Ditakdirkan Mencintaimu

Ditakdirkan Mencintaimu
Hari akad.


__ADS_3

Pèrsiapan demi persiapan telah berjalan sesuai dengan mulus tanpa ada rintangan yang berarti. Dan hari ini, Sana telah siap dengan kebaya putih yang melekat di tubuhnya. Riasan kepala sederhana namun elegan. Sangat pas dengan seleranya.


"Aku anak biasa dan terlahir dari orang biasa. Wahai hati, jangan pernah tamak aku tidak suka wanita matre." Sana mengusap pelan air mata yang tiba-tiba menggenang di sudut mata.


"Aku mencintai Vino, aku juga menikah sebab cinta, bukan harta."


Selama seminggu setelah pertemuan itu, Sana tidak lagi bertemu dengan wanita yang telah melahirkan dirinya. Membuatnya yakin, bahwa ibunya hanya ingin pamer saja. Sana berpikir bahwa ibunya ingin menunjukkan kekuasaan yang telah ibunya dapatkan. Miris sekali, seorang anak menjadi korban riya' ibunya sendiri.


"Kau melupakan darah dagingmu karena harta. Bahkan kau dengan bangga menunjukkan betapa sekarang kau berkuasa. Jika itu yang kau inginkan, aku tidak masalah. Aku bisa berdiri dengan caraku sendiri." Sana ingat akan pertemuannya dengan Risya setelah penculikan.


Flashback(by Sana)


Saat itu, Sana tengah berada di rumah Maria. "Anda datang kemari?" Tegur Sana pada Risya.


"Panggil aku mama!" tanpa basa basi, berpelukan, atau sekedar menanyakan kabar. Risya bahkan datang dengan wajah yang begitu angkuh. Sana sampai menghembuskan nafasnya kasar.


"Saya merasa tidak pantas memanggil Anda dengan sebutan itu. Anda adalah wanita terhormat dari bangsawan yang berdarah biru. Sungguh tidak pantas bagi saya yang hanya wanita rendahan memanggil Anda dengan sebutan itu." Tegas Sana dengan hati yang bergemuruh. Dadanya naik turun menahan sesak di dada. Andai saja ibunya meminta dengan kelembutan meski sekedar pelukan atau kecupan kasih sayang, mungkin ceritanya akan berbeda.


"Panggil aku Mama. Apa kau ingin semua orang mengatakan bahwa aku ibu yang buruk? Kau harus panggil aku mama. Agar orang-orang itu tidak menatapku dengan pandangan jahat." Masih dengan angkuhnya.


"Apa Anda tidak merasa malu jika memiliki anak seperti saya?"


"Saya memiliki segalanya kenapa harus malu? Ingat, saya ibumu, saya yang melahirkan dirimu. Jadi sudah sepantasnya panggil aku Mama, yah itu demi kebaikan kita semua." Sana mengepalkan tangannya bagaimana bisa seorang ibu meminta hal itu seperti seorang rentenir yang menagih hutang.


"Satu lagi, kau harus tetap menjaga hubunganmu dengan Vino, dan akan lebih bagus lagi jika kau menikah dengannya."


"Bagaimana? Tidak usah banyak berpikir, saya memiliki kekuasaan dan nama yang bisa menunjang karir dan masa depanmu. Begitu juga panggilan yang saya tawarkan. Bagus, bukan?"


"Maaf! Tapi hak Anda telah terkubur bersama kematian seseorang. Jika tidak ada yang dibicarakan lagi, saya mohon pengertian Anda, silahkan pulang, pintunya ada di sana!" Sana menunjuk pintu utama yang terbuka lebar.


Kini, Sana memejamkan mata, berharap kenangan itu hilang ketika matanya terbuka.


"Aku sungguh merasa berat dengan semua ini. Meski sebelumnya aku pernah menduga, hal ini akan terjadi, namun siapa sangka, jika segalanya tidak seperti yang aku harapkan. Ayah, aku merindukanmu."


Sedangkan di depan pintu. Rindi tampak ragu mengangkat tangannya, guna mengetuk pintu. Tapi tangannya terhenti, Rindi mengingat kejadian dua hari yang lalu.

__ADS_1


Flashback.(by Rindi)


Sana sedang berjalan dengan Saras dan juga Rindi di sebuah mall. Mereka bertiga tengah berbelanja. Terlihat dari masing-masing tangan mereka terdapat beberapa paperbag.


"Kita harus bersenang-senang hari ini. Kita nikmati kebersamaan kita sebelum masa lajang Sana habis," seloroh Saras. Tapi tidak dengan wajah Rindi dan Sana yang terlihat diam sedari tadi.


