, saat dia merasakan sebuah pergerakan, hembusan nafas semakin terasa, membuat bulu romanya merinding.
Seakan lupa akan tuntutan alam, Sana malah asyik berselancar di wajah tampan suaminya. "Kau sangat menggoda iman." lirih Sana, menelusuri setiap inci pahatan sempurna milik suaminya. Rahang kokoh nan tegas, bibir seksi yang tebal, hidung mancung dan berkarakter, juga bulu mata lentik yang rapi. Kembali lagi ke bibir, "Kau selalu membuat jantungku berdebar dengan ini. Tapi dengan ini, kau juga mengambil pasokan nafasku." Sana tersenyum meraba lembut bagian itu.
"Mau menggodaku hemmmh!" tersentak oleh suara serak basah nan seksi.
"Ah! Tidak!" Vino menggigit jari mungil yang masih bertengger di bibirnya.
"Awhhh!"
"Mau sesuatu yang menantang hemmm!"
"A_Aku ingin ke kamar mandi." segera bangkit dan pergi ke kamar mandi. "Kepalaku rasanya sedikit pusing ya," kebiasaan Sana jika menangis sebelum tidur. Kepalanya akan berdenyut hingga dia harus mandi untuk itu.
"Kenapa lupa bawa baju ganti?" Menyambar kimono pendek yang hanya sampai paha itu. "kekecilan ih."
"Kamu mandi malam-malam begini?" Suara khas bangun tidur membuat Sana berlonjak kaget.
__ADS_1
"Kepalaku pusing karena menangis sebelum tidur, biasanya akan sembuh jika aku menyiramnya." Senyum devil Vino berkembang sempurna.
"Ngapain malah senyum-senyum begitu," melihat gelagat Vino yang mencurigakan. Sana segera menutup paha mulus yang ditelanjangi Vino dengan matanya.
"Jangan mesum ya!"
"Tidak!" Vino bangkit ke arah Sana.
"Hai, jangan sentuh aku!" Vino mengernyit heran. "Aku baru saja ambil wudhu, aku mau menenangkan hati dan pikiran." menghindari Vino yang semakin mendekat.
"Baiklah, tunggu aku!"
Secepat kilat Vino pergi. Sana termenung sejenak, kemudian mencari tas miliknya. Memegang dua benda kenangan dari mendiang ayahnya. Melihatnya dengan sejuta rasa yang kadang membuatnya terluka.
"Sudah siap?" lagi dan lagi Sama harus dibuat jantungan oleh pria yang kini berubah status menjadi suami.
"Aku pakai ini dulu." secepat kilat memakai mukena parasut, tentunya setelah meletakkan Al-Qur'an kecil berwarna maroon.
Sholat selesai, Vino menatap Sana dan mengulurkan tangannya. "Maaf! Tapi bolehkah nanti saja salamnya, aku ingin menenangkan hati, lima menit saja." tatapan sendu dan manja itu membuat Vino terpaksa mengangguk. Lagian beberapa menit lagi, waktu subuh akan datang.
"Sudah selesai?" Sana tersenyum melihat wajah suaminya yang nampak kecut.
"Huum, kita shubuhan sekalian ya!" Vino dengan antusias memimpin.
"Ternyata kamu rajin ibadah juga ya!" Sana mulai mencairkan suasana yang canggung, pasalnya, Vino terlihat murung.
"Kau melupakan ini?" bukannya menjawab, Vino malah menyerahkan tangannya.
"Haha lupa!"
"Jangan kebiasaan."
"Memang enggak, biasanya." elak Sana.
"Mulai sekarang harus terbiasa."
"Iya Imamku," Sana mengambil uluran tangan Vino, lalu menciumnya. "Lepasin!" tarik menarik tangan diantara keduanya.
"Cium sini dulu, baru aku lepasin," Vino menunjuk ke bibirnya sendiri.
"Aaaaaa nggak mau!" muka Sana sudah berubah merah. "Lepasin!"
"Cium dulu!"
"Nanti setelah lepas ini. Ribet tahu." Sana menunjuk mukenanya. Ingin hati akan lari meninggalkan Vino, tapi sayangnya, Vino bisa menebak hal itu.
"Mau lari hemmm!" menarik tangan Sana hingga gadis itu kini duduk tersungkur, kimono yang dia pakai, tanpa sengaja terlepas pengikatnya.
"Wah wah wah kau istri yang pengertian rupanya. Aku memang sudah kelaparan dari semalam."
Sana terbengong, mendadak akalnya bodoh.
"AA....katanya lapar, kenapa malah diajak tidur?"
Emmmphhhhh
__ADS_1
**Bersambung...
Kira-kira babang Vino makan apa ya**?