Ditakdirkan Mencintaimu

Ditakdirkan Mencintaimu
Baikan bukan balikan


__ADS_3

"Mbak, syukurlah. Akhirnya mbak pulang juga kerumah. Enak ya nginep di sana sampai lupa sama adiknya," Rindi melipat kedua tangannya wajahnya cemberut, karna Sana yang bilang tidak menginap, namun kenapa malah tidak pulang semalam.


"Maaf, mbak capek mau istirahat sebentar," melempar kunci yang motor yang di tangkap dengan gelagapan oleh Rindi. Afsana langsung masuk ke kamar menghempaskan tubuhnya ke kasur.


"Mbak, aku belum selesai. Itu baju siapa yang mbak pakai?" baru sadarkan tadi pakai baju milik Vino yang nampak kedodoran di tubuhnya.


"Bajunya orang setres," jawab asal Sana itung itung mengatai Vino yang menurutnya memang radak setres itu.


Dia sebal sendiri saat Vino mengirim Riyan untuk menyuruhnya pulang.


"Mbak, bos saya menyuruh saya kemari untuk mengantar motornya, Mbak, dan bos menyuruh saya untuk mengatakan kepada Mbak untuk pulang saat ini juga," kata Riyan saat itu.


Sana mendengus kesal mengingat perkataan Riyan. "*Tapi saya mau bilang terima kasih kepada Bos kamu," ucap Sana.


"Tidak perlu, Mbak. Pak bos sudah menyuruh saya untuk menulis tagihannya selama anda tinggal di sini*."


Gadis yang sedang di landa kegelisahan itu memilih tidur dan mengabaikan Rindi yang masih setia menganggunya dengan banyak pertanyaan.


"Mbak, aku ini cemas dan khawatir sama mbak. Eh malah enak-enak tidur. Tega kamu, ya cuekin aku." Rindi keluar sambil membanting pintu, Sana hanya melongok sebentar ke arah Rindi menghilang setelah itu tidur kembali.


"Anak gadis jangan ngambekan nanti cepat tua lho," mata Sana masih terpejam. Seketika langkah Rindi berhenti, mengorek telinganya memastikan apa yang dia dengar. Dia memutar tubuhnya lagi membuka kasar pintu kamar Sana dan melongokkan kepalanya.


"Mbak, tidak benar-benar tidur?" cengo Rindi.


"Belum, capek ini mau tidur, jangan ganggu ah sana pergi," auto bibir Rindi monyong lima centi.


🍂🍂🍂🍂

__ADS_1


Vino tampak asyik menikmati makan siangnya yang hampir terlewat itu. Dia tadinya ingin makan di restoran. Tapi melihat gadis itu masak menu kesukaannya dia jadi pengen pulang.


"Apa aku jahat, ya. Menyuruhnya pulang tanpa sempat aku menemuinya. Aku juga meminta tagihan kepadanya." Makan lagi ikan dengan bumbu sambal matah yang terasa pas di lidahnya.


"Tidak, aku memang harus melakukan ini, agar gadis itu tidak semakin lengket dengan Riki." Selesai sudah dengan acara makan siangnya yang terasa lebih sempurna dari makan siang sebelumnya.


Jarak tempuh apartemen dan kantornya yang terbilang dekat membuat Vino sudah menginjakkan kakinya di kantor tepatnya berada di depan pintu masuk ruangannya. Matanya langsung menatap tajam bagaikan laser pemindai.


"Ada perlu apa kau datang kemari," sengitnya kepada wanita cantik yang kini menatapnya dengan penuh kerinduan. Tidak bisa di pungkiri jika sebenarnya Vino juga masih menyimpan perasaan kepada gadis yang telah merusak kepercayaannya ini.


"Vino, aku sangat merindukan, Kamu?" secepat kilat gadis itu menunjukkan akting terbaiknya. Dia merangkul erat tubuh Vino, hingga sang empunya hanya pasrah mengambil nafas dalam-dalam. Bibir wanita itupun mengembang penuh arti yakin akan kualitas aktingnya yang semakin natural.


"Tuan, gadis ini_" ucapan Arjun menggantung saat melihat tangan Vino terangkat. Arjun pun meninggalkan mereka berdua.


"Apa yang kau lakukan?" ucapan yang mengandung penolakan itu hanya di sambut senyuman termanis dari wanita berpakaian kurang bahan itu. Bahkan wanita itu belum sadar jika tidak di sambut dengan baik.