"Ayolah, kalian membuat suasana menjadi buruk." omel Saras. Rindi dan Sana hanya diam sambil sesekali saling melemparkan tatapan, tapi kemudian Sana memilih membuang muka. Berbeda dengan Rindi yang diliputi rasa ingin berdamai.


"Kalian tidak seru, aku mau pergi saja." Saras hendak pergi namun kedua gadis itu mencekal lengannya.


"Aku lapar!" Ucap Sana dan Rindi serentak. Saras tersenyum gemas, ternyata keduanya tidak jauh berbeda.


"Baiklah, kita cari restoran terenak di sekitar sini." Saras melihat keduanya nampak diam, mengambil inisiatif jalan terlebih dahulu."Bisakah kalian lepaskan dulu tangannya." Saras memutar bola matanya malas, tarikan itupun melemah dan terlepas.


Mereka akhirnya sampai di sebuah restoran, mereka memesan kopi dan makanan ringan.


"Kak Saras, kenapa kalau lapar tidak makan?" Tanya Sana sambil bersendekap, makanan di piringnya tidak dia sentuh, begitupun dengan Rindi, eh malah Saras yang asyik menyendok di tanya seperti itu.


"Kak Saras, jika makanannya saja masih utuh, kenapa harus menyuruh orang lain makan!" Meski berkata begitu, Rindi mengambil makanannya dan menyuap dengan cantik.


"Katakan padanya, kalau makan yang benar, jangan seperti anak kecil." Saras melihat Rindi sekilas yang belepotan sebab makan dengan begitu lahap.


"Jangan sok peduli jika tidak mau memaafkan." Rindi tak kalah ketusnya.


"Jika tidak ingin disalahkan, jangan membuat ulah." Sana menyerang balik.


"Siapa yang buat ulah? Aku ingin buat kejutan untuk Saudaraku sendiri."


"Pintar saat bohong, biar orang lain percaya." tukas Sana. "Itu yang kau bilang kejutan? Sungguh aku sangat terkejut." Sana masih dalam kekecewaan, bahkan masih terasa perih dihati.


"Aku tidak bohong. Aku bahkan tidak tahu dengan rencana itu, meski aku akui memang akulah yang membawa kakak kesana. Tapi bukan itu perjanjian yang dibuat denganku. Jadi ... maaf!" Rindi menarik lengan kakaknya guna meminta maaf.


"Kak, maaf!" Rindi masih kekeh. "Atau ... aku akan pegang telinga begini dan berdiri dengan satu kaki." Rindi mulai menjalani aksi gilanya.


"Rindi diamlah! Semua orang menatap kita." Saras memperingati, agar Rindi kembali duduk. Tapi anak keras kepala itu tidak mau mendengar.

__ADS_1


Prang


Tanpa sengaja, Rindi menyenggol sup panas dan tumpah mengenai tangannnya.


"Rindi, kenapa kamu selalu ceroboh!" teriak Sana tanpa sadar menarik tangan Rindi dan menuju toilet. Sana menyiram tangan Rindi dengan air dingin agar tidak melepuh "Kau ini tidak pernah sadar situasi." Rindi diam-diam tersenyum melihat kepanikan kakaknya. Rindi sangat yakin bahwa rasa sayang Sana lebih besar dari pada amarahnya.


Sekarang.


Rindi menyentuh balutan kasa di tangannya, setelah itu dengan mantap tangan yang satunya dia arahkan untuk mengetuk pintu.


"Masuk!"


"Wah, kau cantik sekali kak!" Puji Rindi setelah pintu itu terbuka sempurna.


"Terima kasih." Tidak ada basa basi atau gurauan seperti biasanya. Rindi merasa hampa dengan keadaan ini.


"Kau masih membenciku?"


Tak terasa embun telah menghalangi penglihatannya, membuat Rindi harus mendongakkan wajahnya tinggi-tinggi.


"Biar bagaimanapun kerasnya hatiku, tidak bisa membencimu." Lirih Sana tetap menatap pantulan wajahnya di cermin.


"Bisakah aku memelukmu?" Sana hanya diam, lalu mengangguk. Rindi segera menubruk tubuh kakaknya.


"Kau tidak memberi tahu wanita itu kan?" pertanyaan Sana meruntuhkan rasa yang telah terjalin beberapa detik lalu. Artinya kebencian itu masih mendarah daging.


"Tidak!"


"Sekarang peluklah aku!" Sana tersenyum bahagia.


"Ayo kak, jangan biarkan mempelai pria menunggu terlalu lama. Takutnya dia berubah pikiran nanti."


"Jika itu terjadi, aku akan mengutuknya jadi pangeran kodok." gurau Sana


hahahaha

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2