"Jangan siksa aku seperti ini, Vino. Aku tidak kuat lagi berada jauh darimu," kini beralih mengelus rahang Vino. Wanita sungguh luar biasa dalam menemukan titik kelemahan lawan jenis yang di incarnya.


"Kita bicara di ruangan saya," Vino tidak ingin menjadi camilan bibir para karyawannya. Beda dengan hati Sima yang melambung tinggi merasa Vino masih sangat mencintainya.


"Vino, aku yakin kau juga sama seperti aku yang sampai sekarang tidak bisa melupakan kenangan kita," Sima dengan tidak tahu malunya menunjuk hati Vino.


"Apa kau kemari hanya untuk itu?" Jika di tanya masihkah Vino mengingat kenangan itu, tentu saja. Kenangan adalah sebuah pelajaran untuk menuju masa depan.


"Vino, jangan bersikap dingin seperti ini kepadaku. Aku tidak sanggup melihatmu begini, maafkan kekhilafanku Vino. Aku ingin memulainya dari awal lagi ternyata aku tidak bisa hidup tanpa kamu. Maafkan aku Vino, maafkan aku yang bodoh ini karna meninggalkan kamu dan memilih pergi dengan orang lain," ucap Sima. Matanya yang berbulu lentik itu nampak basah.


"Aku sudah memaafkan dirimu. Bahkan aku tidak bisa marah terhadapmu, aku memang sangat mencintai dirimu dahulu." Sima rasanya ingin menari dan berlonjak gembira mengumumkan kepada semua orang, bahwa dia telah mendapatkan impiannya kembali.

__ADS_1


"Mau apa kamu," Vino menjauhkan tubuhnya dari jangkauan Sima yang hampir saja memeluknya. Sima bahkan sampai meringis sebab pahanya terbentur meja.


"Kok menghindar, aku pengen meluk kamu, bukannya kamu sudah memaafkan aku, artinya kita sudah bisa balikan kan. Kita bisa bersama lagi seperti dulu."


"Siapa yang bilang kita balikan?" ucap Vino sangat santai kedua tangannya dia lipat di dada.


"Tadi kamu bilang kalau sudah memaafkan diriku." Sima masih dengan rasa percaya diri yang tinggi.


"Ya, itu benar." Vino masih di posisi yang sama. Sebenarnya dia sudah muak dengan pembicaraan ini, tapi semuanya harus segera selesai.


"Nah, betulkan. Dan kau juga bilang juga tidak bisa marah kepadaku dan sangat mencintai aku dulu, berarti kamu masih mau menerima aku kembali kan? kita memang di takdirkan untuk bersama Vino. Buktinya sampai sekarang kau belum memiliki pasangan. Aku tahu, pasti karena kamu belum move on dariku, bukan?"


Sima merasa usahanya membuahkan hasil dia tersenyum sangat ceria bahkan mengalahkan Dewi Matahari. Wajahnya begitu berseri bagaikan bulan purnama. Dan Vino masih terlihat datar saja dengan senyum devil nya. Dia tidak perlu balas dendam kepada wanita yang pernah di cintai nya itu. Lihatlah bahkan Vino tidak lagi merasakan getaran sama sekali.


"Sudah selesai bicaranya," kata Vino dengan senyum yang tidak luput dari bibirnya. Tentu saja Sima mengangguk dengan antusias. Sima menduga semua akan terganti dengan kebahagiaan yang pernah dia rasakan bersama Vino.


"Kalau begitu, ayo keluar," Vino sudah sampai di ambang pintu. Sima buru-buru mengikuti instruksi Vino.


"Kita mau makan di luar, ya!" Sima begitu percaya diri sampai dia lupa jika Vino belum memberikan celah sedikitpun terhadap pengharapannya itu.


"Arjun, dia sudah tidak ada urusan lagi denganku. Pastikan dia tidak pernah menginjakkan kakinya lagi di sini." Duaar Sima yang semula di atas awan kini mendadak jatuh terbentur batu karang.


"Vino!"


"Sima aku sudah memaafkanmu. itukan yang kau mau? Kita memang sudah baikan tapi bukan balikan. Jadi jangan memintaku untuk balikan lagi. Aku tidak mau." Vino menutup pintu ruangannya.


"Silahkan pergi dari sini nona!"

__ADS_1


Bersambung....


jangan lupa kasih gua sajen biar makin semangat nulisnya.


__ADS_2